SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 126: Bertemu Kelompok Penguntit


__ADS_3

"Kalian tunggu di sini, aku ingin memeriksanya." Isander berdiri dan menyerahkan Meisya yang mengantuk ke pelukan Giya.


Meisya saat ini ingin tidur, tetapi tidak bisa tidur karena memang belum waktunya dia untuk tidur.


Melihat Isander yang pergi, Meisya mengingatkan ayahnya untuk tetap waspada dan hati-hati di luar.


Reza juga ikut bersama Isander ke luar demi mengamankan wanita yang ada di dalam rumah.


Begitu mereka berdua berdiri di depan pintu luar rumah, mereka tidak melihat sesuatu selain pepohonan yang tinggi dan besar penuh dengan dedaunan yang lebar.


Pencahayaan sangat redup, jika tidak ada bulan di langit, mereka takkan bisa melihat apa pun di luar rumah.


Dengan jam tangan di pergelangan tangan Reza, sinar senter menembak ke arah barat hutan, mengarah di mana Kota Komodo berada.


Cahaya senter mengungkap pepohonan yang tinggi begitu jelas, tetapi mereka berdua tidak melihat apa pun.


Pada saat Isander menyalakan senternya dan mengarah ke arah barat laut, dia merasakan keberadaan beberapa orang yang berdiri di sebuah dahan pohon besar.


Kemampuannya mengendalikan kayu bisa merasakan ada 4 sampai 5 orang sedang mengintip mereka di jarak lebih dari 100 meter. Mereka ada di atas salah satu pohon.


Blar!


Seluruh tubuh Isander berubah dan diselimuti oleh energi hitam dan cahaya lilac yang menyala di beberapa bagian pada baju zirahnya.


Perubahan Isander membuat Reza tegang, dia menatap ke arah di mana Isander sempat menyentuh dengan pandangan yang terfokuskan.


Hanya Isander yang terbang untuk mendekati mereka, sedangkan Reza di depan pintu rumah untuk berjaga-jaga.


Meskipun pemandangan di luar rumah ini gelap dan menyeramkan, Reza menguatkan mentalnya dalam menghadapi segala sesuatu yang datang dan menyerangnya.


Dengan dua pasang sayap di belakang zirah, tubuh Isander melesat cepat di udara menuju ke pohon di mana beberapa orang mengintai mereka begitu mencurigakan.


Saat Isander terbang, dia merasakan beberapa orang ini bergerak mundur seolah mengetahui kedatangannya.


Isander tidak peduli dengan ini dan terus terbang cepat menuju mereka semua, tetapi dari penglihatannya yang tajam, orang-orang ini yang awalnya berkumpul menjadi terpisah dengan arah yang berbeda.


Tanpa berpikir panjang, Isander memfokuskan diri ke salah satu orang yang berlari menjauh dari wilayah rumahnya.


Kecepatan Isander terbang cukup tinggi dan bisa mengejar pria tersebut berlari.


Melihat dirinya sudah berada di atas posisi pria yang berlari di bawah, Isander menukik ke bawah dengan kecepatan yang cepat sembari menekukkan keempat sayapnya untuk meningkatkan kecepatan turun.


Bang!


Sosok Isander mendarat keras tepat di depan pria yang berlari tersebut, tak sengaja membuat pria itu terpental ke belakang dengan keadaan yang terkejut.


"Sial, aku tertangkap!" Pria tersebut mencoba untuk bangun dan berlari pergi.


Siluet cahaya lilac muncul di sebelah tubuhnya, membuat pria tersebut tak bergerak.


"Kamu tak bisa kabur dariku."


Suara Isander yang dingin terdengar di telinga pria ini, keringat mengalir di kepalanya.


Glup!


Satu-satunya yang bisa pria ini gerakan hanya organ bagian dalam tubuhnya.


Otot-otot yang ada di sekujur tubuhnya menjadi kaku, tak bisa ia gerakan sama sekali.


Isander berjalan ke depan pria ini untuk melihat wajahnya lebih jelas.


Begitu mata Isander mengarah ke wajah pria di depannya, wajahnya bereaksi terkejut karena kaget.

