SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 168: Bukti Monster Baru


__ADS_3

Anggota tim Isander bingung dengan ucapan yang dilontarkan oleh Isander.


Mereka semua saling bertatapan satu sama lain, kemudian melirik ke arah batang pohon yang dipandang oleh Isander.


Melihat tidak ada reaksi apa pun di batang pohon besar tersebut, Reza dan yang lainnya bingung, bahkan Goron pun ragu jika ada sesuatu di balik batang pohon yang besar di depan mereka.


Pasalnya, mereka semua sama sekali tidak menemukan sesuatu yang abnormal dan mencurigakan.


Kresek!


Suara semak-semak yang bergesekan terdengar lagi, tetapi itu tidak berasal dari batang pohon jati besar, melainkan dari semak-semak yang ada di belakang mereka semua.


Goron dan Reza memilih untuk mengawasi arah belakang mereka semua.


Di dalam mata mereka berdua beberapa semak bergerak dengan jelas, seakan ada sesuatu yang menggerakkannya di balik dedaunan liar.


Namun, suara Isander kembali terdengar dan memasuki telinga mereka berdua.


"Baiklah, aku akan memaksa kalian untuk keluar karena sudah ketahuan dan tak mau keluar."


Setelah mengatakan itu, tangan Isander memunculkan Dark Spear yang diselimuti oleh energi ungu gelap yang berkobar-kobar.


Dengan satu kali ayunan tangan kanan Isander, sebuah gelombang energi terbang menuju batang pohon jati dan membelahnya menjadi dua bagian.


Segera semua anggota tim Isander melihat bahwa ada tiga orang manusia yang tersenyum berdiri di balik batang pohon besar, mereka habis berjongkok untuk menghindari serangan Isander.


Senyuman mereka terlihat menyeramkan, lengkungan senyum mereka yang lebar tampak tidak normal, tak sama seperti senyuman manusia biasa.


Hal ini membuat semua anggota tim Isander berwaspada.


Meisya melihat ketiga sosok ini di pelukan Aqila, kemudian memeluk Aqila dengan ketakutan. "Meisya takut! Mereka terlalu menyeramkan~"


Suara Meisya terdengar gamang hendak menangis karena rasa takut yang melanda hatinya.


Untuk orang dewasa pun pemandangan ketiganya yang tersenyum sangat lebar kelihatan menakutkan dan tak wajar.


Masing-masing dari anggota Isander memunculkan Weapon Badge dari kekuatan Agta alaminya. Mereka siap bertempur.


"Meisya, ayah akan menggendong kamu sekarang."


Isander menghampiri Aqila dan mengambil alih Meisya dari pelukan Aqila, kemudian dia melirik ke arah barat laut.


"Hati-hati, mereka bertiga bukan Agter biasa, dan mereka bukan satu kelompok dengan kita lagi sebagai manusia. Aku menunggu kalian di depan."


Ketika kata-kata Isander jatuh, sosoknya berkedip di bawah tatapan mereka semua dan menghilang.


Ketiga orang yang berdiri di balik pohon jati yang terpotong tersebut terkejut dengan sosok Isander yang menghilang begitu saja tanpa bisa diketahui ke mana arah perginya.


Senyuman lebar mereka membeku sesaat, kemudian memfokuskan perhatiannya ke anggota tim Isander.


"Kurasa ketiga orang ini adalah orang-orang yang kamu bicarakan, Aqila," ujar Reza yang tidak memindahkan fokusnya pada ketiga sosok orang aneh di kejauhan. Tangannya masih memegang dua belati tajam yang diselimuti oleh angin.


Semua anggota tim Isander mengangguk mendengar ucapan Reza. Mereka juga memiliki spekulasi yang sama, terlebih Aqila.


Aqila sudah pernah bertemu secara langsung dengan orang-orang itu. Bisa dikatakan sering bertemu ketika bertugas sebelum bergabung kembali ke tim Isander.


Sebuah cakram berlian setengah lingkaran diambil oleh Aqila dari tasnya, kemudian dia membentuk sebuah senjata lain di tangan kirinya yang terbuat dari es murni membentuk cakram setengah lingkaran juga.


