
Mendengar percakapan Reza dan Nina membuat Isander berpikir kembali dengan peristiwa yang belakangan yang telah terjadi.
Memang benar ada sebuah sebab dan akibat dalam peristiwa penyerangan monster ini.
Akan tetapi, asal dari penyerangan monster ini sungguh berbeda karena serbuan ratusan monster Rhitager dan puluhan Rhigarets berasal dari arah hutan bagian utara.
Sementara itu, penyerangan Supreme Elgoter muncul dari arah selatan hutan yang sangat berbeda.
Mungkin bisa saja apabila mereka diperintahkan untuk menyerang Kota Komodo dari arah yang sama, tetapi nyatanya ini dari arah berlawanan dan tak sama.
Isander pun tidak bisa membantah dan juga sependapat dengan ucapan mereka karena dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ada di balik penyerangan monster ini.
Hal yang Isander ambil dari peristiwa hari ini adalah bahwa masih ada sosok yang kuat yang bisa membunuh dirinya di dunia ini.
Bisa saja masih ada monster tingkat S yang jauh lebih kuat dari Elgoter.
Anggota kelompok Isander sempat menyebutkan bahwa ada banyak monster tingkat S meski jumlahnya tidak terlalu banyak di Indonesia.
Monster-monster tingkat S ini memang sedikit mungkin hanya ada belasan atau bahkan kurang dari sepuluh.
Mengetahui kekuatan mereka, ini merupakan suatu yang adik. Apabila mereka punya jumlah yang banyak, dunia ini akan benar-benar hancur dan dikuasai oleh para monster.
"Aku sependapat dan tidak sependapat dengan tebakan kamu, Nina. Aku tak tahu pasti apa yang ada di balik peristiwa penyerangan monster ini, tetapi yang pasti monster tingkat S bukanlah suatu yang bisa diabaikan. Mereka sangat mengancam," ucap Isander dengan wajah yang serius.
Giya dan yang lainnya mengangguk setuju.
Monster tingkat S memang harus diperhatikan dan diawasi. Mereka tidak bisa didiamkan begitu saja.
Kila merenung beberapa saat, memikirkan apa yang mereka katakan dan mencari sebuah kemungkinan. Memandang Isander, Kila berkata dengan suara yang dalam, "Tampaknya, kita harus membantu pemulihan Kota Komodo. Ditakutkan ada penyerangan kedua atau lanjutan, bukankah kita punya tujuan untuk membersihkan monster dan membuat manusia kembali ke puncak rantai makanan?"
Mendengar perkataan yang Kila keluarkan, Isander termenung sesaat, kemudian dia mengangguk, "Ya, aku mungkin akan membantu mereka dengan cara menjaga dari jarak jauh. Kalian boleh membantu mereka untuk membangun ulang Kota Komodo atau yang lainnya. Namun, tetap ingat untuk pulang dan kembali ke rumah bersamaku."
"Kami mengerti."
Semua anggota Isander mengangguk hampir serempak dan mereka merasa senang dengan keputusan Isander.
Setelah Isander pikirkan lagi, membantu Kota Komodo bukan suatu yang buruk.
Meskipun dia membenci dengan namanya kota, tetapi dia harus memikirkan tentang umat manusia.
Isander masih tetap dengan prinsipnya, dia tidak akan pernah menggantungkan hidup kepada pemerintah kota.
Target kebencian hanya pada petinggi dan regulasi yang mereka buat, bukan ke Agter yang ada di dalamnya. Itu dua hal yang berbeda.
Setelah obrolan malam mereka selesai, mereka seperti biasa pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat, sedangkan Isander sendiri duduk diam dan memindahkan kesadarannya ke ruang di mana Cenagon berada.
"Kamu benar-benar beruntung."
Suara Cenagon tiba-tiba terdengar oleh Isander yang baru saja tiba di ruang Cenagon.
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Cenagon, Isander tersenyum mengerti dan mengangguk. "Kamu tahu tentang aku yang hampir kalah melawan monster?"
"Iya. Sebenarnya, aku tahu apa yang kamu alami di setiap harinya karena aku ada di dalam tubuhmu sehingga aku bisa melihat apa yang kamu lakukan," kata Cenagon dengan santai, membuat Isander tertegun beberapa saat.
"Mengapa kamu tidak memberi tahu aku tentang itu?" Isander terlihat agak kesal dan bertanya kepada Cenagon yang ada di depannya.
Cenagon terdiam beberapa detik dan menjawab, "Aku ingin tahu secara detail apa yang kamu rasakan terhadap peristiwa yang kamu alami."
"Oh, oke."
Berjalan ke singgasana di ruang Cenagon dan Isander menerima alasan Cenagon.
