SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 181: Bertahan Sejenak


__ADS_3

Kei dan anggota Garuda Comity lainnya berjalan pergi menuju ke suatu arah yang sama dengan monster-monster di sekitarnya.


Posisi mereka ada di wilayah Kuningan Jawa Barat, bergegas ke arah timur dengan gerakan langkah kaki yang cepat, tujuan yang masih belum diketahui oleh mereka sendiri.


Pohon demi pohon mereka lewati, menginjak dahan pohon untuk menjadi jalur mereka berlari.


Ada 7 orang yang berlari bersama dengan para monster, selain Kei, Sadam, dan Hendra, ada 4 orang anggota tim Garuda Comity yang kekuatannya tidak lebih kuat dari ketiganya.


Awalnya, mereka keluar dari Garuda Comity untuk misi mencari Tara dan pelaku yang membuat minuman berbahaya, tetapi tujuan mereka berbelok setelah melihat keanehan monster-monster yang tak biasa.


Secara serempak mereka merasakan ada sesuatu yang tak baik dari fenomena ini.


Belum pernah ia lihat monster yang berasal dari hutan di sekitar Kota Garuda berlari bersamaan menuju ke satu arah tanpa sebab.


Pasti ada sesuatu yang tidak beres dari ini.


Setelah mereka mengikuti selama lebih dari 5 jam dengan berlari, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah tempat entah di mana.


Mereka juga buta dengan nama daerah di Indonesia, tidak ada petunjuk atau papan nama jalan di daerah tempat mereka singgah untuk sementara waktu.


Di sekeliling mereka hanya ada pepohonan rindang dan beberapa reruntuhan desa yang sudah tidak terawat.


Pada intinya, mereka sudah pergi begitu jauh dari Kota Garuda dan mungkin sudah sangat dekat dengan tempat tujuan para monster itu berlari.


Tempat mereka singgahi adalah dahan pohon jati yang tinggi, duduk di sana sambil memakan daging sapi dan ayam yang sudah dipanggang dengan bumbu lada juga garam.


Rasanya lezat, seperti makan steak di saat sebelum hari kehancuran tiba.


"Ini terlalu banyak!"


Hendra melotot ke bawah, di mana banyak monster yang lewat dan berlari pergi ke timur.


Aliran serbuan monster tak habis-habisnya, padahal mereka sudah duduk lebih dari setengah jam, monster-monster masih saja berdatangan.


Tidak ada tanda-tanda akan berhenti dan habis barisan ribuan monster ini.


Bukan hanya Hendra yang heran, Kei dan anggota Garuda Comity lainnya juga bingung dengan pemandangan mengerikan ini.


Kepala Sadam bergerak menoleh untuk melihat Kei di dahan sebelahnya, dan bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan monster-monster ini?"


Pertanyaan Sadam tidak langsung ditanggapi, Kei melirik ke bawah mencari suatu petunjuk dari apa yang terjadi pada monster-monster ini.


Sebua asumsi terbentuk di kepala Kei, kemudian dia menjawab sambil menatap Sadam, "Kemungkinan besar ada hal yang menarik dan penting di arah timur, bisa jadi ada harta karun dunia di sana."


"Harta karun?"


Semua anggota Garuda Comity terkejut mendengar ucapan Kei.


Dipikir lebih lanjut lagi, ucapan Kei ada benarnya juga.


Kemungkinan besar monster-monster yang berdatangan dan berlari terburu-buru ke tempat di bagian timur itu terdapat sesuatu, tidak tahu apakah itu benda, orang, atau makhluk lain yang dianggap penting oleh semua monster, sampai-sampai ribuan monster yang ada di berbagai daerah berlari cepat ke arah yang sama.


Memikirkan tentang ini, mereka menjadi makin ingin tahu apa yang ada di arah timur sana.


Tidak sampai 1 jam mereka makan siang, mereka bergerak kembali untuk bisa sampai di tempat para monster ini tuju.


Dengan kecepatan lari mereka sekitar 40 kilometer per jam, mereka masih belum sampai di sore hari menjelang malam.


"Sebenarnya, ke mana monster-monster ini berlari?" keluh Kei sambil bertanya-tanya di atas pohon. Matanya memandangi monster yang masih terus berlari dalam jumlah besar.


Pada saat yang sama, Isander dan timnya sedang berkumpul di dalam sebuah tempat aneh.

__ADS_1


Sebuah tempat mirip markas besar berbentuk kotak berdiri di tengah-tengah lahan hutan yang dikelilingi banyak pohon.


