
Langkah kaki Isander berakselerasi sangat cepat, di satu detik kemudian sosoknya muncul tepat di depan kepala Pak Tole yang mengerikan.
Swooshh!
Bilah tombak yang dikelilingi petir ungu menebas secara vertikal membidik kepala Pak Tole. Kecepatan gerakan Isander dan sulit untuk mengelak maupun ditahan.
Saking cepatnya, bayangan Isander mengayun tombak cuma terlihat bayangan hitam yang kabur, dan ada sedikit warna ungu di antara bayangan hitam.
Bang!
Ledakan keras tercipta di antara sosok Isander dan monster laba-laba ini disertai dengan hembusan angin yang kencang hingga mampu membuat pepohonan dan rumah di area sekitar mengalami kerusakan.
Dedaunan hijau pohon banyak yang terjatuh dan beterbangan dan rumah kayu Isander sedikit miring ke samping.
Asap debu naik ke atas dan menutupi kedua sosok yang bertabrakan.
Setelah suara bising yang keras terjadi, suasana menjadi sunyi tanpa ada gerakan kecil yang terdengar.
Untuk sementara waktu, malam kembali hening tanpa ada suara yang nyaring dan merusak ketenangan malam.
Namun, suasana yang damai ini langsung rusak puluhan detik kemudian oleh sesuatu suara.
Grrieekkk!
Suara jeritan yang pekak muncul seketika dan menghancurkan atmosfer malam yang damai.
Bersamaan dengan suara bising yang datang, debu tanah yang menutupi tempat terjadinya keduanya bertarung menghilang dan menampilkan pemandangan yang tidak terduga.
Monster laba-laba raksasa mengalami luka yang parah, dari kedelapan kakinya ada dua yang terluka saat ini. Kedua kakinya tersebut terputus dan potongannya jatuh tepat di depan tubuhnya.
“Aku tak menyangka dia bisa menahan serangan tombakku.“
Mendarat di tanah, Isander berdiri di belasan meter dari tempat monster laba-laba tersebut menjerit kesakitan di arah timur. Raut wajah Isander tampak sangat terkejut saat melihat hasil serangan tebasan tombaknya.
Monster ini tidak mati setelah menerima serangannya, hal itulah yang membuat Isander tercengang.
Dia memiliki ekspektasi tinggi terhadap serangannya tadi, dia kira hanya dengan satu kali ayunan tombaknya dapat memotong tubuh monster laba-laba yang berukuran raksasa ini menjadi dua bagian, dan mati seketika.
__ADS_1
Kenyataannya tidak sesuai dengan harapan dan perkiraannya, dia hanya berhasil memutuskan dua kaki depan monster laba-laba raksasa ini.
Darah merah kehitaman terus mengucur keluar membanjiri tanah di depan monster ini. Potongan kaki tersebut tidak rata dan halus. Dengan kata lain, tebasan bilah tombak hitam Isander mampu ditahan oleh kulit keras monster meski tembus.
Menatap monster di depannya yang sibuk berteriak-teriak tidak jelas, Isander fokus melihat ke bekas goresan vertikal di wajah Pak Tole yang sudah menjadi monster ini.
Garis yang tercetak di wajah monster itu adalah bekas potongan bilah tombak yang gagal memotong.
Sejujurnya, Isander kagum dengan monster di depannya ini, pertama kali tombak hitamnya mampu ditahan dengan secara terang-terangan.
Kulit monster besar satu ini jauh lebih kuat dari tanduk monster banteng merah yang kemarin-kemarin dia hadapi, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan monster yang satu ini.
Grieekkkk!
Begitu memikirkan hal ini, Isander mendengar suara teriakan monster yang memiliki nada dan kesan yang berbeda.
Di detik berikutnya, sebuah cairan hijau terbang menuju Isander dengan jumlah yang banyak bagai semburan air yang keluar dari selang mobil pemadam kebakaran.
Dengan refleks yang cepat, cairan hijau yang aneh ini tidak berhasil mengenai tubuh Isander, dan itu terjatuh ke permukaan tanah dan membuat tanah tersebut terkikis beberapa sentimeter ke dalam.
Mendarat di sepuluh meter dari tempatnya berdiri tadi, Isander menatap ini dengan wajah yang sedikit ngeri.
