SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 165: Dua Pilihan


__ADS_3

Purbalingga bagian utara, jaraknya tidak begitu dekat, juga tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dalam waktu tak begitu lama.


"Apakah ada pilihan yang lain lagi selain di Purbalingga?" tanya Isander dengan mata yang santai.


Dengan lekas Reza dan Kila mencari tanda monster S terdekat yang lain dari lokasi tempat mereka berada sekarang.


Ujung jari mereka bergerak mengikuti tanda S yang ada di atas peta kertas, kemudian dibandingkan menggunakan pengukuran visual mata.


Kila mengingat kembali nama dari wilayah yang mereka tunjuk ini.


"Aku ingat-ingat, wilayah yang ditandai ada monster S ini masih masuk ke wilayah atau daerah Brebes, kalau tidak salah," jawab Kila dengan menebak sesuai ingatannya mengenai di mana tempat monster S berada.


"Arah barat?"


"Benar, ada di sekitar barat laut dari tempat kita sekarang." Kila mengangguk membenarkan ucapan Isander.


Wilayah yang ditandai dengan huruf S ada di Brebes dan juga Purbalingga. Perbedaan di antara keduanya adalah letak atau posisi tanda monster S yang spesifik.


Brebes ditandai ada monster S di bagian selatan wilayahnya, sedangkan Purbalingga ada di bagian utara.


Isander menoleh ke anggota timnya yang lain, dan bertanya meminta tanggapan mereka, "Bagaimana dengan kalian? Ingin ke Purbalingga atau Brebes?"


Semua anggota tim Isander saling melihat satu sama lain. Mereka sendiri tidak tahu apa pilihan mereka tentang ini. Pada dasarnya, mereka mengikuti pilihan Isander.


Melihat ekspresi mereka yang kebingungan, Isander tahu apa yang harus dilakukan untuk ini.


"Baiklah, kita akan mulai melakukan pengambilan suara mengenai keputusan ini. Kalian harus memiliki dan jangan golput."


Setelah mengatakan itu, Isander meminta mereka untuk berkumpul lebih dekat dan saling berdiskusi bersama.


Pada saat yang sama, di dalam sebuah bangunan besar dan luas dalam Kota Garuda, terlihat beberapa orang sedang duduk di meja melingkar yang terbuat dari kayu usang.


Mereka semua menampilkan ekspresi wajah yang serius, suasana di dalam ruangan pertemuan begitu sunyi.


Tampak semua orang merenung sedang memikirkan suatu permasalahan dan mencari solusi dari masalah tersebut.


Seorang pria dengan tahi lalat di pipi kirinya menoleh ke orang-orang yang duduk di dalam ruangan ini dengan tatapan mendalam.


Menyatukan jari-jari tangannya, pria yang memiliki kewibawaan ini berkata, "Masalah monster makin serius sekarang. Banyak sekali Agter yang berubah menjadi monster di daerah Jawa Barat. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kalian semua bisa memberikan pendapat masing-masing mengenai solusi masalah ini?"


Satu per satu dari mereka menatap pria yang berbicara itu, wajah mereka terlihat tidak pasti dan yakin, pendapat yang akan mereka berikan juga cukup diragukan oleh diri sendiri.


"Menurut pemikiranku, masalah ini harus dicari sumbernya terlebih dahulu sambil berusaha menekankan penyebaran dengan cara memeriksa Agter yang keluar dan masuk ke dalam Kota Garuda ini, " ucap salah satu pria dengan suara yang dalam.


Pendapat akan solusi masalah ini yang dilontarkan oleh pria tersebut terdengar bagus.


Peserta pertemuan ini menganggap solusi tersebut cukup masuk akal, tetapi ada satu masalah yang sulit untuk menjalankan rencana sesuai dengan pendapat barusan.


Seorang wanita tua dengan rambut beruban melirik pria yang memberi pertanyaan, kemudian membeberkan pendapatnya, "Inti permasalah ini adalah pelaku yang menyebarkan sebuah minuman berbahaya tersebut. Percuma saja setiap warga kota diperiksa apabila pelakunya masih belum ditemukan."


