
"Sungguh?" Senyum tipis terlihat di mulut Tara, dan dia menatap Hendra dengan main-main. "Apakah perkataanmu itu artinya meminta aku untuk memukulmu lagi?"
"Ya, pukulanmu terasa lemah dari sebelumnya."
Hendra sama sekali tidak takut, dia balik menatap Tara dengan sorot mata yang santai dan mengejek.
Berikutnya, tangan Tara mengepal senyuman di wajahnya berangsur-angsur menghilang, hanya ada ekspresi wajah yang dingin dan mencekam.
"Aku akan membunuhmu, Keparat!" teriak Tara dengan amarah yang bergejolak hebat di dalam tubuhnya.
Tepat ketika Tara ingin meluncur dan menghajar Hendra, sosok Kei muncul di depannya dan menahan tubuh Tara untuk bergerak, dibantu oleh Sadam yang berubah menjadi Gorila besar dan menahan kedua kaki Tara untuk bergerak.
"Hentikan, Tara. Sesuatu yang tak biasa ada di sekitar sini," ujar Kei dengan suara yang dalam.
Mendengar ucapan Kei yang serius, amarah Tara perlahan mereda dan perhatiannya jatuh ke perkataan Kei.
Melihat Tara yang telah stabil, Kei memberikan isyarat kepada Sadam, dan Sadam langsung mengerti, dia mengubah kembali tubuhnya menjadi seorang manusia dan pergi membantu Hendra yang terluka.
"Apa yang tidak biasa? Ada monster di sekitar sini?" tanya Tara dengan rasa ingin tahu yang besar.
Kei mengangguk dan menunjukkan ke sesuatu yang ada di permukaan tanah yang mereka injak.
Sebuah tanaman merambat itu bergerak dengan kecepatan yang hampir mendekati 200 kilometer per jam menuju ke suatu arah, yaitu arah timur.
Beberapa tanaman merambat berwarna hijau itu sekilas mirip dengan ular yang meliuk-liuk dan merayap, tetapi benda yang bergerak itu adalah tanaman merambat yang biasa menyelimuti bangunan tua.
Begitu melihat ini, Tara langsung mengingat tentang sesuatu di masa lalu dan wajahnya berubah menjadi panik.
"Tanaman itu ... bukannya anggota tubuh dari makhluk yang pernah kita temui?!" Tara bertanya dengan ekspresi yang tidak tenang.
Tanggapan Rei pada pertanyaan Tara adalah anggukan kepala dan dia menjawab, "Benar, makhluk yang masih membuat kita bertanya-tanya ke mana dia pergi sebelumnya."
"Kalau begitu, mengapa kita tidak mengejar dan membunuhnya sekarang? Sial, aku ingin membunuhnya!"
Setelah mengatakan itu, Tara berlari dengan sangat cepat, membuat dedaunan kering di atas tanah terhempas dan terbang melayang di udara.
Melihat Tara yang pergi secepat angin, Kei tak bisa menahan untuk tidak menggelengkan kepalanya. Dia heran mengapa pria yang aneh ini bisa menjadi ketua kelompok mereka.
"Ke mana si Gila itu pergi?" Sadam yang merangkul Hendra tengah terluka hebat bertanya saat melihat Tara menghilang.
"Dia mengejar tanaman yang bergerak itu. Biarkan saja, kita akan menyusulnya nanti," balas Kei dengan santai dan tenang.
Sadam mengangguk dan menggendong Hendra yang tak sadarkan diri di punggungnya. "Lebih baik kita kirimkan sampelnya ke pemerintah daripada mengikuti Tara."
"Ya, itu benar. Bebaskan orang gila itu, tak perlu khawatirkan dia." Kei setuju dengan ucapan Sadam.
Misi lebih penting daripada ketua timnya sendiri yang agak aneh.
Mereka bertiga tanpa Tara melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Garuda untuk memberikan sampel tentang monster dan manusia yang diasumsikan pelaku dari kehancuran suatu pemukiman.
Di sisi lain, Isander dan kelompoknya telah bersatu kembali usai membinasakan monster-monster yang datang hendak melukai mereka semua.
