SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 99: Mulai Menguji Kemampuan Gadis Remaja


__ADS_3

"Tidak apa-apa, hanya ada kesalahan kecil yang aku perbuat." Isander melambaikan tangannya ke depan dan belakang lalu duduk di singgasana.


"Apakah kamu yakin itu kesalahan kecil? Romannya tidak seperti itu." Cenagon ragu dengan ucapan Isander dan dia memastikan lagi.


Wajah Isander terlihat sangat kecewa dan kesal di waktu yang bersamaan, kedua perasaan itu campur aduk di satu wajah.


Isander yang malas membahas tentang kecerobohannya langsung meminta Cenagon untuk tidak bertanya persoalan itu lagi dan mengubah topik pembicaraan.


"Aku ingin bertanya mengenai kekuatanmu. Apa saja kemampuan hebat yang kamu miliki?" tanya Isander dengan wajah yang ingin tahu dan sorot matanya yang serius.


Cenagon sempat diam beberapa detik usai Isander bertanya tentang kemampuannya pribadi.


Setelah merenung dengan singkat, Cenagon menjawab dengan suara yang dalam, "Kemampuanku tidak hanya fisik yang kuat, ada beberapa kemampuan yang mungkin kamu akan terkejut, tetapi kemampuan yang paling kuat yang aku miliki takkan aku beri tahu. Sesuai dengan ucapanku sebelumnya. Pada intinya, kemampuanku bisa terbang karena aku punya dua pasang sayap."


"Di mana sayapmu? Aku tidak melihatnya," celetuk Isander dengan aneh.


Jelas-jelas Isander TK melihat ada sosok sayap di balik punggung atau tubuh Cenagon.


Cenagon terdiam sesaat dan berkata, "Sudah aku lepas. Intinya, kamu akan mendapatkan sayap. Terserah kamu mau percaya atau tidak."


"Oke-oke."


Untuk sementara waktu, Isander percaya dengan ucapan Cenagon yang satu ini meski tak ada bukti yang mendukung pernyataannya.


Jika itu benar, Isander sangat senang dengan kemampuan tersebut. Dengan adanya sayap, dia bisa bergegas pergi ke suatu tempat tanpa melalui hutan yang merepotkan. Jalur udara lebih mudah dibandingkan jalur darat.


"Kekuatan fisik kuat, beberapa kali lipat dari yang kamu punya sekarang, kemampuanku di antaranya seperti itu," tambah Cenagon sesuatu dengan apa yang dia punya dan tahu.


"Baik, aku mengerti. Terima kasih atas spoilernya, Cenagon," kata Isander dengan kepala yang sedikit membungkuk. Membuat sikap berterima kasih.


Cenagon mengangguk beberapa kali. Hal ini bukan suatu yang penting, kecuali dia memberi tahu dua kemampuan yang sangat kuat yang pernah dia miliki.


Itu akan menjadi masalah.


"Buat apa kamu bertanya dan ingin tahu tentang hal itu?" Kali ini Cenagon yang penasaran dengan tujuan Isander mempertanyakan hal tersebut.


"Tidak apa-apa," ujar Isander dengan gelengan kepalanya. "Aku hanya penasaran dengan kemampuan yang kamu punya, itu saja."


"Kukira ada apa. Omong-omong, kamu tidak berlatih malam ini?"


"Oh, ya. Aku lupa dengan itu. Aku akan latihan sekarang. Terima kasih sudah mengingatkan."


"Ya, oke."


Setelahnya, Isander menutup matanya di dalam ruangan Cenagon tinggal, melatih kemampuan yang dia punya sesuai dengan pola yang kerap dilakukannya setiap malam.


Melatih satu per satu kemampuan yang paling rendah levelnya dan jarang dipakai. Mengasah kemampuan yang dia miliki dengan gerakan yang sama.


Foot of Earth, Wood Control, dan Hand of Earth dapat dilatih dengan cara merasakan elemen yang bersangkutan yang terdapat di luar rumah atau hutan sekitar.


Isander menggunakan elemen tersebut untuk melatih dan mempertajam kendalinya pada kemampuan yang dia miliki tersebut.


Selain dari ketiga kemampuan tersebut, Isander melatihnya di ruangan gelap ini, seperti Finger of Flame, Baryon Cenagon, dan Wind Barrier.


