
Mereka semua terdiam beberapa saat, dan benar-benar fokus mengingat monster kuat yang mungkin bisa menghancurkan Candi Borobudur tanpa meninggalkan jejak serangan fisik.
Dipikir-pikir lagi, mereka tidak tahu ada monster yang menyerang tanpa menggunakan fisik.
Pengetahuan mereka tentang monster S juga tidak begitu banyak sehingga mereka tidak tahu monster apa saja yang bisa menyerang tanpa sentuhan fisik secara langsung.
"Bagaimana kalau itu dilakukan oleh Deegiant?" Reza menebak dengan asal.
Kila menggelengkan kepalanya dan menyangkal, "Tidak mungkin, di sana tidak ada jejak tanaman merambat atau jejak alur yang meliuk-liuk di tanah. Lagi pula, Deegiant sebagian besarnya menyerang dengan fisik. Tanaman merambat adalah fisiknya."
"Benar, Deegiant biasanya menyerang dengan injak dan pukulan kaki. Jika mengendalikan tanaman merambat dari jauh untuk menghancurkan candi, pastinya itu bisa dilihat jejaknya," tambah Giya yang habis berpikir dengan keras.
Apa yang dikatakan Giya dan Kila ada benarnya.
Monster Deegiant tingkat A memang menyerang menggunakan tubuhnya. Isander bisa mengonfirmasi tentang ucapan mereka, dia sendiri melawan Deegiant dan sempat konfrontasi muka dengan muka.
Kebanyakan serangan yang dikeluarkan Deegiant adalah serangan fisik.
Tidak berbeda dengan monster-monster yang lain dan kebanyakan memakai fisik untuk menyerang musuh.
Di tingkat C sampai A, semua monsternya kebanyakan memakai kekuatan fisik untuk membunuh Agter, Spidgarets yang berasal dari Pak Tole saja ada serangan fisiknya.
Ada Monster Pak Ghandi, dia juga lebih condong ke fisik meski punya kekuatan cairan asam seperti Pak Tole.
Rhigarets pun sama, butuh waktu untuk mengendalikan unsur tanahnya.
Semua monster yang Isander tahu tidak ada yang cocok dengan monster yang bisa menghancurkan Candi Borobudur begitu berantakan.
"Kalian tahu monster S ada apa saja selain Elgoter?" Isander menjadi curiga ke monster S jika memang penyebab hancurnya Candi Borobudur adalah monster.
Giya dan anggota kelompok yang lain termenung sejenak, kemudian satu per satu menjawab.
"Aku tahu Gorgoter dan Hipgoter, selain Elgoter yang aku tahu," Reza menjawab cepat sambil menyesap jus yang ia keluarkan dan taruh di atas lantai.
Kepala Kila mengangguk dan menambahkan, "Aku juga sama seperti Reza, hanya dua monster S itu yang aku tahu selain Elgoter. Sisanya aku juga masih mencari tahu."
Sementara Giya dan Nina, keduanya bahkan baru tahu dengan Hipgoter yang merupakan monster S. Sama sekali tidak mereka ketahui.
"Hipgoter? Monster apa itu?"
Isander menjadi tertarik dengan Hipgoter yang baru saja Reza dan Kila beri tahu namanya.
Berikutnya, Reza bersama Kila menjelaskan tentang monster tersebut dengan baik dan tidak terburu sehingga semuanya paham dengan yang dijelaskan oleh keduanya.
Penjelasan yang diberikan oleh keduanya dapat dipahami oleh Isander secara kasar tentang monster S Hipgoter.
Hipgoter merupakan monster tingkat S atau Naga yang di mana berasal dari kuda nil yang bermutasi dan berubah menjadi monster ruang berbahaya serta punya ukuran besar.
Menurut Reza dan Kila, ukuran dari monster itu melebihi ukuran tubuh besar Elgoter yang hampir 100 meter.
Ukuran Monster Hipgoter ini hampir dua kali lipat dari Elgoter. Selain ukurannya yang besar, mulut dari monster ini sangat luas dan punya kemampuan untuk menyedot apa pun yang ada di depannya.
