SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 162: Monster Gorgoter Aneh


__ADS_3

Melihat sosok besar ini membuat Aqila berseru tanpa sadar dan menyebut nama monster yang mirip dengan monster di ingatannya.


Benar, Aqila menyebut sosok besar itu Monster Gorgoter.


Kewaspadaan Isander menjadi tinggi setelah mendengar ucapan Aqila, Dark Spear Isander keluarkan sambil memandangi monster di kejauhan.


Mereka berdua tak bergerak sama sekali dan diam berdiri sambil memerhatikan apa yang dilakukan monster di kejauhan.


Namun, setelah mereka lihat beberapa detik lamanya, mereka melihat Monster Gorgoter melangkah menyamping, seolah tidak melihat keduanya di dalam reruntuhan pemukiman.


Bam! Bam!


Tanah sedikit bergetar ketika monster tersebut melangkah.


Memantau monster yang menjauh, Isander segera membawa Aqila perlahan ke tempat di mana timnya tidur.


Begitu mereka berdua masuk ke dalam, Goron dan Reza duduk bersama di ruang mereka semua mengobrol sebelumnya, terlihat keduanya sedang siaga.


"Ada monster Gorgoter di luar, dia pergi hendak meninggalkan tempat ini," kata Isander kepada keduanya.


Reza mengangguk. "Aku terbangun karena suara dentuman di telingaku, ternyata itu berasal di luar. Aku mencarimu, kamu tidak ada di sini."


Kepala Goron mengangguk, dia juga mengalami hal yang sama dengan Reza.


Mata Isander melirik Aqila di sampingnya, dan Aqila mengerti maksud dari tilikan Isander, kemudian dia pergi ke kamar Meisya untuk tidur sambil menjaganya.


Sementara Isander duduk bersama mereka berdua untuk berjaga-jaga.


Suara dentuman sesuatu yang besar menghantam tanah perlahan-lahan menghilang, menandakan bahwa Monster Gorgoter benar-benar pergi dari tempat mereka bermalam saat ini.


Untungnya, Dark Spear yang dikeluarkan Isander tidak menyalakan energi cahaya ungu gelap.


Jika dinyalakan, mungkin Gorgoter melihatnya dan langsung bergegas untuk melawannya.


"Apakah Gorgoter aktif di malam hari?" tanya Isander kepada Goron yang bersantai sambil bersandar di tembok rumah.


Goron mengangguk dan menjawab, "Mereka tidak menentu, bisa di malam hari bergerak dan juga siang hari. Tak bisa dipastikan kapan aktif, yang aku tahu mereka aktif kapan saja."


"Monster Gorgoter aktif tanpa ada waktu tertentu atau khusus?"


"Bisa dikatakan seperti itu."


Informasi didapatkan lagi oleh Isander dan sudah pasti akan diingat.


Pantas saja, Gorgoter juga bisa bergerak dan berjalan-jalan di sekitar pemukiman di malam hari.


Isander kira monster-monster besar ini aktif di siang hari karena terang dan suasananya cukup cocok untuk berperang atau menyerang.


"Apakah tadi Monster Gorgoter ada di sini?" Reza melirik Isander dengan rasa ingin tahu.


Mengambil segelas kopi dan camilan dari tasnya, kepala Isander sedikit mengangguk dan dia berkata, "Benar, dia berdiri di luar pemukiman, tidak tahu apa yang sedang ia lakukan."


"Mungkinkah dia tahu kita ada di sini?"


Bahu Isander terangkat. "Tidak tahu pastinya, tetapi saat aku dan Aqila di luar untuk memantau sekitar, Monster Gorgoter hanya diam melirik ke arah pemukiman."


Hadapan Monster Gorgoter barusan memang menghadap ke pemukiman. Anehnya, Monster Gorgoter tidak menemukan Isander dan Aqila yang keluar dari bangunan runtuh.


Asumsi Isander adalah Monster Gorgoter di malam hari memiliki penglihatan yang jelek.


Itu cuma asumsi dan belum tentu benar.


"Syukurlah, kalau begitu, aku ingin tidur lagi."


Reza menghela napas dan bangkit untuk pergi ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya.


Goron dan Isander melihat Reza yang berjalan ke kamarnya sendiri.


"Aku lihat dahulu ke luar, memastikan Monster Gorgoter itu pergi dari pemukiman," ujar Goron yang perlahan bangkit dari tempat duduknya.


