SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 28: Rencana di Rumah Pohon


__ADS_3

Giya dan Nina berhenti berbicara, mereka berdua diam tak bergerak dan mengikuti Isander yang diam sambil memeluk Meisya.


Mereka berempat memasang telinga dengan baik, ia memfokuskan perhatiannya ke suara yang berasal dari luar.


Beberapa suara desis dan suara aneh terdengar, sumber suara itu dari area luar.


Mata Isander bergerak ke sekeliling rumah pohon. Semua jendela yang ada di rumah pohon telah ditutup oleh Giya dan Nina.


Isander berpikir bahwa mereka tidak bisa seperti ini, lama kelamaan oksigen akan habis jika jendela terus ditutup. Jadi, Isander saat ini merenung untuk memikirkan strategi.


Tak butuh lama untuk Isander memikirkan sebuah rencana, Isander membuat isyarat kepada Giya dan Nina untuk mendekati dirinya.


Melihat gerakan tangan Isander, Giya dan Nina mengerti apa maksud dari gerakan Isander. Mereka berdua bergerak dan perlahan mendekati diri ke Isander.


Isander memberi tahu rencananya yang jenius kepada Giya dan Nina.


Wajah keduanya langsung serius dan mereka berdua mengangguk beberapa kali menandakan dirinya mengerti dengan rencana strategi Isander.


Setelah memberi tahu rencananya tersebut, mereka bertiga saling mengangguk satu sama lain.


Menundukkan kepalanya melihat Meisya penasaran, Isander juga membisikkan sesuatu kepada Meisya.


Pada awalnya wajah Meisya sangat enggan, tetapi begitu dirinya menatap keteguhan dari wajah Isander, Meisya mengangguk dan akan mengikuti rencana dari ayahnya.


Berikutnya, mereka berempat mulai menjalankan rencana Isander. Giya dan Nina bergerak perlahan menuju salah satu jendela yang mengarah ke tempat sungai atau ke arah utara. Kedua tangan mereka berdua sudah berada di dekat jendela, siap untuk melakukan sesuatu.


Meisya juga bergerak, dia mencium pipi Isander penuh rasa sayang dan cinta, kemudian dia melepaskan diri dari pelukan Isander. Gadis kecil ini berjalan dengan langkah kecilnya menuju sudut rumah pohon. Ketika berjalan matanya yang melihat ke arah Isander begitu enggan, dan hendak menangis.


Namun, mengingat kata-kata dari Isander tadi, Meisya menguatkan diri untuk tidak menangis. Tangannya yang kecil mengepal dan ia berharap di dalam hatinya untuk ayahnya semoga dia baik-baik saja.


Isander lega Meisya mengikuti kata-katanya, dia tersenyum ke arah Meisya sekilas, dan pandangan matanya beralih ke jendela.


Tangan kanan Isander terangkat ke arah kedua wanita itu dan menunjukkan sebuah hitungan mundur dari 3 detik.


Mereka berdua memfokuskan perhatiannya pada tangan Isander dan siap untuk melakukan aksi selanjutnya.


Begitu tangan Isander turun kembali ke bawah setelah berhitung menggunakan jarinya, lampu minyak Giya padamkan dan Nina membuka jendela dengan lebar.


Brak!


Jendela rumah pohon terbuka lebar dan mengeluarkan suara yang keras.

__ADS_1


Monster-monster yang ada di bawah langsung mengalihkan pandangannya ke arah rumah pohon.


Tiba-tiba siluet hitam keluar dari jendela dengan kecepatan yang cepat dan bayangan hitam tersebut terjatuh di tanah di kejauhan.


Pandangan mata monster ini terpusat kepada sosok tersebut dan meninggalkan rumah pohon.


Giya dan Nina melihat ini, kemudian Giya menggendong Meisya yang ketakutan ke dalam pelukannya. Mereka bersiap untuk keluar dari rumah pohon.


“Hei, Semuanya!“


Isander yang jatuh di tanah langsung berdiri di menghadap semua monster yang berkeliaran di sekitar bawah rumah pohon. Dia menyeringai mengejek ke arah monster-monster jelek ini.


Chuakkss!


Ada sekitar 30 monster ikan yang muncul di sekitar rumah pohon mereka semua meraung ke arah Isander seolah tahu mereka sedang diprovokasi.


“Ayo pukul aku! Pukul aku!“ Isander mengepalkan tangannya ke arah pipinya, berpura-pura ingin meninju pipinya. Ini suatu tindakan untuk memprovokasi lawan.


