SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 60: Dua Orang Asing


__ADS_3

Tangan pria dan wanita yang Isander bawa ini diikat dengan tali yang kuat, mereka berdua didudukkan bersandar di tembok yang ada di seberang tempat Giya, Nina, dan Meisya duduki.


Kedua orang ini duduk saling bersandar dengan kedua tangannya diikat ke depan.


Isander perhatikan, kedua orang ini terlihat sangat serasi, kemungkinan mereka berdua ini adalah pasangan, tetapi tidak tahu suami-istri atau bukan.


Sosok pria ini memiliki penampilan yang cukup jantan dengan jenggot di dagunya, tubuh yang ramping dan sedikit kekar kelihatan cocok disandingkan bersama wajahnya.


Sementara itu, wanita yang duduk di samping pria ini memiliki tubuh ramping, tetapi itu lebih kurus dibandingkan dengan Giya dan Nina. Meskipun begitu, otot-otot wanita ini terlihat cukup jelas. Kelihatan cantik, tetapi di dalam pandangan Isander terlihat biasa saja.


"Apakah suara langkah kaki di luar tadi berasal dari mereka berdua?" tanya Giya yang memandang sosok kedua orang yang duduk di seberang tembok di depannya.


"Seharusnya, suara itu dari mereka berdua, aku tidak menemukan orang lagi selain keduanya di luar," jawab Isander menoleh ke arah Giya dan lainnya.


Sebelum datang ke sini, Isander sempat memindai area sekitar dengan kemampuannya, dia tidak merasakan ada kehadiran apa pun di jarak belasan meter dari tempat dia berdiri.


Di reruntuhan pemukiman ini hanya ada mereka saja, termasuk dengan kedua orang yang berhasil Isander tangkap.


Giya dan Nina merasa tenang, sebuah ancaman telah dihentikan untuk sementara.


Kedua wanita ini menganggap dua orang, pria dan wanita di depan mereka sebagai ancaman, tidak tahu apakah mereka teman atau musuh.


Menggigit ayam di tangannya, Giya mengamati sosok keduanya dengan penuh saksama.


Dari apa yang dia lihat dari dua orang ini, kelihatannya mereka adalah seorang Agter. Masing-masing dari mereka memiliki medali di tubuhnya yang menempel di bagian tertentu.


Medali pada pria terletak di dekat pergelangan tangan, terlihat seperti jam karena bentuk medalinya pun lingkaran penuh, tetapi Giya tidak melihat jelas gambar apa yang ada di medalinya.


Sementara wanita yang bersandar di sebelah prianya, memiliki medali atau badge di samping pusar perut. Memiliki gambar pecutan atau cambuk. Gambar di medalinya ada sebuah tali yang melambai di udara dan di pangkal tali terdapat gagang atau pegangannya. Kemungkinan besar tebakannya benar.


Melihat dari warna medalinya, mereka mestinya Agter Senior Two Star yang di mana peringkatnya sama dengan Giya sendiri. Sangat keren.

__ADS_1


Mengetahui ini, Giya mengembuskan napas panjang. Keduanya tidak jadi ancaman karena sama-sama Agter.


Sesama Agter harus berteman, paling tidak menyapa dan tidak diperbolehkan menyerang, kecuali ada perihal yang memang diharuskan untuk bertarung.


Mayoritas para Agter berteman karena mereka memiliki satu tujuan yang sama.


"Kalau mereka berdua berasal dari kota, bisakah kamu melepaskan ikatan tali di kedua tangan mereka?" pinta Giya kepada Isander dengan wajah yang sedikit memohon.


"Kalau memang itu keinginanmu dan tidak mengganggu keamanan Meisya, aku tidak masalah dengan itu. Nanti akan aku bukakan setelah bertanya-tanya tentang identitas mereka berdua," kata Isander dengan tubuh yang santai bersandar di tembok samping kanan sembari meminum air putih dalam botol.


"Terima kasih." Giya memberikan sebuah senyuman kepada Isander karena permintaannya disetujui oleh dia.


Isander memang sudah dianggap sebagai pemimpin tim karena kekuatannya berada di atas Giya dan Nina.