Panen mereka sekarang cukup banyak, kemungkinan ada evaluasi dan pemilihan ulang lagi mengenai barang bukti yang ingin ditukarkan karena tas penyimpanan mereka hampir penuh.
Jadi, mereka memutuskan untuk membawa barang bukti membunuh monster yang tingkatnya lebih tinggi dari yang lain.
Mereka harus mengosongkan sebagian tasnya untuk menyimpan bukti membunuh monster yang lebih baik lagi nilai tukarnya.
Minimal mereka mengambil bukti monster tingkat B, dan membuang bukti monster tingkat C, seperti Catagtress, Dogagtress, dan semacamnya.
Sehabis mereka mengalahkan banyak kumpulan monster dalam setengah hari ini, mereka mengalami banyak perkembangan dalam bertarung bersama anggota, terlebih Helen dan Reren yang merupakan pemula dalam menjadi seorang Agter.
Mereka sudah bisa dilepas di hutan dan bergerak sendiri karena kekuatan mereka benar-benar berkembang cukup cepat, kemampuan beradaptasi yang kuat.
__ADS_1
Keduanya sangat berpotensi menjadi seorang Agter yang hebat, mirip dengan Ice Frail yang Giya idolakan, Kila juga sama.
Sepanjang jalan ini, jika ada monster yang datang dan menyerang ke mereka, Helen dan Reren yang menanganinya, sedangkan anggota kelompok lain sama sekali tidak melawan dan hanya membantu mengambil anggota tubuh monster yang bisa menjadi alat bukti pembunuhan.
Apabila dibandingkan kekuatan antara keduanya, Isander pribadi memilih Helen karena kekuatan jarak jauhnya yang serbaguna dan praktis.
Reren harus memiliki fisik yang bagus dalam mengendalikan kedua perisai hebatnya, cukup merepotkan bagi seorang wanita.
Meskipun demikian, keduanya tidak lemah. Anggota kelompok Isander tidak ada yang lemah sama sekali.
Mulai dari Giya hingga Reza, mereka semua mempunyai nilai kemampuan yang kuat dan hebat.
Memang benar jika mereka dibandingkan dengan Isander akan berubah menjadi sampah dan tak berguna.
Bagi umat manusia, mereka itu dibutuhkan, lebih lagi untuk manusia biasa yang tinggal di luar kota secara ilegal atau tidak resmi.
Tidak lama berselang, waktu makan siang datang dan mereka segera berhenti di suatu tempat, gubuk kayu yang masih berdiri kokoh, tampaknya mereka sedang berada di sebuah desa yang ditinggalkan.
Gubuk tempat mereka jadikan sebagai peristirahatan sementara berada di daratan cukup tinggi. Jika dilihat-lihat ada di suatu perbukitan kecil.
Ada beberapa gubuk selain gubuk yang mereka tempati, tetapi ini yang cocok untuk mereka semua beristirahat
Di daerah ini terlihat sepi dan sunyi, banyak sekarang suara jangkrik yang bising. Jangkrik merupakan salah satu serangga atau makhluk hidup yang tidak terinfeksi dari virus atau bakteri monster.
Duduk di gubuk terasa sangat nyaman dan tenang, angin yang berhembus membuat mereka ingin tidur sejenak. Tempat yang cocok untuk bersantai sambil melihat pemandangan terasering sawah rusak di dataran sedikit bawah.
"Mengapa tempat ini ditinggal oleh penduduknya?" Isander membuat pertanyaan kepada anggota kelompoknya karena iseng dan bosan.
Isander sedang membuat Meisya tertidur pulas dengan sentuhan lembutnya pada tangan Meisya.
Reza langsung berpikir tentang alasan warga meninggalkan desa kecil ini. Tidak hanya dia, Giya dan lainnya pun ikut termenung dan memikirkan tentang hal ini.
"Mungkin saja mereka panik karena menemukan keanehan yang terjadi di desa sebelah dan langsung memilih untuk kabur dari tempat ini yang menurut mereka berisiko terkena hal aneh tersebut, yakni penyerangan monster," jawab Giya dengan logikanya.
Mungkin pendapat Giya dapat terjadi, itu semua masuk akal, berbeda dengan logika orang-orang yang telah termakan oleh kerakusan akan uang dan kekuasaan, mereka bertingkah sangat tidak masuk akal.
