
Mereka baru tahu Rhigarets memiliki kendali dalam elemen tanah.
Pantas saja Rhigarets berada di level A yang berbahaya.
Jika mereka tidak bekerja sama, mungkin mereka akan kalah dan sulit untuk mengalahkan mereka semua.
Butuh kekuatan penuh dalam membunuh monster Rhigarets, jika tidak, itu takkan bisa dibunuh.
Kulit tebal dari Rhigarets, monster yang dalam keadaan normalnya adalah seekor badak, punya kulit yang sangat kuat, tahan dari goresan.
Rhigarets pun sama, jika tidak ada kekuatan Agta dan senjata mereka terbuat dari senjata biasa, sangat sulit untuk menembus pertahanan mereka.
Ketajaman belati Reza dan pisau Nina harus diberkati oleh elemen yang mereka miliki agar serangan yang dikeluarkan maksimal.
Maka dari itu, Rhigarets ini bukan monster yang lemah.
Bagi Isander, monster Rhigarets ini bukan lawannya. Monster Deegiant bisa ia kalahkan tanpa terluka.
Melawan Rhigarets yang memiliki kekuatan dibawah Deegiant bukan apa-apa untuk Isander.
Bicara tentang Deegiant, Kimaya dimasukkan ke dalam ruang tas Giya, dia disimpan di dalam karena belum saatnya untuk diperlihatkan kepada orang-orang.
Apabila Kimaya dikeluarkan dan ikut mereka bertarung melawan serbuan monster, itu akan membuat mereka menonjol di antara banyak Pasukan Agter.
Juga, membuat Kimaya menjadi buruan banyak orang-orang.
Bisa saja orang-orang di kota menginginkan Kimaya, hal itu membuat masalah bagi mereka semua, sedangkan Isander tidak mau mendapatkan musuh dari manusia.
Kalau saja Kimaya ikut, pertempuran barusan akan terasa mudah karena kemampuan kendali tanaman yang dimiliki Kimaya sangat kuat.
Tidak lama mereka berjalan, mereka kembali sejenak ke rumah untuk beristirahat.
Setelah itu, mereka kembali berjalan ke arah timur untuk mendatangi serbuan monster lain.
Jarak serbuan monster ini cukup dekat dari rumah mereka sehingga mereka memutuskan untuk membantai mereka tanpa menunggu lama.
Monster yang ada di serbuan kali ini memiliki jenis yang berbeda dari Rhitager, tetapi masih satu tingkat yang sama.
Jenis monster dari serbuan ini dinamakan Eltager karena bentuknya mirip gajah.
Eltager ini dinamakan secara konvensional oleh para Agter. Diyakini Eltager berasal dari gajah yang terkontaminasi bakteri sehingga mengubah hewan tersebut menjadi Eltager yang menyeramkan.
Kekuatan dari Eltager ini adalah fisik besar lebih dari 10 meter tingginya, dan panjang 9 meter.
Memiliki kemampuan mengeluarkan semburan bongkahan tanah sedang yang mampu membuat kepala seseorang terluka karena serangannya tersebut.
__ADS_1
Gadingnya yang mencuat ke depan begitu lancip juga dapat digunakan oleh mereka untuk membunuh musuh, termasuk membunuh Agter.
Eltager masuk ke dalam level monster B. Bisa dikatakan kuat, tetapi tidak sehat level A.
Bagi Agter Senior dan Junior monster Eltager menyulitkan mereka mendapatkan Koin Agta karena tidak mudah membunuh monster ini.
Tanpa Isander ikut, Giya dan lainnya bergerak menyerang seratus lebih Eltager yang berlari ke arah mereka semua.
Dengan cepat mereka menyerang sesuai dengan formasi yang biasa digunakan.
Reza dan Nina menyerang secara langsung, Giya dan Helen menyerang dari jauh dan memastikan keselamatan Reza serta Nina, sedangkan Kila dan Reren menjaga agar Giya dan Helen aman dari ancaman dekat monster yang lolos dari serangan lainnya.
Formasi mereka cukup efektif dalam membunuh Eltager.
Dalam waktu yang singkat, tidak ada 10 menit berselang, mereka telah membunuh lebih dari 20 ekor Eltager.
Dikarenakan panah es Helen, pergerakan monster menjadi lambat, memudahkan Nina dan Reza dalam membunuh mereka dari jarak yang sangat dekat.