Selain Aqila, mereka semua juga mengeluarkan senjata berlian yang diberikan oleh Isander kemarin.


Ketiga sosok yang hanya diam dan tersenyum tersebut mulai bergerak, kepala mereka tiba-tiba terpelintir mengerikan, leher mereka memanjang bersamaan dengan tubuh mereka terdistorsi.


Tubuh ketiga orang itu berubah bentuk begitu abstrak dan saling menyatu membentuk tubuh yang berbeda.


Tiga tubuh orang itu bersatu menjadi satu tubuh yang besar dengan bentuk yang tak jelas.


Dalam sekejap, kepala yang berputar-putar tampak mengerikan sekaligus menyakitkan tersebut berubah menjadi tiga kepala ular yang aneh.


Paling aneh lagi adalah tubuh mereka yang bersatu membentuk tubuh yang mirip reptil kadal dengan empat kaki.


Secara keseluruhan tubuh monster yang terbuat dari tiga tubuh manusia dibungkus daging yang berdarah tanpa kulit untuk menutupi.


Kyaahh!


Ketiga kepala itu meraung nyaring membuat telinga anggota tim Isander sakit, tetapi mereka bisa menahan rasa sakit ini dengan cara menutup kedua telinganya.


Monster yang mirip kadal dengan tiga kepala ini memiliki ukuran yang besar, tingginya ketika tiga kepala itu terangkat bisa melebihi 20 meter, sementara panjangnya mencapai 30 meter.


Tubuh ketiga orang sebelumnya hanya mencapai 1,7 meter, tetapi saat digabungkan menjadi besar hingga puluhan meter panjangnya.


Sangat membingungkan Reza dan yang lainnya.


Dalam penglihatan mereka semua, ketiga kepala monster terbuka, menyembur cairan hijau yang bersifat asam dan korosif.


Semburan ini untungnya tidak terlalu cepat, mereka semua bisa melompat untuk menghindari serangan berbahaya yang mendadak ini.


Cesss!


Suara benda padat yang meleleh karena bahan kimia bersifat korosif terdengar.


Reza dan anggota lainnya yang ada di jauh tempat mereka berdiri sebelumnya bisa melihat bahwa tanah yang mereka pijak barusan menjadi berlubang oleh cairan hijau yang asam.


Glup!


Mereka semua menelan ludah, tidak tahu nasibnya jika mereka terkena cairan asam yang ganas ini.


Kemungkinan besar mereka akan lenyap dan menjadi cairan darah yang nantinya juga menjadi uap.


Beruntung, mereka bisa menghindari semburan cairan asam dari ketiga kepala monster.


Sejujurnya, mereka belum pernah melihat monster ini, baru pertama kali mereka menemukan monster kadal berkepala tiga dan berbadan raksasa.


"Aku akan mulai menyerang, kalian semua alihkan perhatian masing-masing kepala monster ini. Ayo kita berpencar!" ucap Aqila dengan strategi yang dibuat olehnya secara spontan.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk setuju dengan rencana strategi Aqila dan hendak memulai menjalankan strateginya.


"Jangan lupa untuk menjaga diri baik-baik, mereka memiliki kemampuan untuk menyerang balik kita semua." Aqila mengingatkan mereka semua sebelum bergegas menyerang.


Lagi-lagi mereka mengangguk dengan kejam dan tegas.


Whoosh!


Mereka semua berpencar ke segala arah, mengelilingi monster aneh yang berbahaya.


Melihat ini, Aqila juga mulai bergerak untuk melakukan penyerangan lebih dahulu.


Sosok Aqila berlari dengan kecepatan yang cepat, kedua cakram di tangannya telah siap untuk menebas tubuh monster.


Ketika Aqila berlari, beberapa serangan jarak jauh terlontar dari berbagai arah lain, membuat fokus ketiga kepala terpencar dan tak ada yang mengawasi sosok Aqila yang makin mendekat.


Dengan cahaya dingin melintas di dada monster, sosok Aqila berhasil membuat tebasan dari dua senjata yang ia pegang.


Kyahhh!


