SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 91: Anak Buah Kelabang Keluar


__ADS_3

Reza merasa ada sesuatu keganjilan di tempat ini, terasa ada makhluk lain selain monster Goatager dan mereka berempat.


Bukan, itu bukan Isander dan Meisya, tetapi kumpulan makhluk lain yang sedang diam-diam menghampiri mereka yang tengah bertarung dengan sangat serius.


Perasaan Reza makin kuat, dia berangsur-angsur meyakini firasatnya ini.


Mengikuti perasaannya yang abu-abu, dia langsung membantai Goatager paling dekat dan bergegas menuju Kila, Giya, dan Nina.


Melihat sosok Reza yang menghampiri mereka satu per satu, mereka semua menatap Reza sembari melawan monster Goatager yang terus-menerus menyerang mereka.


"Ada apa?" tanya Giya yang sibuk mengendalikan pisau lempar berapi miliknya ke arah dua Goatager yang berlari ke arahnya.


Bilah berapi dari pisau Giya sangat mudah untuk melukai dua Monster Goatager sekaligus, dan membakar mereka hidup-hidup.


Swooshh!


Tangan Reza berayun sangat cepat di sekujur tubuh monster, memotong permukaan daging monster hingga organ dalam, daging, dan darah keluar.


Berdiri di atas tubuh monster yang berdarah, Reza melirik Giya yang tak jauh darinya dan menjawab, "Ada kelompok monster lain di sini, kalian harus jaga-jaga."


"Monster apa itu?"


Giya langsung terkejut, matanya sedikit membesar. Dia langsung penasaran dengan monster yang dimaksud oleh Reza.


Selama dia bertarung, dia bahkan tidak tahu ada monster lain selain Goatager.


"Entah, aku tidak tahu pasti, tetapi mereka ada di sekitar kita."


Turun dari mayat monster, Reza melanjutkan lagi pembantaiannya. Dia berpikir untuk mempercepat penyelesaian pembasmian monster di sini dan segera menukarkan bukti perburuan di kota.


Tidak tahu mengapa dia merasa firasat ini menjadi makin buruk dan membuat dirinya cemas.


Kila dan Nina yang mendengar suara dari ucapan Reza yang cukup keras, keduanya langsung memasang kewaspadaan yang lebih. Adanya kelompok dan kubu lain berarti suatu hal yang tidak baik lantaran mereka berdua tidak tahu apa dan berada di pihak mana kelompok makhluk yang datang tersebut.


Lebih baik berhati-hati daripada mengabaikan suatu hal buruk yang akan datang.


Bang!


Salah satu tubuh Monster Goatager mendadak terpental dan menabrak pohon di kejauhan.


Menciptakan asap debu yang membubung tinggi disertai dengan suara keras yang mengejutkan telinga.


Sekejap, mereka berempat yang fokus membantai sisa monster yang masih hidup mengalihkan pandangannya ke arah Monster Goatager yang tersangkut di batang pohon.


Saat mereka menatap ke arah Goatager tersebut, wajah mereka semua berubah dan menunjukkan mimik yang sama.


Krieet!


Puluhan monster yang mirip dengan monster Cantgarets, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil.


Meskipun lebih kecil, ukuran mereka terbilang besar dibandingkan ukuran tubuh monster yang lain.


Ukuran mereka memiliki panjang sekitar 7 meter dengan lebar 2 meter. Jumlah mereka berkisar puluhan ekor, tidak lebih dari 50 ekor.


"Sial! Ini Cantager! Semuanya, tolong jaga jarak!" Giya yang tahu jenis monster ini langsung mengirimkan peringatan kepada mereka semua.


Mengikuti ucapan Giya, mereka bertiga mundur dan pindah ke area yang jauh dari tempat datangnya monster-monster yang menjijikan ini.


Mereka berempat berdiri di kejauhan di jarak belasan meter dari tempat di mana kumpulan monster Chilopoda atau Kelabang ini berada.


Saat mereka melihat ke arah monster-monster ini, di belakang para monster yang mengerikan ini terdapat banyak pohon yang tumbang.


Sebagian besar pohon yang ada di belakang mereka roboh. Tampaknya, monster ini buta atau memang bodoh, dia menghancurkan apa pun termasuk pohon yang menghalangi jalur mereka untuk bisa datang ke sini lebih cepat.


Monster yang sangat kasar dan tidak punya akal.


Krieett!


Salah satu monster mengangkat tubuh bagian depannya dan berteriak nyaring, seperti seorang komandan yang memberikan arahan perang.