Melihat gerakan Isander, para monster merasa terprovokasi dan mereka semua mulai menyerang Isander secara serempak.


Chuaks!! Chuaks!


Setelah kata-kata tersebut jatuh, sosok Isander yang berdiri barusan menghilang dan dia muncul di depan monster yang ada di beberapa meter di depan.


Sebuah pukulan tiba-tiba muncul di samping monster ikan dan menghantam tubuh monster dengan sangat keras.


Boom!


Tubuh monster tersebut terhempas beberapa meter ke samping disertai dengan teriakan dan darah hitam yang menyembur ke segala arah.


Sebuah pukulan muncul sekali lagi di beberapa meter dari arah barat.


“Mati!“


Isander memukul monster di depannya dengan segenap tenaga. Berikutnya, monster yang dipukul tersebut terpental jauh menabrak monster lainnya.


Tak perlu ditanyakan lagi, monster tersebut mati dengan satu pukulan tinju yang keras dari Isander.


Merasakan bahwa hanya dengan kekuatan fisik tidak begitu efesien, Isander mulai memakai kekuatan lainnya untuk mengalahkan semua monster ini secara singkat.


Bola yang bersinar dan berkelap-kelip berwarna kuning muncul di kedua tangan Isander disertai angin yang menyedot beberapa daun mati yang ada di atas tanah terbang ke kedua tangannya.

__ADS_1


Kekuatan bola badai Isander memiliki sifat menyedot atau menarik.


Monster-monster ini diam tak bergerak, mereka menatap Isander dengan matanya yang menyala merah. Mata mereka yang terlihat ganas berubah menjadi lemah, kelompok monster ini memandang sosok Isander dengan penuh ngeri.


Whoosh!


Sosok Isander yang berdiri langsung menghilang hanya ada sebuah bayangan hitam yang meluncur cepat ke arah monster yang paling dekat.


Kedua bola yang berkelap-kelip berwarna kuning ini terlihat bergerak ke sana kemari dengan kecepatan yang tinggi, tak sengaja warna kuning ini membuat lintasan cahaya yang indah.


Krieettt!!!


Suara jeritan dari monster-monster ini terdengar diiringi dengan suara ledakan yang secara bertubi-tubi muncul dan memeriahkan hutan yang gelap.


Setiap kedua bola ini melintas akan ada monster yang mati dan hancur terkena efek destruktif dari bola yang memancara sinar kelap-kelip berwarna kuning.


Isander dengan senyuman lebar di wajahnya, ia sangat bersenang-senang membantai puluhan monster di depannya.


Pada saat ini, Giya, Nina, dan Meisya berhasil kabur dari rumah pohon, mereka berjalan secara sembunyi ke arah selatan.


Di kejauhan masih terdengar suara heboh, itu berasal dari rumah pohon tempat mereka bersembunyi sebelumnya.


Mereka semua tahu bahwa itu Isander yang tengah membantai para monster.


“Nina, kita berhenti di pohon ini, jangan terlalu jauh. Kita harus menunggu Isander selesai bertarung.“ Giya berdiri di belakang pohon sambil menggendong Meisya. Sesekali ia melihat ke arah utara untuk memeriksa kondisi sekitar.


Nina ikut berhenti di sebelah Giya, di tangannya terdapat tas Isander.


Dalam rencana, mereka bertiga disuruh untuk keluar dari rumah pohon selagi Isander mengalihkan para monster dan menghabisinya. Selain itu, Isander juga menginstruksikan kepada mereka bertiga untuk menunggu mereka di selatan dari rumah pohon, dia nantinya akan menemukan mereka di sana.


Apa yang sekarang mereka lakukan sudah sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Isander.


Giya dan Nina juga tidak boleh ikut membantu Isander melawan monster, mereka berdua diinstruksikan untuk fokus menjaga diri sendiri dan Meisya.


Di akhir kalimat, Isander mengucapkan sesuatu kepada keduanya, kalimat tersebut yang membuat kedua wanita ini menurut dengan arahan Isander sekaligus mereka tersipu.


“Bagaimana kondisinya, Giya?“ Nina mengambil alih Meisya dari Giya dan bertanya.


Giya sedang mengintip dari belakang pohon untuk melihat ke arah kawasan rumah pohon, masih terlihat cahaya kuning muncul di kejauhan.


“Tampaknya Isander belum selesai mengalahkan monster-monster Salmagtress itu."

__ADS_1


__ADS_2