
Reza dan Kila mengikuti Giya dan Nina di belakang, mereka semua berjalan perlahan mendatangi Isander.
Giya dan Nina langsung menemui Isander dan bertanya tentang apa yang telah terjadi sebelumnya, sedangkan Reza dan Kila lebih fokus ke lubang besar yang ada di dekatnya.
Ketika mereka berdua melihat ke dalam lubang, sebuah pemandangan yang mengerikan ditampilan di depan mata mereka.
Bangkai monster yang tidak dapat dikenali tergeletak di dalam lubang dengan kondisi yang benar-benar hancur, bahkan mereka hanya bisa melihat tulang serta bagian tertentu tubuh monster yang masih tersisa.
Darah dan daging halus berceceran di sekitar lubang, menghasilkan aroma tidak sedap yang mampu membuat orang ingin muntah, lebih baik tidak ke sini untuk mencium aroma bau yang menjijikkan.
Namun, mereka masih penasaran dengan pelaku yang dilawan oleh Isander, apakah ini monster atau manusia.
Maka dari itu, keduanya berdiam sejenak di pinggir lubang dengan hidung yang dijepit oleh tangan.
Beberapa detik mereka mencari petunjuk, mereka berdua akhirnya dapat mengidentifikasikan pelaku pemusnah habitat ayam di hutan sekitar sini.
Pelakunya adalah monster.
Untuk lebih spesifiknya, mereka tidak tahu, tetapi mereka memiliki spekulasi bahwa monster ini adalah monster level B.
"Mereka adalah monster yang memiliki tubuh yang mirip berang-berang."
"Berang-berang?"
Giya dan Nina saling menatap satu sama lain, tampaknya mereka tahu monster apa yang dilawan oleh Isander.
"Apakah itu Beavger?" tebak Nina kepada Isander.
Bahu Isander terangkat naik, dan dia berkata, "Entah, aku saja tidak tahu."
"Kurasa itu Beavger. Monster itu mirip dengan berang-berang, bukan? Dan memiliki ukuran yang sangat besar?" Giya menatap mata milik Isander.
Merenung sesaat, Isander mengangguk membenarkan. "Itu benar. Jadi, namanya adalah Beavger?"
"Iya, monster itu bernama Beavger, monster level B." Kepala Nina mengangguk tegas.
"Level B, monster ini cukup kuat untuk menghancurkan rumah berlantai dua bahkan tiga," terang Giya dengan suara yang dalam. "Berapa monster yang kamu lawan?"
"Kalau tidak salah tiga ekor. Mereka mati dan jenazahnya ada di dalam lubang," balas Isander dengan santai.
"Tiga?!"
Reza dan Nina langsung terkejut, dan mereka langsung menoleh menatap Isander dengan ekspresi yang tidak percaya.
Mereka tak percaya Isander bisa mengalahkan tiga ekor Beavger sekaligus. Apakah pria yang membuat mereka pingsan bisa sekuat itu? Mereka meragukan hal ini.
Mendengar keduanya berseru, Isander dan lainnya mengalihkan pandangannya ke arah keduanya seketika.
"Benar, ada tiga monster yang aku hadapi tadi."
__ADS_1
Isander berdiri, menyerahkan ayam di tangannya kepada Nina, dan berjalan menuju keduanya yang berdiri di tepi lubang.
Menatap ke dasar lubang, Isander menunjuk ke arah tubuh mayat monster yang benar-benar hancur tidak berbentuk di lubang, dan berkata, "Kamu bisa lihat tiga moncong yang masih utuh itu. Bukankah itu Beavger?"
Melihat ke arah yang ditunjuk Isander, Reza dan Kila dapat menemukan tiga moncong monster yang terpotong dan utuh. Sebelumnya, mereka tidak melihat ini, mungkin mereka belum menyadarinya.
"Benar, mulut ini memang milik Beavger," ucap Nina yang baru sampai di tepi lubang. "Taring yang mencuat dari bawah rahang sangat mencirikan Beavger. Benar, ini Beavger."
Setelah mendengar konfirmasi dari Nina, keduanya pun memiliki pendapat yang sama, moncong khas ini memang milik Beavger. Namun, mereka tetap tidak percaya Isander bisa membunuh monster-monster ini sendirian.
"Sekarang, lebih baik kita bergegas pergi sebelum hari menjadi gelap."
Isander mengambil Meisya yang terlelap di pelukan Giya, dan berjalan ke arah timur bersama Giya, meninggalkan ketiganya yang berdiri di dekat lubang.
