
Merasa tak cukup dengan hanya satu tebasan, tangan Isander melambaikan tangannya sangat cepat hingga terlihat ada bayangan hitam yang samar-sama.
Puluhan bilah energi berwarna lilac tercipta, kemudian terbang ke arah tubuh monster dengan cepat, disertai dengan suara angin yang berhembus kencang.
Bisa dilihat betapa cepatnya energi yang dikeluarkan oleh bilah pedang Havoc ini, mampu menggoyangkan dedaunan pohon yang ada di sekitar, padahal jaraknya cukup jauh.
Tidak hanya cepat, tetapi energi yang meluncur secepat kilat tersebut memiliki daya kerusakan yang sangat besar.
Menembus pertahanan kulit monster rusa ini seakan-akan mengabaikan pertahanan dari kerasnya kulit yang dimiliki monster.
Dalam sekejap, beberapa bilah energi memotong tubuh monster menjadi banyak bagian, darah dan daging menyembur keluar ke segala arah, di jarak puluhan meter dari tubuh monster ini tiba-tiba turun hujan darah dan daging cincang.
Mendarat di dahan pohon, Isander mengamati tubuh monster yang telah terpotong, matanya mengikuti ke arah bongkahan daging yang besar.
Wajah Isander mengernyit, dia menatap beberapa bongkahan besar daging merah kehitaman yang aneh ini, terlihat bergerak dan menggeliat ke satu titik untuk berkumpul.
Mengetahui ini, Isander tersenyum dan berkata, "Regenerasi yang sangat baik, sayang sekali kamu bertemu denganku. Aku tidak membiarkan kamu memulihkan tubuhmu lagi."
Ball of Storm terbentuk di atas telapak tangan Isander dalam sekilas, angin yang berputar dengan kecepatan yang tinggi di dalam bola ini dan petir kuning yang menari-nari di sekelilingnya seakan-akan menunjukkan mereka tidak tak sabar untuk menghancurkan sesuatu.
Dengan bola sebesar bola kasti tersebut dibuang oleh Isander di tengah-tengah tempat pertempuran, sebuah ledakan besar terjadi menghempaskan dan meruntuhkan segala sesuatu yang ada di dekatnya.
Daging, darah, tukang, dan objek tanah yang lainnya terkoyak oleh dampak ledakan yang kuat, dan menyebar sedikit demi sedikit sampai berubah menjadi lubang yang dalam dan lebar.
"Sudah selesai," gumam Isander yang muncul di puluhan meter dari tempat ledakan terjadi.
Isander sudah tahu dengan kekuatan armor dan senjatanya yang berasal dari makhluk bernama Cenagon. Fisiknya mampu menghajar setidaknya monster level A dengan mengeluarkan usaha yang tidak banyak, dan ketajaman dari bilah energi yang dikeluarkan oleh pedangnya bahkan lebih baik lagi hasilnya.
Pada kesimpulannya, dengan armor dan senjata Cenagon, Isander cukup percaya diri dalam melawan monster level S.
Jika dibantu oleh kemampuannya yang lain, Isander dapat mengalahkan monster tingkat level S dengan usaha yang tidak terlalu banyak.
Namun, itu masih asumsinya saja dan hanya perkiraan semata, Isander harus mengujinya secara nyata dengan berhadapan langsung bertarung melawan monster tingkat S yang lebih kuat dari monster A.
Hal yang menjadi permasalahannya ialah Isander tidak tahu monster apa saja yang ada di tingkat S, dia belum pernah diberi tahu oleh anggota kelompoknya.
"Nanti aku akan bertanya kepada mereka persoalan jenis monster, sekarang aku harus merapikan permukaan tanah di sini."
__ADS_1
Mendarat di tepi lubang tanah yang dalam dengan kedalaman lebih dari 10 meter dan lebar diameternya 50 meter, tangan dan kaki Isander ditempatkan di atas tanah, dan suara gemuruh terdengar bersamaan dengan lempengan tanah yang bergeser menutupi permukaan tanah yang rendah.
Proses tersebut tidak berlangsung lama, tak lebih dari 3 menit lamanya.
Melihat permukaan tanah yang hampir rata dan kembali layaknya semula sebelum pertemuan terjadi, Isander bergegas pergi menuju rumah kayunya.
Menghancurkan dinding tanah yang mengelilingi rumah, Isander melihat pintu rumah terbuka dan suasana hatinya sekilas berubah.
Deg!
Perasaan yang tak menyenangkan muncul di dalam hati Isander, mengubah sikapnya yang tenang menjadi orang yang tak sabaran.