Sama sekali Isander tidak melarang Goron untuk pergi ke luar karena Isander sudah mengetahui bahwa di luar sudah tidak ada monster itu lagi.


Membuka pintu, Goron dengan hati-hati keluar dari rumah dan meninggalkan Isander di dalam.


Melihat ini, Isander menyalakan jam tangannya untuk menonton film sesaat sambil menghabiskan kopi dan beberapa camilan yang dikeluarkan.


Tidak sampai 10 menit berlalu, Goron kembali dengan wajah yang lega. "Monster itu pergi, tidak ada di sekitar pemukiman ini."


"Aku sudah tahu itu. Mau minum kopi?" Isander menawarkan kopi kepada Goron.


Goron tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Ya, tetapi aku akan meminum kopi dari tas penyimpananku sendiri."


Dengan begitu, mereka berdua minum kopi bersama sembari menonton film di jam tangan.


Monster Gorgoter tidak akan Isander lawan sekarang karena Meisya tertidur, ia akan menahannya sama besok.


Lebih baik malam ini bersantai sesekali.


Meski Isander menonton film, tetapi dia membagikan fokusnya untuk meningkatkan kemampuan unsur tanah dan yang bisa dilatih dari jarak jauh.


Berlatih tanpa ada bolong, kecuali memang sedang ada keinginan untuk pergi tidur bersama Meisya, putrinya.

__ADS_1


Menonton film merupakan kegiatan yang dapat membuat manusia terlena, mereka berdua sedikit tidak menyadari bahwa mereka sudah menonton sampai hari menjadi pagi.


Malam ini, mereka berdua tidak tidur sama sekali, tetapi penampilan mereka masih sehat bugar seolah sudah tidur tadi malam.


Tidak lama berselang, para anggota tim terbangun dan siap untuk sarapan pagi sebelum beraktivitas seperti biasa yang mereka sering lakukan.


Makan sarapan pagi tidak ada yang spesial, masih serupa dengan makan sarapan pagi di hari-hari kemarin.


"Ada Monster Gorgoter tadi malam?!" Giya terkejut mendengar laporan dari Reza.


"Dentuman semalaman terdengar keras, kamu tidak sadar?" Reza heran dengan Giya.


Giya, Nina, Kila, dan yang lainya menggelengkan kepala, mereka tidak merasakan dan mendengar dentuman tersebut malam tadi.


Glatash, Kimaya, dan Magtash tahu tentang kedatangan Monster Gorgoter, mereka tidak bergerak untuk keluar karena Isander meminta mereka untuk tetap di atas menjaga wanita-wanita di lantai 2 rumah.


Mengunyah roti lapis, Kila bertanya dengan mulut yang sedikit penuh, "Monster itu tahu kehadiran kita di sini?"


"Tidak kurasa, monster itu menghilang dan pergi dari pemukiman," jawab Goron dengan sikap yang tenang.


Aqila memikirkan tentang Monster Gorgoter setelah mendengar obrolan mereka semua.


Setelah kembali ke tempat mereka bermalam bersama Isander, dia langsung tertidur sambil memeluk Meisya layaknya anak sendiri. Kabar setelahnya sama sekali tidak diketahui oleh Aqila.


Apa yang sebenarnya terjadi kepada Gorgoter itu? Aqila jelas melihat Monster Gorgoter melihat mereka berdua tadi malam.


Sepertinya, itu hanya perasaannya saja.


Bukan hanya Aqila yang bingung, Isander sendiri pun bingung saat tahu monster tersebut pergi.


Untungnya, monster itu lebih memilih meninggalkan pemukiman.


Jika Monster Gorgoter datang dan menyerang, mungkin di malam hari itu Meisya dan yang lainnya tidak bisa tidur semalaman.


Isander memilih untuk menghindari pertempuran di malam hari demi anggota timnya yang tertidur pulas.


Untuk mengalahkan monster itu, Isander bisa melakukannya dengan mudah, tetapi karena alasan sebelumnya Isander menahan dan tidak membunuhnya tadi malam.


Setelah makan pagi bersama, mereka melanjutkan perjalanan menuju wilayah Purwokerto dan mengikuti arah timur laut.


Begitu mereka keluar dari pemukiman, mereka bisa melihat jejak kaki dan kepalan tangan yang besar di tanah.


Jejak itu berasal dari Monster Gorgoter tadi malam, sudah jelas semalam bukan bohongan atau ilusi belaka.


Kepalan tangan Monster Gorgoter mengalahkan ukuran tubuh mereka semua.