__ADS_1


Ternyata orang yang ditangkap adalah Goron, Agter Grand Master Three Star yang terkenal di Kota Komodo.


"Kamu ..."


Ucapan Isander ditahan, dan menunjuk Goron di depannya dengan perasaan yang tak disangka-sangka.


Goron bingung di dalam hatinya mendengar suara sosok yang menangkapnya ini. Kelihatannya, sosok ini mengetahui dirinya.


Mengubah wajahnya menjadi gembira, Goron bersyukur sosok ini masih mengingatnya.


Dengan begini, dia bisa menjalankan tugasnya yang ia emban, tepatnya misi bersama untuk kelompoknya.


Namun, mereka semua sepakat untuk berpisah agar tidak ditangkap. Sialnya dia yang ditangkap.


Menatap wajah Goron beberapa saat, Isander berkata dengan intonasi yang datar dan bisa menggetarkan tubuh lawan bicara, "Pergilah, jangan pernah ke sini lagi. Kalau tidak, aku takkan segan membunuhmu."


Setelah mengatakan itu, Isander melepaskan kontrol kemampuannya yang mengunci otot-otot Goron, membuat Goron bisa bergerak kembali seperti orang normal pada biasanya.


Tepat ketika Isander berbalik ingin pergi, Goron menahannya dengan menghalangi jalannya.


"Tunggu sebentar, aku ingin berbicara denganmu."


"Apa?"


Isander berdiri menatap Goron di depannya yang memiliki tubuh sedikit lebih besar dan tinggi.


Menatap Isander dari dekat, Goron masih tidak bisa melihat wajah Isander karena ada topeng yang menyelimuti seluruh bagian kepala dan memancarkan cahaya lilac di bagian matanya.


Tidak peduli seberapa dekat dirinya melihat Isander, takkan bisa melihat wajah sebenarnya Isander.


Tiba-tiba Goron membuang udara dari mulutnya dan berkata, "Aku ingin mengajakmu untuk masuk ke dalam kelompokku, Komodo Comity. Apakah kamu mau?"


"Tidak," jawab Isander dengan singkat, kemudian merentangkan kedua pasang sayapnya yang ada di belakang.


Adegan ini terjadi begitu cepat sehingga Goron tidak bisa menghentikan Isander.


Dalam sekejap, Goron menjadi sedih dan kecewa karena harapannya pupus.


Mengingat pesan Isander, Goron menjadi lebih sedih lagi karena dia tidak diperbolehkan untuk ke rumah yang dia temui bersama anggota kelompoknya.


Namun, dia menjadi penasaran dengan apa yang ada di dalam rumah tersebut.


Sebelumnya, dia melihat ada orang lain yang keluar dari rumah itu selain Isander.


Sayang sekali keadaan di sana begitu gelap, cahaya senter yang menyorot ke arah Goron dan teman-temannya membuat mereka tak bisa melihat siapa kedua satu orang lain selain seseorang yang berubah menjadi sosok humanoid bersayap tak teridentifikasi.


Goron ingin ke sana, tetapi perkataan Isander menghalangi niatnya.


Sesuatu yang tidak diketahui oleh Goron adalah pada saat dia diam seperti ini, teman-temannya didatangi oleh Isander satu per satu.


Tidak ada yang bisa lolos dari kejaran Isander.


Usai mengurusi Goron dan kelompoknya, Isander kembali ke dalam rumah bersama Reza yang masih berdiri di depan rumah untuk berjaga.


"Tampaknya, kita harus mengubah lokasi kita ke tempat yang lebih tersembunyi."


Berdiri di depan semua anggota kelompoknya, Isander memberi tahu bahwa lokasi rumah mereka sudah diketahui oleh beberapa Agter di Kota Komodo.


Duduk bersama mereka, Isander memasang wajah yang serius dan memberi suatu pengingat, "Besok kalian harus mengenakan penutup wajah agar kalian tidak diketahui oleh Agter di sana ketika menukarkan Koin Agta."


Isander mengingat bahwa mereka mengekspos wajahnya di saat melawan serbuan monster.


Giya dan lainnya mengangguk menandakan mereka semua mengerti.

__ADS_1


Untungnya, mereka sudah membeli beberapa masker yang bisa dicuci alias terbuat dari kain.


