
Mendengar penjelasan dari Aqila, membuat mereka semua diam dan termenung.
Mereka semua benar-benar tidak tahu bahwa ada orang yang kuat dan penuh misteri seperti Isander. Jika orang itu berhasil dimasukkan ke dalam Garuda Comity, mereka yakin akan menaikkan pangkat Garuda Comity di mata dunia.
Sebenarnya, selain Garuda Comity, masih ada beberapa organisasi kuat yang tugasnya membasmi dan membantu kota-kota.
Organisasi tersebut tidak hanya di Indonesia, tetapi tersebar ke segala penjuru dunia.
Monster tidak hanya bersemayam di Pulau Jawa, mereka menyebar ke segala penjuru dunia dengan misi dan visi yang sama.
Tugas monster di dunia ini tidak ada yang berbeda, mereka fokus ke satu tujuan, yakni menggulingkan manusia dari dunia ini dan menjadi penguasa baru.
Garuda Comity bukanlah organisasi yang kuat yang mampu melakukan segala hal dan mengalahkan banyak monster di berbagai tingkat atau level.
Di mata dunia, mereka masih dianggap organisasi berbasis kita yang cukup lemah dan tidak sehebat yang dibicarakan para Agter di Indonesia.
Di Kota Komodo pun mereka tidak dianggap terlalu tinggi oleh para Agter di sana karena ada organisasi yang hampir sekuat Garuda Comity, yakni Komodo Comity yang diketuai oleh Agter dengan tingkat yang sama dengan Tara.
Memang Garuda Comity ini dihormati di beberapa kota di Indonesia, tetapi posisi mereka tidak terlalu hebat dan tak terkalahkan.
Beberapa Agter kuat bahkan bisa mengalahkan satu organisasi ini.
Orang-orang yang punya kekuatan entah mengapa menghilang dan tak ditemukan sama sekali di mana mereka tinggal.
"Mungkinkah Isander bagian dari para Agter yang selalu mengembara itu?" Tara langsung memikirkan para Agter yang jarang kelihatan di pandangan Agter yang hidup di kota.
Agter-Agter tersebut adalah Agter tingkat atas yang punya kemampuan yang luar biasa. Tidak tahu mengapa pada Agter ini jarang sekali muncul seolah tidak mau dilihat oleh banyak orang dan tak mau berbuat sombong.
Beberapa Agter kuat di tingkat Agter King ke atas banyak yang sekali yang pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan petinggi kota.
Namun, Agter-Agter ini bukan berarti menghilang dan tak berbuat apa-apa, mereka tetap membunuh monster dan menakan populasi monster di Indonesia ini.
Oleh sebabnya, di Pulau Jawa ini tidak begitu banyak monster yang tinggal di sini, tak seperti awal-awal tahun terjadinya krisis bencana, sekarang menjadi sedikit dan itu berkat mereka.
Aqila memberi tanggapan dengan gelengan kepala, dia yang selama ini memantau kehidupan Isander dan Meisya, mereka berdua tidak menunjukkan hal aneh, terlebih Isander yang berpenampilan seperti seorang pria yang lemah saat itu.
__ADS_1
"Kurasa Isander bukan golongan mereka karena aku memantau mereka sejak lama," kata Aqila dengan serius.
Mendengar ini, Tara yang lainnya sedikit terkejut, ternyata selama ini di Dingin selalu pergi ke tempat seorang lelaki yang sudah punya seorang putri.
Mereka langsung menghubungkan sifat dingin wanita ini dengan masa lalu dan Isander si Pria Misterius.
Memegang dagunya, Kei melirik lantai yang dia duduk, kemudian dia bergumam, "Aku sangat-sangat penasaran dengan kemampuannya, terlebih lagi dengan baju zirah serta kedua senjatanya. Apakah kalian merasa energi yang terkandung pada peralatan Isander terasa jahat dan suram?"
Dengan cepat Sadam dan Hendra mengangguk.
"Benar, aku merasakan krisis yang berbahaya saat orang itu melancarkan serangan energi berwarna hitam. Jikalau aku yang menjadi target tebasannya, aku tidak yakin bisa hidup dari serangan itu."
Hendra bergidik ngeri membayangkan ucapannya. Tidak terbayangkan apa jadinya Isander menyerang tubuhnya menggunakan dua senjata itu.
