SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 22: Melawan Belasan Catagtress


__ADS_3

Suara hantaman keras terdengar belasan meter di depan Giya, Nina, dan lainnya.


Dengan cekatan, Giya dan Nina mengintruksikan kelompok pemburu dan pencari barang untuk menjauh puluhan meter dari Isander.


Ledakan demi ledakan terdengar disertai dengan debu dan pasir tanah yang beterbangan, membuat semua orang tak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Isander kepada para monster-monster.


Boom!


Sebuah ledakan dahsyat terdengar, semua orang makin menjauh, mereka menganggap pertempuran ini sangat intens.


Tangan Nina menutup telinga Meisya yang tengah tertidur agar tidak terbangun oleh suara ledakan.


Di dalam asap debu, sosok Isander bergerak sangat cepat ke setiap monster.


Cakar dan gigitan yang para monster luncurkan tak ada satu pun yang bisa mengenai tubuh Isander. Kalaupun serangan itu dengan tepat menyerang tubuh Isander, serangan monster dihancurkan oleh kekuatan Isander sendiri.


Tidak peduli berapa cepat monster bergerak, Isander lebih cepat ketimbang mereka semua dan dengan mudah melancarkan serang sampai menghancurkan mereka semua.


Sesosok monster Catagtress melompat tinggi dari belakang tubuh Isander, kedua cakar tajam dan gigi tajam sudah siap untuk mencabik-cabik tubuh Isander sampai mati.


Begitu ujung cakar hendak menyentuh tubuh Isander, akar dari pohon terdekat menjulur cepat dan menghantam tubuh monster ke samping.


Bam!


Tubuh monster terpental jauh beberapa meter dan menghantam monster lain yang terluka karena pukulan berat Isander.


Isander sudah tahu monster di belakangnya akan menyerang dirinya. Untungnya, ada pohon terdekat yang bisa Isander gunakan sebagai senjatanya.


“Masih ada enam lagi, aku akan menyelesaikannya dengan cepat!“


Setelah itu, Isander berlari sangat cepat, hanya terlihat bayangan hitam yang menyapu debu yang terbang.


Sosok Isander pergi ke Catagtress yang berdiri di dekatnya dan siap untuk melakukan penyerangan.


Monster tersebut tidak tahu bahwa bayangan hitam yang bergerak ke arahnya adalah Isander yang berlari dengan kecepatan yang tinggi.


Sebelum bisa bereaksi dan menghindar, sebuah bola yang berisi angin dan petir kuning menabrak tepat di kepala monster.


Angin yang berputar kencang itu mengikis kepala monster dan mengubah kepala monster menjadi daging giling.


Bum!

__ADS_1


Benang petir kuning meledak saat bola berhasil menghapus kepala monster, menghempaskan tubuh monster tanpa kepala itu keluar dari area pertempuran.


Isander tidak tahu bahwa tubuh monster tersebut terbang dan mendarat di depan para kelompok pemburu dari Rain Settlement.


Mereka semua terkejut melihat monster yang hancur serta gosong dan tidak memiliki kepala ini jatuh tepat di depan mereka.


Pupil mata semua orang mengecil karena kaget dan takut. Setelah diperiksa oleh Nina, monster ini sudah mati dan mustahil untuk hidup lagi.


Hampir bersamaan, mereka semua menghela napas dan merasa lega. Mereka kira monster ini akan hidup lagi.


“Jangan takut, monster ini sudah mati. Kalian terus menjauh dari tempat ini. Jangan lupa untuk memastikan keadaan sekitar, dan beri tahu aku jika ada apa-apa.“ Nina menatap mereka semua dengan wajah yang menampilkan ekspresi yang serius.


“Baik, Agter Nina!“


“Kami mengerti!“


“…”


Sesuai dengan perintah Nina, orang-orang berjalan menjauh sambil tetap mendengarkan suara benturan yang terus muncul.


Mereka tak menyangka Isander akan sekuat itu hingga bisa melemparkan monster tanpa kepala tadi.


Gambar Catagtress tanpa adanya kepala masih terbayang di kepala mereka semua. Tanpa sadar mereka menelan ludah. Mereka sepertinya tak boleh mengganggu dan membuat marah Isander, perlakukan Isander layaknya memperlakukan Agter yang lain. Seharusnya, lebih dipedulikan dan dihormati daripada Agter Nina dan Giya.


