SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 171: Supreme Elgoter Begitu


__ADS_3

Isander terbang dengan kedua sayap yang timbul di belakang tubuhnya, melayang di langit menghadap 3 Monster Elgoter yang sedang mengalami perubahan.


Terlihat ada 3 bola besar di lahan kosong yang telah berubah menjadi lubang besar dan luas.


Pemandangan ini bagai 3 telur burung ditempatkan di sangkar burung.


Dari ketiga bola ini menampilkan suara dentuman yang berasal dari denyut dalam bola berdaging.


Jika ada manusia biasa yang melihatnya, mereka semua pasti ketakutan dan melarikan diri dari Pulau Jawa karena merasa terancam oleh besarnya 3 bola daging tanpa kulit.


Suara urat nadi raksasa yang berdenyut dan jantung besar yang berdetak bisa didengar oleh orang di beberapa kilometer jauhnya.


Sangat nyaring dan juga luas suara yang dikeluarkan. Jikalau ada orang yang mendengar di jarak beberapa meter dari 3 bola ini berada, dapat dijamin telinga orang itu akan pecah dan seketika menjadi tuli.


Untungnya, tidak ada manusia atau Agter di sekitar tiga bola besar ini. Isander tidak dapat dipengaruhi oleh suara keras ini karena dia menonaktifkan fungsi indra pendengarannya.


Kontrol tubuh Isander sangat tinggi, bahkan dia bisa membatalkan indra yang ia punya sesuka hati.


Dengan begitu, Isander bisa mengamati perubahan monster yang bisa selamat dari serangan dahsyatnya tanpa terganggu oleh suara yang dihasilkan oleh bola-bola raksasa.


Selain itu, Isander bisa melihat bahwa bangkai dari 3 Monster Elgoter yang mati dan hanya tersisa beberapa anggota tubuhnya saja ini terserap ke dalam ketiga bola raksasa.


Kemungkinan besar 3 bola raksasa ini menyerap saudaranya sendiri untuk meningkatkan kekuatannya.


Daging Monster Elgoter sudah pasti memiliki cadangan energi yang besar. Kimaya dan binatang psikis Isander juga menyukai daging monster tingkat tinggi.


Hati Isander memasuki kewaspadaan yang tinggi.


Dua senjata di tangannya dipegang begitu erat, Isander siap untuk melawan mereka bertiga kapan pun dan di mana pun.


Menunggu mereka melakukan perubahan sangatlah lama. Mudah untuk lawan menggagalkan proses perubahan Elgoter ke mode Suprem yang paling kuat.


Isander tidak ingin membatalkan proses transformasi Elgoter karena ada tujuan tersendiri.


Benar, menguji kekuatannya yang telah berkembang pesat. Dia sudah berjanji di dalam hatinya akan menerima risiko dari pertarungan ini.


Jadi, dia tidak takut dengan ketiga Elgoter ini berubah, semuanya akan ditanggung oleh Isander kalau ada sebuah kerugian.


Dentuman dari detak jantung dan nadi terdengar makin cepat dan keras, warna merah itu menyala beriringan dengan ketukan degup jantung dari ketiga bola raksasa yang berisikan monster besar.


Di detik selanjutnya, ketiga bola tersebut terbuka seperti ada sesuatu yang membelah cangkang bulat dari dalam.


KRAHHH!


Raungan yang menusuk gendang telinga muncul setelah tiga sosok besar keluar dari bola raksasa.


Gelombang kejut membuat pepohonan yang sudah Isander jauhkan menjadi miring ke belakang.


Angin menghempaskan sesuatu yang ada di sekitar tiga sosok monster baru.


Batu-batu besar dengan berat beberapa ton terhempas jauh dari tempat awal berada.


Isander yang ada di atas langit terkena dampak gelombang kejut dari suara raungan yang dihasilkan monster.


Tubuhnya sedikit bergoyang. Cuma 1 detik terbangnya tidak stabil. Setelahnya, Isander terbang dengan mantap dan tidak goyah sama sekali.


Di bawah tatapan Isander sekarang, tiga sosok besar Supreme Elgoter yang memiliki bentuk seperti humanoid berdiri berbaris sembari menatapnya ke langit.


Alis Isander terangkat naik dengan senyuman miring di wajahnya melihat mereka bertiga yang meliriknya begitu dendam.


Tatapan ketiganya terasa sangat tajam, seolah ingin membunuh Isander dengan cepat.


Perasaan dendam pun bisa dirasakan hanya dengan memandangi tatapan mata merah menyala ketiganya.


Isander tetap santai meski dilirik tajam dan ditargetkan secara terang-terangan.