Menatap Cenagon yang punya ukuran tubuh yang besar, Isander kembali bertanya, "Bagaimana menurut kamu tentang Supreme Elgoter?"
"Cukup kuat, dia hampir sama dengan monster bintang lima di dunia aku saat itu," balas Cenagon dengan kembali merasa nostalgia.
Jawaban Cenagon ini membuat Isander ingin tahu tentang dunia tempat Cenagon berada.
Dia masih tidak yakin bahwa masih ada dunia lain selain Bumi dan dunia ini.
Namun, melihat Cenagon di depannya ini adalah sesuatu yang nyata, Isander menjadi yakin memang ada dunia lain selain kedua dunia yang pernah Isander tinggali.
"Bisakah kamu sekali ini saja memberi tahu aku tentang seperti apa dunia kamu? Apakah itu ada monster seperti di dunia ini?"
Cenagon tidak merespons selama beberapa saat, kemudian dia mengangguk. "Benar. Monster di duniaku mungkin lebih kuat dari dunia ini."
Tidak terduga Cenagon memberi tahu sedikit tentang informasi dunia tempat dia berasal.
"Apakah itu juga berasal dari suatu bakteri, virus, dan jamur?" Isander melontarkan pertanyaan lagi kepada Cenagon.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya Cenagon menjawab pertanyaan Isander yang membahas tentang dunianya, "Tidak, itu berbeda. Monster di sana memiliki sebuah pemimpin yang sangat kuat yang dapat mengendalikan mereka dan memanfaatkan mereka dengan hebat. Untungnya, ada seseorang yang pernah aku bicarakan kepadamu, orang itu memang sangat kuat. Melawan pemimpin monster saja seperti bukan melawan apa-apa."
Dengan jawaban Cenagon, Isander menjadi tercengang sekaligus tersadar. Ternyata dia bukan sosok yang kuat dibandingkan dengan orang yang dibicarakan oleh Cenagon.
Sejujurnya, Cenagon saja sudah sangat kuat di dunia ini, tetapi di dunianya masih ada sosok yang jauh lebih kuat dibandingkan Cenagon.
"Aku mengerti, Cenagon. Aku ingin bertanya, apakah ada sosok yang sepertimu di dunia kamu itu?"
Cenagon termenung terlebih dahulu untuk mengingat kembali tentang masa lalunya. Mata berwarna lilac Cenagon menjadi cerah dan dia membalas, "Ada, ada beberapa yang kuat. Salah satunya ada manusia bersayap dengan kekuatan cahaya yang hebat, kemudian ada—"
"Apa itu malaikat?!" sela Isander dengan spontan.
Dia berpikir bahwa yang disebutkan oleh Cenagon adalah malaikat karena deskripsi singkatnya mirip dengan seorang malaikat.
Akan tetapi, Cenagon menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, tetapi dia masih berada di bawahku. Aku lanjutkan kembali. Selain manusia bersayap, ular berkepala banyak dengan racun yang luar biasa kuat, ada singa berekor api, dan beberapa monster yang lainnya. Dari semua yang aku sebutkan, mereka ada di bawahku dalam hal kekuatan."
"Mengapa begitu? Apa ada yang istimewa darimu dibanding mereka?"
Isander menjadi sangat penasaran tentang Cenagon ini. Apa yang dikatakan Cenagon Isander percaya karena dia yang memberikan beberapa kekuatan kepadanya.
"Tentu," ucap Cenagon sambil menghela napas. "Sayangnya ... aku tak bisa memberi tahu kamu tentang kekuatan yang aku miliki sebelum kamu menerima seluruh kemampuanku."
"Baiklah, aku paham." Isander memutar matanya dengan wajah yang malas.
Sama seperti biasa, Cenagon tidak bisa memberi tahu rahasia besar tentang kekuatannya ke Isander karena sesuatu.
Mungkin itu karena Sistem yang melarang Cenagon untuk tidak memberikan sebuah spoiler atau bocoran kekuatan kepadanya.
"Kalau begitu, kamu tahu tentang kemampuan yang baru aku miliki?" Isander mengalihkan pembicaraan dan melontarkan sebuah pertanyaan lagi kepada Cenagon.
"Tahu, tangan besar itu, kan?" tanya kembali Cenagon kepada Isander
Kepala Isander mengangguk dan dia berdiri dari kursi singgasana, berjalan dengan kedua senjata berbeda di kedua tangannya.
Cenagon diam untuk sementara waktu, kemudian dia me jawab memberikan sebuah pendapat tentang kemampuan barunya, "Tangan besar itu memang punya suatu energi yang aneh dan mengerikan. Sayang sekali, tangan itu tidak sekuat diriku."
