SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 180: Anomali Besar


__ADS_3

Di dalam hati Isander sekarang penuh akan perasaan yang tidak bagus atau buruk, keanehan dan keganjilan yang terjadi hari ini menandakan ada sesuatu yang buruk dalam skala besar akan terjadi pada mereka semua.


Tidak tahu kebenarannya, firasat hati Isander mengatakan hal tersebut. Akan ada sesuatu peristiwa yang membahayakan kepada mereka, entah kapan waktunya, cepat atau lambat pasti terjadi.


Sambil menjaga Meisya di pelukannya dan membuat putri kesayangannya teralihkan dengan kartun di jam tangan, mata Isander terpejam dan dia memantau ke sekeliling hutan mencari monster kuat yang siapa tahu ikut datang pada mereka semua.


Energi Isander tersebar dan mengendalikan seluruh tumbuhan dan kayu yang ada di hutan untuk mencari monster kuat yang ada di dalamnya.


Sayangnya, tak ada monster tingkat tinggi yang lebih kuat dari monster A di sekitar hutan, semuanya adalah monster level A dan B, bahkan Deegiant tidak muncul melawan mereka semua.


Salah satu hal yang membuat Isander bingung, entitas Deegiant ini memang hanya ada satu atau ada banyak sekali, sebuah pertanyaan yang muncul di kepala Isander dan sempat ditanyakan oleh Kimaya.


Namun, Kimaya tidak menjawab dengan jelas lantaran tak bisa menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi.


Memakai metode lain pun tiada gunanya, Kimaya tidak bisa menggerakkan tubuhnya sesuai dengan informasi yang ingin dikatakan.


Untuk sementara waktu, Isander menganggap Deegiant adalah monster yang berbeda dan satu-satunya di dunia ini, dan telah berubah menjadi Kimaya yang imut dan kuat.


"Tidak ada monster S di jangkauan yang aku awasi. Aneh, cuma monster A dan tingkat bawah yang menyerang timku. Aku juga tidak menemukan sesuatu yang ganjil selain serbuan monster A yang derasnya menyerbu timku," gumam kecil Isander sambil memeluk Meisya.


Pada saat ini, Meisya yang fokus menonton film kartun anak-anak melirik ke bawah pohon dan melihat banyak sekali monster dengan ukuran besar mencapai 5 meter berlari ke suatu arah.


Pohon yang mereka jadikan tempat menunggu dan istirahat pun bergoyang akibat hentakan kaki yang berat sekaligus banyak.


Tanah tempat pohon ini tubuh bergetar hebat, bebatuan terombang-ambing oleh getaran pada tanah, bergerak ke sisi lain dengan acak.


Panorama ini sangat mengerikan, dan tengah dirasakan oleh Meisya saat ini begitu melihat kengerian tersebut.


"Ayah, aku takut!" Meisya memeluk tubuh Isander dengan erat dengan suara rintihan ketakutan dari mulutnya.


Isander menangkap tubuh kecil putrinya dengan nyaman dan lembut, menenangkan hatinya dengan sedikit sentuhan nyaman.


Jari-jari tangan Isander mengusap lembut belakang kepala Meisya yang kecil dan mencium dahinya. "Jangan takut, ayah di sini, Sayang."


Baru sadar bahwa ada rombongan besar monster datang dari tempat mereka berada, Isander melupakan ini.


"Ayah, bisakah kamu melawan semua monster itu? Meisya sangat takut, khawatir Kak Giya dan yang lainnya terluka karena melawan banyak monster ini," pinta Meisya dengan matanya yang jernih berkaca-kaca.


Sebagai ayah yang baik, Isander menuruti permintaan anaknya.


Dia mencium pipi Meisya dengan lembut dan kasih sayang yang besar.


[Ding! Terdeteksi bahwa Meiysa memiliki keinginan! Sistem memberikan Anda Kemampuan Finger of Ice!]


Ledakan energi asing muncul di dalam tubuh Isander, tepatnya di bagian tengah dada, dan energi misterius itu menyebar ke seluruh jaringan sel yang ada di tubuh Isander.


Kali ini bukan sensasi hangat dan nyaman, melainkan dingin dan menusuk-nusuk yang bisa Isander rasakan.