Kedua senjata Isander sedikit terayun, menyiapkan tubuhnya untuk melakukan gerakan yang intens dan besar.


Di dalam hati Isander, sebuah niat untuk melancarkan serangan pamungkasnya timbul.


Sesuai dengan ucapan sebelumnya, Isander ingin menghancurkan monster ini dengan dua tebasan yang sama.


Berdengung!


Bilah Dark Spear dan Havoc Zweihander kembali menyala dengan warna yang berbeda satu sama lain.


Cahaya ungu gelap menyelubungi seluruh bilah Dark Spear, perasaan kuat dan mengerikan menyembur keluar ke segala arah.


Supreme Elgoter yang merasakan pancaran dominasi energi ungu gelap menjadi gemetar di tubuhnya. Namun, mereka menguatkan keberaniannya demi tiga Elgoter yang mati di tangan Isander.


KRAHHH!


Mereka kembali mengaum dengan rasa dendam yang kental. Membalikkan dominasi Isander yang terfokus ke tubuh mereka bertiga sekaligus menyatakan mereka tidak takut dengan Isander.


Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu Isander melemparkan serangannya.


Mereka sudah melompat tinggi untuk menangkap Isander, tetapi itu terlalu tinggi untuk digapai oleh mereka bertiga.


Havoc Zweihander memberikan perasaan yang sama dengan Dark Spear. Sinar lilac berkumpul di bilahnya yang panjang, kekuatan Cenergi yang terkonsentrasi siap dilepaskan.


Merasakan kedua senjatanya siap untuk digunakan, Isander tersenyum lebar memandang tiga Supreme Elgoter yang berdiri diam seakan sedang menunggu dirinya melakukan percobaan.


"Haha .... Baiklah, aku akan melakukan percobaan sekarang." Isander sedikit tertawa dan mengangguk. "Terima kasih sudah mengajukan diri untuk menjadi bahan percobaan kekuatanku. Kalian luar biasa."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Isander mengayunkan kedua senjatanya dengan kecepatan yang tinggi seraya berkata, "Two Great Slash Energy!!"


SWOOSH!


Di langit yang cerah, dua cahaya berbeda mengalahkan cahaya Matahari yang masuk ke dunia terbang cepat ke bawah.


Cahaya berbentuk lengkungan bulan sabit yang disilangkan melesat cepat kurang dari 3 detik.


Sebelum ketiga Monster Elgoter itu bisa menghindari serangan Isander, cahaya itu telah lebih dahulu menghantam tubuh ketiganya.


BOMM!!


Ledakan raksasa yang menakjubkan terjadi lagi, membuat medan pertempuran ditelan oleh lingkaran ledakan bercahaya putih yang mustahil untuk bisa dilihat lama.


Bola ledakan itu melebar, hampir menelan pepohonan yang ada di sekitar medan tempur Isander.


Kali ini, ledakan yang dihasilkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Memberikan dampak luar biasa selama puluhan detik lamanya.


Tanah bergetar hebat bagaikan terjadi gempa bumi yang kuat di radius belasan kilometer dari tempat ledakan terjadi.


Pepohonan rindang yang berdiri di dekat area ledakan hampir tercabut oleh gelombang energi dan kejut yang kuat.


Namun, ada sesuatu yang menahan mereka untuk tidak terhempas dan pepohonan bergerak menjauh secara perlahan.


Bongkahan tanah berbagai ukuran yang tak terhitung jumlahnya terbang jauh ke atas langit oleh ledakan yang destruktif.


Aqila dan yang lainnya terpesona melihat cahaya ledakan di kejauhan, mereka tertegun dengan ekspresi wajah yang melebar. Tubuh mereka tak bergerak dan terpaku diam di tempat.


Mereka semua benar-benar melihat ledakan besar dan juga merasakan efek yang ditimbulkan dari ledakan itu.


Meisya memeluk tubuh Aqila dengan erat, tak sengaja menenggelamkan wajahnya di dua buah melon besar yang lembut.


Merasakan ini, Aqila memeluk Meisya, memastikan anak kecil yang ia sayangi baik-baik saja.


Bam!


Ledakan tersebut menghilang dengan ditandai oleh suara nyaring yang menyelimuti hutan dalam jangkauan puluhan kilometer dari titik ledakan.


Bekas ledakan dapat anggota tim Isander saksikan dengan jelas di langit biru. Awan yang menutupi langit kini terdorong oleh gelombang kuat ledakan, membentuk lubang lingkaran raksasa dengan di tengah-tengahnya sama sekali tidak ada awan yang melayang di area tengah.


"Luar biasa," gumam Reza tanpa sadar dengan kepala terasa sedikit kesemutan.


