SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 85: Membantai Monster Semalaman


__ADS_3

Dark Spear berputar-putar di tangan Isander, bilahnya yang beres hitam menebas semua tubuh Deertager dengan kejam.


Di ujung sisi bilah tombak dengan sombongnya membelah daging dan kulit monster seakan itu tidak berarti apa-apa.


Wajah Isander penuh dengan senyuman yang berseri-seri, dia menikmati hasil dari latihannya yang dilakukan setiap hari.


Kelincahan tubuhnya sangat mudah mengalahkan monster-monster ini, hanya bermodalkan senjata tombak di tangannya.


Isander sama sekali tidak menggunakan kekuatan energi hitam yang dikeluarkan oleh tombak, murni fisik dan ketajaman tombak yang luar biasa.


Mata Reza melihat ke arah sosok Isander yang berpindah di antara tempat pertempuran, gerakannya begitu cepat, bahkan dia sulit untuk mengikuti arah ke mana Isander bergerak.


Tangan Reza menebas kaki depan Deertager menggunakan belati anginnya, dan berkata di dalam hati, "Kekuatan elemen angin yang aku punya tidak sebanding kecepatan tubuhnya, dia luar biasa."


Kekaguman Reza kepada Isander kian bertambah, tanpa dia sadari, dia telah menjadi penggemar kecil Isander.


Melihat Isander yang mengalahkan monster seolah bukan apa-apa, membuat semangat juang untuk menjadi keberadaan terkuat berkobar di hatinya.


"Aku akan menjadi sosok yang melebihi dirinya!"


Dalam sekejap, kekuatan Reza meletus dari dalam tubuhnya, setiap gerakan yang dia lakukan bertambah cepat, sosoknya menjadi lebih cepat dan cepat seiring lontaran tebasan yang mengenai monster.


Kekuatan Reza pada saat ini meningkat secara bertahap dan durasi yang cepat.


Isander yang sibuk membunuh monster di bagian sisi lain tiba-tiba mengerutkan keningnya, dan kemudian menatap Reza yang dengan kecepatan tinggi memotong-motong tubuh monster Deertager.


Hanya dalam sekali lihat, Isander tahu bahwa kemampuan dan kekuatan Reza menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


Kurva terjadi di mulut Isander, rasa senang dirasakan oleh Isander. Satu per satu anggota kelompoknya tumbuh kuat, dan itu adalah sesuatu hal yang baik baginya.


Dengan adanya anggota yang kuat, Isander bisa membunuh dan membasmi banyak monster yang ada di dunia dengan mudah.


Swoosh!


Cahaya ungu gelap tersebar ke segala arah dan seluruh monster yang masih berdiri terpotong menjadi ratusan balok daging dengan ukuran sedang.


Tidak ada satu pun monster yang hidup, mereka semua telah musnah, termasuk monster yang dilawan oleh Reza.


"Reza, kamu periksa area di sekitar rumah, aku akan menghapus jejak pertempuran di sini, nanti aku akan menyusul," kata Isander pada Reza yang berdiri di sebelahnya.


Reza mengangguk, dan dia menghilang di detik berikutnya.


Melihat kekacauan yang ada di sini, Isander tidak menunggu lama untuk memulai membersihkan daging-daging busuk dan darah yang tergenang di banyak bagian.


Mengulurkan tangannya ke atas, Isander membuat bola api merah melalui sepuluh jarinya.


Bola api yang panas dan besar menghantam tengah-tengah tempat bertempur, dan ledakan pun terjadi.


Api merah mengubah darah yang menggenang menjadi uap, daging merah kehitaman terbakar hingga meleleh dan butuh waktu puluhan detik untuk berubah menjadi uap.


Permukaan tanah yang terkena jilatan kobaran api menjadi hitam dan hangus terbakar.

__ADS_1


Retakan halus melebar di tanah membentuk lingkaran yang rata, bongkahan tanah menjadi kering, dan tak ada satu pun tumbuhan yang masih bertahan dengan suhu panas dari ledakan.


Usai ledakan terjadi, Isander langsung mengerahkan kekuatannya untuk mengendalikan tanah di medan pertempuran.


Tanah yang kering dan gersang mulai kembali mendapat vitalitasnya, permukaan tanah yang retak bergerak dan menghilangkan semua retakan tanah yang terbentuk di atasnya.


Akar dan batang pohon ikut bergerak dan mulai mengisi tempat bekas pertempuran yang kosong.


Dalam beberapa detik berikutnya, area bekas mereka bertempur disulap menjadi tempat yang penuh oleh pohon yang tinggi tanpa ada sedikit pun daging monster yang bersarang di sana.


"Aku kembali," kata Reza yang telah pergi untuk memeriksa kawasan yang dekat rumah mereka.


"Apakah ada monster yang berkeliaran di sekitar sana?" tanya Isander sambil menyimpan kembali senjata Dark Spear ke punggung tangannya.


"Ada, beberapa Catagtress yang berlari di area sekitar rumah kita."


Reza melihat ada belasan Catagtress sedang berlari dan terlihat sedang mencari sesuatu di area dekat rumah mereka berada.


Namun, dia tidak langsung menyerang karena dia belum ditugaskan oleh Isander untuk menghabisi mereka semua.


Isander menatap ke sekelilingnya dan mengangguk, matanya melirik Reza dan berkata, "Tunjukkan tempat mereka, kita harus menghapus mereka semua."


"Oke, ikuti aku!"