"Aku sadar bahwa kamu ini terlalu narsis, Cenagon," kata Isander dengan wajah yang mengejek.
Mendengar perkataan dari Isander, Cenagon merentangkan tangannya dan membalas, "Nanti juga kamu akan tahu betapa kuatnya aku. Mungkin tangan itu kuat karena bisa menghancurkan monster tingkat S. Namun, di hadapanku dia bukanlah apa-apa, energi mengerikan yang dia punya bukan suatu yang bisa menyentuh kekuatanku."
"Terserah apa yang kamu katakan, Cenagon. Aku ingin fokus berlatih agar kejadian hari ini takkan kembali terjadi lagi."
Cenagon tidak memaksa Isander untuk mempercayai dirinya. Lagi pula, suatu saat nanti dia akan tahu bahwa dirinya benar-benar sangat kuat.
Memang benar, Cenagon bukan makhluk yang lemah. Meskipun dia memang berada di bawah seseorang yang dia bicarakan bisa menghancurkan alam semesta dengan satu jarinya, dia tidak selemah itu.
Sayang sekali, kekuatan Cenagon yang diwariskan kepada Isander belum sepenuhnya. "Kamu tahu, Isander? Kekuatan yang kamu miliki dariku bahkan belum setengahnya."
Tangan Isander yang sedang mengayun Havoc Zweihander tiba-tiba berhenti di udara, Isander segera menoleh melihat Cenagon dengan pandangan yang serius. "Apa kamu tak bercanda dengan ucapan kamu tadi?"
"Aku sama sekali tidak bercanda. Kekuatan yang kamu miliki dariku belum setengahnya, bahkan belum seperempat," beber Cenagon dengan suara yang dalam.
"Aku senang mendengarnya. Aku harap kamu memang benar kuat seperti yang kamu bicarakan tentang dirimu sendiri."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Isander kembali berlatih di ruangan Cenagon dengan fokus yang tinggi.
Melihat Isander yang sibuk, Cenagon hanya bisa diam dan menyaksikan latihan Isander di ruangan ini.
Keesokan paginya, Isander dan anggota kelompoknya bepergian kembali ke Kota Komodo sesuai dengan rencana semalam mereka.
Setelah sarapan pagi dan duduk santai beberapa saat untuk menurunkan makanan hingga ke perut, mereka bersama-sama pergi ke Kota Komodo. Kimaya yang sempat membantu Reza dan yang lainnya dalam melindungi diri dari serangan monster kemarin juga ikut.
Ada perubahan yang bagus dari Kimaya, dia bisa melakukan kamuflase agar tidak ditemui oleh para Agter jika di dalam hutan.
Hal ini merupakan kabar gembira bagi mereka semua, Kimaya dengan kamuflasenya membuat mereka tak perlu khawatir apabila Kimaya menjadi sasaran dari banyak orang atau Agter karena suatu kehebatan serta kemampuan dalam dirinya.
Di dalam perjalanan ke Kota Komodo yang otomatis menjadi lebih jauh 1 km karena rumahnya dipindahkan, mereka sempat bertemu dengan beberapa monster.
Monster di hutan yang mereka temui tidak berkelompok banyak hanya beberapa ekor saja dan itu memiliki level yang rendah sehingga tidak sulit untuk dibunuh.
Bisa dilihat dengan jelas, peristiwa kemarin memang memakan banyak sekali korban dari monster liar dan membahayakan, dan itu menyebabkan monster menjadi sedikit populasinya.
Ini menjadi kemajuan yang bagus untuk umat manusia.
Setibanya di Kota Komodo, mereka berhenti di ujung hutan untuk berdiskusi.
"Masih ingat dengan pesanku semalam?" tanya Isander kepada semua anggota kelompoknya.
Giya dan lainnya mengangguk dengan tegas, mereka masih ingat poin-poin yang dikatakan oleh Isander di malam hari kemarin.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk kembali ke rumah, mungkin hari ini aku, Meisya, Helen, dan Reren pergi ke rumah untuk memperbagus rumah karena memang belom selesai pembuatannya. Namun, sebelum pulang, kami ingin pergi ke Candi Borobudur yang ada di timur laut dari sini," Isander mengingatkan kembali semua anggotanya.
Apa yang dikatakan Isander ditanggapi dengan baik, mereka merespons dengan etika yang bagus kepada seorang ketua kelompok.
Dengan apa yang telah direncanakan, mereka berpisah menjadi 2 kubu, Isander pergi ke timur laut bersama anak dan dua gadis remaja untuk memeriksa Candi Borobudur, sedangkan Reza dan yang lainnya pergi ke Kota Komodo untuk membantu memperbaiki Kota Komodo.