Ketiga kepala meraung kesakitan setelah mendapatkan serangan dari dua cakram Aqila.


Namun, serang tak sampai di situ, cakram es yang Aqila pegang di tangan kirinya dilempar dari jarak jauh. Busur listrik samar-samar menyelimuti cakram es tersebut.


Begitu bilah cakram es yang tajam bersentuhan dengan luka tanda X yang dibuat olehnya sendiri, ledakan terjadi disertai bongkahan es tajam yang tersebar tepat di depan dada monster.


KYAHHH!


Jeritan kesakitan terdengar sekali lagi, ini lebih parah dan lebih nyaring dari suara jeritan yang sebelumnya.


Tangan mereka Helen, Giya, dan anggota tim Isander yang sempat melemparkan serangan jarak jauh diam sesaat untuk melihat hasil serangan Aqila.


Mereka semua bisa melihat dada yang menjadi topangan leher monster terbuka dengan daging terkoyak tak karuan.


Beberapa bongkahan daging dan genangan darah bisa dilihat di sekitar monster baru ini.


"Serang lagi! Jangan berhenti!" Aqila berkata dengan suara yang keras kepada anggota tim yang lain.


Selanjutnya, Helen dengan anak panah esnya melancarkan serangan ledakan es yang hampir sama, tetapi dalam skala yang lebih kecil.


Giya melemparkan beberapa pisau lempar berapi untuk membakar beberapa bagian tubuh monster, sedangkan Goron meninju tanah untuk membuat bongkahan tanah keras dan tajam menusuk tubuh monster.


Nina dan Reza belum bergerak karena momennya masih belum ditemukan.


Tidak berbeda dengan Reren dan Kila yang masih diam.


Namun, Kila mulai melancarkan serangan beratnya berupa cambuk batu.


Bam!


Tali cambuk yang keras karena terbuat dari batu itu membentur keras salah satu dari kepala monster.


Kepala monster menjadi patah karena tak kuat menahan berat dari hantaman cambuk batu.


Melihat ini, Nina dan Reza mulai bergegas menyerang.


Kecepatan keduanya termasuk yang paling cepat. Nina sedikit kalah kecepatannya dari Reza.


Keduanya dengan tebasan kejam dan cepat dari senjata unsur alam langsung berhasil mengacak-acak kepala monster menjadi kepala monster yang tak jelas.


Kepala monster ini berubah bentuk dan tak bisa dikenali lagi.


Sementara itu, Reren ikut menyerang dengan membawa perisai durinya di salah satu tangan, kemudian dia mengarahkan perisai berduri ke ekor panjang monster yang tak bisa diam.


Duri tajam di perisai berhasil menusuk ekor monster.


Dengan tangan Goron yang terbuat dari batu, dia membantu Reren yang menjepit ekor monster dengan durinya ke tanah.


Ekor tersebut terjebak oleh monster duri perisai Reren, tak bisa dikeluarkan sama sekali.


Selama lebih dari 15 menit berselang, mereka berhasil membuat monster kadal kepala tiga mati dengan tubuh penuh luka dari bermacam unsur alam.


Di bawah tatapan mata semua anggota Isander, monster tiga kepala terbaring lemah di tanah dengan kondisi tidak utuh lagi.


Sebagian tubuhnya berlubang karena panah es Helen yang merusak karena meledakkan bongkahan es yang tajam, ditambah juga oleh kobaran api Giya yang melemahkan monster.


Dada monster hingga kedua kaki depan monster hancur sampai tulangnya pun ikut remuk.


Sementara ketiga kepala monster itu dipecahkan oleh tali cambuk batu Kila, dibantu eksekusi oleh Nina dan Reza.


Glatash dan Magtash ikut membantu, menembakkan duri es dan semburan lava pada tubuh monster, tetapi tak begitu banyak. Kimaya juga sama, menyumbang tanaman merambat untuk mengunci kaki belakang monster agar tidak bergerak dan juga moncong monster supaya tidak menyemburkan cairan asam dalam tubuh.


Pet Isander berguna di dalam pertempuran, tidak menyumbang begitu besar karena Isander sudah memberi pesan kepada ketiga binatang psikisnya untuk membiarkan mereka semua mandiri.


