
Takdir, itulah yang dinamakan takdir, tak ada seorang pun yang tahu bagaimana jalan cerita hidup seseorang. Jadi, mereka hanya bisa menerima takdir ini meski terasa sedih.
Apakah bisa mereka mengubah takdir yang telah terjadi? Tentu, jawabannya adalah tidak.
Mereka cuma bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian seluruh warga pemukiman, termasuk dua orang yang sangat mereka kenal.
Jika mereka tahu tentang peristiwa ini, mereka tidak akan pergi ke luar pemukiman, dan menjaga pemukiman dari penyusup yang menghasut Pak Tole untuk melakukan hal yang keji dan buruk kepada warga Rain Settlement.
Isander menghibur Giya dan Nina supaya tidak terlalu sedih atas kehilangan orang yang mereka kenal baik. Pasalnya, sedih terlalu lama dan memikirkan suatu hal dengan waktu yang lama adalah sesuatu yang dapat membuat diri kita menjadi sakit.
Banyak keburukan yang didapatkan kalau kita terlalu memikirkan suatu hal di dalam otak sampai-sampai kegiatan menjadi terganggu dan produktivitas tidak berjalan dengan baik.
Kesehatan pun akan menurun karena makan pun tidak nafsu lagi.
"Pak Tole adalah seorang pria tua penjaga sebuah pemukiman yang ada di luar Kota Garuda, letaknya ada di dekat daerah Dramaga, Bogor," Isander mencoba menerangkan orang yang sedang mereka bertiga bicarakan kepada Reza dan Kila.
Mereka berdua bukan berasal dari Rain Settlement, tentunya takkan tahu tentang persoalan ini. Mereka tidak tahu permasalahannya.
"Tunggu, aku seperti pernah mendengar nama itu," celetuk Reza yang merasa akrab dengan nama pemukiman yang disebutkan Isander.
Isander menatap Reza dengan bingung dan bertanya, "Kamu berasal dari kota apa?"
"Aku berasal dari Kota Garut," jawab Reza dengan jujur tanpa ada yang ditutupi.
"Kalau aku berasal dari Bandung," lanjut Kila yang mengungkapkan tentang asalnya.
Benar, selama mereka berjalan bersama beberapa hari ini, mereka bahkan tidak tahu tentang asal masing-masing.
Memang aneh dan lucu.
Keduanya berasal dari kota yang berbeda, tidak aneh jika mereka tidak begitu familier dengan daerah Dramaga lantaran tata letaknya sudah bukan di kota yang sama.
"Pantas saja, kamu pernah mendengar nama daerah itu?" Mata Isander melirik Reza dengan penasaran.
Reza merespons dengan anggukkan kepala dan berkata, "Iya, tetapi aku lupa di mana dan apa."
"Oke-oke."
Reza melupakan sesuatu yang sebenarnya cukup penting karena itu menyangkut suatu daerah dan jika itu masih samar-samar diingat. Seharusnya, itu suatu hal yang cukup penting dan impresif.
__ADS_1
Setelah percakapan singkat dengan Reza dan Kila, Isander melanjutkan lagi tentang pengenalan Pak Tole dan Pak Ghandi.
Penjelasan yang Isander berikan cukup lengkap dan dapat dengan mudah dimengerti oleh kedua nya dengan cepat.
Reza dan Kila juga ikut terkejut serta merasa sedih sehabis mengetahui tentang dua orang yang menjadi monster.
Hanya karena masalah pribadi, orang-orang yang tak bersalah tewas dan menjadi monster. Sangat-sangat kejam.
Namun, masalah ini masih tergolong manusiawi, bukan manusia jika tidak merasa iri dan sifat buruk yang lain.
Tetap saja peristiwa yang terjadi merupakan kejadian yang tragis dan membuat orang sedih mendengar ceritanya.
"Kesalahan terbesar ada di tangan Pak Tole, dia kalah oleh keegoisannya dan dendam yang tak jelas, menuruti kedua sifat buruk tersebut hingga akhirnya meminta kerja sama dengan monster," ucap Reza yang memberi kesimpulan mengenai permasalahan tentang Rain Settlement.
Isander setuju dengan buah pemikiran atau pendapat yang diungkapkan Reza.