Setelah teriakan itu dikumandangkan, semua monster yang merayap dengan ratusan kaki ini menyerbu ke arah mereka.


Reza, Kila, Nina, dan Giya merasakan kulit kepalanya kesemutan, pemandangan yang ada di depannya merupakan pandangan yang sangat menyeramkan dan menggelikan.


Blar!


Satu pisau lempar Giya dilemparkan sangat cepat menuju salah satu monster.


Bilah pisau yang terbakar berhasil mengenai kulit monster, tetapi itu hanya menancap kulit kerasnya dan tak menembus daging yang ada di dalamnya.


Pupil Giya melebar sejenak, dia terkejut jika kulit monster satu ini lebih keras dibandingkan kulit dari Monster Goatager.


Dengan gerakannya tadi sebuah ide muncul di kepalanya. Sebuah senyuman yang memiliki makna ditampilkan sembari menatap monster-monster yang bergerak ke mereka semua.


Dia tahu apa yang harus dilakukan sekarang.

__ADS_1


"Jangan fokus menyerang kulit mereka, fokus menyerang di titik tubuh mereka yang tidak dilindungi kulit, contohnya langsung ke kepalanya," ucap Giya pada mereka semua dengan suara yang dalam. Tangannya mengeluarkan pisau api lagi dan langsung membuang senjatanya membidik kepala monster yang terbuka.


Benar apa yang diberitahukan oleh Giya, saat pisau itu menusuk kepala aneh monster ini, sebuah darah hijau keluar dari luka yang disebabkan bilah tajam pisau.


Api yang terkandung pada pisau segera memanggang kepala monster hidup-hidup.


Namun, itu bukan serangan yang efektif, tubuh monster tanpa kepala itu masih bergerak dan tetap menyerang mereka berempat dengan banyak kaki di tubuhnya.


Bam!


Sebelum monster itu dapat mencapai tempat mereka, cambuk batu Kila menghancurkan tubuh itu menjadi beberapa bagian, dan mengeluarkan cairan hijau yang busuk ke segala arah.


Ingin sekali mereka muntah, tetapi situasi tak mengizinkan mereka melakukan hal itu.


Puluhan monster yang tersisa masih merayap ke mereka semua secara serentak dan ini merupakan situasi yang gawat.


Kila dengan cambuk batunya mencoba menjauhkan monster kelabang yang paling dekat untuk memberikan mereka semua ruang untuk bergerak.


Tali keras dihantamkan oleh Kila dengan cara mengayunkan ke arah kiri dan ke kanan dengan cepat.


Tentu saja, ini memakan banyak tenaganya yang telah dia simpan.


Bang!


Hampir setengah kelabang terhempas jauh, membuat mereka bertiga waktu untuk bersiap dan melakukan strategi.


Begitu Kila berhenti menggerakkan cambuknya, Reza dan Nina meluncur sangat cepat ke depan.


Keduanya menyerang balik dan malah mendatangi puluhan monster kelabang secara bersamaan.


Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan, kecerdasan mereka dalam bertarung sekejap aktif dan mengalami sinkronisasi secara otomatis.


Setengah jumlah monster yang terbang dan tersungkur ke tanah adalah kesempatan mereka berdua untuk balik menyerang, mumpung mereka sedang sibuk membalikkan tubuh.


Mereka berdua fokus menyerang sebagian besar monster yang masih merayap cepat mendatangi mereka.


Melihat keduanya datang, semua monster terfokus ke Nina dan Reza, secara naluri lebih mementingkan yang musuh atau target lebih dekat ketimbang yang jauh.


Akan tetapi, monster ini tidak tahu bahwa manusia yang ingin mereka mangsa adalah seorang Agter yang cukup berpengalaman.


Slash! Slash!


Cahaya putih dan biru bermunculan di tempat, pekikan dan jeritan kesakitan terdengar hampir bersamaan, berlangsung secara beruntun dan dalam waktu yang lama.


Cairan hijau perlahan menggenang lebar, dan bau busuk kian menyengat.


Dengan Giya yang membantu dari belakang, kesulitan yang dialami Nina dan Reza dapat dibereskan.


Pisau api yang Giya kendalikan sangat akurat menghalau dan menghalangi monster yang tak sempat mereka tangkis dan serang kembali.


Giya sangat membantu.


Pisau Giya tidak hanya satu, keempat pisau berapi terbang ke masing-masing arah. Ada dua di antara pisau lempar yang membantu Reza dan Nina yang berkonfrontasi bersama monster, dua lainnya dikerahkan untuk melukai monster yang masih berusaha bangkit akibat hempasan cambuk Kila.