Setelah kalimat Reza keluar, keduanya meluncur cepat menuju tempat monster Catagtress berkumpul.


Di malam hari ini, mereka berdua sibuk melenyapkan semua monster yang ada di jarak 3 kilometer dari tempat rumah mereka berada.


Hebatnya, mereka bisa melakukan hal tersebut sebelum matahari timbul dan menampilkan sosoknya yang cerah bercahaya.


Reza tak berbicara ketika sampai di rumah, dan dia langsung tumbang lantaran staminanya habis digunakan untuk membantai ratusan monster sekaligus.


Rasa lelah yang tak tertahankan sudah menutupi seluruh tubuhnya, untuk berjalan pun sudah karena tenaganya sudah dikuras habis tadi malam.


Melihat Reza yang seperti ini membuat ketiga wanita ini bertanya-tanya, dan menatap Isander meminta penjelasan.


Semua yang dilakukan oleh mereka berdua diceritakan kepada ketiga wanita tersebut.


Reaksi mereka semua secara serentak tampak terkejut, dan mereka menjadi tahu mengapa Reza terlihat sangat lemah ketika pulang.


Tak heran jika Reza kelihatan lelah dan lemas bagai zombie yang berjalan, mereka berdua semalaman bertarung melawan ratusan hampir ribuan monster level B.


Namun, mereka diam-diam menatap Isander dengan perasaan yang berbeda.


Mereka cukup tahu akan stamina seorang pria yang ternyata berbeda, dan Isander seorang pria yang memiliki stamina yang besar dari Reza.


Isander sendiri tidak merasa lelah begitu parah, keletihan yang dirasakan sama seperti orang yang lelah karena telah berlari mengelilingi satu kali lapangan sepak bola berukuran kecil, luas hanya belasan meter.


Dan energi serta stamina yang habis seketika terisi kembali dalam waktu yang singkat.


Semua ini terjadi karena kemampuannya, yaitu Magnetar Body yang di mana dalam deskripsi yang diberikan oleh sistem terdapat keterangan bahwa tubuh ini mempunyai energi yang besar.

__ADS_1


Dengan begini, Isander tak takut jika dia harus melawan banyak monster seharian penuh.


Demikian, Reza dan Isander di pagi hari ini tidak ikut sarapan bersama.


Entah mengapa Isander ingin merasakan tidur setelah beberapa hari tidak tidur sama sekali.


Sebelum tidur, beberapa makanan dikeluarkan oleh Isander dan dibagikan kepada mereka bertiga, Meisya juga termasuk.


Isander tidak khawatir apabila mereka ditinggal tidur, tak ada monster di jarak beberapa kilometer dari rumah sebagai pusatnya.


Saat kesadarannya terlempar di alam mimpi, Isander menemukan dirinya berada di ruang gelap yang terasa akrab baginya.


Ruangan tersebut adalah ruang makhluk misterius bernama Cenagon tinggal.


Pada kesempatan kali ini, ruangan ini tampak berbeda, terdapat sebuah cahaya lilac di dalam ruangan menerangi suatu benda.


"Singgasana?" gumam Isander dengan wajah yang bertanya-tanya.


Di depannya terlihat ada singgasana yang megah dan mengerikan tanpa ada orang yang mendudukinya.


Isander yang penasaran dengan ini mulai mendekati dan berniat untuk duduk di atasnya.


Langkah demi langkah Isander lakukan hingga akhirnya dia berhasil berdiri tepat di depan kursi singgasana ini.


Tanpa banyak basa-basi dan bertanya lagi, dia mendaratkan tubuhnya dan duduk di atas singgasana.


Deg!


Di detik berikutnya, tubuh Isander merasakan perasaan yang nyaman bak berendam di pemandian air hangat.


Aliran energi yang mendamaikan seluruh tubuhnya mengalir secara terus-menerus tanpa berhenti.


Baru saja dia merasakan sensasi kenyamanan yang luar biasa ini dalam sesaat, suara yang dikenalnya terdengar di dalam ruangan yang gelap ini.


"Apa kamu menyukai singgasana milikku?"


Sekejap Isander membuka matanya dan melihat ke sosok yang berbicara.


Tidak tahu kapan sosok Cenagon yang berwarna hitam bercahaya lilac muncul di kejauhan dan menghadap ke arahnya.


Mendengar pertanyaan Cenagon, Isander tersenyum kikuk dan menjawab, "Um, aku cukup suka dengan kursi ini."


"Sudah sepatutnya kamu suka karena singgasana itu terbuat dari kekuatanku, dan itu sudah menjadi kekuatanmu juga sekarang."


Singgasana yang ditempati Isander terbuat dari energi lilac milik Cenagon, dan Isander juga memiliki kekuatan yang sama.


Kenyamanan yang muncul akibat bahannya yang merupakan berasal dari energi yang sama.


Akan tetapi, pertanyaan muncul di dalam pikiran Isander, raut wajahnya yang kebingungan dapat dilihat oleh Cenagon.


Melihat Isander yang bingung, reaksi Cenagon hanyalah senyuman yang tidak ditampilkan.

__ADS_1


"Singgasana ini berguna sebagai tempat untuk menempa kekuatanmu. Kamu tidak perlu lagi bermeditasi, dan dengan singgasana yang aku buat, kamu bisa melatih seluruh kekuatanmu dengan efesien."


Pupil Isander membesar, dia menatap singgasana di bawahnya dengan pandangan yang terkesima.


__ADS_2