Proses integrasi terjadi selama 2 detik ketika Isander mencium pipi Meisya.


Merasakan ada kekuatan baru yang tersemat di dalam tubuhnya, Isander segera menggendong Meisya di pelukannya dan meminta untuk memejamkan matanya.


"Aku mengerti, Ayah."


Begitu Meisya menutup matanya rapat-rapat, sosok Isander dan Meisya terjun dari atas pohon yang tinggi.


Alih-alih mendarat di tanah, Isander mengarahkan tangan kanannya ke tanah dan sebuah jalur es tercipta dari jari-jarinya.

__ADS_1


Dengan begitu, Isander berseluncur dengan kedua kakinya yang sudah ada sepatu logam untuk seluncur es.


Whoosh!


Tubuh Isander yang menggendong Meisya meluncur cepat di atas jalur es yang tercipta di tanah.


Wajah Isander tersenyum menyegarkan merasakan angin yang berhembus kencang menerpa wajahnya.


Kelima jari tangan kanan Isander terus menyemburkan embusan angin es yang dapat membentuk es keras dan kokoh.


Setiap Isander melewati monster dengan permukaan esnya, semua monster yang ada di dekat sosok Isander langsung membeku oleh lapisan es yang keras dan dingin.


Isander mengendalikan jari tangannya untuk mengeluarkan es dengan kuat dan membidik monster yang ada di sekitar.


"Kurang efesien."


Menyerang monster sambil bersenang-senang tidak begitu efesien, memakan waktu begitu banyak karena ada kegiatan lain selain membunuh monster, yaitu berseluncur.


Jalur es muncul di depan Isander mengarah ke atas langit.


Whoosh!


Tubuhnya terhempas tinggi bersama Meisya di tangannya, kemudian tangan kanannya membidik ke arah bawah dengan kekuatan es menyembur keluar dari kelima jari.


Badai es dalam sekejap menutupi seluruh tanah yang ada di bawah, membekukan semua monster yang ada di tanah.


Tidak puas sampai situ, kelima jari Isander menembakkan proyektil peluru kecil yang terbuat dari es ke segala arah.


Menghancurkan segala jenis monster yang menjadi patung es menjadi bongkahan daging beku.


Pembelian yang Isander miliki jauh lebih kuat dari kekuatan es punya Helen dan Aqila. Mampu membekukan monster hingga ke daging-dagingnya dan organ tubuh.


Dalam radius lebih dari 1 kilometer, seluruhnya ditutupi oleh es beku yang berkilau.


Namun, es yang beku itu tidak bersih, noda merah darah yang bau mengotori es yang dibuat oleh Isander.


Melihat bahwa kondisi ini tidak baik bagi lingkungan, kemampuan Hand dan Foot of Earth, ditambah water Shot yang dipanaskan oleh Finger of Flame mulai melelehkan medan es yang Isander ciptakan.


Getaran tanah dapat dirasakan kaki Isander, Meisya pun ikut merasakan dan dia bertanya, "Ayah, apakah sudah selesai?"


"Belum, Sayang, sebentar lagi akan selesai," jawab Isander sambil mengecup kening Meisya yang matanya masih terpejam.


Kepala kecil Meisya mengangguk kecil, dia mengerti apa yang dikatakan ayahnya.


Tak sampai 5 menit, seluruh medan es yang Isander ciptakan telah hancur dan meleleh menjadi air.


Selanjutnya, permukaan tanah menjadi retak memberikan garis ruang untuk air masuk ke dalam tanah dan terserap lebih cepat.


Semuanya bersih, bahkan pepohonan yang sempat mengeras oleh embun beku juga sudah dilelehkan dan pepohonan yang ada di sekitar hidup dengan sehat.


Meisya membuka matanya ketika diperintahkan oleh Isander. Mata bulat yang ikut itu memandang ke sekeliling dan tak menemukan monster yang mengerikan, Ayahnya sudah membersihkan monster-monster itu.


Bongkahan daging dan darah sudah Isander masukkan ke dalam tanah dan dijepit hingga hancur di tanah.


Namun, penyerangan ini belum selesai, Isander bisa merasakan banyak monster yang berdatangan dari segala arah.


