
Tubuh monster Catagtress tersebut berubah menjadi hitam dan memiliki bau hangus yang kuat.
Isander menekankan jari tangannya ke tanah yang ada di sebelahnya, dan mayat monster yang terbakar terhempas jauh oleh bongkahan tanah yang mencuat keras dari bawah.
Mayat Catagtress yang ada di depannya menghilang dan tidak mengganggu dia dan yang lainnya lagi.
Monster yang awalnya tidak bisa dan sangat sulit dikalahkan olehnya, kini tampak tidak ada apa-apanya dan bukan lagi suatu entitas yang mengancam dirinya.
Meskipun begitu, Isander tetap waspada dengan mereka karena Catagtress biasanya tidak sendiri, mereka pasti berkelompok.
Benar saja, baru Isander menghilangkan bangkai hitam yang terbakar itu, datang 4 ekor Catagtress yang berniat untuk memangsa Isander dan lainnya.
Grrr!
Suara dengkuran keras terdengar dari keempat mulut mereka, air liur menetes saat menatap Isander yang masih sadar dan belum tidur.
Melihat banyak mangsa di depannya, mereka berempat langsung berlari cepat ke depan dengan cakar yang sudah dikeluarkan.
Groarr!
Monster-monster tersebut melompat dengan cakar tajam yang diarahkan ke depan, berniat untuk mencabik-cabik Isander.
Di detik berikutnya, sebuah bongkahan tanah naik ke atas dan menghalangi jalur mereka berempat meloncat untuk menerkam.
Dengan suara yang keras, keempat monster ini menghantam tembok yang muncul secara tiba-tiba ini dengan keras.
Kedua kaki depan mereka seketika patah dan moncong depan mereka terluka karena tekstur tanah yang kasar dan keras.
Sebelum mereka bisa bangkit dan melanjutkan untuk menyerang, tembok yang menghalangi mereka bereaksi aneh.
Srat! Srat!
Ratusan duri yang tajam dan sedikit besar yang terbuat dari tanah menembus tubuh mereka dengan mudah, darah dan daging menyembur keluar dari lubang yang ditembus oleh duri tajam yang lumayan panjang.
Tidak perlu ditanyakan lagi kondisi mereka, sudah dipastikan mereka mati.
Dinding yang menghalangi keempat monster ini runtuh perlahan, kembali menjadi rata dan sama dengan permukaan tanah.
Melihat monster yang telah mati dengan bentuk yang hampir tak bisa dikenali lagi, Isander menggunakan tangannya untuk membuat empat api kecil di tangannya dan melemparkan api-api tersebut ke tubuh monster tersebut.
__ADS_1
Blarr!
Keempat api kecil tersebut membakar tubuh monster secara keseluruhan tanpa ada bagian tubuh yang tidak terkena.
Darah, daging, kulit, dan organ tubuh mereka yang busuk menjadi hangus terbakar oleh api ini, kemudian api tersebut padam setelah 1 menit berdiam di keempat mayat monster.
Untuk sekali lagi Isander memakai kemampuan Hand of Earth membuat mayat yang menghitam terlempar menjauh dari tempat dia berada.
Bam!
Balok tanah muncul dan dengan keras menghantam mayat tersebut ke depan hingga terpental jauh di udara.
Semua tubuh mayat yang hitam jatuh dan mendarat di puluhan meter jauhnya dari tempat Isander dan kedua wanita serta anaknya istirahat.
Semuanya telah selesai, dan Isander bisa melanjutkan lagi latihannya dalam mengontrol kemampuan yang dia punya.
Baru setengah jam Isander memejamkan matanya sambil bersandar di batang pohon yang besar dan menjadi alas tidur Meisya, sebuah pemberitahuan dari Sistem berbunyi di telinganya.
[Ding! Kemampuan Hand of Earth dan Foot of Earth Telah Ditingkatkan!]
[Hand of Earth (C) : Dapat mengendalikan tanah menggunakan kedua tangan dengan kontrol yang lebih baik dari sebelumnya.]
[Finger of Flame (C): Membuat pengguna menciptakan api merah yang bersuhu 900 derajat Celcius dari jari tangan dan kakinya. Suhu akan terus naik sesuai dengan tingkatannya.]
