
Kepala Isander menoleh untuk melihat ke arah sebuah sungai yang mengalir di samping kiri mereka berjalan.
Arah aliran sungai ini melintas ke arah utara sebelum akhirnya berbelok ke arah timur, lebih tepatnya ke arah timur laut.
Baru kelihatan ketika aliran sungai satu arah dengan arah jalur yang mereka tempuh. Sumber aliran ini dari arah selatan, atau tepatnya arah Gunung Salak, kemudian agak berbelok di titik mereka berempat berada.
“Kalau tidak salah, air sungai ini mengalir ke tempat pemukiman kita. Air sungai yang kita selalu ambil airnya untuk dimasak dan dipakai untuk mandi berasal dari sini.“
Mendengar ucapan ini membuat Isander sangat terkejut. Ia menatap Nina dengan tidak percaya. “Air sungai yang ada di timur pemukiman yang jaraknya ratusan meter itu?“
Nina membenarkan tebakan Isander dan mengangguk.
Isander menundukkan kepalanya sambil berjalan dan menggendong Meisya yang tertidur di pelukannya. Sesuatu pikiran sedang bersemayam di kepalanya.
Pantas saja, Isander baru sadar kalau air sungai di dekat Rain Settlement tidak melintas lurus ke arah utara, tetapi arah timur sedikit ke timur laut. Ternyata airnya masih termasuk dengan aliran sungai ini, tetapi aliran sungai di pemukiman tidak lebar.
Ada yang membuat Isander bingung. Begitu memikirkan ini, ia menengok ke samping dan bertanya kepada Giya yang berjalan di sebelahnya, “Monster ikan berkaki menyerangku di sini. Monster itu muncul dari sungai ini. Aku ingin tahu mengapa kita tidak terinfeksi karena minum dan mengkonsumsi air dari sungai ini? Monster tinggal di sini.“
“Tunggu! Kamu bilang sungai ini memunculkan monster ikan?!“ Giya malah balik bertanya sebagai respons terhadap pertanyaan Isander.
“Benar, monster ikan besar yang memilik empat kaki.“
“Kamu sedang tidak berbohong, kan?“ Giya menatap Isander dengan serius.
Isander menganggukkan kepalanya. “Ya, aku tidak berbohong.“
Giya dan Nina saling memandang begitu percaya dengan ucapan Isander. Mereka berdua tampak memberi isyarat satu sama lain melalui tatapan mata tentang suatu hal.
“Kalau begitu, kita akan tinggal di rumah pohon kayu untuk satu hari, besok lusa kita akan berangkat lagi ke Gunung Salak,” ucap Giya kepada Isander dan Nina. Suaranya sangat tegas dan serius tanpa ada rasa bohongan.
Keputusan yang dibuat Giya disetujui oleh Isander dan Nina, mereka tidak keberatan sama sekali. Mereka malah menjadi ingin lebih tahu tentang aliran sungai yang muncul secara tiba-tiba ini. Pasti ada sesuatu cerita di baliknya.
__ADS_1
“Aku akan menjawab pertanyaan kamu, Isander. Virus yang membuat makhluk hidup menjadi monster bernama Agro. Agro inu semacam bakteri, tetapi ia tak bisa menginfeksi begitu saja layaknya virus. Bakteri harus disebarkan dengan cara mengenai darah pada luka suatu makhluk hidup secara langsung, artinya bakteri ini takkan menginfeksi kita melalui air,” jelas Giya dengan jujur dan sesuai dengan apa yang ia tahu.
“Benar. Bakteri yang menular ini hanya bisa mengkontaminasi melalui luka korban dan itu juga harus ditularkan dalam bentuk gigitan. Pada dasarnya, bakteri ini tak bisa lama di dalam inangnya,” Nina menambahkan pernyataan Giya.
Ucapan Nina diperkuat oleh anggukan kepala Giya.
“Bukankah bakteri ini mirip dengan parasit? Sangat membutuhkan tubuh inang atau korbannya?“ Isander melihat wajah mereka berdua dan menunggu jawaban.
Kedua wanita ini menganggukkan kepalanya hampir serentak. Spekulasi dan opini Isander bisa dianggap benar. Sebenarnya, mereja berdua juga belum tahu banyak tentang bakteri ini.
“Bisa disebut semacam itu. Bakteri ini memang sangat memerlukan inang untuk bisa hidup. Apabila diam di dalam air yang dingin atau pun panas mereka sebenarnya bisa hilang. Tidak hanya di air, di udara pun mereka bisa kalah dan mati.“ Giya terlihat mirip dengan seorang guru sekarang. Seorang guru yang sedang menerangkan materi pelajaran. “Namun … jika dia sudah menemukan inang dan mengambil alih tubuh makhluk hidup, mereka akan menjadi lebih tahan dari suhu ekstrim tersebut.“
“Mereka tahan dengan peluru senapan karena mereka memiliki faktor pemulihan yang merepotkan bagi para manusia yang berusaha membasmi mereka semua. Sebagai informasi, mengapa manusia kalah dalam mempertahankan wilayah, salah satu alasan terbesarnya karena manusia tidak memiliki senjata yang mampu melakukan perlambatan pada kekuatan pemulihan monster-monster itu.“ Nina tidak ingin kalah, ia juga memberikan sebuah informasi dasar seputar bakteri penyebab monster ada di dunia ini.