Masker mulut itu dibuat oleh tangan, termasuk barang yang mahal jika membelinya menggunakan Koin Agta.


Mereka memiliki banyak masker karena Koin Agta yang mereka miliki terbilang banyak.


Sewaktu-waktu masker mulut ini berguna seperti di kondisi sekarang ini.


Dengan begitu, mereka semua beristirahat untuk bertemu hari esok yang diharapkan lebih baik dari hari yang sekarang.


Isander masih dengan kesehatannya di malam hari, berlatih di ruang Cenagon berada, tidak heran apabila kekuatannya makin meningkat meski tidak begitu besar. Setidaknya, ada progres yang membuatnya menjadi lebih kuat dan baik.


Pada saat yang sama, Goron dan teman-teman di kelompoknya bertemu di depan gerbang Kota Komodo.


Mereka duduk berlima di sebuah tempat yang ada di tembok kota.


Terlihat wajah mereka semua begitu sedih seolah telah kehilangan sesuatu yang berharga.


Bisa dikatakan benar, mereka sudah kehilangan harapan untuk mendapatkan partner yang kuat.


"Goron, bagaimana langkah kita selanjutnya? Apakah kita harus ke sana lagi?" tanya salah satu pria yang duduk santai di dekat Goron.


Goron menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Jangan, kita bisa saja dibunuh oleh pria di balik zirah itu."


"Lau bagaimana kita mencoba merekrut dia lagi?"


"Tidak perlu mengajak dia bergabung, berteman saja sudah cukup. Kamu tahu? Kekuatannya mungkin ada di tingkat Agter King. Kita semua bukan lawannya. Lagi pula, kita tidak memaksa seseorang untuk ikut ke dalam kelompok kita."


Sebagai seorang ketua kelompok, Goron harus sadar dengan kekuatan yang mereka miliki.


Kekuatan mereka tidak sebanding orang yang ingin mereka rekrut, jika orang itu dipaksa, akan ada konsekuensinya yang membuat mereka akan menjadi buruk.


Maka dari itu, Goron lebih baik menyerah dan memilih rencana yang lain.


"Bagaimana dengan kelima orang itu?" Teman Goron yang lain bertanya tentang kelima orang yang menjadi target mereka rekrut.


Goron termenung sejenak, memikirkan pilihannya yang baik bagi mereka semua.


Kelima orang itu bahkan lebih misterius lagi karena benar-benar tidak meninggalkan jejak. "Ya, kelima orang itu bisa saja kita rekrut, tetapi kita jangan mencari mereka di sekitar rumah itu. Ingat, jangan menyinggung orang yang kuat apabila tak punya kuasa untuk melawannya."


"Baiklah."


Mereka semua setuju dengan pilihan Goron, mereka tidak keberatan dengan keputusan yang dibuat Goron.


Goron tidak semata-mata membuat keputusan, mereka juga mengerti mengapa Goron memilih keputusan tersebut.


Mereka sadar bahwa kekuatan mereka memang tidak bisa menguasai semuanya, mereka masih lemah dibanding Agter yang lain.


Agter tidak hanya sampai di level Grand Master, melainkan ada Agter King, Agter Emperor, dan Emperor God.


Ada tiga tingkatan Agter yang kekuatannya tak bisa mereka bayangkan.


Sayangnya, mereka tidak mengetahui siapa saja orang yang ada di tingkatan tersebut.


Di Kota Komodo dan Garuda, Agter King ke atas tidak lagi bersama kota, melainkan mengembara untuk menjelajah dunia sembari melawan banyak monster ruang kuat.


Mereka di level Agter King tidak butuh kota, mereka sudah menjadi burung yang siap untuk mengelilingi dunia, mengalami berbagai pengalaman di dunia yang keras ini.


Entah mengapa Agter-Agter kuat tersebut tidak terdengar kabarnya. Mungkin saja mereka pergi begitu jauh hingga butuh waktu lama untuk ke sini.


Di pagi hari berikutnya, Isander dan anggota kelompoknya pergi menuju Kota Komodo untuk melakukan sesuatu.


"Halo!"

__ADS_1


__ADS_2