Rangkaian suara dan pemberitahuan muncul di benaknya, disertai dengan panel sistem yang melayang di depannya dan mencantumkan apa yang diberitahukan.
Isander membaca keterangan yang ada di layar virtual yang bercahaya ini dengan saksama dan hati-hati.
Beberapa kemampuannya telah berhasil ia tingkatkan ke level yang selanjutnya di atas level D.
Ketiga kemampuan yang ditingkatkan sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya, bahkan Isander sekarang dapat merasakan banyak perubahan atas kendalinya dari ketiga kemampuan ini.
Isander mengangkat tangan kirinya dan membuka jari telunjuknya mengarah ke atas, kemudian api kecil yang berwarna merah ini muncul di atas jari telunjuknya.
Warna dari api merah ini tampak lebih gelap dan kental, juga suhunya jauh lebih panas dari api kecil sebelum ditingkatkan.
Selain itu, apinya dapat dikendalikan oleh isander. Api kecil ini bisa melayang di sekitar 1 meter darinya, ini sangat keren. Dan juga ukurannya dapat dibesarkan hingga berukuran sebesar bola basket.
Akan tetapi, Isander belum menguji apakah ada efek lainnya, seperti semburan apinya yang berbeda atau bagaimana. Mungkin dia akan menguji secara langsung ketika ada monster.
__ADS_1
Foot and Hand of Earth keduanya juga mengalami perubahan berdasar yang Isander rasakan.
Dinding tembok bisa Isander naikkan sampai 3 meter tingginya, dan tampaknya bisa ditinggikan lagi, tetapi butuh waktu yang lama. Juga dia bisa membuat lubang dengan diameter kurang dari 10 meter dengan durasi yang cepat. Selain itu juga, munculnya dinding tanah dan balok tanah untuk menghantam tubuh lawan bisa lebih cepat.
Ini sangat membantu Isander untuk melawan musuh jika musuh memiliki kelemahan tertentu dan ketika dirinya ada di kondisi serta situasi tertentu.
Isander senang dengan kabar ini. Peningkatan kemampuannya sudah dikonfirmasi oleh Sistem, dia tidak menebak-nebak bahwa kemampuannya meningkatkan atas dasar perasaan saja.
Setelah itu, Isander meletakkan tangannya di atas tanah dan dinding tembok yang melingkar dengan diameter 8 meter terbentuk mengelilingi Isander dan lainnya.
Tembok tanah yang memiliki tinggi 2 meter lebih ini dibuat oleh Isander untuk melindungi mereka semua dari ancaman monster yang datang selagi Isander fokus berlatih.
Tidak hanya tembok saja, Isander juga menyiapkan duri tajam yang banyak dengan panjang 30 sentimeter di setiap permukaan dinding tanah.
Diciptakan oleh Isander sebagai perlawan langsung, tidak hanya bertahan saja, tetapi menyerang juga.
Musuh yang menabrak tembok secara otomatis teetancap duri tajam ini.
Kekerasan tekstur tembok tanah jauh lebih kuat, meskipun tidak sekuat batu.
Setidaknya, tidak rapuh dan rentan dihancurkan.
Langit malam tak lama menghilang dan disingkirkan oleh matahari dengan cahayanya yang hangat.
Isander hanya 4 jam berlatih, pagi sudah cepat datang dan menampilkan sosoknya di dunia yang hancur ini.
Mereka semua terbangun dan langsung melakukan persiapan sebelum pergi melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Sarapan kali ini, mereka memakan makanan dari Isander, yaitu makanan nasi uduk dan botol air minum.
Kedua wanita, Giya dan Nina masih bingung dengan asal-usul makanan Isander lantaran mereka tidak pernah melihat Isander memasak dan bertemu dengan orang lain.
Namun, Isander menjelaskan lagi bahwa orang yang memberinya makanan biasanya datang di malam hari dan sangat tersembunyi.
Mendengar penjelasan Isander, mereka mulai percaya, tetapi tidak sepenuhnya percaya karena tidak ada bukti yang konkret dan benar-benar ada.
Maka dari itu, untuk sementara waktu mereka percaya.
Setelah sarapan pagi, mereka resmi untuk kembali berjalan dan pergi ke arah timur dari daerah Bogor.
__ADS_1
“Hutannya makin lama makin jarang. Di mana kita sekarang?"