Anggota tim Isander juga terpana melihat jejak ledakan yang luar biasa di langit yang luas.


Namun, mereka tidak tahu bahwa ada bekas lain yang luar biasa.


Isander telah menjauh ketika ledakan yang ia hasilkan sendiri berlangsung. Jika tidak cepat pergi, Isander sendiri khawatir tubuhnya tidak tahan menahan kerusakan dari serangannya.


Sekitar 70% kekuatan fisiknya dipakai untuk melancarkan serangan hebat tersebut.


Tak heran jika dampak kerusakannya sangat-sangat besar dan mengerikan.


Pemandangan jejak ledakan terlihat di dalam retina mata Isander ketika kembali ke tempat ledakan terjadi.


Kepala Isander bergerak untuk menunduk ke bawah, di bawah kakinya terlihat sebuah danau yang mulai diisi oleh air.


Danau tak sengaja dibuat oleh Isander karena serangannya sendiri.


Pupil mata Isander membesar melihat danau yang tengah diisi air dari dalam tanah.


Mata air yang melimpah mengisi kekosongan lubang besar dan lebar dengan diameter 2 kilometer.


Merendahkan ketinggiannya terbang, Isander tidak menemukan bagian tubuh Supreme Elgoter.


Di dalam lubang yang tengah diisi air pun tak terlihat ada potongan daging dan tulang yang tersisa.


Tidak percaya dengan dugaannya sendiri. Kedua pasang sayap Isander bergerak, mengepak cepat untuk mengelilingi lubang demi mencari anggota tubuh Supreme Elgoter.


Jelas-jelas Isander melihat bahwa 3 Monster Supreme Elgoter berdiri dengan gagah di tengah lubang.


Saat ini, lubang makin besar dan lebar, tetapi sosok mayat dari Monster Supreme Elgoter sama sekali tidak ditemukan.


Isander telah mencari dengan cara menelusuri danau yang tak lama lagi terisi penuh. Sampai-sampai Isander pun masuk ke dalam danau yang diisi dengan mata air yang bersih dan jernih.


Dengan gerakan tubuh yang cepat, Isander berenang mencari bongkahan tubuh monster dengan hati-hati, tetapi dia tak menemukan apa pun.


Sedikit darah pun tidak ada di dalam danau sana.


Byar!


Sosok Isander muncul dari permukaan danau dengan pakaian yang basah. Rambut hitamnya yang sudah panjang terkulai patah dan basah menambah pesona ketampanan Isander.


"Apakah mereka lenyap dan menguap begitu terkena dua energiku?" tanya Isander pada dirinya sendiri.


Mata Isander melirik ke sekeliling danau yang lebar dan luas begitu bertanya-tanya tentang apa yang terjadi oleh monster-monster.


Tiba-tiba Isander menyelam kembali ke dalam danau, mengaktifkan kemampuannya untuk menutupi dan menyisakan ruang kecil pada lubang yang mengeluarkan air yang banyak.


Mata air yang sangat melimpah tak sengaja ditemukan oleh Isander.


Ketika Isander coba rasakan airnya, tidak ada keanehan yang terjadi setelah meminumnya, ada sedikit rasa manis, rasanya segar, dan tak memiliki bau.

__ADS_1


Setelah Isander lihat lebih jelas airnya, sama sekali tidak ada kotoran dan ini begitu jernih.


"Aku tidak berpikir kerusakan dari serangan yang aku keluarkan akan sehebat itu," kata Isander dengan hati yang senang.


Sayap Isander muncul lagi, dan dia keluar dari danau untuk pergi ke daratan.


Sebelum pergi kembali ke anggota timnya, Isander harus mengeringkan baju dan tubuhnya dengan cara berdiri di dekat api unggun yang telah dibuat.


"Terlalu botak, aku harus menutupi danau ini dengan pohon-pohon."


Setelah mengatakan itu, Isander mengaktifkan Kemampuan Wood and Plant Control untuk mendekatkan pepohonan yang ada di sekitar danau.


Selain menggerakkan pepohonan, energi yang Isander kerahkan digunakan untuk memulihkan pepohonan yang rusak akibat ledakan sebelumnya.


Setelah semuanya selesai, baju dan tubuhnya sudah kering dari air, sayap Isander keluar lagi, menerbangkan sosok Isander menuju ke arah di mana mereka menunggu.


Tidak lama Isander pergi dari danau, sosok Isander kembali lagi dengan membawa seluruh anggota timnya ke pinggir danau.


Mata Aqila dan anggota kelompok lainnya terpesona melihat pemandangan danau jernih dan indah.


