SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 47: Sampai di Rain Settlement


__ADS_3

“Akhirnya … kita sampai juga di pemukiman!“ Giya menatap tampilan depan Rain Settlement dengan wajah yang senang dan lega.


Usai melewati segala rintangan dan medang jalan yang disertai dengan serangan para monster dengan berbagai jenisnya, mereka sampai di pemukiman dengan selamat.


Selamat bukan karena beruntung, melainkan karena ada Isander yang ikut bersamanya.


Giya sudah memperkirakan apabila tidak ada Isander, mereka tidak akan selamat dari segala ancaman yang mereka temukan dalam perjalanan sebelumnya.


Meskipun Giya dan Nina sudah bergabung untuk melawan, keduanya tidak mampu menahan serangan yang datang. Mungkin mereka bisa selamat jika kabur dari para monster ini, tetapi tidak semudah yang diucapkan dan diperkirakan.


Maka dari itu, mereka sangat bersyukur bisa bertemu dengan Isander dan mengajaknya memburu. Hasil dari buruan monster jauh lebih banyak dari biasanya mereka peroleh.


Apabila seperti ini terus, kemungkinan besar mereka akan kaya. Semua bukti yang mereka miliki dapat ditukarkan dengan Agter Coin, mata uang atau alat transaksi di zaman sekarang yang rusak.


“Setelah sekian banyak monster yang dihadapi kita bisa sampai di sini. Kerja bagus untuk kita semua!“ Nina tersenyum ke arah Giya dan Isander.


Isander tersenyum melihat Nina dan Giya sebagai respons dari perkataan keduanya, kemudian dia mengelus punggung Meisya dan memastikan gadis kecilnya nyaman di pelukannya, Meisya sedang tertidur.


Wajar jika Meisya kerap tidur, dia masih kecil dan tergolong dalam kategori balita (bawah lima tahun) yang sangat membutuhkan tidur dan istirahat. Tubuhnya tidak kokoh seperti orang dewasa dan masih sangat lemah.


“Halo, Agter Giya, Agter Nina, dan Agter Isander! Selamat datang di pemukiman lagi!“ sapa Pak Tole ketika melihat ketiganya menghampiri gerbang masuk pemukiman.


Giya dan lainnya tersenyum ramah dan mengangguk.


“Halo, Pak Tole. Bagaimana kabarnya?“ Giya bertanya basa-basi pada Pak Tole.


“Aku baik-baik saja, sehat seperti biasa. Namun … ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada ketua pemukiman.“


Pak Tole tersenyum pada awalnya, tetapi di akhir kalimatnya berubah menjadi sedih.


Sontak mereka semua terkejut mendengar ini dan Nina lekas melontarkan pertanyaan, “Ada apa dengan Pak Ghandi?!“


Dengan wajah yang lesu dan sayu, Pak Tole menjawab, “Pak Ghandi terluka karena jatuh dari kasur. Kepalanya berdarah dan dia saat ini hanya bisa berbaring tidur.“


Mengetahui hal ini, mereka semua dengan cepat masuk ke dalam pemukiman untuk memastikan keadaan Pak Ghandi.


“Kami harus memeriksanya. Kalau begitu, kami masuk dahulu, Pak Tole.“

__ADS_1


“Baiklah, kalian jangan lupa untuk makan ayam di dapur pemukiman!“


Mereka merespons dengan anggukan kepala sambil berjalan ke dalam pemukiman.


Melihat mereka sudah masuk ke dalam, Pak Tole tersenyum ke arah mereka, tetapi senyumannya ini tampak berbeda. Terlihat mengerikan.


“Apakah kalian sadar? Aku merasa aneh dengan Pak Tole.“ Isander menengok ke Giya dan Nina. Dia benar-benar merasakan ada sesuatu yang aneh pada Pak Tole tadi. Dia ingin memastikan.


Giya dan Nina tidak langsung menjawab ini, keduanya menundukkan kepalanya untuk mengingat penampilan Pak Tole saat bertemu dengan mereka tadi.


“Aku tidak merasa ada yang aneh pada Pak Tole.“ Giya menggelengkan kepalanya. “Aku rasa dia sama dengan biasanya.“


“Sama, aku juga merasa Pak Tole sama saja, seperti yang sering aku lihat ketika keluar dari pemukiman.“ Nina memiliki tanggapan yang dengan Giya.


Keduanya tidak memiliki perasaan yang janggal terhadap Pak Tole, sedangkan Isander bisa merasakan ada yang asing dengan tubuh Pak Tole ketika menatap wajahnya.