Di mana-mana monster berlari menuju Isander dan kelompok Isander di lokasi yang berbeda.

__ADS_1


Alih-alih melawan monster A secara intens, Isander menggendong Meisya ditangan kanannya, kemudian sebuah bola besi yang besar menyelimuti Isander dan Meisya.


Meisya terkejut melihat dirinya dan ayahnya berada di dalam bola besar. Melihat di dalam sini gelap, Isander menciptakan bola cahaya di dalam bola besar dan memberikan beberapa lubang kecil di sisi samping bola untuk mereka bisa menghirup oksigen.


"Ayah, mengapa kamu membuat bola besar seperti ini?" tanya Meisya dengan rasa ingin tahu.


Isander tersenyum dan membalas, "Dahulu ada yang namanya bioskop, Meisya pernah ayah ceritakan, bukan?"


"Aku tahu! Ayah mau mengajakku menonton seperti di bioskop?"


"Benar, ayah akan memberi kamu pengalaman seperti sedang menonton di dalam bioskop."


Setelah mengatakan itu, bola cahaya menjadi menjadi sedikit redup, jam tangan Isander mengaktifkan mode layar lebar dalam bentuk hologram yang lumayan besar.


Film kartun baru diputar di dalam layar tersebut. Isander menggerakkan bola dengan kedua kakinya seolah sedang berjalan.


Sementara itu, di luar bola besi terlihat ada dua tangan besar yang meninju dan menghancurkan segala monster yang datang mendekati.


Lengan Great Hell Titan dengan ukuran panjang lebih dari 5 meter itu melayang dan menghancurkan semua monster yang ada di sekitarnya, dibantu oleh pasir yang terbang mengelilingi bola dan tumbuhan yang bergerak aktif menjerat semua monster.


Bam!


Kepalan tinju besar Great Hell Titan memberikan dampak yang sangat besar, menghancurkan Beargarets dan menjadikannya daging cincang tak terhitung jumlahnya.


Selain meninju, Great Hell Titan menggunakan Snagarets, monster yang mirip ular dengan tubuh panjang sebagai senjatanya. Mencambuk setiap monster yang datang tanpa ampun.


Memiliki dua tangan tambahan yang fleksibel bisa digunakan untuk apa saja sangat luar biasa rasanya.


Dua tangan Great Hell Titan ini mampu melawan Whale Gozer jika ada, Isander menjamin monster S itu mati.


Pasalnya, Cenagon bilang bahwa satu lengan Great Hell Titan puluhan kali lipat kekuatannya dari Whale Gozer yang lemah.


Lebih lagi, lengan tersebut bisa membesar, ukurannya bisa mengalahkan besarnya tubuh Whale Gozer.


Masalah kekuatan fisik, tangan besar Isander jauh melebihi Whale Gozer.


Tampaknya, ukuran besar adalah hal yang penting di dalam tatanan dunia ini.


Makin besar ukuran makhluk hidup, artinya makin kuat dan mendominasi makhluk tersebut. Padahal, ukuran bukan segalanya, kemenangan pertandingan tidak diukur dengan ukuran besar.


Isander yang hanya memiliki tinggi 186 cm bisa menghancurkan Monster Whale Gozer dalam satu pukulannya saat ini.


Pasalnya, kekuatan Isander sekarang sudah sangat tinggi.


[Kekuatan fisik: 55.555.555 Poin]


Nominal poin yang agak aneh, tetapi jumlah kekuatan fisik Isander sangat besar.


Dengan tinju tangannya bisa menghancurkan monster S dengan mudah jika ia menggunakan lebih dari 30% kekuatannya.


"Mengapa banyak monster A yang menjauh dari Kota Garuda?"


Pada saat ini, Kei memandang Sadam dan Hendra di sampingnya, mereka berdiri di atas dahan pohon yang besar, melirik barusan monster A dan B berlarian ke satu arah yang sama.


"Bagaimana kalau kita ikuti saja?" Hendra menyarankan mereka untuk mengekori monster-monster.


Kei dan Sadam termenung menimbang keputusan ini, kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak keberatan."


"Ayo pergi, Semuanya!"


__ADS_2