Di ruangan ini dipenuhi oleh api dan jejak energi warna lilac, ruangan gelap tidak lagi gelap.


Anehnya, Cenagon yang berwarna hitam tetap hitam dan gelap, tidak peduli berapa banyak api yang menyala di dalam ruangan ini, dia tetap gelap.


Hal ini menumbuhkan rasa kecurigaan dan dugaan Isander terhadap Cenagon bahwa dia bukan makhluk yang benar-benar berwujud padat seolah terbuat dari suatu energi.


Sempat Isander menanyakan tentang ini, tetapi Cenagon tidak mau menjawab, mengabaikannya jika pertanyaan yang sama terus dilontarkan.


Maka dari itu, dia tidak bertanya lagi perihal yang sama. Mungkin pertanyaannya terlalu personal dan pribadi, bukan sesuatu yang boleh diketahui oleh Isander.


Selain ketiga kemampuan yang bisa dilatih di ruang gelap Cenagon tanpa bermeditasi, ada kemampuan Myokinesis yang tak bisa dilatih di ruang gelap ataupun dengan cara bermeditasi.


Kemampuan Myokinesis hanya bisa dilatih secara langsung membidik tubuh monster dan mengendalikan otot-otot mereka.

__ADS_1


Jika tidak ada objeknya, Myokinesis ini menjadi hambar dan tak berguna. Lagi pula, tak mungkin jika musuhnya bukan suatu makhluk hidup yang tak memiliki otot di tubuhnya.


Bayi saja punya otot, tak mungkin monster tidak punya otot untuk menggerakkan seluruh tubuhnya. Jika ada, itu lebih aneh dari alien.


Latihan Isander sekarang masih dengan durasi yang sama dengan hari-hari yang sebelumnya sehingga dia tak bisa banyak mengobrol dengan Cenagon. Waktunya tak cukup untuk mereka berdua berbincang lama.


Begitu Isander membuka matanya hari sudah mulai terang lantaran matahari muncul dan terbit dari arah timur.


Aktivitas Isander masih sama dengan hari-hari yang telah dilalui, menyiapkan sarapan untuk Meisya lebih dahulu, dan menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya.


Saat sedang menyiapkan sarapan pagi, Isander berpikir untuk memberikan mereka jatah untuk makan selama seminggu. Ide ini terlintas di pikirannya dan merupakan ide yang bagus.


Lebih praktis seperti itu daripada dia harus selalu menyediakan untuk mereka makanan, terlihat dirinya bak seorang pembantu di rumah orang kaya.


Sudah diputuskan untuk memberikan mereka jatah makan selama satu Minggu lamanya. Penyimpanan dan stok makanannya masih banyak, tidak mungkin habis dengan cepat, kecuali dia membagikannya ke banyak orang hingga ratusan ribu orang.


Ketika Helen dan Reren ikut bergabung sarapan pagi, wajah mereka terlihat lebih ceria dan sehat dibandingkan kemarin.


Mereka bahkan tidak sabar untuk pergi membantai monster karena ingin melihat performa kemampuan mereka yang katanya kuat.


Setelah sarapan pagi bersama, mereka langsung bersiap-siap pergi bersama.


Awalan pagi yang baik di hari ini, semuanya terlihat senang dengan senyuman tercetak di masing-masing wajah mereka semua.


Meisya sangat dekat dengan Helen karena tahu bahwa bonekanya berasal dari Helen, boneka yang sekarang menjadi benda favoritnya yang selalu dibawa, barang wajib dipeluk dan dipegang.


Selain Helen, Meisya dengan Reren pun dekat, dan hubungan mereka sangat baik bagai adik dan kakak kandung. Namun, tidak sedekat bersama Helen.


Mungkin ini terjadi karena pengaruh perbedaan umur.


"Kalian berdua sudah siap untuk pergi?" tanya Isander melihat Reren dan Helen yang menggendong tas, mengenakan pakaian yang rapi.


"Sudah, kami berdua sudah sangat siap setelah kita bangun dari tidur!"


Reren dan Helen merespons dengan anggukan kepala, persiapan mereka sudah sangat matang, saking tak sabarnya mereka ingin melihat kekuatan mereka sendiri.