Mereka tidak tahu sebelumnya ini adalah lahan tanah kosong dengan hamparan rumput yang luas.


"Sebelumnya, ini adalah tempat aku melawan enam Monster Elgoter. Namun, aku terlalu berlebihan sehingga membuat lubang besar dan dalam, saking dalamnya mata air keluar dari dasar lubang," Isander menjelaskan dengan wajah yang malu.


Apa yang Isander katakan itu membuat semua anggotanya menatap Isander dengan wajah penuh kejutan.


Hati mereka semua dipenuhi ketidak percayaan.


Pada saat yang sama, Tara dan Istri Redrin telah menyelesaikan kegiatan pompanya di siang hari.


Akan tetapi, mereka tidak benar-benar selesai melakukan kegiatan tersebut, istri Redrin masih menduduki tubuh Tara yang berotot sembari menelan senjata besar Tara.


Omong-omong, senjata Tara masih kalah jauh dari milik Isander.


Jika istri Redrin tahu bahwa ada yang lebih besar dari Tara, mungkin istri Redrin ini akan pergi mencarinya dan takkan pernah dilepaskan.


"Sayang, apakah kamu ingin melakukan itu lagi?" Wajah istri Redrin yang sedang naik nafsunya ditunjukkan kepada Tara yang kelelahan.


Ekspresi Tara yang lemah dan pucat bisa dilihat oleh istri Redrin. Sayangnya, istri Redrin tidak peduli.


Pinggulnya yang besar itu bergerak mulai melawan senjata Tara di dalam tubuhnya.


Perasaan nikmat yang tidak ingin Tara rasakan untuk sekarang mulai muncul lagi.


Dengan keluhan di dalam hatinya, Tara memohon kepada istri Redrin, "Kumohon jangan sekarang, aku sangat lelah sekarang. Beri aku istirahat sejenak."


Istri Redrin menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak permohonan Tara yang suram dan menyedihkan.


Alih-alih menghentikan gerakannya, istri Redrin bergerak makin intens, itu membuat nafsu Tara makin lama makin besar.


Di dalam tubuh Tara paling dalam, ia ingin melakukan kegiatan ini lagi dengan istri Redrin meski satu kali keluar. Dengan begitu, Tara memutuskan untuk kembali melakukan kegiatannya.


Sebuah pelukan erat datang dari Tara, membuat istri Redrin terkejut.


Tusukan Tara yang sangat kuat dapat dirasakan di ruang bayi, istri Redrin tak bisa menahan kenikmatan ini.


Tara terus bergerak sangat cepat dan brutal sampai akhirnya Tara mengeluarkan cairan untuk terakhir kalinya sebelum pingsan.


Cairan kental berwarna putih memasuki ruang bayi istri Redrin yang sudah tumbuh janin, kemudian tubuh Tara yang memeluk istri Redrin terbaring lemah dan dia pingsan.


Pemandangan terakhir kali yang Tara lihat adalah wanita tua yang menggoda ini memeluknya dengan napas yang berat.


Apa yang dirasakan Tara ketika pingsan adalah kegelapan tiada akhir, kesadarannya tak lama kembali dan dia bisa membuka matanya.


Namun, sebuah keanehan dirasakan oleh Tara, dia mendengar suara aneh di telinganya.


"Mmhh!"


Suara itu adalah suara dari istri Redrin.


Dengan rasa ingin tahu yang besar, Tara membuka matanya sekuat tenaga, dan langsung melihat bahwa istri Redrin yang selalu bermain bersamanya kini sedang dipakai oleh banyak pria.


Deg!


Tubuh lemas Tara tersentak, kemudian dia melompat ke belakang dengan ekspresi yang luar biasa.


"Sayang, kamu sudah bangun? Mmmh~" tanya istri Redrin sambil membiarkan tiga orang pria menghantam kue apemnya.


Saking besarnya itu lubang, tiga senjata bisa masuk.


Brak!


Tara keluar dari ruang kamar istri Redrin dengan raut wajah yang pucat, perasaan rumit dan campur aduk bisa dilihat dengan jelas.


Bersandar lemah di lorong ruangan, mata Tara hanya ada kekosongan. Tatapannya sangat kosong.


Namun, di matanya yang tampak kosong ada perasaan yang rumit tak terlukiskan.


"Aku ...."


Bahkan untuk berbicara pun tak bisa Tara lakukan.


Tepat ketika Tara sedang kacau seperti ini.

__ADS_1


Sesosok manusia berjubah hitam muncul di hadapannya.


Sosok itu mengulurkan tangannya, kemudian berkata dengan suara wanita yang dingin, "Apakah kamu ingin bergabung dengan tim rahasiaku?"


__ADS_2