Setelah itu, Reza, Nina, dan Kila memiliki pendapat yang berbeda-beda, tetapi inti pendapat mereka masih sama, yakni bersangkutan dengan monster.
Pastinya orang-orang yang tinggal di sini meninggalkan tempat mereka hidup bertahun-tahun karena tahu ada sesuatu yang berbahaya mampu mengancam keselamatan keluarga dan dirinya sendiri.
Namun, orang-orang asli desa ini salah untuk meninggalkan tempat ini karena bisa dilihat tidak ada jejak monster di sekitar desa.
Isander dan lainnya tidak menemukan ada kerusakan pada desa ini, semuanya baik-baik saja, memang ada beberapa gubuk rusak akibat kayu yang rapuh. Terlihat jelas gubuk yang rusak itu tak ambruk sepenuhnya, melainkan sebagian saja dan komponen yang rusak tidak ke mana-mana masih ada di dekat gubuk.
Maka dari itu, mereka sepakat monster belum menjajah tempat ini karena memang sangat terpencil, dikelilingi oleh hutan, sawah, dan perkebunan, lokasinya pun ada di balik bukti kecil. Tidak kelihatan dari tempat yang jauh, cukup bersembunyi.
Dengan begitu, Isander memiliki ide untuk membuat tempat tinggal di sini.
Isander dan Reza meminta para wanita menjaga anak-anak karena mereka berdua ingin membuat bangunan.
Pertama-tama, Isander dan Reza mencari lokasi yang lebih strategis dan bersembunyi. Mereka tidak lama dalam menentukan lokasi pembangunan.
Sehabis menemukan lokasi yang pas dan cocok, Isander dan Reza pergi ke hutan yang agak jauh dari desa untuk mengambil batang pohon.
Dari batang pohon yang mereka ambil akan dibuat sebuah rumah kayu tempat mereka tinggal jika memang akan melewati jalur ini.
Butuh waktu lebih dari 1 jam untuk mereka membuat rumah kayu dengan fasilitas dan ruangan yang cukup lengkap serta elok.
Ukuran rumah yang Isander buat lumayan besar, cukup ditempati oleh 10 orang karena di dalamnya ada 5 kamar kecil dan beberapa ruangan yang penting, seperti tempat berkumpul, tempat makan, dan penyimpanan atau gudang.
Seharusnya, tempat ini nyaman untuk ditinggali dalam waktu yang lama. Sayangnya, Isander dan kelompoknya tidak akan lama di sini, bahkan habis ini dia akan pergi melanjutkan kembali perjalanan mereka ke Kota Komodo.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang bergerak dan beberapa kali melintasi mereka berdua yang sibuk dalam membangun sebuah rumah.
__ADS_1
Benda yang bergerak tersebut mirip dengan apa yang dikejar oleh Tara, dan itu masih bergerak ke arah timur, masih belum berhenti sampai Isander menyelesaikan tujuannya membuat rumah.
Kembali ke para wanita yang menunggu mereka berdua, semuanya berjalan lagi menyisir area perbukitan untuk sampai di tempat tujuan bersama.
Saat para wanita melihat ada rumah bagus di daerah ini, mereka diberitahukan Reza bahwa rumah tersebut dibuat olehnya dan Isander.
Tahu kebenaran ini, mereka segera melihat ruangan yang ada di dalam rumah dan waktu mereka termakan lagi.
Reza berspekulasi bahwa mereka akan sampai di Kota Komodo di dua atau tiga hari berikutnya. Makin bertambah lama dan tak sesuai jadwal awalnya.
Tidak begitu penting sebenarnya, mereka datang ke Kota Komodo bukan untuk berbisnis atau suatu hal yang penting, melainkan untuk membasmi monster di sana.
Mereka bisa melakukan hal tersebut dengan santai dan aman.
Usai melihat-lihat interior rumah, mereka benar-benar melanjutkan lagi perjalanan tanpa ditunda dengan apa-apa.