Jika tubuh Monster Hipgoter besar, ukuran rahang mulut monster itu hampir setengah ukuran tubuhnya ketika terbuka lebar.
Apa yang diceritakan oleh Reza, saking besarnya ukuran monster tersebut, sebuah bangunan setinggi puluhan lantai bisa ditelan olehnya.
Dengan informasi yang mereka berdua berikan, Isander tahu serangan yang digunakan Hipgoter, dan dia bisa berhati-hati kalau bertemu.
Monster Hipgoter ini diceritakan begitu seram, membuat Isander makin waspada lagi dengan monster-monster di dunia ini.
Dari cerita keduanya, mereka semua bisa tahu bahwa Hipgoter ini bukanlah pelakunya karena apa yang bisa dilakukan oleh monster itu dalam menyerang, sangat tidak sama dengan kehancuran Candi Borobudur.
Secara otomatis Hipgoter dicoret dari daftar tersangka, kemudian Gorgoter yang juga langsung dicoret dari daftar pelaku.
Gorgoter, monster tingkat S yang berasal dari binatang Gorila bermutasi karena bakteri asing.
Dilihat dari asalnya saja sudah bisa diketahui bahwa Gorgoter adalah monster yang bermain dengan fisik dalam serangannya. Terkhusus tinjunya yang kuat.
Sayang sekali, mereka semua hanya tahu 3 jenis monster S yang hidup di dunia ini.
"Seharusnya, Goron lebih tahu tentang monster S yang lain. Coba tanya dia saja," Kila memberi saran kepada mereka semua.
Mendengar ini, semuanya baru sadar dengan Goron. Benar juga yang dikatakan Kila, orang seperti Goron yang dipekerjakan oleh kota, kemungkinan lebih tentang monster-monster daripada mereka semua.
Dengan begitu, Isander segera mengirimkan sebuah pesan kepada Goron tentang monster S apa saja yang ada di Pulau Jawa ini.
Mereka menunggu balasan dari Goron, tetapi Goron tidak membalas sama sekali selama hampir 1 jam.
Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul jam 10 malam lebih, mereka semua memilih untuk tidur ketimbang menunggu balasan Goron yang tampaknya sibuk dengan tugasnya di kota.
__ADS_1
Pada saat ini, Isander ditinggal sendiri oleh semua anggotanya karena mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
Melihat jam tangannya, Goron masih belum memberikan tanda-tanda ingin membalas pesannya.
Merasa terlalu lama menunggu, Isander memutuskan untuk pergi ke ruang Cenagon untuk berlatih dan mengobrol bersama dengan dia.
Whoosh!
Sosok Isander di dalam ruangan Cenagon menjadi buram, dia bergerak begitu cepat, muncul di beberapa tempat dan menghancurkan semua target latihan yang dibuat.
Isander benar-benar sangat fokus dengan ini, dia ingin menjadi yang terkuat, mampu membunuh banyak monster di dunia ini, terutama monster level S yang masih misterius dan tidak diketahui.
Akan tetapi, saat dia fokus dalam menghancurkan target latihan dan mengasah kemampuannya, suara Cenagon yang terdengar di telinganya membuat Isander tertegun.
"Entah mengapa aku merasa bahwa kamu makin kuat bukan karena latihan saja, melainkan kamu harus ditekan oleh monster atau mendapatkan masalah," kata Cenagon dengan suara yang dalam.
Berdiri di tengah ruangan, Isander segera berbalik dan melirik Cenagon yang berbadan besar di kejauhan.
Wajah Isander terlihat rumit pada awalnya, beberapa detik berikutnya dia tampak mendapatkan pencerahan dari kata-kata Cenagon.
Menunjuk ke arah Cenagon, Isander mengangguk, "Kamu benar, Cenagon."
Di detik berikutnya, sosok Isander berpindah dan muncul tengah duduk di atas singgasananya.
Raut wajah Isander menjadi dalam, menopang dagunya dengan kedua tangan, Isander memikirkan lagi apa yang diucapkan Cenagon. Terdengar benar, tetapi tidak yakin sepenuhnya benar.
Isander mempelajari lagi Sistem, dia akan mendapatkan kemampuan apabila Meisya memohon kepadanya.