Mereka pergi ke arah timur di mana itu adalah arah Isander pernah melawan monster kelabang yang sangat besar.


Di sepanjang jalan, Isander memberi tahu kepada mereka semua tentang kronologi atau peristiwa terjadinya pertarungan dia dan monster kelabang dengan detail.


Tak lupa untuk menunjukkan bekas lubang yang digali oleh monster kelabang kepada mereka semua meski itu hanya terlihat jejak lingkaran di permukaan tanah.


"Hati-hati di sini, kita belum pernah ke arah hutan timur begitu dalam, masih ada beberapa tempat yang belum pernah kita injak. Tetap waspada dan lihat ke sekeliling, jangan kendurkan penglihatan kalian," Isander mengingatkan mereka untuk tetap mempertahankan lingkungan sekitar tanpa lengah.


Di dalam hutan jangan pernah sedikit pun lengah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita lengah, bisa saja hewan buas datang kepada kita dan mencelakakan kita.


Terlebih kalau di hutan terdapat banyak monster ruang lebih berbahaya dibandingkan hewan buas dan liar.


Reren dan Helen cukup senang dengan perhatian yang diberikan oleh Isander kepada anggota kelompoknya, pemimpin mereka tampak begitu bertanggung jawab dan baik.


Jarang sekali ada orang yang memperlakukan bawahannya atau anggota kelompoknya yang lebih lemah. Biasanya, para pemimpin suatu tim atau kelompok membuli dan memanfaatkan kelompok timnya demi kepentingan pribadi.


Isander sosok yang berbanding terbalik, malah dia yang memberikan banyak manfaat kepada anggota kelompoknya yang lebih lemah.


Kekuatan Isander pun mampu membuat orang biasa menjadi seorang Agter berkekuatan elemen alam yang kuat. Tak ada seorang pun yang bisa seperti dia.


"Apakah ini pemukiman yang dimaksud oleh pimpinan pusat?" Tara bertanya kepada Kei yang berdiri di sebelahnya.


Tara, Kei, Sadam, dan Hendra sudah sampai di tempat mereka diperintahkan untuk diperiksa karena terdapat sebuah laporan bahwa di tempat yang mereka datangi ada sebuah kejadian yang mengenaskan.


Ada seseorang yang berhubungan dengan monster dan menghancurkan sebuah pemukiman.


Mereka berempat tengah berdiri di depan gerbang suatu pemukiman yang sudah setengah hancur, bahkan pintu besar yang terbuat dari material kayu ini hampir terlepas dari engsel gerbangnya.


Kei yang pernah bertarung dengan Tara seorang yang narsistik ini mengangguk dan menjawab, "Menurut yang pernah Aqila deskripsikan, tempat ini seharusnya tempat yang kita tuju. Berada di daerah Dramaga tak jauh dari cabang sungai."


"Si pendiam sok cantik itu tak berbohong, kan?" Tara bertanya lagi untuk memastikan kebenarannya.

__ADS_1


"Tidak tahu, lebih baik kita masuk dan periksa sekarang daripada diam tak jelas."


Kei melangkahkan kaki lebih dahulu dan berjalan ke arah gerbang, diikuti oleh Sadam dan Hendra di belakangnya.


Melihat Kei yang tak sopan ini, Tara hampir marah, tetapi dia menahan amarahnya agar tidak menghancurkan tempat misinya ini.


Begitu keempatnya ke dalam, mereka mencium bau aneh dari dalam, baunya ini agak samar-samar tidak yang menyengat dan menusuk ke lubang hidung.


Mereka mengamati sekeliling untuk mencari suatu petunjuk aneh atau pemandangan dalam pemukiman yang tak wajar.


Terlihat ada banyak sekali rumah kayu yang hancur, sebagian ada yang masih berdiri.


Pemukiman ini sangat tertata rapi dengan rumah yang cukup untuk ditinggali oleh manusia biasa.


Begitu mereka berjalan lebih dalam, mereka melihat beberapa bekas darah yang kering. Jikalau darah manusia, itu sudah menguap dan mungkin membekas.


Kei yang akrab dengan darah ini langsung berjongkok dan mengamati lebih dekat lagi. Setelah terdiam beberapa saat, dia berkata, "Ini darah monster. Ayo kita lanjutkan lagi! Sesuatu yang salah akan terungkap."


