SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 61: Pasangan Mencurigakan


__ADS_3

"Apakah itu benar?" Isander berdiri dan mengamati ekspresi wajah pria ini dengan hati-hati.


Dia mencari tanda kebohongan pada sosok pria ini akan perkataannya tadi.


Namun, Isander tidak menemukan tanda-tanda kebohongan atau dusta yang terlihat di wajah dan gerakan kecil tubuh pria tersebut.


Dengan perasaan yang sedikit takut, pria ini menelan ludah dan mengangguk cepat. "Aku tidak berbohong. Aku bisa mempertanggungjawabkan ucapanku yang barusan."


"Oke, aku percaya dengan ucapanmu untuk sementara waktu." Isander kembali duduk dan menatap tajam pria ini.


Hawa dingin masih terasa di belakang punggung, pria tersebut tidak berani melirik Isander dan memilih untuk menghindari kontak mata dengan Isander. Sangat mengerikan baginya. Terasa seperti ditatap oleh monster tingkat A.


"Mengapa kamu mengendap-endap dan bersembunyi? Kami curiga kamu berdua ingin menyergap kami semua," kata Giya yang heran dengan gerakan mereka untuk mendekat yang terkesan mencurigakan.


Pria tersebut mengalihkan pandangan ke Giya dan dia .e jawab, "Kami memang memiliki gaya mendekati sesuatu seperti ini. Tidak mungkin kami secara terang-terangan menampilkan diri kepada orang yang tak dikenal."


"Tetap saja kalian sangat mencurigakan." Giya dengan gayanya yang sedikit kesal tidak menerima jawaban pria ini.


Tak lama kemudian, wanita yang ada di sebelah pria tersebut terbangun dan sadar. Dia melihat sekelilingnya dengan ekspresi yang penuh rasa bingung.


"Di mana aku? Mengapa aku ada di sini?" gumam wanita tersebut tanpa sadar.


"Kina, lihat aku!" panggil pria di sebelahnya kepada wanita yang baru sadar dari kondisi pingsan.


Mendengar suara pria ini, kepala wanita menoleh dan melihat pria yang ada di sampingnya. Matanya terbelalak karena terkejut, dia baru sadar dirinya tengah diikat kedua tangannya, sama seperti pria ini.


"Ada di mana kita, Reza?!" Kila bertanya dengan wajah yang panik.


Pria tersebut bernama Reza, dia menjawab dengan suasana hati yang tenang, "Kita berada di tempat di mana wangi makanan yang kita cium berasal."


Menyadari hal ini, Kila melihat ke depan dan langsung menemukan sosok Isander dan lainnya. Pupil matanya membesar dan dia terperangah melihat ini.


"Maaf, kami tidak tahu kalian ada di sini, dan kita benar-benar tidak jahat."

__ADS_1


Kila mencoba untuk memberi tahu Isander, Giya, dan yang lain, bahwa dirinya tidak memiliki niat jahat.


Sayangnya, ucapan Kila tidak bisa secepat itu untuk dipercaya. Butuh bukti nyata tentang kebenaran ucapan mereka berdua.


Isander pribadi tidak mudah percaya dengan kedua orang ini lantaran terlihat mencurigakan. Maka dari itu, pandangan Isander tidak lepas dari keduanya meski Meisya sudah berada di pelukannya.


Tempat teraman bagi Meisya adalah pelukan hangat Isander. Semuanya akan baik-baik saja jika Meisya ada di dekapan tangan Isander yang aman dan nyaman.


"Jelaskan dari mana asal kalian," ucap Nina dengan dingin. Sedari tadi dia diam jarang berbicara dengan pria tersebut.


Mendengar perintah Nina, keduanya saling bertatapan seolah sedang memberi kode satu sama lain.


Tidak lama mereka mengangguk dan kembali menatap Isander dan kelompoknya.


"Kami berasal dari Garuda City. Kami memiliki misi untuk membunuh Catagtress dan sudah lama tinggal di kawan ini. Kami penasaran dengan aroma wangi makanan yang muncul tiba-tiba dari area ini. Tentu, hal ini janggal bagi kami berdua karena area ini jarang dijadikan tempat singgah orang," jelas Reza dengan wajah yang tenang dan hati yang terkendali.


