
Mata merah monster tersebut membesar, dia menatap Isander dengan tatapan yang terkejut.
Senyum yang ditunjukkan oleh Isander bergerak miring, memandang rendah monster besar ini.
Di detik berikutnya, sosok Isander menjadi pudar dan menghilang dari tempatnya.
Bola mata monster ini menjadi lebih besar, dia terkejut dengan Isander, kecepatannya sangat cepat, bahkan di depan wajahnya saja dia tak bisa melihat ke mana Isander pergi.
Tepat ketika monster ini menoleh ke kiri dan dan ke kanan mencari keberadaan Isander, suara yang santai dan dalam terdengar di telinganya.
“Aku di atas sini, Bodoh!“
Monster banteng merah melihat ke atas, di dalam penglihatannya dia menyaksikan Isander terjun dari atas menuju ke arahnya.
Rasa takut masih belum menguasai monster yang memiliki IQ rendah ini. Alih-alih menghindar, monster ini berancang-ancang untuk menyerang Isander dengan satu-satunya tanduk yang dia miliki.
Mooo!!
Melihat keputusan bodoh monster ini, Isander menyunggingkan senyuman dan tertawa kecil.
Isander bermanuver di udara dan membuat sebuah gerakan hendak menebas dengan tombak di tangannya.
Jarak antara tanduk besar dan Isander makin mengecil. Tanduk besar itu dengan kuat diarahkan ke tubuh Isander yang ada di udara.
Melihat ujung tanduk di depannya, wajah Isander terlihat santai. Dia menggerakkan tombaknya dengan cepat, Isander menebas kuat menggunakan tombak hitamnya seraya berkata, “Black Slash!“
Swooshh!
Sebuah energi hitam dengan benang listrik ungu keluar dari bilah tombak, terbang dengan kecepatan yang tinggi menghantam tanduk besar tersebut.
Duar!
Ledakan kembali muncul disertai dengan angin kuat yang menerpa pepohonan di sekitar tempat pertempuran, membuat batang dan dahan pohon menjadi sedikit miring.
Sebuah asap hitam muncul dari tabrakan tanduk besar dengan cahaya hitam yang pekat. Bau terbakar tercium sangat jelas di sekitar hutan selama beberapa saat.
“Tandukmu sudah tiada. Kamu sekarang menjadi sapi betina yang lemah.“
Sosok Isander muncul di dahan salah pohon setelah menyerang monster dengan tebasan tombak. Berdiri santai sambil menatap asap hitam yang berkumpul di tengah lahan kosong tempat dirinya bertempur dengan monster banteng merah.
__ADS_1
Setelah kata-kata Isander jatuh, jeritan kesakitan dari monster banteng muncul dan membuat pepohonan di sekitar bergetar saking keras suaranya.
MOOO!!!
Isander dengan cekatan menutupi telinganya dengan kedua tangannya, dia sudah tahu bahwa teriakan ini tidak bisa diterima oleh telinganya begitu saja. Jika tidak ditutup, Isander yakin gendang telinganya akan pecah dan berdarah.
Asap yang mengepul itu lenyap seketika oleh teriakan keras ini, terdorong oleh angin yang berhembus kencang dari moncong monster banteng.
Begitu asap menghilang, Isander melihat tampilan terkini dari monster banteng di depannya. Tanduknya yang utuh telah terpotong dengan halus, terdapat bekas hitam di tempat tanduk terpotong, seperti potongan dari sesuatu yang panas hingga membuat tanduk tersebut sempat terbakar.
Kedua tanduk yang gagah dan besar milik monster tidak ada lagi, senjata andalannya sudah tak bisa dipakai, monster ini secara otomatis menjadi lemah karena tidak ada senjata efektif yang digunakan untuk menyerang.
Kaki Isander menendang dahan pohon, dia mendarat tepat di depan monster sambil menggenggam tombak hitam di tangannya. Bilah pada tombak Isander terlihat lebih hitam dari bagian gagang atau tongkat yang tengah dipegang.
Berdiri di depan monster depannya yang memiliki ukuran yang besar, mata Isander menunjukkan perasaan yang membosankan. Ukuran monster ini sangat tak berguna, sama sekali tidak bisa membuatnya merasa takut.
“Kamu tahu? Kelemahan dari ukuran tubuh yang besar adalah mudah untuk diserang, contohnya seperti ini.“
Swooh!
Tak tahu kapan Isander bergerak, sebuah cahaya hitam berbentuk bulan sabit raksasa melintas sangat cepat menuju tubuh monster banteng yang diam tak bergerak.