Lantas, mengapa dia tidak memasuki keadaan berbahaya sehingga Meisya mengeluarkan keinginannya.
Paling tidak, Isander harus menempatkan dirinya di dekat masalah supaya Meisya melontarkan keinginan yang ditujukan kepadanya, kemudian Sistem mewujudkan keinginan Meisya.
Namun, dipikir-pikir lagi selama beberapa saat, cara itu cukup berisiko. Pasti ada cara bagaimana Meisya mengeluarkan keringanannya secara natural.
Isander masih ingat bahwa keinginan yang dipaksa atau dipinta olehnya sendiri, seperti meminta Meisya membuat keinginan terhadapnya, itu tidak dihitung oleh Sistem.
Jadi, percuma saja. Permintaan yang datang harus dari hati dan benar-benar alami. Tak ada rasa paksaan atau diperintah oleh orang lain.
Sangat disayangkan, Sistem ini memang pintar dan tak bisa diretas menggunakan cara seperti itu.
Mau tidak mau, Isander harus memutar otak agar Meisya membuat banyak permintaan untuknya tanpa diketahui oleh Sistem sendiri.
"Ide bagus, tetapi aku harus membulatkan niat dan tekad dari sekarang," gumam Isander dengan mata yang berangsur-angsur menjadi tegas.
Cenagon yang melihat wajah Isander yang penuh keyakinan dan semangat juang menjadi bingung dengan apa yang terjadi Isander.
Di kesempatan waktu yang senggang ini, Isander membuka jendela statusnya untuk melihat kemampuan yang dia punya.
Ternyata kemampuan yang ia lihat terakhir kali ada di tingkat C sudah naik ke tingkat B.
Kemampuan yang naik ke level B salah satunya ialah Finger of Flame.
Blarr!
Kelima jari Isander yang menghadap ke atas menciptakan api yang besar.
Api merah itu menari-nari dengan suhu yang makin lama makin panas.
Pada saat Isander mencoba banyak gerakan dari kemampuan ini, dia menemukan sebuah gerakan yang sederhana dan efek kerusakannya cukup besar.
Dengan ini, Isander berniat untuk mengasah gerakan tersebut dan meningkatkan agar menjadi efesien.
Jari-jemari dari kedua tangan Isander saling menyatu satu sama lain, kemudian secara perlahan jari-jarinya membentuk sebuah pistol.
Berikutnya, energi hangat mengalir cepat ke bagian tangan dan terkonsentrasi di jari telunjuk dan tengah yang membentuk moncong pistol.
Api kecil muncul di depan jari telunjuk dan jari tengah Isander, api itu terus bertambah besar dan membulat seiring berjalannya detik.
Kurang dari 20 detik Isander memfokuskan apinya di depan moncong pistol tangannya, sebuah bola api sebesar bola basket terbentuk dengan baik.
Melihat ini, Isander langsung menembakkan bola api tersebut ke target dinding hitam dengan kecepatan yang tinggi.
Whoosh!
Bola api tersebut terbang lurus dengan cepat, membuat ekor api yang menyala.
Ruangan Cenagon yang gelap sedikit menjadi terang dengan adanya bola api ini.
Di detik selanjutnya, bola api besar meledak begitu menghantam kuat dinding hitam.
__ADS_1
Sebuah ledakan yang cukup besar dengan diameter hampir 10 meter terbentuk di dalam ruangan, disertai oleh cahaya yang masih tidak bisa menghapus kegelapan di ruangan ini.
Setelah ledakan terjadi, Isander melihat dinding hitam yang dihantam oleh serangan apinya menjadi hancur dan berantakan dengan serpihan kecil yan berserakan.
Kurang puas dengan hasilnya, gerakan yang telah ia buat langsung Isander coba sederhanakan.
Dia tidak lagi menyatukan sepuluh jari tangannya. Jadi, Isander membentuk pistol dengan kedua tangannya bagaikan cowboy yang membawa 2 pistol di tangannya.
Setelahnya, Isander mengarahkan ujung jarinya ke dinding hitam di kejauhan seakan dia sedang benar-benar menggunakan pistol di tangannya.