Sesuatu aura negatif terpancar samar-samar dari sosok Pak Tole. Mungkin itu hanya bisa dirasakan oleh Isander saja.


“Umm, berarti itu hanya perasaan aku saja yang salah.“ Isander menggaruk-garuk kepalanya.


Giya dan Nina saling memandang dan dia menaikkan bahunya hampir bersamaan. Terkadang, mereka berdua merasa aneh terhadap Isander.


Para warga pemukiman tidak menyapa mereka berdua, mereka hanya diam dan fokus dengan pekerjaannya. Ada yang mengetuk kayu, ada yang berjalan tanpa arah, ada yang duduk di depan rumah dengan tatapan yang kosong, dan masih banyak lagi.


Jika dilihat-lihat dengan seksama, perilaku mereka terlihat agak ganjil dan tak seperti biasanya.


Ada satu orang warga pemukiman yang berjalan dengan tubuh yang lemas dengan tatapan yang selalu tertunduk ke bawah.


Melihat keanehan dari warga ini, Giya mencoba untuk berinteraksi dengan orang ini.


“Halo, apakah kamu baik-baik saja?“ Giya menatap sosok ini dan berusaha untuk melihat wajah orang tersebut.


Dia sampai membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajah orang ini.


Begitu dia menunduk dan melihat ke atas, dia kejutkan dengan wajah orang ini yang tampak aneh, seperti orang yang sedang sakit.


Di bawah kelopak matanya terdapat kantung panda, wajahnya pucat dengan pupil mata yang selalu mendelik.

__ADS_1


Giya bahkan sampai bisa melihat garis-garis saraf di mata orang ini yang berwarna memerah.


Segera Giya menarik kepalanya dan dia tidak mau lagi melihat wajah orang ini. “Anu, sepertinya kamu harus pergi ke orang yang punya obat, kamu seharusnya tahu di mana orang yang bisa mengobati orang di sini.“


“Ya,” ucap orang ini dengan tubuh yang membungkuk dan wajah yang menghadap ke bawah.


Nada suaranya terdengar tidak berjiwa dan hampa.


Setelah itu, dia berjalan lagi melewati Isander dan Nina yang ada di belakang Giya tanpa ingin menghindar.


Jadi, Nina dan Isander haru mengalah dan membukakan jalan untuk orang yang abnormal ini.


“Isander, aku memiliki firasat yang buruk dengan ini. Sebaiknya, kita segera pergi menuju rumah Pak Ghandi.“ Giya menatap Nina dan Isander dengan wajah yang penuh kecemasan dan takut.


“Benar, aku merasa ada yang tidak beres,” ucap Nina dengan nada suara yang ketakutan dan merasa ngeri.


Isander mengangguk dan jalan lebih dahulu menuju ke rumah Ketua Pemukiman.


Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang aneh terjadi dengan pemukiman ini.


Selama kedua wanita ini berjalan, mereka selalu melihat ke kiri dan ke kanan untuk mengawasi area sekitar.


Begitu dia melihat ke sekitar, perasaan yang buruk makin menjadi-jadi di dalam hatinya.


Warga-warga di sini sama sekali tidak normal, mereka melakukan kegiatan dengan gelagat yang aneh, tidak sama dengan yang biasa mereka lihat.


Entah Giya dan Nina, keduanya sama-sama sudah lama tinggal di sini. Mereka sudah tahu dan ingat dengan kesibukan para warga di sini.


Di sore hari ini biasanya mereka sudah bersiap-siap untuk masuk ke dalam rumah jika bukan warga yang bertugas memasak makanan.


Pemandangan sekarang sangat berbeda, banyak warga yang berkeliaran di luar, tanpa menyiapkan sesuatu untuk menghadapi malam nanti.


Para warga umumnya selalu menyiapkan sesuatu untuk malam, mengambil makanan untuk makan malam di dalan rumah, membersihkan bekas kegiatan di luar, dan masih banyak lain.


Mengabaikan para warga yang aneh ini, mereka bertiga akhirnya sampai di rumah Pak Ghandi.


Mengingat kata Pak Tole bahwa Pak Ghandi sakit, mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu. Percuma juga mereka mengetuk pintu, orang yang punya rumah sedang sakit dan berbaring di kasur.

__ADS_1


Tepat ketika mereka masuk, para warga yang bergerak tidak jelas ini dalam sekejap mengalihkan kepalanya ke arah rumah Pak Ghandi secara bersamaan.


Wajah mereka yang tak biasa itu memiliki raut ekspresi yang aneh. Senyum di wajah mereka sangat lebar, tampak bukan senyuman dari seorang manusia yang normal.


__ADS_2