Mereka semua bekerja sama dengan baik, walaupun tidak secepat Isander yang mengalahkan monster.


Mungkin monster ini bisa dikalahkan dengan mudah oleh Isander menggunakan kemampuannya yang luar biasa dan di luar nalar.


Seperti biasa, mereka memanggil Isander untuk membantu mereka membersihkan jejak pertempuran.


Isander datang, Aqila dan Giya menjaga Meisya di tempat di mana Isander dan Meisya duduk menunggu mereka selesai mengalahkan monster lemah satu ini.


"Pembersihan dimulai!"


Di telapak tangan Isander terdapat Ball of Storm sebesar bola dari sepak bola.


Dengan dorongan kecil dari tangannya Ball of Storm terhempas cepat mengarah ke tubuh monster tersebut.


Saat bola yang berisi angin dengan putaran tinggi dan petir mengenai mayat monster, sebuah ledakan terjadi.


Lingkaran ledakan berdiameter puluhan meter melenyapkan tubuh monster yang terbaring mati di tanah.


Getaran di tanah terjadi, Reza dan yang lainnya yang ada di seratus meter lebih dari titik ledakan bisa merasakan getaran tersebut dengan jelas.

__ADS_1


Di atas dahan pohon besar, mereka semua bisa melihat bahwa ledakan meninggalkan jejak lubang besar di tempat mayat monster tiga kepala berada.


Mayat monster itu telah tiada dan menguap karena ledakan yang luar biasa kuat.


Isander turun dari pohon, diikuti oleh Reza dan yang lain, mereka ingin melihat bagaimana Isander akan bergerak selanjutnya.


Namun, mereka baru sadar bahwa setiap Isander melangkah, lubang besar yang cukup dalam itu terisi kembali oleh tanah.


Sebagai Agter yang memiliki unsur elemen tanah, Goron terkejut dengan bagaimana cara Isander mengendalikan kekuatannya.


Tidak perlu banyak bergaya dalam melakukan serangan, cukup diam dan mengaktifkan kekuatan diam-diam.


Setelah itu, mereka semua melihat pepohonan mulai bergerak mengisi lahan kosong dari pemulihan tanah di medan pertempuran mereka semua.


Lagi-lagi Isander tidak menunjukan dirinya mengontrol batang kayu pohon atau pohon batang kambium.


"Ayo pergi!"


Setelah mengatakan itu, Isander bergerak menuju ke arah barat laut menuju tempat di mana Aqila dan Giya menunggu.


Tentu saja Isander tidak menggunakan kecepatan penuhnya, ditakutkan mereka tidak bisa mengikuti kecepatannya.


Tidak butuh lama untuk mereka tiba di sana, mereka langsung memutuskan untuk melanjutkan lagi perjalanan.


Mereka masih belum tiba di titik di mana tanda S di wilayah Brebes berada. Mereka semua harus menempuh sekitar 7 kilometer lagi untuk bisa sampai di tanda S yang terdapat monster S misterius.


Sayang sekali, perjalanan mereka tidak berjalan mulus karena banyak monster A yang mendatangi mereka sehingga harus terhambat untuk melenyapkan monster-monster yang mengganggu.


Mulai dari monster Beargarets, Deergarets, Spidgaret, hingga ke Rhigarets yang sudah menjadi langganan pembantaian.


Walaupun mudah mengalahkan mereka semua, tetapi jumlahnya yang membuat tim Isander butuh banyak waktu untuk bisa benar-benar mematikan mereka semua.


Tentu saja, Isander tidak ikut membantu, dia pergi bersama Meisya ke tempat aman dan enak untuk bersantai sambil menunggu mereka semua menyelesaikan monster-monster yang berdatangan.


Isander tidak takut mereka terluka lantaran ada tiga pet Isander yang kuat dan punya kemampuan yang hebat.


Sesama monster A, Kimaya dan dua burung elang itu bisa mengalahkan monster A yang lain.


Mengingat monster A ini kebanyakan tidak memiliki kekuatan unsur, cuma mengandalkan kekuatan tubuh dan senjata alaminya, seperti cula Rhigarets, cakar tajam Beargarets, dan tanduk bercabang Deergarets.