Kila ini terus menjauhkan beberapa monster dari tempat Nina dan Reza menyerang secara tatap muka, dengan begitu.


Jika Nina da Reza masih terlihat sibuk dan agak kesulitan, Kila membuat monster kelabang yang ingin datang ke arah keduanya menjadi jauh.


Selain itu juga, Kila berusaha untuk sekaligus membunuh monster yang berdatangan dalam satu kali ayunan pecutan miliknya.


Namun, terlalu sulit dan itu terlalu banyak menghabiskan tenaganya.


Dengan formasi seperti ini, mereka berempat akhirnya berhasil membunuh puluhan Monster Cantager dalam waktu yang agak lama.


Mereka memakan waktu kurang lebih setengah jam untuk benar-benar membuat para monster mati.


Dengan lekas mereka berempat menjauh dari tempat pembantaian kelabang ini. Pasalnya, bau yang tak enak untuk dihirup oleh hidung mereka sangat mendominasi area tersebut sehingga mereka harus pergi dan menjauh.


"Sangat bau!" Kila hampir tidak bisa menahan bau ini di perjalanan. Untungnya, dia bisa menahan keinginan untuk memuntahkan makanan yang telah dimakan.


Giya dan lainnya menutup hidung karena bau busuk samar-samar masih tercium di tempat mereka berhenti.


Mencubit hidungnya, Giya mengangguk membenarkan, dan wajahnya menjadi merah karena sulit bernapas. "Kurasa, kita harus melaporkan kejadian ini kepada Isander. Aku sungguh tak bisa membereskan bekas pertarungan itu."


"Aku setuju. Kalau begitu, aku akan pergi sekarang." Reza mengangguk menyatakan persetujuannya.


Di juga berpikir untuk memberi tahu tentang ini pada Isander, sebab mereka tidak sanggup membereskan semuanya.


Lagi pula, Isander selalu membereskan bekas peperangan yang mereka perbuat. Jadi, itu merupakan hal yang biasa bagi Isander.


Pada saat ini, Isander yang dibicarakan oleh mereka berempat tak tahu kapan sudah ada di antara mereka, berdiri di dekat Giya sambil menggendong Meisya.


Isander langsung menutup hidungnya dengan tangannya, Meisya pun mengikuti. Di sini sangat bau dan tidak bagus jika terus-menerus berada di sini. "Bau sekali! Kalian ngapain saja di sini? Apa kalian sudah selesai membunuh semua Monster Goatager di sini?"


"Sudah, tetapi kami mendapatkan kumpulan monster lainnya, yaitu Cantager, versi kecil dari Cantagarets," ucap Giya yang masih menahan hidungnya agar tidak mencium banyak bau busuk.

__ADS_1


Tanpa berpikir lama, Isander langsung menyerahkan Meisya kepada Giya untuk dititipkan, dia harus menyudahi bau busuk ini yang tersebar bersama udara. Khawatir bau ini memancing banyak monster, dan ditakutkan yang datang bukan hanya monster kecil, melainkan datang juga monster tingkat tinggi.


"Pergi ke arah rumah tunggu aku di jarak beberapa kilometer di sana, aku akan membersihkan polusi udara ini."


"Baik, kami mengerti."


Berikutnya, Isander melompat ke dahan pohon dengan mudahnya.


Sosoknya melompat di atas dahan, dari pohon ke pohon secara cepat hingga hanya terlihat seperti bayangan hitam yang memantul di antara banyak pohon.


Melihat kepergian Isander, keempatnya bergerak mengikuti arahan yang diberikan oleh Isander.


Mereka tidak berjalan, tetapi setengah berlari alias jalan cepat untuk segera pergi meninggalkan tempat yang berbau ini.


Pada sekarang ini, keberadaan Isander sudah sampai di tempat pertarungan antara mereka berempat dengan puluhan Monster Cantager dan ratusan Goatager.


Tempat ini benar-benar sangat kacau-balau, banyak pohon yang tumbang dan juga tanah yang berlubang berisikan darah merah kehitaman dicampur cairan hijau.


Bau busuk di sini makin menyengat, dan ini membuat Isander harus menahan napasnya dengan durasi yang lama.


Bum! Bum! Bum!!!


Banyak bola api yang dilemparkan oleh Isander melalui jari-jarinya.


Bola api tersebut membakar permukaan tanah yang telah bercampur dengan banyak darah, daging cincang, dan cairan hijau yang bau.