"Benar," Sadam mulai menambahkan, "seluruh tubuh orang itu sangat gelap dan mencekam, aku belum pernah merasakan sensasi tersebut dari Agter yang lain."
Saat Isander bertarung melawan Deegiant, mereka merasakan kengerian dari serangan Isander.
Setiap gelombang aneh tersebut dikeluarkan, mereka bisa merasakan tubuh mereka sedikit gemetar secara alami tanpa sebab.
Akan tetapi, Tara yang mendengar ini langsung marah dan merasa tersaingi oleh Isander.
"Apakah dia sehebat itu?" Tara bertanya dengan wajah yang sombong dan meremehkan.
"Memang, dia jauh lebih kuat darimu," jawab Kei dengan spontan dan santai.
Kulit Tara berubah menjadi merah, dia benar-benar marah, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Adanya Aqila, Tara terpaksa mangan amarahnya. Jauh di lubuk hati Tara, dia pun merasa takut kepada Isander ini.
Dia masih mengingat dengan jelas di mana peristiwa Isander membunuh monster tanpa beban dan kesulitan.
Tara sendiri mengetahui ukuran kekuatannya, dibandingkan dengan kekuatannya yang sekarang dia memang bukanlah lawan Isander.
Memejamkan matanya, Aqila ingin tidur dalam posisi duduk, dia percaya kepada anggota kelompoknya, mereka tidak akan bermain berbuat apa-apa kepadanya.
__ADS_1
Sebelum tidur, Aqila berkata sesuatu yang penting, "Aku tidak bisa merekrut dia, lupakan niat kalian, kurasa itu mustahil. Omong-omong, jangan berbuat sesuatu kepadaku, kamu sudah tahu apa konsekuensinya."
Kei dan lainnya mengangguk menunjukkan mereka mengerti dengan ucapan Aqila.
Tidak ada yang berani melawan es Aqila, terlebih di jarak dekat seperti ini, dia takkan bisa mengalahkan Aqila.
Saat mata Aqila terpejam, suhu ruangan menjadi sedikit dingin, mereka tahu penyebabnya, tubuh Aqila mengeluarkan kabut es samar-samar yang membuat ruang ini menjadi dingin.
Namun, Kei bisa menetralisir suhu dingin ruangan dengan apinya, tetapi butuh media untuk mempertahankan apinya tetap menyala, tidak mungkin dia mengeluarkan api sepanjang malam.
Di malam hari ini, mereka semua tertidur pulas dengan bermimpi indah.
Pagi hari muncul dengan cahaya matahari yang hangat, Isander dan anggota kelompoknya sedang bersiap-siap untuk pergi melanjutkan perjalan menuju Kota Komodo yang dikabarkan sudah sangat dekat.
Mereka semua menjadi tidak sabar dan ingin melihat Kota Komodo.
Isander masih dengan peraturannya sendiri, tidak akan masuk ke dalam Kota Komodo dan akan menunggu mereka di luar.
Entah itu Kota Komodo dan Kota Garuda, Isander masih menganggap mereka kelompok jahat yang tidak patut dihargai sepenuhnya.
Ada beberapa halangan saat mereka pergi ke Kota Komodo beberapa gerombolan monster Goatager dan ratusan Catagtress serta Dogagtress.
Mereka tidak begitu berarti, mengalah mereka semua sudah cukup mudah, ditambah adanya Helen dan Reren, kelompok Isander tidak menganggap monster-monster level C dan B sebagai ancaman yang berat.
Lagi pula, mereka mempunyai Isander yang mampu mengalahkan monster level A sekalipun.
Bisa dikatakan perjalanan di pagi hari ini cukup mulus sehingga mereka tidak sulit untuk bisa sampai di Kota Komodo.
Dari kejauhan, Isander dan anggota kelompoknya bisa melihat dinding yang mencuat tinggi dan kokoh, memilki desain yang hampir sama dengan Kota Garuda, hanya ada perbedaan di letaknya.
Letak Kota Garuda ada di tengah-tengah hutan, sedangkan Kota Komodo ada di tengah-tengah sawah yang luas.
Helen dan Reren tidak ikut masuk ke dalam dan memilih untuk mengikuti Isander pergi ke suatu tempat.
Isander punya janji untuk bertemu dengan Aqila di kota ini.
__ADS_1
"Di mana dia?"