"Lalu, apakah kamu memiliki cara untuk menangkap pelakunya?" tanya pria yang meminta pendapat, terlihat seperti ketua dari pertemuan besar saat ini.


"Tentu, kita mengandalkan Aqila dan timnya, tugas mereka untuk menjalankan rencana kami semua," Wanita tua itu menjawab begitu ringan tanpa ada sedikit pun beban.


Wajah ketua pertemuan tersebut berubah, kelihatan suasana hatinya sedang tidak baik.


Semua orang yang di pertemuan ini ikut mengubah ekspresinya menjadi berat.


"Kamu tahu?" Ketua pertemuan melirik wanita tua itu dengan sorot mata yang rumit. "Keberadaan Aqila kini sedang dicari oleh Tara, Kei, dan anggota Garuda Comity lainnya."


"Ke mana dia? Mengapa dia pergi di saat kondisi kita sedang genting dan darurat?!" Wanita tua itu menjadi marah dengan kulit keriputnya mulai memerah.


Ketua pertemuan ini menyentuh dagunya, tampak sangat bingung dengan pikiran yang rumit.


"Semua anggota Garuda Comity menduga Aqila dibawa oleh seseorang yang sudah kita incar," terang ketua pertemuan sambil membuka sebuah kertas olahan yang jelek. "Pria berkostum hitam itu dikatakan masih muda. Mereka sudah melihat seperti apa wajahnya, tampan dan tinggi, juga memiliki seorang putri yang lucu."


Mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh ketua pertemuan ini membuat semua orang terkejut.


Tidak menyangka orang yang kuat itu punya seorang putri yang katanya juga lucu. Ini artinya, pria misterius yang kuat itu memiliki istri dan pasangan.


Sebuah pikiran terlintas di kepala mereka semua.


Pria yang duduk di samping ketua pertemuan menambahkan, "Pria muda tersebut adalah pria yang pernah kita tolak untuk masuk ke kota karena tidak memiliki kekuatan Agta. Kalian seharusnya sudah tahu apa akibat dari peristiwa itu."

__ADS_1


Dengan pikiran yang tajam, wanita tua itu membalas ucapan pria tersebut dengan keringat di dahinya, "Jangan bilang orang itu dendam terhadap kita semua?"


Senyuman terbentuk di ujung mulut pria itu, mulutnya mengeluarkan napas panjang, dan berkata lemah, "Kemungkinan besar iya. Hal yang menjadi kepastian ialah pria itu tidak akan bergabung dengan kota lain. Tara, Kei, dan yang lainnya pernah bertemu secara langsung dengan sosok misterius itu, dan mengungkapkan bahwa orang itu benar-benar bergerak sendiri, tepatnya dia memiliki kelompok sendiri yang anggotanya terdiri dari dua gadis remaja."


"Jangan bilang dia pedofil?!" Wanita tua itu menjadi sensitif mengenai masalah wanita, ekspresinya menjadi tidak tenang.


Kali ini, ketua pertemuan membuka mulutnya lagi untuk memberikan penjelasan.


"Masih tidak diketahui. Pada intinya, Aqila ada di orang itu lantaran mereka berdua terlihat memiliki sebuah hubungan yang baik dan juga dekat."


Ketua pertemuan membaringkan tubuhnya di Sandara kursi. Dia benar-benar pusing sekarang.


Masalah yang mereka hadapi menjadi sulit untuk diurus dan diselesaikan karena ada halangannya.


Semua orang yang hadir pada pertemuan ini mengerti bahwa pria itu sulit untuk didapatkan dan diajak kerja sama.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita fokus mengontrol dan membuat kebijakan baru terlebih dahulu, dilanjutkan dengan melakukan pencarian orang yang menyebarkan minuman konser sembari menemukan pria misterius tersebut?" tanya pria yang pertama memberi pendapat.


Semua orang tenggelam di dalam pikirannya sendiri, mempertimbangkan mengenai solusi yang diajukan oleh pria tersebut.


Brak!


Tidak lama mereka termenung bersama, ketua pertemuan menampar meja untuk membangunkan semua orang dari lamunannya sendiri.