Nina dan pasangan ini saling beradu pandangan, kemudian mereka bertiga bergerak mengikuti Isander dan Giya dari belakang.
Bagian moncong monster tidak mereka ambil, itu karena tidak ada tempat untuk menyimpan dan membawanya.
Lagi pula, misi yang mereka emban tidak mengharuskan membunuh Beavger. Itu sudah di luar misinya.
Selama di perjalanan ini, usai tahu bahwa Isander memiliki kekuatan yang sangat hebat lantaran dengan mudah mengalahkan tiga ekor Beavger, Reza dan Kila tidak berani banyak bertingkah di dekat Isander.
Takut tindakannya menyinggung Isander dan membuatnya marah. Peristiwa itu pasti mengerikan sekali.
Giya dan Nina masih seperti biasa, dia mengobrol santai dengan Isander sambil memperhatikan jalur yang mereka lewati.
"Tolong!"
Isander yang memberhentikan jalannya dan berdiri diam mendengarkan suara jeritan minta tolong ini.
Teman-temannya pun sama, mereka menghentikan gerakannya dan fokus mendengar jeritan yang muncul.
"Siapa pun, tolong aku!"
Teriakan minta tolong terdengar sekali lagi, membuat wajah mereka semua berubah seketika.
"Di sana ada seseorang." Isander menunjuk ke arah tenggara.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Giya dengan hati-hati.
Semua orang yang mendengar suara teriakan meminta bantuan dengan lekas memasang kewaspadaan yang tinggi.
Isander menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Tidak, dia sedang dikelilingi oleh Beavger."
"Bisakah kamu menolongnya?" Giya merasa kasihan, dia tidak tega mengetahui orang yang berada dalam masalah, tetapi dia tak menolongnya.
"Bisa. Jaga dahulu Meisya, jangan sampai dia bangun karena terganggu."
"Baik."
__ADS_1
Setelah menitipkan Meisya kepada Giya, dia langsung bergerak hati-hati menuju ke arah orang yang memerlukan bantuan.
Giya, Nina, Reza, dan Kila berdiri menatap Isander yang berjalan santai di antara batang besar pepohonan.
Penasaran dengan ini, Reza berkata kepada Kila, "Aku ingin ikut, kamu di sini saja, jangan ke mana-mana."
Kila tidak setuju, dan dia membalas, "Jangan, itu terlalu berbahaya—"
"Tidak apa-apa, aku bisa menjaga diri. Aku akan kembali secepat mungkin."
Setelah mengatakan itu, Reza ikut berjalan meninggalkan ketiga wanita di belakang.
Kepergian Reza tidak sempat Giya dan Nina larang lantaran Meisya saat ini terbangun sendiri di pelukan Giya.
"Ayah ke mana, Kak?" tanya Meisya sambil menggosokkan kedua matanya.
Membantu memberikan kotoran mata Meisya, Giya menjawab dengan lembut, "Dia sedang pergi menyelamatkan orang."
"Menyelamatkan orang?"
Meisya menatap Nina dan Giya dengan wajah bantal yang terkejut.
Pada saat ini, kerumunan Beavger, monster raksasa berang-berang, tengah mengelilingi seorang wanita yang terpojok di salah satu pohon.
Terlihat monster-monster ini tidak sabar untuk membunuh manusia di depan mereka.
Kyitt!
Krrr!
Suara khas monster-monster ini telah ditunjukkan sedari tadi diarahkan kepada wanita yang ketakutan setengah mati.
Di detik berikutnya, monster-monster ini melompat menerkam ke depan secara bersamaan, menyerang sosok wanita tersebut tanpa keraguan.
Melihat cakar dan gigi para monster yang meluncur ke arahnya, mata wanita yang basah ini dengan cepat menutup dengan hati yang pasrah.
Tidak ada yang bisa dia lakukan, selain menerima kematian yang sebentar lagi menjemputnya.
Saking pasrahnya, dia bahkan tidak mau berteriak lagi. Dia tahu ini sia-sia.
Setelah beberapa saat dia menutup mata, rasa sakit yang dia tunggu tak kunjung datang, malah datang suara pria asing yang muncul tiba-tiba di telinganya.
"Kamu baik-baik saja?"
Saat dia membuka matanya, sesosok wajah tampan terpampang jelas di depannya, matanya yang menawan sedang menatapnya dengan cemas.
Orang itu adalah Isander. Dia berhasil menyelamatkan wanita ini di detik yang sangat krisis.
Pandangan mata Isander membuat pipi wanita itu memerah bagai tomat matang.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," kata wanita tersebut dengan suara yang malu-malu.