SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 183: Kedatangan Garuda Comity


__ADS_3

Begitu dia masuk, mereka bisa melihat bahwa ruangan di balik pintu cukup luas, bisa untuk menjadi tempat bertemu dan mengobrol.


Anggota Garuda Comity satu per satu masuk ke dalam markas tim Isander, berdiri di ruang tempat biasanya Isander dan anggota tim lainnya mengobrol atau berdiskusi bersama.


Kepala menoleh ke sekeliling untuk memandangi interior ruangan markas yang sederhana ini.


Tempat ini memang sangat cocok untuk singgah dan bermalam.


"Silakan duduk di sini, aku ingin berbicara pada kalian mengenai kondisi di kota dan di luar daerah ini," Isander berkata kepada mereka semua sambil duduk di lantai.


Kei dan anggota Garuda Comity yang lain mengikuti ucapan Isander, mereka semua duduk di hadapan Isander berbaris ke samping.


Mereka semua ada 7 orang totalnya, cukup banyak.


Tepat ketika Kei ingin bertanya pada Isander, sesosok makhluk kecil keluar dari dalam kamar membawa tas dengan menggunakan mulutnya.


Mahluk ini sangat aneh bagi mereka sekaligus juga familier, seperti pernah melihat di suatu tempat.


Begitu makhluk itu berhenti di depan Isander dan meletakkan sebuah tas, Kei dan yang lainnya ingat dengan identitas makhluk ini.


"Bukankah ini Deegiant?!" ucap Kei dengan suara sedikit keras.


Isander memberikan isyarat kepada Kei untuk mengurangi volume suaranya menjadi kecil. Pasalnya, tim Isander sedang beristirahat untuk persiapan melawan banyak monster besok.


Jika mereka kekurangan tidur, mereka tidak bisa maksimal melawan monster dan kalah. Dengan begitu, Isander mengimbau anggota Garuda Comity untuk tidak mengeraskan suaranya ketika berbicara.


"Perkenalkan, ini temanku sekaligus binatang psikis yang aku rawat, namanya Kimaya," terang Isander sambil mengelus tubuh Kimaya yang terdiri dari kumpulan tanaman merambat. "Benar apa kata Kei, Kimaya ini adalah Deegiant. Bukannya kalian sempat melihatnya?"


"Entah, aku lupa," balas Kei sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Apa yang dikatakan Isander membuat semua anggota Garuda Comity yang belum tahu seketika tercengang. Pria yang mereka lihat sekarang benar-benar mengagumkan.


Monster A legendaris yang sulit untuk ditemukan dan dikalahkan, kini sekarang menjadi binatang peliharaan yang jinak, bahkan bisa dielus-elus layaknya seekor kucing rumahan.


"Hati-hati dengan Deegiant, aku bisa menyuruhnya untuk melawan kalian semua kalau kalian macam-macam denganku dan timku," kata Isander tersenyum pada Kei dan anggota kelompoknya.


Senyuman yang dilemparkan oleh Isander membuat bulu kuduk mereka terbangun ngeri. Mereka takut dengan ucapan Isander yang itu bukan suatu hal yang tak mungkin.


Isander jauh lebih kuat dari mereka semua, bisa kapan saja melawan dan membunuh mereka dalam sekejap.


Tampilan Kimaya yang sekarang memancarkan perasaan berbahaya yang kental, Kei, Sadam, dan Hendra merasakan tanda bahaya yang samar-samar ini.


Perkataan Isander harus mereka turuti jika ingin tetap berteman dan hidup.


Melihat mereka semua terdiam dan menatapnya, Isander meminta Kimaya untuk kembali ke kamar Reren dan Meisya, kedua kamar itu adalah yang harus dijaga karena ada gadis dan anak kecil.


Kimaya sudah tahu dengan tugasnya, kemudian Kimaya menggosok kepalanya pada pipi Isander, berlari sambil melompat kecil layaknya anak kecil bersenang-senang ke kamar Meisya.


Kamar Reren dijaga oleh Glatash dan Magtash, kedua gadis remaja itu aman dengan adanya mereka.


Tangan Isander masuk ke dalam tas, mengeluarkan 4 air minum botol yang besar, dan beberapa makanan untuk Kei dan anggota Garuda Comity.