Ketakutannya sudah berkurang, tetap ada rasa takut saat melirik Isander secara langsung, terlebih menatap matanya yang penuh aura pembunuh.


Reza pernah melihat tatapan yang serupa dengan niat membunuh yang kental dan kuat.


"Benar, kami hanya ingin mencari dengan hati-hati, makanya terasa seperti bersembunyi dan mengendap-endap, padahal kami sama sekali tidak berniat semacam itu. Kalaupun bertemu dengan orang pemilik aroma makanan, kami berbicara baik-baik dan meminta bantuan dengan sopan," sambung Kila sembari menatap wajah masing-masing dari Isander dan lainnya.


Penampilan mereka terlihat tidak berbohong dan begitu meyakinkan. Matanya yang tegas dan tidak ragu mencerminkan mereka tidak sedang berbohong. Ketika berbicara pun tidak melihat ke mana-mana, fokus ke mata lawan bicara.


Isander tidak langsung merespons, dia mengolah ucapan keduanya dan mencari tahu apa ada sesuatu yang janggal pada kalimat yang dilontarkan.


Giya dan Nina sedang merenung sejenak untuk berpikir persoalan kejujuran dari pernyataan yang diberikan oleh keduanya.


Beberapa menit berselang, Giya menyelesaikan pikirannya dan berkata dengan suara yang biasa saja, "Untuk sesaat kami percaya kepada kalian. Namun, jika nyatanya kalian berbohong, kami tidak ragu untuk melawan kalian."


"Kami bukan orang biasa, sama seperti kalian berdua, kami semua adalah seorang Agter, kecuali gadis kecil yang imut ini," ujar Nina sambil tersenyum kepada Meisya.


Tanggapan Meisya hanya tilikan mata yang bingung karena tidak mengerti apa yang diucapkan Nina.

__ADS_1


"Lepaskan ikatan tali ini dahulu, kami akan membuktikan ucapan kami." Pria ini menatap dengan dalam Giya dan Nina.


Giya dan Nina tidak langsung menjawab, melainkan dia melirik Isander untuk menunggu jawabannya. Isander yang lebih kuat dari keduanya, keputusan ada di tangan Isander langsung.


Menundukkan kepalanya beberapa detik, Isander mengangguk sekali dengan tatapan yang masih terkunci pada sosok keduanya.


Segera Giya dan Nina melepaskan ikatan tali pada dua orang ini atas persetujuan Isander.


Melihat tangan mereka yang terbebas dan tidak sakit lagi, mereka berdua merasa lega.


Berikutnya mereka berdua menatap Giya dan yang lain dengan wajah yang penuh rasa terima kasih.


"Aku sangat tersanjung karena kalian percaya kepada kami berdua."


Keduanya sedikit membungkuk ke arah Giya dan lainnya sebuah bentuk rasa terima kasih mereka.


Usai melihat tingkah laku mereka berdua yang sopan membuat Giya dan Nina makin yakin keduanya memang tidak jahat.


Tidak ada penjahat yang memiliki tata Krama yang baik. Kata orang.


Sangat berbeda dengan Isander, dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh keduanya.


Tidak tahu kenapa dia merasa sulit untuk percaya pada dua orang ini, seakan-akan ada bisikan di telinganya yang memberi suatu informasi kebenaran.


Mereka tidak bisa langsung dipercaya oleh Isander, hatinya tidak klop dan cocok dengan mereka berdua.


"Berikan kami bukti-bukti atas ucapan yang kalian ungkapkan tadi," Isander berkata dengan suara yang sangat dalam. Bulu halus Reza dan Kila seketika berdiri begitu merasakan kengerian aura Isander hanya dengan suaranya saja.


Keduanya menelan ludah hampir bersamaan. Setelah itu, mereka berdiri dan menunjukkan lencana atau medali yang berhasil mereka bangkitkan.


Isander, Giya, dan Nina mengamati serta memindai keaslian lencana yang ada di tubuh mereka berdua melalui jarak jauh.


Bisa saja lencana dipalsukan dengan cara dibuat menggunakan sesuatu material.

__ADS_1


Dilanjutkan lagi mereka menampilkan tas yang mereka bawa di punggungnya berisikan bukti monster Catagtress yang telah berhasil mereka bunuh.


"Apa kalian semua percaya kami sekarang?"


__ADS_2