Tinggal tersisa 2 monster yang masih berdiri diam tak bergerak sambil menatap Isander dengan mata merahnya.


Tidak tahu arti dari tatapan monster ini, apakah itu takut atau mengancam, tetapi Isander tak peduli dan langsung bergerak untuk menghilangkan monster ini dari dunia.


Akar pohon keluar dari keempat kaki dari kedua monster ini, melilit dan mengikat monster sehingga tak bisa bergerak lagi.


Melihat ini, Isander melompat tinggi dan mengangkat kedua tangannya, kemudian ia berkata dengan lantang, “Makan ini, Monster Jelek!“


Boom!


Berikutnya, ledakan hebat terjadi lagi untuk sekian kalinya. Debu yang mulai menipis kembali tebal dan menghalangi pandangan orang yang ada di luar area pertempuran.


Giya dan Nina terkejut dengan ledakan ini, tangan Nina memiliki reaksi yang cepat dan langsung menutup telinga Meisya.


Sayang sekali, Meisya mendengar suara tadi dan ia terbangun saat itu juga.


“Hoam~ ….“ Meisya menguap lebar sambil melirik seseorang yang menggendongnya. “Kak Giya, Kak Nina? Suara apa tadi? Ayah ke mana?“

__ADS_1


“Ayah sedang melawan monster, Meisya. Ayah akan baik-baik saja.“ Giya mengelus pipi Meisya dan tersenyum hangat.


“Di mana?“ Meisya terkejut dan mencari keberadaan Isander dengan menoleh ke segala arah.


“Di dalam kabut itu.“ Nina menunjuk ke arah depan.


Melihat ini, Meisya tidak khawatir, melainkan bersemangat, Meisya tahu bahwa Ayahnya akan mengalahkan semua monster yang jahat. “Ayah, semangat! Kamu pasti bisa! Meisya mendukungmu!“


Sontak, Giya dan Nina terkejut dengan seruan Meisya. Mereka berdua kira Meisya akan menangis dan cemas karena ayahnya ada di kondisi yang berbahaya. Dugaan mereka salah, Meisya anak yang unik.


Isander yang tengah meninju 2 monster terakhir seketika terkejut mendengar suara Meisya. Selanjutnya, semangat membara di matanya, kemudian pukulan itu makin keras mendarat di tubuh monster.


Jeritan yang terdengar seperti suara tangisan keluar dari moncong monster, mereka tidak bisa melawan Isander sama sekali, kekuatannya tak cukup untuk bertahan lama di hadapan Isander.


Segera, 2 bola badai terbentuk di kedua tangan Isander. Tangan itu bergerak ke depan dan menampar tubuh monster.


Duar!


Tubuh monster itu meledak dan hancur berkeping-keping di depan Isander. Daging merah kehitam-hitaman terbang ke segala arah dan berjatuhan di tanah.


“Akhirnya, semua selesai.“ Isander berdiri di tengah-tengah daging dan darah berceceran di mana-mana.


Matanya bergerak ke arah beberapa jasad monster yang utuh. Jasad yang utuh biasanya hanya mati karena ditumbuk oleh bongkahan batu dan kibasan akar pohon dengan keras sehingga organ penting di tubuh monster hancur di dalam.


Tangan kanan Isander terangkat sedadanya, setitik angin terbentuk yang lama-kelamaan menjadi membesar dan mengembang.


Angin ini menyedot semua debu dan asap tanah yang ada di sekitar Isander.


Giya, Nina, dan Meisya yang menunggu pertempuran Isander bisa melihat asap yang menutupi pandangannya ke tempat Isander bertarung perlahan menipis dan menghilang.


Tak lama berselang, mereka semua melihat sosok Isander yang berdiri sambil mengangkat sebuah bola di tangannya.


Bola ini terlihat menyerap semua debu tanah yang ada di udara, terlihat gelombang asap yang membentuk spiral yang mengelilingi titik pusat, yaitu bola tersebut.


Setelah bola itu menghisap semua debu, Isander melemparkan bola itu jauh ke atas langit.


Bang!


Suara ledakan terdengar keras, membuat mereka semua mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat awan putih di langit yang menjauh karena terkena ledakan anging hingga mengosongkan ruang tanpa awan di langit dan membentuk lingkaran.


Glup!

__ADS_1


Nina dan Giya secara bersamaan menelan ludah ketika melihat gerakan Isander ini.


Kekuatan yang luar biasa dan hebat.


__ADS_2