Perlahan api menyambar hingga melenyapkan semua hal tersebut. Meski tidak semuanya menghilang, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


Paling penting bau yang dapat menyakiti hidung telah hilang dari tempat ini, sisa daging dan darah yang masih menempel di tanah akan Isander hilangkan di dua kali pelemparan bola api.


Setelah itu, dia akan merekonstruksi permukaan tanah yang berlubang dan tidak rata.


Usai semuanya telah bersih dan tanah kembali pulih dan halus, Isander pergi meninggalkan tempat ini dan bergegas ke arah rumahnya berada.


Dia menemukan Giya dan lainnya di perjalanan. Mereka benar-benar menuruti instruksinya, yaitu pergi ke jalur arah rumah mereka berada.


Mereka semuanya berjalan bersama untuk pulang kembali ke rumah.


Selama di perjalanan, jalur mereka lalui terkadang ada satu atau lebih monster yang kebetulan berpapasan.


Pastinya mereka membunuh monster tersebut dan diambil bagian tertentu untuk ditukarkan menjadi Koin Agta.


Namun, pertukarannya tidak akan dilakukan sekarang karena matahari sudah mulai turun dan itu tidak sempat untuk pergi ke Kota Garuda yang rata-rata memakan beberapa menit bahkan jam untuk sampai ke sana.


Isander dan anggota kelompoknya tidak ke mana-mana setelah melakukan pembasmian besar ini. Diam di rumah bersantai dan beristirahat sambil menunggu hari esok datang.


Kegiatan mereka di rumah hanya bermain jam tangan dan mendiskusikan tentang sesuatu, apa pun itu, entah masalah masa lalu, percintaan, dan rencana hari esok yang akan mereka lakukan bersama.


"Kemungkinan besar, kita akan meninggalkan tempat ini lima hari lagi," ujar Isander dengan raut yang sangat serius pada mereka semua.


Sebelumnya, telah Isander pikirkan tentang berapa lama mereka akan di sini untuk membersihkan banyak monster.


Dia akui, dirinya tak mungkin menghabiskan monster secara tuntas atau keseluruhan di tempat ini. Isander hanya bisa menghabiskan kehidupan banyak monster dan membuat populasi monster melonjak turun, khusunya di hutan dan tempat ini.


Menyisakan sedikit monster untuk manusia lain bisa memburu dan bisa hidup dengan perburuan tersebut.


Jika mereka menghabiskan semua monster, secara tidak langsung akan meningkatkan masalah yang tak diperlukan.


Masalah yang pasti akan terjadi adalah banyak Agter yang akan memperebutkan monster untuk dirinya bisa hidup.


Kemungkin yang lainnya juga akan terjadi, seperti tidak berlakunya sistem perburuan karena populasi monster sudah tidak ada lagi.


Oleh karena itu, Isander dan kelompoknya mengubah tujuannya menjadi tidak begitu spesifik.


Isander akan melenyapkan banyak monster agar manusia di luar kota bisa leluasa mencari makanan dan hidup panjang.


Mereka semua mengangguk menandakan masing-masing dari mereka setuju dengan keputusan Isander. Tak ada satu pun dari mereka yang keberatan dengan pilihan Isander.


Pasalnya, mereka semua memiliki pikiran yang hampir sama.


Tidak baik untuk tinggal di sini terlalu alam, suatu saat tempat mereka akan ditemukan oleh Agter Kota Garuda.


"Mau ke mana kita pergi? Kota sebelah?" tanya Giya menatap kedua mata Isander.


Isander termenung memikirkan ini. Sejujurnya, dia belum tahu tujuan setelah ini.


Mendengar kota sebelah, alias Isander terangkat, tampaknya dia tertarik.


"Kota sebelah? Apakah itu jauh dari sini?"


"Lumayan jauh, ratusan kilometer jaraknya dari sini ke sana," balas Reza sambil memegang dagunya.


Reza dan Kila pernah ke sana untuk suatu hal, dan sudah tahu berapa jauh jarak antara Kota Garuda dan Kota Komodo.


Mendengar jawaban Reza, otak Isander memikirkan tentang ini lagi sebelum membuat keputusan.

__ADS_1


Tiba-tiba Isander menggerakkan kepalanya naik turun, matanya melirik ke arah mereka berempat, dan berkata, "Baik, tujuan kita selanjutnya adalah Kota Komodo. Kita akan bepergian ke kota itu untuk membinasakan sebagian besar populasi monster yang ada."


__ADS_2