Omong-omong, Deergarets punya bentuk yang hampir sama dengan Deegiant, cuma ada perbedaan di sesuatu yang membentuk tubuhnya.


Deergarets masih daging dan darah yang menyusun tubuh, sedangkan Deegiant sudah mengubah seluruh tubuhnya menggunakan tanaman merambat yang liar.


Mereka tidak begitu kewalahan melawan puluhan sampai ratusan monster A yang menyerang.


Pasalnya, Kimaya dan dua monster elang Suphaast punya kemampuan yang bisa membantu mereka ketika sedang menyiapkan serangan hebat.


Pada intinya, mereka aman dalam memerangi penyerangan monster A dalam jumlah yang banyak.


Graahhh!


Beargarets melebarkan kedua kaki depannya yang punya cakar panjang ke Reren.


Dua perisai berduri yang kuat muncul di depan sosok Reren, kemudian dua perisai itu menghalau sosok Beargarets yang ingin menerima Reren.


Sayang sekali, Beargarets yang tak punya pengalaman ini tertusuk oleh duri panjang yang tersemat di bagian luar perisai Reren.


Usai tertusuk, tangan Goron yang besar itu menarik tubuh Beargarets untuk melepaskan tubuhnya dari duri-duri yang melubangi tubuhnya.


Tubuh Beargarets yang besar itu benar-benar ditarik, padahal ukuran Goron dengan Beargarets begitu timpan, sangat berbeda.


Sebelum bisa Beargarets bereaksi, kedua tangan Goron menciptakan bongkahan tanah keras yang besar untuk mengahancurkan keseluruhan tubuh monster.


Bam!


Tubuh Beargarets terjatuh dengan lubang besar dan lubang kecil di tubuhnya.


Sudah dapat dipastikan Beargarets ini mati oleh banyaknya luka yang didapatkan.


Goron tersenyum ke arah Reren dan memberikan jempol.


Dengan pipi yang memerah Reren mengangguk sebagai tanggapannya.


Zztt!


Suara listrik yang menari-nari di tubuh Beargarets terdengar di antara mereka berdua.


Sosok Aqila muncul dengan kedua cakram berlian yang dibuat oleh Isander.


"Monster itu sudah mati?" tanya Aqila pada Goron dan Reren.


Keduanya mengangguk hampir bersamaan.


Melihat respons keduanya, kepala aqila mengangguk mengerti, kemudian matanya bergerak untuk melihat sekitar.


Puluhan monster A berhasil mereka kalahkan dengan usaha yang keras.


Setelah semuanya sudah selesai, Aqila dan Giya bergegas pergi menuju Isander yang menunggu mereka mengalahkan semua monster A yang berdatangan.


Masih dengan pola yang sama, Isander muncul di depan Reza dan anggota tim yang lainnya untuk membersihkan bekas medan pertempuran mereka semua.


Cara Isander untuk melenyapkan bekas kehancuran ini tak berbeda sama sekali.


Mereka terlalu memakan banyak waktu sehingga mereka semua harus berhenti dahulu untuk makan siang bersama mengisi energi yang telah terpakai banyak.


Makan siang berlangsung dengan biasa dan baik, tak ada monster yang mengganggu di saat mereka sedang beristirahat.


"Agter telah berubah menjadi monster, aku masih tidak percaya ini," Reza berkata dengan wajah yang sulit memercayai apa yang telah dia alami sebelumnya.


Semua anggota Isander tenggelam dalam pikirannya, merenung sejenak mengingat kembali tentang monster yang sebelumnya mereka lawan. Monster berkepala tiga.


"Apakah kalian tahu apa nama dari monster tiga kepala itu?" tanya Isander dengan rasa ingin tahu yang besar.

__ADS_1


Aqila menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak tahu, ini varian atau jenis monster baru. Sebenarnya, masih banyak jenis monster baru sejak Agter-Agter berubah menjadi monster. Jelas, pelakunya adalah orang yang membagikan minuman pengubah Agter menjadi monster."


__ADS_2