Jikalau tinju itu menghantam mereka, Isander yakin bisa menghancurkan mereka menjadi bubur daging kuah darah.


Fisiknya yang sekarang jauh lebih kuat dari hari kemarin. Dengan bermandikan cahaya matahari dari atas langit, kekuatan fisik mentah Isander meningkat setiap detiknya.


Tidak sampai 2 jam, fisik Isander bertambah 100 ribu poin, itu sangat cepat.


Isander tidak tahu bagaimana bisa secepat ini, padahal kemarin tidak begitu cepat, sekarang benar-benar cepat peningkatannya tanpa Isander ketahui alasannya.


Tampaknya energi yang dikeluarkan Matahari hari ini jauh lebih banyak dari hari kemarin.


Kalau benar, Isander lebih baik berjalan ke tempat yang disoroti oleh cahaya matahari yang panas dari pada berlindung di bayangan pepohonan yang rindang.


Mereka bisa melihat di sepanjang perjalanan ada banyak beberapa pepohonan yang tumbang, ada yang patah dan ada yang dicabut lalu diletakkan sembarangan begitu saja.


Beberapa jejak kaki dan kepalan tangan Monster Gorgoter bisa dilihat dengan jelas.


Menandakan bahwa Monster Gorgoter memang hidup di hutan yang ada di sekita pemukiman mereka jadikan tempat singgah.


Tidak lama mereka berjalan ke arah Utara, mereka akhirnya menemukan sebuah pemandangan yang luar biasa di kejauhan dekat perbukitan panjang.


Terlihat di depan mereka di sekitar 1 kilometer dari tempat mereka memantau, ada 5 Monster Gorgoter yang sedang duduk dan memakan monster lemah di sekitar.


Panorama mengerikan ini dilarang oleh Isander lihat kepada Meisya, dan dia dengan cepat menutupi mata Meisya dari fenomena kanibalisme.


Mereka sudah tahu bahwa Monster Gorgoter adalah monster, dan monster raksasa ini memakan monster tanpa bersalah.


Kelimanya makan di tengah hutan yang terdapat lahan kosong yang tak ditumbuhi pohon besar, di belakang mereka ada perbukitan yang lebih tinggi dari mereka tentunya.


Semuanya terpana setelah melihat ini, kemudian Isander meminta mereka untuk menjauh terlebih dahulu, jangan sampai ditemukan oleh kelima Monster Gorgoter yang besar ini.


Glup!


Anggota tim Isander semuanya menelan ludah saat tahu bahwa ada 5 Monster Gorgoter di dekat mereka semua.


Bukan 1 ekor monster, tetapi ada 5 ekor monster tingkat S dengan kekuatan yang besar.


Bisa dilihat dari tubuh mereka yang besar dan penuh dengan daging serta otot yang keras.


Mereka saja belum tentu bisa mengalahkan satu di antara kelima monster itu.


Tampaknya, Isander yang akan melawan monster ini bukan mereka.


Benar dengan dugaan mereka, Isander memberi tahu bahwa ini sudah menjadi tugasnya.


"Kalian tunggu di sini, Monster Gorgoter ini ada banyak dan kupikir kalian belum bisa mengalahkan mereka semua," kata Isander kepada semua anggota timnya.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk sebagai tanggapannya, diri mereka sendiri pun sadar bahwa mereka memang tak bisa mengalahkan kelima Monster Gorgoter, satu monster pun belum tentu.


Melihat mereka semua mengerti dengan ucapannya, Isander mengecup dahi Meisya, kemudian terbang meninggalkan semua dengan pesan yang menyuruh mereka menjauh beberapa kilometer.


Meisya menatap Isander yang perlahan mengecil di atas langit, menjauh dari Meisya.


Wajah kecil dan imut Meisya menampilkan ekspresi khawatir dan sedih, membuat Giya dan Aqila tidak tahan untuk menghiburnya.


Kedua wanita ini secara kompak berusaha membuat suasana hati Meisya tidak begitu khawatir.


Penampakan mereka berdua yang begitu serempak, membuat anggota lain curiga dan memiliki spekulasi sendiri.


Isander tidak tahu tentang ini, dia fokus terbang sampai ke tempat di mana kelima Monster Gorgoter berkumpul.


Sebelum menunjukkan sosok dirinya secara terang-terangan, Isander harus melakukan rencana dalam penyerangan kali ini.