“Oh, aku mengerti sekarang.“ Isander menunjukkan pemahamannya terhadap penjelasan mereka berdua.
“Orang dari luar kota kebanyakan tidak tahu tentang fakta ini, ya?“
“Iya, informasi yang mereka dapatkan minim sekali. Orang desa sibuk menyelamatkan diri dan bersembunyi, berbeda jauh dengan kalian orang kota, banyak memiliki waktu dan hidup tidak selalu menegangkan layaknya orang luar kota,” ujar Isander yang memberi tahu sebuah fakta tentang orang yang diusir oleh penguasa kota. “Mana ada waktu untuk mereka mengetahui informasi itu, sedangkan mereka sibuk mencari cara untuk bertahan hidup tanpa dinaungi oleh para pelindung pilih kasih.“
“Maaf ….“ Keduanya menundukkan kepala dengan wajah yang bersalah.
Alis Isander terangkat naik begitu mendengar ucapan mereka berdua.
“Untuk apa meminta maaf?“
Mereka berdua secara bersamaan menatap wajah Isander, terlihat manik mata mereka yang menunjukkan rasa bersalah dan ada sedikit perasaan rumit.
“Kami berdua meminta maah kalau tempat kami berasal sudah membuat kamu dan Meisya sengsara. Aku dan Nina sangat menentang kebijakan ini, tetapi apa daya kalau di dalam kota memiliki seorang pemimpin. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah mereka. Hanya dengan mengikuti misi ini yang bisa aku lakukan untuk para orang-orang yang tidak diterima masuk ke dalam kota dengan membantu mereka bertahan.“
Pernyataan Giya dibenarkan oleh Nina. Semua pernyataannya hampir sama dengan kalimat yang ingin ia keluarkan.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, tak perlu meminta maaf. Ini memang bukan salah kalian, melainkan orang-orang penting kota yang membuat kebijakan absurd ini.“ Isander menggoyangkan tangannya menunjukkan bahwa itu tak perlu dikhawatirkan.
“Iya,” Giya berkata dengan nada yang canggung.
Mereka bertiga terus berjalan menyusuri aliran sungai sambil berbincang santai.
Arah mereka berjalan menuju di mana tempat rumah pohon berada, beberapa kilometer lagi untuk mereka lalui agar bisa sampai ke sana.
Butuh waktu lebih dari 2 jam mereka berjalan menuju di bagian hutan yang di mana tempat rumah pohon didirikan.
Seharusnya, mereka bisa sampai lebih cepat. Itu karena mereka bertiga melihat-lihat tempat Giya ditemukan oleh Isander dan Meisya.
Di dalam rumah pohon, di bawah langit yang kian meredup, mereka semua sedang duduk bersama melingkar sambil menatap satu sama lain. Mulut mereka semua bergerak, mereka membicarakan sesuatu hal.
“Jadi, pinggir sungai tadi tempat kamu tergeletak tak sadarkan diri? Jujur saja, kamu harus kukatakan sebagai orang yang beruntung. Untung saja monster yang menyerang Isander tidak datang kepadamu. Tidak tahu bagaimana nasibmu setelahnya.“ Nina menoleh ke arah Giya. Ia tersenyum sambil mengambil secuil daging ayam panggang yang ia pegang di tangan kirinya.
“Maka dari itu, aku sangat berterima kasih kepada Isander dan Meisya yang menemukanku. Benar apa katamu, mungkin aku sudah menjadi daging santapan para monster.“ Giya menatap ke bawah dan menggigit ayam panggang bagian dada di tangannya.
Isander tersenyum sebagai tanggapannya, ia menyuapi daging ayam kepada Meisya yang duduk di pangkuannya.
Mereka semua mengobrol di dalam rumah pohon dengan hati yang tenang dan senang.
Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa mereka telah diketahui oleh sesuatu. Sesuatu ini sedang mengintai di sekitar rumah pohon untuk mencari keberadaan dari suara bising yang sejak tadi terdengar.
Banyak sinar merah di sekitar rumah pohon, itu bergerak ke sana kemari mencari sumber suara.
Chishh!
Monster ini adalah monster yang pernah Isander temui di pinggir sungai. Pada kesempatan kali ini, mereka datang dengan jumlah yang banyak.
Isander yang selesai menyuapi Meisya langsung mengubah wajahnya. Melihat perubahan wajah Isander yang mendadak ini menarik perhatian Giya dan Nina.
__ADS_1
“Ada apa, Isander?“
“Sutt! Rendahkan suaramu. Mereka ada di sini.“