Keempatnya terus berjalan ke dalam pemukiman tanpa mengehentikan langkah kakinya. Pada akhirnya, mereka berhenti di sebuah lahan luas yang kosong dan terdapat beberapa jejak pertarungan terjadi.


Tara dan Kei bergegas untuk memeriksa lahan yang sepertinya adalah sebuah lapangan kosong. Sementara Sadam dan Hendra berdiri di salah satu rumah dekat lahan tersebut dan mengamatinya dari jauh.


Lapangan ini terlihat mencurigakan, ada beberapa jejak aneh yang kemungkinan besar telah terjadi suatu pertempuran dua kubu atau dua sesuatu yang kuat.


Selain ada jejak pertarungan, mereka berdua dapat menemukan jejak sisa tubuh manusia yang agak berbeda.


Ketika Rei ingin mengamati dengan jelas, Tara memberi tahu bahwa benda yang dia lihat adalah anggota tubuh manusia yang telah terinfeksi.


Pendapat Rei pun sama dengan Tara, beberapa Enda yang berceceran di sekitar lapangan kosong ini adalah manusia yang sudah terinfeksi lantaran ada beberapa bagian di potongan anggota tubuh manusia ini yang abnormal, tak seperti bangkai manusia yang normal.


"Kalian bertiga, datang ke sini! Aku menemukan sesuatu!" Kei yang berjalan-jalan di beberapa bagian lapangan selama beberapa saat langsung menemuka sesuatu yang menarik.


Tara, Sadam, dan Hendra sama-sama merasa ingin tahu, ketiganya mendatangi Kei dengan santai.


Begitu mereka sampai di tempat Kei berdiri, tanpa diberi tahu Kei, mereka tahu apa yang ditunjukkan oleh Kei kepada mereka.


Tepat di depan mereka berempat terbentuk sebuah lubang besar yang berdiameter beberapa meter dan kedalaman beberapa meter.


Lubang ini memiliki dasar yang terdapat apa-apa, tetapi entah mengapa mereka berempat mempunya firasat yang sama bahwa di bawahnya tersirat sesuatu yang menarik.


"Lubang yang aneh, apakah kalian merasakan hal yang sama?" tanya Tara yang kesombongannya sedang tidak muncul.


Ketiganya mengangguk hampir bersamaan. Mereka memang punya perasaan buruk akan lubang ini.


Sadam yang penasaran dengan lubang pun menjawab, "Ya, lubang ini seperti tercipta dari suatu ledakan."


"Benar, aku juga menduga seperti itu," tambah Hendra.


"Kalau begitu, kamu gali dasar lubang itu, Sadam. Kamu punya kemampuan untuk menggali." Tara tersenyum ke arah Adam, senyumannya membuat orang merasa kesal.


Namun, Sadam sedang tidak mau bertengkar dengan Tara. Dia berpikir akan membuang waktu dan tenaga jika bertengkar dengannya sekarang.


Dengan begitu, Kei dan lainnya menjauh dan meninggalkan Sadam di tengah-tengah lubang.


Perubahan terjadi pada Sadam, tubuhnya menjadi besar dan berangsur-angsur menjadi sosok Gorila besar dengan tinggi mencapai 10 meter.


Tangan gorilanya yang besar, Sadam mampu menggali lubang ini dengan cepat dan singkat.


Hanya beberapa kali pengerukan oleh tangan Sadam, sesuatu yang terkubur di dasar lubang terlihat.


Beberapa potongan monster yang aneh terungkap setelah penggalian singkat.


Salam sekejap, Tara dan Kei turun ke lubang dan melihat sesuatu yang ditemukan Sadam lebih dekat.


Lubang yang mereka temukan adalah lubang di mana Spidgarets Human yang Isander bunuh berada, di dalam Rain Settlement.


Lubang yang awalnya penuh oleh tanah ternyata kurang padat, dan saat terkena air menjadi menyusut hingga menjadi padat. Maka dari itu, lubang ini masih terlihat seperti lubang yang dalam, padahal Isander sudah menguburnya dengan penuh.

__ADS_1


"Makhluk apa ini? Mengapa ini mirip dengan Kei?"


__ADS_2