Di sekitar bangunan kotak ini terdapat tanaman merambat beracun, bongkahan kristal yang tajam, besi berbentuk tombak yang ditancapkan ke arah luar.


Selain itu juga ada lubang melingkari bangunan kotak besar ini yang di dasar lubang terdapat jebakan besi tajam yang mengarah ke atas dan es yang licin.


Di luar lubang juga terdapat permukaan es yang luas, berguna untuk membuat langkah kaki monster slip dan terpeleset masuk ke dalam lubang lebar dan panjang tersebut atau menabrak barisan pertahan tombak tajam dan bongkahan kristal yang mengerikan.


Semua jebakan ini dibuat dalam ukuran yang besar dan tinggi, menyesuaikan ukuran dari monster yang datang dan menyerang.


Tanaman merambat juga diam-diam dimunculkan di jarak puluhan meter dari lubang dan permukaan es yang licin. Racunnya yang berbahaya itu bisa membuat tubuh monster menjadi lemah sehingga tidak sempat untuk menghindari jebakan itu semua.


Semua ini dibuat oleh Isander yang sudah bosan melawan monster yang terus-menerus berdatangan tanpa henti.


Bangunan kotak yang terbuat dari kristal dan logam ini adalah rumah sementara mereka untuk melindungi keselamatan anggota timnya.


Tentu, tidak tertutup sepenuhnya karena masih ada lubang untuk bernapas atau ventilasi udara.


Tersemat fungsi kedap suara sehingga ucapan mereka di dalam tidak terdengar keluar dan suara yang ada di luar tidak masuk ke dalam.


Beberapa anggota tim bergantian untuk memeriksa dan mengamati serbuan monster tiada akhir dari berbagai sudut.


Isander juga selalu mengaktifkan kemampuan Wood anda Plant Control untuk memantau aliran kerumunan monster di jarak puluhan kilometer.


Sampai di detik-detik terakhir hari ingin menjelang malam, penyerbuan monster A dan B tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir.


Isander harus melebarkan lubang dan memperdalam dasarnya untuk bisa menampung lebih banyak monster yang jatuh.


Setiap menit, Isander menggunakan kemampuan es untuk membekukan semua monster yang terluka hebat dan masuk ke dalam lubang, kemudian dihancurkan menggunakan ratusan tombak dan bongkahan kristal yang tajam di dalam lubang.


Setelahnya ditelan oleh tanah yang selalu dibuka di setiap 2 menit sekali.


Isander benar-benar mengendalikan semua jebakan, bahkan markas ini dengan kontrol pikirannya sendiri.


Semuanya terjamin dengan adanya Isander.


"Ayah, apakah monster itu akan berhenti menyerang kita semua?" tanya Meisya yang makan sendiri di dekat Aqila dan Giya.


Isander yang duduk di antara Giya dan Nina langsung mengangguk dan menjawab, "Ayah rasa akan berhenti nanti. Mungkin di malam hari. Meisya tidur saja. Jangan khawatir tentang ini, ayah bisa mengatasinya."


"Aku mengerti, Ayah! Ayah memang hebat!" Meisya mengangguk dan tersenyum lebar.


Semua anggota tim Isander melirik Meisya dan tersenyum lebar, keberadaan anak kecil lucu seperti Meisya memang dibutuhkan di saat-saat lelah hati dan jenuh pikiran, obat paling mujarabnya ialah kelucuan anak kecil.


Beberapa jam kemudian, Meisya, Helen, Reren tidur lebih dahulu di ruangan kamar yang sudah dikhususkan untuk mereka bertiga. Meisya tidur sendiri, tetapi ditemani oleh Aqila dan Isander terlebih dahulu agar bisa tidur.


Helen dan Reren bisa tidur sendiri, tak perlu ditemani, tetapi Goron biasanya berdiri di depan kamar mereka untuk menemani sambil mengobrol santai.


Tidak lama, kedua gadis remaja tersebut tertidur.


Sehabis itu, Goron, Isander, dan Aqila kembali ke ruangan tempat berkumpul untuk melakukan pembahasan mengenai persoalan keanehan hari ini.


"Monster-monster masih berdatangan ke arah kita?" tanya Reza dengan hati yang ingin tahu.


Isander bersandar di tembok bangunan dan menganggukkan kepalanya satu kali, dan membalas, "Masih berdatangan, jumlahnya sudah mulai sedikit."


"Sedikit? Syukurlah~ ...."


Reza mengusap dadanya dan menghela napas lega yang panjang.


Sedari sore, hari Reza berdetak cepat tidak tenang karena mengetahui puluhan ribu monster berdatangan secara bersamaan.