Kejutan muncul di wajah mereka semua.


Tidak pernah mereka sangka tas yang kecil itu bisa mengeluarkan banyak sekali makanan, ditambah 4 air minum botol yang besar.

__ADS_1


"Makanlah, aku tahu kalian lapar. Ini adalah hadiah pertemuan kita."


Setelah Isander mengatakan itu, Sadam memberanikan diri untuk mengambil satu makanan yang dibungkus dan bentuknya mirip dengan salah satu makan favoritnya dahulu.


Begitu bungkus makanan dibuka, mata Sadam membesar hampir keluar, makanan yang diberikan oleh Isander sungguhan makanan favoritnya.


Burger dengan dua lapis daging, ditambah dengan banyak keju juga sayuran.


Dengan tangan yang bergetar, Sadam membuka mulutnya lebar-lebar dan mengigit burger sebagian.


Rasa gurih dari daging, asin keju, pedas dari saus sambal, dan segar dari sayuran terpadu dengan baik di dalam mulutnya.


Wajah Sadam memerah dengan sorot mata yang meragukan.


"Ini??"


Sadam, Kei, Hendra, dan anggota yang lainnya menatap Isander dengan ekspresi bertanya-tanya.


Isander tersenyum lebar. Merasa senang bahwa mereka bisa makan makanan yang sudah lama tidak dimakan oleh mereka di kondisi dunia yang normal.


"Makan saja. Tak perlu menanyakan tentang asal-usul dari makanan ini. Percuma, kalian takkan bisa tahu, bahkan timku sendiri tidak kuberi tahu asalnya," beber Isander pada mereka semua.


Serempak mereka mengangguk menunjukkan mereka mengerti.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan terhadap Isander yang kuat. Ingin meminta secara paksa pun mereka tak punya kuasa untuk melakukannya.


Mereka berempat memakan makanan semua yang diberikan oleh Isander.


Ada 7 burger dan 3 makanan tradisional, seperti tumis kangkung, sayur nangka, dan rendang.


Tidak lupa dengan satu baskom nasi hangat.


Namun, Isander memblokir wangi makanan ini dengan cara memasang Wind Barrier yang dapat menghamburkan dan membuat wangi menghilang.


Isander duduk di depan mereka tanpa sedikit pun merasa ingin makan makanan juga. Pasalnya, Isander sudah kenyang makan banyak porsi di jam sebelum tidur.


Sekarang sudah jam 1 malam, dan itu baru sebentar.


Makan akan dilakukan lagi di pagi hari.


Mereka makan semua hidangan yang Isander berikan dengan cepat.


Kurang dari 10 menit berlalu, seluruh makanan telah hilang, menyisakan sampah kertas.


Isander mengumpulkan sampah itu lalu menghancurkan dengan Ball of Storm sekecil kelereng di ujung telunjuk.


Lagi-lagi, kekuatan Isander membuat mereka semua terpana. Ball of Storm, bola kecil yang terbuat dari angin badai kuat dan petir dapat menghancurkan kertas hingga menjadi bagian terkecil.


Bola sekecil itu juga mampu menghancurkan tembok beton yang kokoh saking kuat dan destruktifnya kerusakan ditimbulkan.


Anggota Garuda Comity sudah tidak mengerti lagi dengan kemampuan yang dimiliki Isander.


Semua orang, Kei dan anggota kelompoknya duduk bersandar di tembok untuk mengistirahatkan tubuhnya sehabis makan.


Isander menciptakan sebuah kursi santai tanpa kaki di depan orang-orang Garuda Comity, seakan itu tidak apa-apa dan biasa untuk dilakukan oleh banyak orang.

__ADS_1


Menciptakan logam dan membentuk menjadi sebuah kursi sandaran merupakan hal yang banyak sekali orang tak bisa lakukan.


Baru kali ini Kei dan yang lainnya melihat ada kemampuan menciptakan logam dari udara tipis.


Kendali Isander sangat kuat dan tajam, membuat kursi logam begitu santai seakan itu bukan hal yang sulit.


Setelah duduk bersandar di depan mereka semua, niat Isander ingin memulai obrolan.