Blar!
Isander menciptakan bola api dengan ukuran yang sama di kedua tangannya.
Durasi membentuk bola apinya tidak selama yang di awal tadi, tetapi ukurannya dikecilkan, tidak lagi seukuran bola basket.
Boom! Boom!
Dua tembakan Isander luncurkan, dan dua ledakan terjadi begitu hebat.
Hasil dari kedua bola api itu masih sama dengan kerusakan bola api pertama yang dicoba.
Di malam hari ini, Isander mendedikasikan dirinya untuk menyederhanakan gerakan dari kemampuan Finger of Flame.
Lebih dari 3 jam kemudian di dunia nyata, sosok Isander masih terlihat di ruang Cenagon.
Saat ini, dia serangan berdiri di kejauhan menghadap target latihan berupa dinding hitam yang tinggi dan lebar, tingginya lebih dari 20 meter.
Tangan Isander yang terbuka, dengan cepat bergerak membentuk bentuk pistol seperti seorang anak kecil.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Belum sampai 3 detik berlangsung, puluhan bola api sebesar bola kasti melesat sangat cepat dari depan tubuh Isander, dan langsung membombardir dinding latihan tersebut hingga hancur lebur menjadi serpihan-serpihan kecil dinding.
Melihat hasilnya, Isander mengangguk senang dan puas. Gerakannya berhasil ia buat dengan efesiensi yang terbilang cukup.
Meski ukuran bola yang dikeluarkan makin kecil dari sebelumnya, tetapi kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih kuat dari bola api seukuran bola basket.
Ukuran tidak begitu penting, terpenting adalah kualitas dari bola api itu sendiri.
Isander memfokuskan api yang ada di dalam bola api, kemudian sedikit mengompresnya sehingga bentuk dari bola api makin kecil.
Hasil dari pengecilan ukuran bola api yang membuat kerusakan menjadi lebih kuat dan panas.
Sama saja seperti api yang dipanaskan lagi, hampir mirip plasma, tetapi bukan plasma.
Ini juga tidak memakan banyak waktu. Dengan kemampuan dan kontrolnya yang hebat, Isander dapat membuat banyak peluru dan melepaskannya menunjuk ke target.
Isander sangat puas dengan kemampuan barunya.
Ini sangat cocok digunakan saat dalam kondisi yang darurat.
Jelas, gerakan itu sulit untuk mengalahkan monster level S, mungkin bisa membunuh monster tingkat A.
Syaratnya adalah butuh tembakan bola api yang banyak untuk benar-benar membunuh monster sampai mati.
"Bagus, teknik apimu cukup kuat," kata Cenagon yang mengomentari kemampuan Isander.
"Terima kasih." Isander tersenyum dan mengangguk. "Namun, aku ingin menguatkan teknik dan gerakan ini lagi."
"Tingkatkan saja. Aku punya saran untuk menggabungkan kemampuan yang lainnya dengan peluru api itu."
"Menggabungkan Fire Bullet dengan kemampuan lain?" Pupil mata Isander membesar, dia baru ingat dengan ini.
Cenagon mengangguk kejam, dan dia menambahkan, "Seperti digabungkan dengan kemampuan yang lainnya, asalkan jangan kekuatan air karena percuma saja."
Api dan air tidak bisa digabung, keduanya bisa saling mengalahkan satu dengan yang lain.
Saran Cenagon sedang Isander pikirkan lagi. Jujur, dia bingung dengan kemampuan apa yang bisa digabungkan dengan Fire Bullet ini.
"Nanti aku akan coba jika ada kemampuan lain yang kompatibel dengan api," kata Isander dengan senyuman yang memperlihatkan rasa senangnya.
Mendengar ucapan Isander, kepala Cenagon mengangguk beberapa kali.
Dengan begitu, latihan di malam hari ini telah selesai dan Isander kembali ke dunia nyata.
Tepat ketika ia membuka matanya, Isander melihat wajah cantik yang duduk tepat di hadapannya.
Wajah cantik ini begitu dekat sehingga keduanya nyari berciuman.
__ADS_1
"Sedang apa?"