__ADS_1


Peristiwa yang berbahaya sehingga Isander terpaksa membuat markas besar yang dikelilingi banyak sekali jebakan melingkar dengan jangkauan beberapa kilometer jauhnya.


Semua anggota tim Isander khawatir dengan keselamatan diri sendiri karena peristiwa ini sangat menyeramkan untuk terjadi.


Goron melirik Isander dengan tatapan yang serius dan bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan monster-monster itu?"


Pertanyaan Goron sudah pernah ditanyakan oleh anggota tim yang lain dan Isander menjawab belum yakin dengan alasannya.


Kali ini, Isander masih belum mengetahui alasan kuatnya mengapa monster-monster mengincar mereka menjadi target serangannya.


Hal yang menjadi aneh lagi adalah monster-monster berdatangan dari segala daerah terdekat.


Jumlah monster yang telah datang ke arah mereka sudah mencapai seratus ribu dalam waktu berjam-jam ini.


"Masih belum aku ketahui tentang apa motifnya, tetapi yang pasti monster ini ada yang mengendalikannya," jawab Isander dengan wajah yang rumit.


Jawaban Isander membuat semua anggota tim menjadi terkejut.


Mereka juga satu pendapat dengan Isander kalau peristiwa ini ada yang mengendalikan dan sengaja menargetkan mereka semua dengan alasan yang masih belum diketahui.


"Kalau memang terus begini, aku khawatir kita akan kehabisan tenaga karena diserang secara bertubi-tubi tanpa istirahat," ucap Nina dengan wajah yang cemas.


Giya dan yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Nina, mereka juga berpikiran sama.


Kalau terus begini, mereka tidak bisa melawan sama sekali karena kehabisan tenaga dan stamina.


Isander tersenyum. "Kalian jaga Meisya di sini jangan sampai terluka, aku akan yang mengatasi monster yang ada dan berdatangan ini."


Mata semua anggota tim memandang Isander dengan wajah yang khawatir.


Setelah obrolan itu selesai, sosok Isander keluar dari rumah anggota tim yang lain, kemudian terbang dengan kecepatan yang tinggi ke atas langit.


Kedua tangan Isander terentang lebar, menyemburkan angin dingin yang membekukan ke arah bawah tanpa mengenai rumah tempat anggota tim beristirahat.


Embusan angin es membekukan semua permukaan tanah, termasuk pepohonan dan monster yang masih berlarian.


Radius pembekuan melebar hingga menjangkau tempat di radius 30 kilometer dari tempat Isander terbang sebagai titik pusatnya.


Semua monster yang berlari di bawah angin kencang tersebut tak lama membeku dan tak bisa bergerak lagi.


Berikutnya, Isander terbang menukik sambil memegang kedua senjatanya di tangan, menebas seluruh monster yang belum hingga hancur berantakan tak berbentuk lagi.


Aksi Isander ini disaksikan oleh Kei dan anggota Garuda Comity yang ada di luar radius pembekuan, mereka semua terkejut ketika merasakan ada semburan angin begitu dingin menusuk kulit mereka.


Begitu mendongak menatap lurus ke langit, ekspresi mereka menjadi luar biasa dan mulut terbuka lebar.


Mereka bisa melihat ada sesuatu di atas yang tampak sangat-sangat kecil, tetapi angin putih di atas langit yang menyembur luas ke arah bawah bisa dilihat dengan jelas.


Dengan begitu, seluruh hutan yang ada di hadapan mereka semua membeku dalam waktu kurang dari 1 menit lamanya.


Tentu saja, mereka tidak percaya langsung dengan apa yang barusan terjadi.


Kei secara langsung memeriksa tanah yang di depan mereka.


Kaki Kei menginjak tanah yang ditutupi es keras berwarna putih agak biru, itu sangat kokoh, hentakkan kakinya yang tersemat sedikit kekuatan tidak bisa merusak lapisan esnya.


Begitu Kei mengerahkan kekuatan besar di kakinya, retakan terjadi pada lapisan luar es.


Harus diinjak berkali-kali dengan kuat agar es itu hancur.


Setahu Kei, kekuatan es Aqila tidak sekuat ini, ambil contoh ketika melawan Deegiant beberapa waktu lalu, esnya masih bisa dihancurkan dan dilepas dengan kekuatan fisik.

__ADS_1


Kekuatan es ini harusnya bukan dari Aqila, tetapi orang lain.


"Bukan Aqila yang membuatnya, Aqila tidak bisa terbang," celetuk Hendra sambil mengusap permukaan es di bawah.


__ADS_2