Melirik sejenak cairan yang disemburkan oleh mulut monster laba-laba raksasa, Isander bergumam di hati, “Apakah itu cairan asam yang memiliki sifat korosif? Sangat berbahaya, tanah pun tidak kuat menahan pengikisan yang ditimbulkan cairan ini. Aku harus berhati-hati!“
Pada saat Isander melirik ke arah cairan asam hijau yang perlahan menghilang, monster laba-laba raksasa membuka mulutnya lagi, dan kepala Pak Tole memuntahkan cairan hijau yang sangat asam ke arah Isander.
Merasakan ada sesuatu yang datang ke arahnya, Isander tanpa berpikir lagi untuk melompat beberapa langkah ke belakang dan mengelak dari serangan yang datang.
Cairan hijau itu menyembur ke permukaan tanah tempat Isander berdiri beberapa detik sebelumnya.
Alih-alih menghentikan muntahan cairan asam yang berbahaya, monster ini menggerakkan arah cairan tersebut jatuh ke arah di mana Isander berada.
Melihat ini, Isander tidak lagi kabur dan menghindar, kali ini dia melawannya dengan kekuatannya.
Kaki kanan Isander menginjak tanah di depannya dan mengalirkan kekuatannya untuk membuat sesuatu.
Sebuah dinding balok yang terbuat dari sepenuhnya tanah terbentuk di depan Isander, dan dinding tanah ini menghalangi cairan asam yang ingin menyerang Isander.
__ADS_1
Cess!
Suara desis yang tercipta karena tanah yang terkikis perlahan-lahan terdengar.
Isander segera mundur beberapa meter dari tembok tanah ini supaya udara dari cairan asam ini tidak terisap olehnya.
Apabila ia menghirup udara yang berasal dari cairan tersebut akan mengakibatkan pernapasannya terganggu, mengganggu kemampuannya dalam menyerang monster ini.
Apalagi, jika terhirup dalam jangka panjang akan sangat berbahaya.
Dirinya tidak yakin apakah dia bisa kebal dengan udara yang tercemar oleh cairan asam monster. Dia tidak bisa mengambil risiko di saat genting seperti ini, lebih baik dia menjauhi risiko yang ada dan tetap bermain aman.
Amarah monster laba-laba pecah sepenuhnya ketika melihat tanah yang tiba-tiba berdiri menahan serangan semburan cairan asamnya, dia benar-benar takkan menahan diri lagi untuk membunuh Isander.
Mode bar-bar telah diaktifkan dan monster laba-laba menyerang secara brutal dan kejam.
Di kejauhan, Isander melihat monster besar ini bereaksi dengan gerakan yang aneh.
Tubuh bagian monster laba-laba mengembung dan membesar dengan cepat seperti balon yang dipompa oleh mesin pompa angin.
Di detik selanjutnya, tubuh monster menyemburkan ribuan monster laba-laba kecil dengan ukuran kurang dari 30 sentimeter ke segala arah, seperti gunung yang meletus mengeluarkan bebatuan dan lahar panas.
Isander tercengang sesaat, kemudian dia menjentikkan jarinya untuk mengaktifkan Wind Barrier di sekitar tubuhnya.
Laba-laba monster versi kecil yang hendak menabrak tubuhnya seketika terhempas di jarak beberapa sentimeter dari tubuh Isander dan hilang entah ke mana.
Mengetahui ini, Isander menjadi aman sesaat dan kemudian mulai bergerak untuk menyerang.
Swooshh! Swooshh!
Lambaian bilah tombak dengan mudah memotong semua monster laba-laba kecil ini.
Meskipun demikian, jumlahnya yang banyak membuat Isander harus mengeluarkan tenaga yang lebih.
Kroco ini menyerangnya dari segala arah dan itu membuatnya sedikit kerepotan karena harus sigap melihat ke arah di mana monster tersebut datang dan dia harus segera membunuh mereka.
Apabila tidak segera membunuhnya, Wind Barrier akan hilang karena tidak kuat menahan segala semprotan cairan asam yang dikeluarkan oleh ribuan monster kecil ini.
__ADS_1
Setelah sekian lama dia memotong banyak monster laba-laba kecil, sebuah ide terbesit di kepalanya.
“Sial! Aku harusnya menggunakan itu dari awal!“