SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 84: Anak Monster Rusa


__ADS_3

"Deergarets, monster level A yang punya kekuatan untuk memulihkan tubuhnya jika terluka, dan dia punya ukuran yang besar, dan tanduknya tersebut mampu menghancurkan gedung 10 tingkat," kata Reza dengan perasaan terkejut di dalam hatinya.


Pemimpin kelompoknya bahkan berhasil mengalahkan monster level A ini. Dia tidak pernah berpikir sama sekali kalau Isander mampu mengalahkan monster tersebut dengan mudah.


Meskipun belum diberi tahu tentang Isander mengalahkan monster, para anggotanya sudah punya pikiran bahwa Isander telah mengalahkannya.


Giya menatap Isander dengan pandangan yang kagum, dan dia berkata, "Monster yang cukup ditakuti banyak Agter bukan karena kekuatannya, melainkan regenerasi tubuhnya yang menakutkan. Banyak Agter yang putus asa mengetahui luka yang mereka buat di tubuh monster tersebut menghilang beberapa detik berikutnya."


"Benar, aku saja tidak yakin bisa membunuh monster ini sendirian, regenerasi tubuh monster tersebut sangat cepat, dan masuk ke daftar monster yang harus dibunuh," tambah Nina yang memperkuat ucapan Giya.


Mendengar apa yang dikatakan mereka semua, Isander cukup terkejut dengan identitas monster tersebut yang dianggap berbahaya bagi manusia.


Ia kira monster yang barusan dibunuh monster level A yang biasa saja, seolah tak ada sesuatu yang spesial dari monster itu. Pada aspek serangan, bertahan, dan kekuatan sangat biasa saja, memang benar jika kemampuan regenerasi monster yang bernama Deergarets cukup bagus.


"Aku bertemu dengan monster itu, suara dentuman dan getaran di tanah berasal dari dia. Maka dari itu, aku melawan dia dan berhasil membunuhnya," jelas Isander kepada mereka semua dengan suara yang santai. "Aku tidak mau ada monster yang muncul di sekitar rumah ini."


Perkataan Isander membuat mereka geleng-geleng kepala, pria yang menjadi pemimpin mereka sangat di luar nalar.


Monster yang banyak ditakutinya para Agter tingkat sedang saja seakan tidak ada artinya di depannya.


Orang ini akan membunuhnya jika itu berpotensi mengancam keselamatan anaknya. Memang pria ini sangat kuat, tetapi mereka semua tidak menyangka akan sekuat itu.


Reza tiba-tiba pergi ke pintu rumah dan melihat keluar, cahaya matahari telah menjadi redup menandakan hari akan malam sebentar lagi.


Melihat gerakan Reza yang spontan membuat mereka bertanya-tanya.


"Ada apa?" tanya Isander yang penasaran dengan tingkah Reza.


Alih-alih Reza yang menjawab, Giya ikut berdiri dan menjawab pertanyaan Isander, "Deergarets, seekor monster yang kerap berkembang biak, kemampuannya dalam berkembang biak tidak ditahan oleh ukuran tubuhnya yang besar, tak sama dengan hewan purba. Jadi, kemungkinan besar anak-anaknya, yaitu kumpulan Deertager, akan mencari pelaku yang membunuh induknya."


Pupil mata Isander sedikit membulat, da dia teringat sesuatu ketika tahu informasi ini.


Sebelum membunuh Deergarets, dia sempat membunuh monster serupa dengan ukuran yang kecil, monster yang berada di dekat rumah kayu ini.


Ternyata monster tersebut memiliki kaitan dengan monster yang besar tadi.


"Apakah mereka akan ke sini dan mencari aku?" Isander menatap Giya dan lainnya, dengan perasaan yang agak cemas.


Apa yang dia pikirkan sekarang adalah keselamatan Meisya.


Giya dan lainnya saling menatap, kemudian mengangguk satu per satu.


"Mungkin," kata Giya yang merasa tidak pasti. "Ada probabilitas yang besar mereka mencari kamu, Isander."


Reza yang berdiri di depan pintu rumah sambil mengamati area di sekelilingnya, seketika mengubah wajahnya dan dia kembali ke dalam rumah dengan hati yang panik.

__ADS_1


"Mereka datang ke sini!"


Mereka semua terkejut dengan teriakan Reza, serentak berdiri dan melirik penasaran ke wajah Reza.


"Siapa yang datang?!" Kila ikut panik dan melontarkan pertanyaan kepada Reza.


"Deertager, mereka sebentar lagi sampai di sini!"


Di detik berikutnya, suasana menjadi darurat, dan mereka semua tergesa-gesa untuk melakukan sesuatu, semuanya bergerak menuju ke dalam kamar untuk mengambil tas dan barang pribadi.


Isander bergegas mengambil Meisya lalu tasnya, dia sangat mementingkan anaknya sendiri, dibandingkan yang lain.


Berdiri di ruang mereka berkumpul, Isander meminta Giya untuk menggendong Meisya terlebih dahulu, dia berubah pikiran, dia tidak akan kabur dan ingin melawan monster-monster ini.