Keegoisan dan kebencian Pak Tole yang mengubah kehidupan yang damai dan bersifat positif, kini menjadi kehancuran yang benar tak ada satu orang pun berkesempatan hidup.
Hanya 3 orang tersisa dan itu pun mereka bertiga seorang Agter yang punya kekuatan.
"Jujur saja, aku baru tahu ada manusia yang melakukan transaksi dengan seorang monster." Reza masih heran dengan bagian cerita Pak Tole mendapatkan virus.
Pupil mata Isander membulat dan dia sadar akan sesuatu. "Benar, pelakunya bukan dari seekor monster, melainkan manusia yang misterius. Lagi pula, untuk apa monster mau membantu seorang manusia yang jelas-jelas berasal dari kubu yang bertentangan."
"Monster mana yang bisa berbicara manusia? Aku belum pernah melihat monster yang mampu berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar, " tambah Kila dengan polos.
Ada benarnya apa yang dikatakan Kila, belum pernah mereka melihat secara langsung ada sesosok monster yang berubah menjadi sosok manusia atau menyerupai manusia.
Jarang ada juga monster yang bisa mengubah tubuhnya termasuk untuk bicara memakai bahasa Indonesia dengan baik.
Walaupun ada itu merupakan monster tingkat atas, kemungkinan ada di level S ke atasnya.
Mengubah tubuh menjadi humanoid tidak segampang itu, dan butuh banyak tenaga yang dikorbankan
Monster tingkat rendah mustahil untuk bisa mengubah bentuk menjadi seorang manusia dan berbicara bahasa manusia sehingga bisa berdagang.
Kemungkinan besar, pelaku yang menawarkan bantuan kepada Pak Tole adalah seorang manusia.
"Apakah ada kubu manusia yang mendukung monster?" tanya Isander dengan penasaran.
__ADS_1
Reza dan lainnya sama-sama menggelengkan kepalanya untuk menjawab. Merek semua tidak tahu tentang itu karena informasi yang menjelaskan hal tersebut tidak tersimpan.
Pihak Kota Garuda tidak memberi tahu bahwa ada manusia yang berkhianat.
"Tidak ada, eh, entahlah," kata Reza dengan ekspresi yang bingung.
Giya menatap Isander dan menjawab, "Aku belum pernah mendengar berita tentang koalisi antara manusia dan monster."
Semuanya bilang mereka tidak tahu tentang hal tersebut.
Jikalau ada, itu sudah menjadi informasi yang cukup penting yang akan diberitahukan kepada Isander oleh mereka semua.
"Satu misteri yang belum terpecahkan."
Tidak ada yang tahu pasti tentang siapa yang menjadi pelaku orang yang berniaga dengan Pak Tole.
Pada intinya, pelaku bukan seorang monster yang sangat berbeda dengan manusia.
Mereka semua mencoba untuk menyisihkan terlebih dahulu masalah itu, dan kembali fokus untuk berjalan mencari tempat berkumpulnya para monster yang jahat.
Tak lama berselang, mereka mendapatkan apa yang mereka tuju. Terdapat kumpulan monster Goatager dengan jumlah anggota puluhan ekor.
Untuk ini, Isander tidak ikut campur, biarlah mereka membantai makhluk lemah satu ini. Isander tidak mau memanjakan anggota kelompoknya.
Goatager adalah monster yang kerap mereka bunuh dan populasinya memang banyak. Monster yang berasal dari domba, dan para manusia mengembangbiakkan domba begitu banyak.
Menusia tidak memiliki ekspektasi bahwa domba yang mereka ternak akan berubah menjadi sosok monster yang cukup kuat untuk membantai manusia lemah.
Segala serangan mereka berempat luncurkan, Nina dan Reza kembali berlomba membunuh banyak Goatager.
Tantangan diterima oleh mereka berdua dengan tegas dan mata yang pemberani.
Keduanya mencoba saling mengalahkan, hingga akhirnya satu dari mereka berdua sempat membuat kesalahan.
Boom!
Sebuah tali yang keras menghantam tubuh Goatager yang meluncur ingin menerkam sosok Reza.
Monster itu seketika menjadi hancur, bagaikan daging ayam yang ditumbuk oleh batu.
__ADS_1
"Tunggu, sepertinya ada yang aneh."