Sebuah garis vertikal yang sangat rata muncul tepat di tengah-tengah tubuh monster banteng dari ujung kepala sampai ujung bawah dada.
Belahan itu makin lama makin melebar dan kedua bagian tubuh monster terjatuh diiringi dengan darah merah kehitam-hitaman yang membanjiri permukaan tanah hingga belasan meter luasnya.
Untuk sementara waktu, bau amis dan busuk darah menyelimuti medan pertempuran.
Isander sudah ada di atas pohon, dia melirik tombak di tangannya dengan senyuman yang lembar.
“Ternyata energi gelap pada bilah tombak bisa ditahan. Keluaran energi dari bilah yang ditahan menjadi lebih dan kuat dari tebasan tombak tanpa ditahan.“
Sebuah fitur Isander temukan pada Dark Spear yang dia punya. Bilah pada tombak bisa mengumpulkan energi kegelapan selama beberapa saat untuk mengeluarkan serangan gelombang energi gelap yang jauh lebih kuat dan memiliki jangkauan yang lebih luas.
Serangan yang terakhir yang Isander pakai adalah gerakan itu. Dia baru tahu ini dan mencoba-coba, tak disangka ketidaksengajaan yang diperbuat sangat berguna.
Tombak hitam yang ada di tangan Isander berubah menjadi partikel hitam seperti asap, kemudian terbang dan masuk ke dalam punggung tangan kanan Isander, membuat logo tombak yang serupa dengan bentuk tombak aslinya.
Mencium bau yang menyengat dari darah hitam monster, Isander mulai bergerak dan membersihkan bekas pertempurannya.
__ADS_1
Tanah yang ada di bawah bangkai monster mulai retak, semua darah yang ada di atasnya terserap dan masuk ke dalam retakan.
Genangan darah yang memiliki bau tak sedap itu secara lambat menghilang di dalam tanah. Tanah mulai menjadi kering dan beberapa genangan darah tersingkir dari permukaan tanah.
Melihat hampir 90% genangan darah menghilang di tanah, Isander merasa sudah cukup, dia harus menangani bangkai besar monster banteng merah ini.
Dia berdiri dan mengamati bangkai monster banteng. Merenung untuk memikirkan cara yang tepat untuk menghilangkan jasad besar monster dari tempat ini.
“Sial! Monster banteng merah sangat menyusahkan. Tidak di Bumi tidak di sini, sama-sama merugikan orang lain.“
Setelah beberapa waktu yang lama dia berpikir, Isander menemukan cara menghapus jasad besar monster banteng, yakni dengan cara melemparkannya ke dalam lubang di dalam tanah dan menghancurkannya dengan bola badai.
Cara ini mirip dengan cara kerja mesin blender, menghancurkan benda atau daging dengan putaran benda yang tajam secara cepat.
Tanpa berlama lagi, Isander berjongkok, dia menyentuh permukaan tanah dengan kedua tangannya.
Sebuah energi asing aktif dan sebuah kekuatan yang dia miliki bekerja.
Retakan tanah muncul secara bertahap, garis retakan merembet di sekitar tubuh monster yang telah terbelah menjadi 2 bagian. Retakan membentuk lingkaran penuh dan mengelilingi bangkai monster.
Setelahnya, tanah yang ada di bawah bangkai monster runtuh ke bawah seperti longsor dan membawa jasad monster ke dalam.
Kekuatan Isander akan menjadi lebih kuat jika digabungkan, Hand of Earth dan Foot of Earth adalah kemampuan yang berkaitan karena memiliki unsur yang sama. Apabila digabungkan akan membuat efek kendali kekuatan menjadi lebih baik.
Kembali ke posisi berdiri tegap, Isander mengangkat tangan kanannya dan sebuah energi terkumpul di atas telapak tangannya.
Rambut hitam patah Isander yang terkulai itu bergoyang-goyang karena angin yang muncul dari energi yang berkumpul.
Energi itu semakin besar dan kemudian berubah menjadi sebuah bola yang terdapat angin yang berputar kacau dan cepat.
Merasakan energi dari bola badainya cukup untuk menghancurkan tubuh monster menjadi daging giling, Isander dengan santainya melemparkan bola tersebut ke bawah lubang.
Berbalik badan dan dia berjalan meninggalkan medan pertempuran yang bergetar.
Bola badai yang jatuh ke dalam lubang menghancurkan seluruh tubuh monster menjadi bagian yang terkecil.
Usai bola badai lenyap, tanah menjadi runtuh lagi dan menutup lubang besar tersebut.
Medan pertempuran Isander hanya menyisakan sepasang potongan tanduk monster banteng.
__ADS_1