"Aku pikir monster-monster itu bisa aku lawan." Isander memandang wajah mereka semua dengan wajah yang dalam. "Kalian tunggu di sini, dan tolong jaga Meisya di saat aku pergi, kalian boleh membantu, tetapi salah satu dari kalian harus di rumah ini dan menjaga Meisya."


"Aku ikut," celetuk Reza sambil memajukan tubuhnya. Dia ingin bergabung membunuh para monster yang datang.


Dengan begitu, Isander dan Reza keluar dari rumah, pergi menuju para monster yang tengah berdatangan.


Benar apa yang dikatakan Reza, koloni monster rusa tengah berlari ke arah di mana rumah mereka semua berdiri, dan lokasi mereka sudah ada di sekitar 1 kilometer dari rumah mereka berada.


Isander dan Reza menyerang secara bersamaan di tengah kumpulan monster berlari cepat.


Duar!


Tombak hitam mendarat kuat di atas tanah hingga membuat tanah terkoyak dan muncul retakan yang luas.


Beberapa monster yang ada di dekat tombak hitam langsung hancur menjadi bongkahan daging yang kasar beserta darah yang menyembur keluar ke permukaan tanah.


Formasi para monster hancur begitu saja, mereka terkejut dan menatap tombak hitam yang tiba-tiba datang menyerang.


"Apakah kalian suka hadiahku barusan?"


Dalam pandangan mereka, sosok manusia muncul di sebelah tombak, berdiri tegap dengan pandangan mata yang mengejek.


Graahh!


Pada saat berikutnya, semua monster memiliki reaksi yang sama, mereka meraung marah yang ditujukan kepada Isander dengan pupil mata yang makin menyala.


Amarah yang meledak-ledak terjadi di tubuh mereka semua, dan bentrokan besar pun tak terelakkan.


Ratusan monster Deertager mulai bergerak, belasan monster melancarkan serangan pada Isander, tanduk besar mereka ditabrakkan ke arah di mana Isander berdiri.


Senyuman terbentuk di sudut mulut Isander, momen ini telah ditunggu-tunggu olehnya.

__ADS_1


Dengan cepat tangan Isander mencabut tombak hitam yang tertancap di tanah, segera mengayunkan tombak tersebut ke monster yang paling dekat.


Swooshh!


Bilah hitam tombak memotong tanduk keras monster bagaikan pisau merobek kertas dengan mudah.


Bilah tombak terus bergerak maju hingga memotong semua tanduk yang berdatangan ke arah Isander, bahkan banyak kepala monster yang terbelah tidak sengaja.


Akan tetapi, Isander mengingat bahwa tanduk-tanduk Deertager tak boleh dihancurkan seluruhnya, paling tidak pangkal tanduk masih utuh.


Dengan demikian, titik serangan Isander terfokus pada tubuh monster, seperti kaki, leher, perut, dan lainnya.


Cahaya ungu gelap berkelap-kelip di hutan yang sudah gelap, membuat hutan terlihat ramai oleh kilatan cahaya yang bermunculan.


Selain Isander, Reza membantu Isander di belakang pinggir medan pertempuran. Monster-monster yang Reza hadapi lebih sedikit ketimbang yang dilawan oleh Isander.


Kedua belati anginnya mampu melumpuhkan banyak monster, tetapi butuh waktu yang lama untuk Reza bisa melumpuhkan satu monster.


Bilah belati yang kecil dan pendek penyebab dia tidak bisa membunuh monster ini dengan singkat.


Chakks!


Teriakan kesakitan terdengar satu demi satu, secara langsung menghilangkan kesan sunyi pada hutan.


Ratusan monster yang bersatu melawan mereka berdua tidak lama hanya tersisa puluhan monster yang masih hidup.


Pada sekarang ini, Isander dan Reza berdiri di tengah para monster yang mengelilingi mereka. Daging yang terpotong-potong dan bersimbah darah, dan potongan tanduk kecil monster tersebar di sekitar mereka berdua.


Bau busuk yang menyengat sudah menyelimuti tempat mereka bertarung.


Dapat dilihat, monster-monster yang tersisa hanya bisa diam dan menatap mereka berdua dengan pandangan mata yang waspada.


Mereka seakan ragu dan sekaligus takut terhadap mereka berdua, tidak ada yang berani memulai kembali pertarungan, lebih tepatnya pembantaian.


Sosok Isander berdiri dengan megah, pupil matanya bergerak ke arah para monster yang berdiri memandangnya.


Dark Spear dicengkeram dengan erat, dan sosoknya menghilang di tarikan napas berikutnya.


Rambut Reza bergoyang oleh angin yang tercipta dari gerakan tubuh Isander yang cepat.


Merasakan angin ini, Reza tertegun sesaat, menoleh ke samping, di mana Isander berdiri sebelumnya.


"Sial, lagi-lagi aku ditinggal olehnya!"


Reza tahu dirinya sudah didahului oleh Isander yang sudah mulai menyerang monster. Orang ini selalu saja mendadak, tak memberikan sebuah aba-aba kepadanya jika hendak memulai pertarungan.

__ADS_1


__ADS_2