Selama lebih dari 4 jam mereka berjalan, akhirnya mereka sudah meninggalkan kawasan perbukitan dan bahkan sudah jauh dari bukti yang mereka daki, kini mereka sudah masuk ke suatu pemukiman warga yang telah hancur akibat penyerangan awal monster.
Di sana, mereka mencari tempat yang cocok untuk istirahat karena malam sudah hampir tiba, bisa dilihat langit sudah menjadi hitam dan gelap.
Untungnya, ada satu bangunan yang masih berdiri dan layak untuk dijadikan peristiwa untuk sementara waktu, cuma semalam.
Bangunan tembok berlantai satu ini punya interior yang sangat kotor, bahkan lantainya sudah ditimbun oleh banyak tanah.
Namun, dengan kemampuan Isander, kumpulan tanah yang menyelimuti dalam ruangan bangunan rumah kecil tersebut disingkirkan dan dipindahkan ke luar dalam waktu yang tak lama.
Selanjutnya, mereka bersama-sama menata kembali dalam bangunan dengan cara membersihkan kotoran debu yang masih menempel dan membuat peralatan rumah dari kayu, seperti meja dan ranjang tidur.
Lantai ubin di bangunan tersebut tidak menyeluruh, ada beberapa tempat yang tak memiliki ubin akibat hancur.
Rumah kecil yang terdiri dari 5 ruangan, 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga merangkap tamu, 1 kamar mandi dan 1 dapur yang saling berdekatan.
Dengan 2 kamar tersebut, para wanita membagi kamar untuk mereka, sedangkan laki-laki tidur di ruang keluarga atau ruang depan.
Pria tidak mementingkan dan memedulikan di mana dia tidur, paling penting apakah itu nyaman atau tidak, biarkan para wanita tidur dengan nyaman dan aman.
Di malam itu, mereka berkumpul seperti biasa di malam hari untuk saling berkomunikasi dan membahas sesuatu yang menarik tentang perjalanan mereka hari ini.
"Apa kalian merasakan ada sesuatu yang mengikuti kita saat kita berjalan di siang hari tadi?" tanya Nina kepada semua orang.
Giya yang mendengar ini malah balik bertanya, "Maksudnya apa?"
Nina dengan hati yang mulai tenang mengulangi pertanyaannya. "Apakah kalian merasa kita telah diikuti oleh sesuatu? Kalau tidak salah, waktu kita sedang berjalan di perbukitan pada siang hari tadi."
"Ada yang mengikuti kita? Aku malah merasa ada yang bergerak di sekitar begitu kita kembali melanjutkan perjalanan usai dari istirahat siang," jawab Kila yang menemukan suatu keganjilan dalam perjalanan mereka.
"Benar, aku mendengar beberapa suara semak atau dedaunan yang bergesekan, tetapi itu terdengar aneh," tambah Giya yang ternyata menyadari hal yang sama.
Reza memegang dagunya dan mengingat perjalanan hari ini. "Mengapa aku tidak sadar dengan keanehan itu? Aku tidak merasakannya."
"Helen juga sempat melihat ada yang bergerak melintas begitu cepat saat kita di hutan sebelum sampai di desa kecil," ucap Helen dengan jujur.
Sebagian besar dari mereka merasakan hal yang sama, ada suatu keganjilan atau keanehan di sekitar lingkungan mereka yang samar-samar dirasakan, bahkan Reza tidak menyadari akan keanehan tersebut.
Mereka semua mengeluarkan kesaksian mereka, kecuali Isander.
Isander ditatap oleh anggota kelompoknya, padahal Isander sedang mengobrol santai dengan Meisya.
Tanpa menatap mereka kembali, Isander mengeluarkan suaranya, "Aku sudah tahu bahwa ada sesuatu yang aneh yang terjadi di sekitar kita saat perjalanan di hari ini. Ada sebuah tanaman merambat, tidak sebuah, melainkan ribuan tanaman merambat yang memiliki panjang beberapa meter merayap layaknya ular ke suatu arah di timur. Gerakan mereka cepat, mungkin kalian tak sempat melihat benda itu."
Dalam sekejap, ruangan menjadi sunyi dan mereka semua terdiam bak patung manekin.
Pernyataan Isander membuat mereka semua terdiam dan terkejut tak percaya.
__ADS_1