Sangat bodoh apabila mereka berdua menyerang Isander dengan kekuatan lemah yang mereka punya.


Secara pribadi, Giya sempat menebak dan berspekulasi bahwa Isander memiliki peringkat yang jauh lebih dari mereka sekarang.


Terlebih lagi dengan senjata yang dimiliki oleh Isander yang terlihat aneh. Senjata tombak tersebut sampai sekarang masih dipikirkan oleh Giya lantaran dia belum pernah melihat sebuah senjata yang bisa mengeluarkan energi yang gelap.


Senjata yang bisa mengeluarkan energi gelap yang berarus listrik ungu adalah senjata yang unik sekaligus menakjubkan yang pernah Giya lihat.


Apabila dibandingkan dengan pisaunya, kemampuannya melempar pisau terasa hambar dan tidak ada artinya.


Pisau lempar hanya bisa dilempar, tak bisa menciptakan sebuah energi yang dapat dikeluarkan dengan cara menebas.


Kerusakannya jauh lebih besar milik Isander karena mampu membunuh banyak monster dalam sekali ayunan tombak.


Jauh berbeda dengan pisaunya yang memiliki kemampuan satu target musuh atau mengunci musuh saja.


Dari perbandingan kekuatan di antara Isander dan dirinya sendiri saja bisa ditebak betapa kuatnya Isander, dan mempunyai kemampuan yang sangat besar kalau Isander ada di peringkat Agter yang jauh lebih tinggi.

__ADS_1


Giya menebak Isander ada di tingkat Agter Master ke atas, tentunya bukan Senior seperti dirinya dan Nina.


Pada intinya, Isander adalah orang yang sangat misterius dan kuat. Giya belum pernah menemukan orang yang mempunyai kemampuan sebanyak dan sekuat Isander selama hidupnya.


Idolanya saja tampaknya sulit mengalahkan Isander dalam pertarungan.


Makan siang selesai mereka lakukan, Meisya juga sudah kenyang memakan ayam bakar yang diberi saus keju kesukaannya.


Kedua wanita, Giya dan Nina juga sama, dia sudah kenyang di jam makan siang hari ini.


Pada saat mereka selesai membersihkan bekas makannya, sebuah gerakan muncul di pria yang terikat tangannya di depan mereka semua semua.


Mendengar gerakan kecil ini, Isander langsung menjadi waspada dan berdiri menghadap ke arah kedua orang yang diikat olehnya.


Kepala pria yang tertunduk secara pelan-pelan dan bertahap bergerak. Awalnya menunduk, kini duduk tegak dengan matanya yang masih tertutup.


Selanjutnya, kedua mata pria tersebut terbuka, menampilkan pandangan yang bingung.


Namun, matanya langsung bergerak melihat Isander dan lainnya. Seketika pria tersebut menjadi panik dan hendak melakukan sesuatu.


Sayang sekali kedua tangannya diikat sehingga pria ini gagal untuk berdiri karena terkejut dengan tangannya yang tidak bisa dibuka.


"Siapa kalian?! Mengapa kami berdua dibawa ke sini?!" Duduk bersandar di tembok, pria tersebut bertanya dengan wajah yang penuh kepanikan dan rasa takut.


"Seharusnya, aku yang berkata seperti itu." Isander berjalan ke depan pria tersebut dan berjongkok di jarak 1 meter dari dia. "Siapa kalian? Dan mengapa kalian mengendap-endap di area ini?"


Mendengar ucapan Isander, pria tersebut tersadar dengan apa yang telah terjadi.


Alih-alih menjawab, pria tersebut menoleh ke samping untuk memeriksa wanita yang duduk di sebelahnya.


Kondisi wanita tersebut baik-baik saja, tidak ada luka yang dilihat oleh pria tersebut.

__ADS_1


Wajah cemas pria itu berkurang, dia mengeluarkan napas lega, dan menatap Isander. "Aku dan dia tidak sengaja tersesat ke sini. Baru saja sampai, kami mencium aroma daging ayam dari dalam bangunan, dan kami berniat untuk mencari sumber wewangian tersebut untuk meminta tolong kepada pemilik makanan."


__ADS_2