"Baik, kita akhiri pertemuan ini dengan menerapkan solusi dari Pak Tono."


Setelah mengatakan itu, mereka semua mengangguk hampir bersamaan, setuju dengan keputusan ketua pertemuan.


Tidak ada yang menentang jika ketua pertemuan tersebut telah memutuskan suatu perkara.


Pasalnya, ketua pertemuan yang mengundang mereka ke sini sekarang adalah seorang pemimpin Kota Garuda sekarang.


Nama dari pemimpin itu ialah Redrin Samba, yang juga seorang Agter dengan kekuatan yang tersembunyi.


Tidak ada satu pun orang yang tahu dengan kekuatannya, bahkan istrinya sendiri.


Istrinya tidak ikut pertemuan ini karena memang tidak menjabat dan tak berkepentingan.


Dengan begitu, mereka semua keluar dari ruang pertemuan, meninggalkan Redrin dan salah satu pria di dalam ruangan tersebut.


Masih duduk di kursi pertemuan, Redrin tampak bingung dan cemas, seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


Sebuah tangan menepuk bahunya dan suara pria memasuki telinga Redrin.


"Apa yang sedang kamu renungkan, Pemimpin?"


"Aku sedang memikirkan tentang dia, Yajiz."


Yajiz adalah wakil pemimpin kota yang sempat memberikan sebuah tanggapan pada pertemuan berlangsung.


Seorang pria yang umurnya lebih muda 5 tahun dan memiliki sifat yang lembut.


Di dalam pikiran Redrin ada sebuah pertengkaran antara dua pilihan mengenai suatu permasalahan yang tak bisa ia ungkapkan. Pasalnya, ini terlalu rahasia dan tertutup.


Namun, Yajiz tahu apa yang dimaksud dengan jawaban Redrin atas pertanyaannya barusan.


Tangan Yajiz yang ada di bahu Redrin merayap ke dagu Redrin, kemudian tangan yang lainnya menyentuh dada Redrin dari belakang, wajah Yajiz yang sudah tua muncul di samping wajah Redrin.


Sosok Yajiz memeluk Redrin dari belakang, posisi mereka tampak sangat ambigu sekaligus menjijikkan.


"Pasti kamu memikirkan istri kamu, kan?" tanya Yajiz di dekat telinga kiri Redrin.


Redrin diam sejenak, seolah dia tidak melarang Yajiz memeluknya seperti ini.


Mengambil tangan Yajiz, Redrin mencium punggung telapak tangannya, kemudian menjawab, "Benar, aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan, mengikuti dia atau melawan?"


"Apakah kamu yakin bisa melawan dia? Bahkan kekuatanmu saja tidak bisa menyaingi setengah dari kekuatannya." Yajiz skeptis terhadap Redrin, dia tidak percaya diri kalau Redrin bisa mengalahkan dia.


Setelah mendengar ucapan dari Yajiz, otak Redrin juga menyetujui. Apa yang dikatakan oleh Yajiz adalah sebuah kebenaran.


"Aku paham, aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."


Usai kata-kata itu keluar dari mulut Redrin, di berdiri dan berbalik menghadap Yajiz.

__ADS_1


Tilikan matanya yang terlihat pusing telah berubah menjadi penuh kelembutan.


Berikutnya, sesuatu yang membuat mual selama setahun terjadi.


Tidak jauh dari tempat pertemuan diadakan sebelumnya, terdapat sebuah rumah yang cukup besar, terbuat dari kayu dan tembok semen.


Di dalam sana ada seorang wanita yang cukup berumur, mungkin sudah berkepala 4 dengan tubuh yang cukup berisi.


Bukan itu sesuatu yang membuat terkejut. Kalau saja ada Aqila dan Isander di sini, dia pasti tidak menyangka hal ini benar-benar terjadi.


Wanita tua itu adalah istri Redrin, kini tengah mengendarai seorang pria yang lumayan tampan dan terkenal, Aqila dan Isander mengenali pria tersebut.


Pria yang sedang bermain dengan istri Redrin adalah Tara.


Benar, Tara tengah bermain dengan wanita tua ini dan tampak sangat bersemangat, seolah dia sedang kerasukan setan atau roh jahat.