Pisau terbang berapi, cambuk batu, dan perisai berduri berhasil membunuh monster yang tidak bisa diurusi oleh Nina dan Reza.
Formasi mereka terbilang kuat, tetapi menurut Isander belum kuat, mereka terlihat rentan. Tenaga mereka terkuras habis, terlebih Reza dan Nina yang berada di garis terdepan.
Dengan menurutnya seperti itu, Isander meminta Kimaya yang sedang duduk di dekatnya menemani Meisya menonton video untuk membantu mereka dalam pertarungan
"Kimaya, bisakah kamu membantu mereka membunuh monster-monster itu?" tanya Isander kepada Kimaya.
Mendengar ini, Kimaya mengangkat kepalanya dan menatap Isander dengan beberapa kedipan.
Seolah mengetahui apa yang diucapkan Isander, Kimaya memberi respons sebuah anggukan kepala.
Kimaya yang sedang meringkuk dengan kaki terlipat langsung terbangun, kemudian dengan kakinya yang jenjang dan ramping, Kimaya berlari menuju medan pertempuran yang makin seru.
Meisya mengizinkan Kimaya pergi, Meisya tersenyum melihat Kimaya yang berlari senang lalu memandang ayahnya penuh kasih sayang.
Isander mengelus lembut kepala Meisya, sentuhannya terasa damai dan menenangkan hati. Meisya memejamkan matanya menikmati telapak tangan Isander yang membelai kepalanya begitu lembut.
Pada saat ini, kedatangan Kimaya ke Medan pertempuran membuat pihak anggota kelompok Isander diuntungkan.
Kekuatan Kimaya dalam mengendalikan tanaman merambat membuat Eltager yang masuk di jangkauan seratus meter dari mereka berkumpul terjebak oleh tanaman berumput sehingga mereka menjadi lebih lambat lagi.
Selain itu juga, tanaman merambat Kimaya dapat digunakan sebagai ofensif tim.
Tanaman merambat ketika disatukan akan membentuk sebuah senjata berbentuk tombak yang tajam.
Tombak tanaman ini akan menancap dari bawah, mengincar bagian jantung Eltager.
__ADS_1
Sayangnya, serangan itu tidak bisa sering dilakukan karena memakan banyak energi Kimaya.
Tanpa itu, Kimaya masih sangat membantu mereka karena tanaman merambat mampu membuat mereka jatuh ketika berjalan akibat tersandung tanaman merambat yang bersatu dan menjadi keras di permukaan tanah.
Graahh!
Kurang dari setengah dari kelompok Monster Eltager tiba-tiba mengamuk. Mereka menunjukkan kemarahannya yang mendalam.
Kekuatan mereka terasa lebih kuat 2 kali lipat dari sebelumnya.
Sayang sekali, kekuatan mereka masih belum bisa mengalahkan kekuatan tempur anggota kelompok Isander sepenuhnya.
Lebih dari 40 menit Isander dan Meisya menonton film di salah satu pohon di belakang.
Mereka yang ditunggu-tunggu akhirnya datang dengan kondisi yang kelelahan.
"Terima ini."
Sebuah semburan cahaya hijau keluar dari telapak tangan Isander, menyentuh tubuh mereka semua dengan merata.
Dalam sekejap, luka-luka ringan yang mereka dapatkan akibat tendangan dan luka lebam lainnya menghilang.
Stamina mereka juga terisi kembali meski tidak sepenuhnya.
Mereka terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
Setelah mereka berhasil mengalahkan serbuan Eltager, Isander membersihkan jejak pertempuran mereka sekitar 70% dari semula.
Selanjutnya, mereka semua pergi ke rumah yang tidak terlalu jauh untuk mereka tempuh.
Bukti pembunuhan sudah mereka kumpulkan.
Dikarenakan barang bukti cukup besar, tas mereka menjadi penuh untuk dimasuki barang lainnya.
Besok mereka harus menukarkan bukti pembunuhan monster dengan Koin Agta.
Di malam hari, Isander dan lainnya berkumpul bersama usai makan malam.
Mereka membicarakan sebuah topik yang menarik.
"Apakah kalian semua merasa ada yang memantau kita dari luar rumah?" Isander bertanya kepada mereka semua perihal perasaannya yang tidak enak.
Panca inderanya memberi tahu Isander bahwa di luar sana ada sesuatu yang mengamati rumah yang mereka buat.
"Tidak." Reza menggelengkan kepalanya dengan dengan percaya diri. "Aku tidak merasakan apa-apa."
__ADS_1