Seseorang telah memasuki rumahnya.
Raut muka Isander menjadi panik dan cemas, dia mengerahkan kakinya dengan cepat untuk segera masuk ke dalam rumah.
Tepat ketika dia berada di dalam rumah, dia melihat dua sosok wanita yang dikenalnya sedang menimang Meisya yang pulas tertidur.
Mulut Isander menghembuskan napas panjang, rasa lega yang tak tertahankan terjadi, dan kecemasannya hilang dari hati dan pikirannya sendiri.
Ternyata itu Giya dan Nina yang datang dan masuk ke dalam rumah.
"Kalian sudah sampai dari tadi?" tanya Isander kepada mereka berdua, dan diam-diam menstabilkan jantungnya yang berdetak kencang.
Dia sangat panik barusan, hampir saja dia ingin melepaskan kekuatannya untuk mengeksekusi pelaku yang masuk ke dalam rumahnya.
Ekspresi terkejut mereka menghilang dan mereka tersenyum bersamaan.
"Baru saja kami datang. Kami kesulitan untuk memanjat dinding di luar, kamu terlalu menyeramkan untuk membuat perlindungan," kata Giya yang sedikit tidak senang.
Untuk bisa masuk ke dalam rumah, mereka berdua harus menghancurkan beberapa duri tanah yang ada di dinding, kemudian memanjatnya sampai ke atas tembok.
"Aku harus mementingkan keselamatan anakku, makanya aku membuat tembok dari tanah tersebut," balas Isander dengan serius. Dia tidak bisa menyepelekan hal yang terkait keamanan Meisya, dia akan lakukan meski itu merepotkan dirinya sendiri.
Keduanya tidak bisa menjawab perkataan Isander karena mereka paham maksud dan tujuan Isander. Saat menjadi orang tua, mereka berdua akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Isander.
Anak adalah sesuatu yang penting bagi orang tuanya.
__ADS_1
"Aku dan Nina membelikan kamu dan Meisya baju lagi, kamu lihat saja barangnya di kamar kamu, apakah itu cocok atau tidak."
Giya dan Nina menyempatkan diri menukarkan koin menjadi satu set baju untuk Isander dan Meisya, pakaian sangat penting menurut keduanya.
Selain baju, mereka juga menebus beberapa barang yang lumayan penting, seperti korek api, lampu minyak, tali, dan peralatan lainnya.
Jujur, barang tersebut cukup mahal, koin yang telah mereka tukarkan dari beberapa bukti pembunuhan monster dalam kedipan mata habis tak tersisa.
Namun, itu sepadan dengan barang yang mereka dapatkan.
"Oke, aku akan periksa terlebih dahulu."
Isander bergerak memasuki kamar, dia dapat melihat ada sepotong kaus hitam polos lengan pendek dan celana panjang warna hitam direntangkan di atas kasur.
Di samping pakaian tersebut terdapat baju dan celana anak kecil yang bermotif bunga berwarna ungu, kelihatannya muat dengan tubuh Meisya.
Pakaian yang dibelikan oleh mereka berdua Isander langsung pakai dan coba, rasanya cukup bagus dan nyaman. Selama beberapa menit dipakai, Isander tidak menemukan perasaan gatal yang timbul di kulitnya.
Ukurannya pas sekali dengan tubuhnya, tidak kecil dan besar.
Setelah mencoba baju ini, Isander melepaskan baju yang baru saja dia dapatkan lalu melipat pakaiannya dengan rapi, dan membawanya ke Giya dan Nina.
Dia meminta pakaian ini disimpan di tas mereka.
Sungguh merepotkan apabila tidak mendapatkan tas penyimpanan ruang angkasa.
Beberapa puluh menit berjalan, sosok Reza dan Kila datang ke rumah dengan membawa oleh-oleh juga.
Keduanya langsung bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi ketika mereka ada di kota.
Isander menatap mereka berempat dengan pupil mata yang serius, dan dia bertanya, "Kalian tahu monster yang besar dengan tinggi hampir sepuluh meter dan mirip rusa?"
Mereka berempat langsung mengingat ke suatu monster yang mereka kenal.
Bersamaan mereka semua menunjukkan raut wajah yang terkejut.
"Itu adalah Deergarets!"
__ADS_1
Keempatnya berkata hampir berbarengan, dan menatap Isander dengan mandat yang membesar.
"Apakah monster itu sangat spesial sehingga kalian semua bereaksi seperti itu?"