Mereka berdua sangat-sangat menikmati kegiatannya, tidak ingin diganggu sama sekali oleh orang lain.


Tubuh istri Redrin bergetar hebat, semburan cairan kental keluar dari kue miliknya.


Senjata Tara yang lumayan besar keluar dari kue apem yang terdapat banyak bulu lebat.


"Aku selalu senang kamu melakukan ini denganku. Kamu akan aku peras selamanya sampai aku setiap hari puas," ucap wanita besar tersebut sambil menjilat jarinya.


Tara tersenyum mengangguk dan memainkan buah melon mata di depan matanya. "Apa pun yang kamu mau, aku akan lakukan."


Perkataan Tara membuat istri Redrin bahagia, dan dia mencium Tara dengan nafsu yang besar.


"Kamu tahu, aku sepertinya sedang hamil anakmu," bisik istri Redrin dengan senyum bahagia di wajahnya.


Wajah Tara melebar, kemudian dia menatap wanita tua di depannya dengan terkejut.


"Kamu tidak berbohong, kan?"


Mengelus perutnya yang memang sudah agak besar, istri Redrin berkata, "Sudah hampir tiga hari aku merasa mual. Kurasa aku memang sedang mengisi benihmu."


"Jadi, aku akan menjadi seorang ayah?" Tara bertanya dengan tatapan mata yang tak percaya.


"Iya, dalam hitungan bulan kamu menjadi seorang ayah dari bayi yang akan keluar ini," jawab istri Redrin dengan anggukan.


Berita ini membuat Tara menjadi bersemangat dan dia berniat untuk bermain dengan wanita tua ini beberapa ronde lagi.


Senjata keras Tara menancap dalam kue apem yang sudah sangat lebar lubangnya. Suara jeritan pun keluar.


Di sisi lain, Kei dan anggota Garuda Comity lain sedang berkumpul di sebuah bangunan yang berisikan banyak Agter yang asyik minum-minum.


Tidak tahu dari mana minuman keras ini berasal.


Kei mengambil satu gelang besar bir, kemudian dia meminumnya dalam sekali teguk.


Bang!


Gelas kayu di tangan Kei menampar meja dan dia mengeluarkan suara yang puas.


"Beban yang aku rasakan langsung keluar. Sudah lama sekali aku tidak merasakan bir ini," kata Kei dengan suara yang gembira.


Hendra dan Sadam hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa daya.


Temannya yang selalu bisa diandalkan sedang mengalami banyak kesulitan beberapa hari terakhir ini. Sebagai rekan kerja dan teman pastinya mengetahui apa yang terjadi pada Kei.


Pria seperti Kei ini ternyata memiliki seorang wanita yang dikejar. Namun, wanita itu menolak mentah-mentah cintanya dan memilih untuk bercinta di rumah bordil dengan 10 pria sekaligus.


Memang sudah gila. Sebenarnya, dunia ini memang sudah gila.


Struktur sosial yang berlandaskan moralitas tidak lagi berlaku. Orang secerdas dan sangat bisa diandalkan ini memilih mencintai wanita yang jelas-jelas tidak baik.


Masih ada masalah yang lain lagi selain percintaan.


Bukan hanya Kei, keduanya pun sama, mereka memiliki kesulitan yang dihadapi. Bukan percintaan, melainkan persahabatan mereka yang sekarang.


Tara dan Kei jarang sekali bertugas bersama, dan Aqila hilang entah ke mana.


"Kei, sadarlah, dia bukan wanita yang tepat untukmu, dia itu seorang Lacur!" Hendra menggoyangkan tubuh Kei dan mencoba menyadarkannya.

__ADS_1


Kei menoleh untuk melihat Hendra di sampingnya, kemudian dia berkata, "Kamu tidak tahu rasanya digoyang oleh dia. Bagiku, goyangan dia yang paling enak yang pernah aku rasakan."


"Bukankah kamu baru pertama kali melakukan itu? Bagaimana kamu bisa bilang seperti itu kalau kamu sendiri belum mencoba yang lain?" kata Sadam.


__ADS_2