Berdiri dia tas dahan pohon yang besar, menyentuh dagunya, memikirkan kekuatan apa yang akan ia gunakan untuk membunuh monster-monster di depannya.


Sebuah ide terlintas di dalam kepalanya, kemudian Isander mulai merealisasikan idenya.


Kedua tangan Isander mulai diselimuti oleh logam dan berlian yang bercampur secara alami.


Kepalan tangan Isander perlahan dibungkus oleh sarung tinju berbentuk kerucut tajam.


Ukurannya melebihi kepala manusia, seperti bentuk mesin bor raksasa.


Namun, sarung tangan ini tidak bisa berputar dan kaku, hanya mengandalkan ketajaman dan kekerasannya.


Senyuman muncul di wajah Isander dan dia siap untuk melawan Monster Gorgoter.


Berikutnya, tubuh Isander diselimuti oleh Armor Baryon Cenagon, upaya Isander untuk melindungi dirinya sendiri dari berbagai serangan monster yang datang.


Setelah semuanya siap dan matang, Isander membuka kedua pasang sayapnya untuk melawan Monster Gorgoter yang duduk jauh di depannya.


Whoosh!


Siluet garis berwarna lilac melintas cepat di udara, melesat menuju kelima Monster Gorgoter.


Salah satu Monster Gorgoter menyadari ini dan dia berdiri untuk melawan sesuatu yang kecil ini datang ke arahnya.


Pada saat Monster Gorgoter meninju sesuatu kecil yang meluncur di depannya ini, kepalan tangan yang ia banggakan ditembus oleh sesuatu tersebut hingga merobek bahunya.


Cratt!


Darah menyembur keluar dengan dahsyat diiringi suara lolongan kesakitan yang membuat telinga menjadi sakit.


"Gruaahhh!"


Rasa sakit yang tak tertahankan dialami oleh Monster Gorgoter saat ini, tetapi jeritan kesakitan tersebut tidak berlangsung lama karena garis lilac melintas di antara lehernya dan langsung memutuskan kepalanya dari tubuh.


Kepala Monster Gorgoter yang besar itu menggelinding dan menghancurkan monster kecil di bawahnya. Hujan darah tercipta dalam sekejap dari leher tanpa kepala.


Darah menggenangi permukaan tanah di bawah, membasahi semua monster yang lebih rendah menjadi berwarna merah.


Sosok Isander muncul di atas langit, sebuah sarung tangannya berubah menjadi bilah horizontal menyamping di kedua tangannya yang disatukan.


Dengan bilah panjang dan besar tersebut, Isander bisa memotong leher Monster Gorgoter dengan mudah.


Selanjutnya, Isander melancarkan serangan lain.


Hujan berlian yang membentuk tombak tajam turun ke tubuh Monster Gorgoter tanpa kepala, menghancurkan jasad monster tersebut menjadi daging cincang.


Keempat Monster Gorgoter tercengang melihat ini, semuanya berlalu begitu cepat dan mereka belum sempat untuk bergerak.


Sosok Isander berkedip, dan tubuhnya muncul tepat di depan wajah Monster Gorgoter yang paling dekat.


"Halo!"


Isander menyapa monster tersebut dengan lambaian tangan.


"Gruaahhh!"


Raungan Monster Gorgoter diarahkan ke sosok Isander di depannya, menandakan peperangan dimulai sekarang.


Tangan Isander langsung menutup telinganya ketika Monster Gorgoter di depannya berteriak. Setelah itu, dia mundur menjauh karena tidak tahan mencium aroma bau mulut Monster Gorgoter. Terlalu busuk.


Di detik berikutnya, Monster Gorgoter meninju tubuh Isander yang melayang di atasnya dengan tinju besar.


Gerakan serangan monster itu cukup cepat, kemudian menabrak tubuh Isander dengan telak.


Duar!


Sebuah bunyi ledakan terdengar ke seluruh hutan, membuat semua monster yang ada di sekitar mengalihkan perhatiannya ke arah di mana sumber ledakan muncul.


Setelah ledakan menghilang, suasana menjadi sunyi untuk beberapa waktu yang singkat.


"Setengah kekuatan bisa menghancurkan Monster Gorgoter?"


Di tengah kesunyian, suara Isander terdengar.


Pada saat ini, sosok besar Monster Gorgoter yang meninju tubuh Isander telah menghilang, menyisakan tubuh bagian bawah yang menyembur pancuran darah busuk.

__ADS_1


"Bau sekali."


__ADS_2