Masih dengan penampilan mereka yang akan tertutup memakai masker karena mereka memang sedang dicari oleh Goron dan timnya.
Jika tidak ditutup sebagian wajah mereka, mereka bisa dengan mudah dikenali oleh para Agter karena wajah mereka sudah terlanjur terekspos.
Murni kesalahan mereka semua karena tidak mempersiapkan diri untuk melakukan pertolongan membantu melawan serbuan monster.
Sebelum Isander dan yang lainnya pergi ke arah timur laut, mereka berdiri di dahan pohon untuk melihat kondisi terkini Kota Komodo.
Masih seperti kemarin, tembok kota di bagian selatan sudah roboh dan hancur, bagian timur dan barat agak rusak, sementara tembok bagian utara hanya ada sebuah kerusakan kecil karena tubuh Isander sendiri yang terpental karena sebuah serangan dari Elgoter.
Namun, bisa dilihat bahwa di sekitar tembok kota sudah banyak orang yang berdatangan untuk melakukan sesuatu.
"Ayo pergi!"
Setelah melihat semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang aneh di Kota Komodo, Isander meminta kedua gadis remaja untuk pergi mengikutinya.
"Baik!"
Mereka semua turun dari pohon dan berjalan di tanah dengan santai menuju ke satu arah yang sudah mereka tentukan.
Kimaya memilih untuk mengikuti Isander, tidak mungkin juga untuk pergi bersama Reza dan yang lainnya ke Kota Komodo, sama saja Kimaya ingin ditangkap oleh para Agter.
Mereka berjalan di antara banyak pepohonan dan sawah terasering yang indah.
Tepat ketika mereka melewati bukti kecil, Isander menemukan sebuah Gua yang gelap dan terbilang cukup besar, ukuran Gua ini hampir setinggi bukti dengan tinggi puluhan meter.
Anehnya, Gua ini begitu tersembunyi karena di penuhi oleh banyak pohon tinggi yang tingginya tidak kira-kira.
"Besar sekali Gua ini!" Reren terkejut saat melihat Gua yang ditutupi tanaman menjuntai dan pepohonan besar ini lebih dekat.
Ukuran Gua memang besar, lebarnya bisa mencapai 1 kilometer dengan tinggi puluhan meter.
Namun, kedalaman Gua ini tidak begitu dalam.
Langit-langit Gua makin lama makin pendek dan tampak menurun, luasnya pun makin kecil seiring mereka berjalan masuk ke dalam.
Selama 3 menit mereka menjelajahi Gua aneh ini, Isander dan yang lainnya dikejutkan oleh suara Kimaya.
Dia mengeluarkan sebuah suara kecil sembari melompat-lompat.
Helen, Reren, dan Meisya tahu maksud dari Kimaya lantaran mereka sering bermain dengan Kimaya.
"Kelihatannya, Kimaya ingin memberi tahu kita tentang sesuatu. Kiat diminta mengikutinya," kata Helen kepada Isander.
"Benar, Ayah," tambah Meisya memperkuat ucapan Helen.
Memang benar, tingkah Kimaya ini seperti menunjukkan tentang sesuatu. "Ayo kita ikuti dia!"
Seusai Isander mengatakan itu, mereka pergi ke suatu tempat yang ada di dalam Gua mengikuti Kimaya yang membimbing mereka.
Tidak lama berselang, sekitar 1 menit lamanya mereka berjalan, Kimaya tiba-tiba berhenti di sebuah sangkar besar dengan 2 telur ukuran raksasa di atasnya.
Melihat ini, Isander menjadi terkejut, dia dengan cepat meminta Helen dan Reren diam di tempat bersama Meisya, biar dia yang memastikan keamanan sesuatu di depannya.
Kimaya ini ikut bersama Isander dan masih melompat-lompat.
Dua buah telur raksasa dengan ukuran lebih dari 40 cm berkumpul di sangkar yang seperti dibuat oleh seekor burung.
"Telur apa ini?"
Setelah memeriksa keamanan di sekitar telur, Isander berdiri dan fokus mengidentifikasi tentang telur apa sebenarnya yang mereka temui.
Asumsi Isander telur ini berasal dari telur burung unta karena telur Burung Unta punya ukuran yang besar.
Akan tetapi, Isander tidak yakin apabila Burung Unta punya telur sebesar ini.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Isander mencoba untuk menyentuhnya.
Di detik berikutnya, sebuah pengingat muncul dari Sistem di dalam benaknya.
[Ding! Fungsi Pet Berhasil Diaktifkan!]
[Terdeteksi Telur Suphaast (A) belum menetas. Apakah Anda ingin menjadikan Suphaast di dalamnya menjadi pet Anda?]
__ADS_1