Menatap Kei yang tepat ada di garis lurus pandangannya sedang duduk bersandar pada tembok, Isander memiliki pertanyaan untuk Kei mengenai permasalahan hari ini yang aneh.


"Apa yang kamu lihat sebelumnya di Kota Garuda mengenai monster-monster yang berdatangan ini?" Isander bertanya sambil melipat kedua tangannya di dada.


Kei duduk tegap saat ditanya sambil ditatap oleh Isander, dengan ingatannya tentang monster-monster berlarian, Kei menjawab, "Hanya ada monster tingkat A dan B yang berlarian tanpa sebab dari hutan di sekitar kota. Peristiwa itu terjadi begitu saja ketika aku sedang mencari Tara."


Pernyataan Kei membuat Isander aneh dan memiliki pertanyaan yang berbeda dengan konteks monster.


"Ada apa dengan Tara? Mengapa kalian mencari dia?" Isander menatap Kei dengan heran. Tidak tahu alasan mereka mencari ketua tim sendiri.


Dengan wajah yang sedih di wajah Kei dan anggota Garuda Comity lainnya. Mereka terdiam sejenak dan saling bertatapan satu sama lain.


Kepala Kei mengangguk, kemudian dia menoleh untuk menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada kelompoknya sendiri.


"Tara membelot menjadi anak buah dari pelaku yang menyebarkan minuman monster," kata Kei dengan wajah yang penuh kesedihan dan rasa kekecewaan.


Isander terperangah mendengar ini, baru tahu kalau ketua bisa mengkhianati timnya sendiri di dunia yang hancur ini.


Namun, semua ini mungkin saja terjadi karena di dunia Isander sebelumnya pun banyak memiliki pemimpin yang mengkhianati warganya sendiri.


Maka dari itu, Isander tidak terlalu begitu terkejut setelah dipikir-pikir lagi.


Tetap saja ini menjadi keanehan bagi Isander yang pernah bertemu Tara.


Isander memandang wajah Kei, Sadam, dan Hendra, sorot matanya butuh kepastian yang konkret. "Tara, dia yang pergi untuk meminta bantuan ke Kota Komodo untuk melawan Deegiant, bulan.?"


"Benar, itu dia. Sekarang Tara pergi entah ke mana bersama pelaku yang menciptakan minuman berbahaya. Tadi pagi kami semua berniat mencari mereka, di tengah jalan tak sengaja menemukan abnormal monster-monster tersebut.


"Pada akhirnya, kami semua bertemu kamu di hutan itu di malam hari hendak beristirahat sejenak," terang Kei dengan jelas pada Isander.


Semuanya sudah jelas. Mereka tidak tahu tentang Isander sama sekali sedang berada di Purbalingga bagian utara.


Murni mereka mengikuti monster-monster yang berlari bersamaan ke satu arah yang sama.


Tidak biasanya monster sebanyak itu berlari secara serempak ke suatu arah. Kemungkinan besar ada yang mereka tuju dan itu penting atau berbahaya.


"Aku mengerti." Isander mengangguk beberapa kali dengan wajah yang dalam. "Apakah kalian menemukan petunjuk tentang keanehan monster-monster tersebut?"


Sadam menggelengkan kepalanya dan membantu menjawab, "Tidak ada, hanya ada pemandangan banyak monster berlarian dari berbagai daerah. Tidak cuma dari hutan di Kota Garuda, melainkan dari daerah yang lain, seperti Sukabumi dan daerah selatan Pulau."


Kei, Hendra, dan anggota tim yang lain membenarkan ucapan Sadam.


"Aneh, sangat aneh. Monster-monster itu menyerang timku dari pagi hari," kata Isander sambil menyentuh dagunya.


"Tunggu, apa kita sedang berada di tempat yang monster tuju?" Kei baru sadar dengan hal ini dan bertanya terburu-buru.


Anggota Garuda Comity yang lain ikut menyadari tentang hal ini.

__ADS_1


Tidak heran kalau ada banyak jebakan di luar bangunan. Faktanya, itu semua untuk membunuh monster yang datang kepada mereka semua.


Ujung mulut Isander terangkat sedikit dan mengangguk kecil, menjawab dengan santai, "Benar. Aku dan timku mendadak menjadi incaran para monster."


__ADS_2