SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 65: Tarian Tombak Hitam


__ADS_3

"Itu, bolehkah kamu turun? Monster sebentar lagi menemukan kita, aku harus melawannya."


"Eh?"


Wanita ini tersadar bahwa dirinya ada di pelukan pria tampan yang ia lihat.


Tidak tahu kapan dia sudah berada di pelukan pria ini dan berpindah jauh dari tempat dia terpojokkan tadi.


Turun dari pelukan Isander, wanita ini terdiam malu tidak tahu harus berbuat apa.


"Terima kas—"


Whoosh!


Tepat ketika dia ingin berterima kasih kepada Isander, tubuh Isander menghilang hanya meninggalkan angin yang berhembus kencang menerbangkan rambut hitam panjang terurai miliknya.


Memalingkan kepalanya, wanita ini melihat kumpulan monster sedang bertempur oleh seseorang, dia menebak itu adalah Isander.


Suara jeritan monster terdengar dari tempat di mana wanita ini berdiri, diam di balik pohon, wanita ini mengintip untuk menyaksikan Isander yang bertarung dengan monster-monster.


Sosok Isander beberapa kali terlihat sedang berpose menebas monster dengan senjata berwarna hitam di tangannya.


Kicauan listrik terdengar di tempat mereka bertempur disertai dengan busur listrik yang menyala ungu. Wanita ini tertegun dan terus menonton Isander yang membantai kumpulan monster.


Tebasan demi tebasan, tombak Isander memotong tubuh Beavger yang berada di dekatnya dengan halus tanpa adanya kesulitan sedikit pun.


Gerakan yang lincah membuat Beavger tidak mampu menyentuh satu inci dari tubuh Isander. Mereka benar-benar tidak memberikan perlawanan untuk Isander.


Dark Spear menari-nari di tangannya dengan ayunan yang indah dan elok, tanpa mengurangi keefektifan serangan yang dibuat. Semua monster terkena bilah tombak yang meluncur cepat ini tanpa meleset sedikitpun.


Isander kali ini benar-benar tampak seperti seorang pembunuh monster yang lihai dengan cara pembantaian yang anggun.


Tidak jauh dari tempat Isander melawan semua Beavger, Reza yang penasaran dengan apa yang dilakukan Isander, saat ini tengah terpana dengan tubuh yang kaku tak bergerak.


Reza mengintip di balik pohon dengan pandangan matanya ke arah puluhan meter di depannya, ke arah di mana pertempuran Isander dengan Beavger sedang berlangsung.


Apa yang dikatakan pria yang mempunyai gadis kecil ini ternyata tidak bohong dan membual, dia memang mengalahkan 3 Beavger sebelumnya, bukan direkayasa.


Sekarang Reza benar-benar percaya dengan Isander yang kuat.


Selama menonton pertarungan Isander dan kelompok monster Beavger, Reza benar-benar kagum dengan bagaimana Isander menyerang semua monster.


Dia bahkan membayangkan bagaimana dia berada di posisi Isander saat ini. Reza mengaku dirinya tidak sanggup, bahkan melawan satu Beavger saja dia ragu bisa mengalahkannya

__ADS_1


Sementara Isander, dia sama sekali terlihat tidak kesulitan dan kesusahan. Apa yang Reza lihat sekarang, Isander sangat menikmati pembantaian sepihak yang dilakukan olehnya sendiri.


"Tampaknya aku salah memilih target untuk dirampok ." Reza mengubah wajahnya menjadi sedih dan menyesal.


Bzztt!


Gelombang hitam yang diberkati oleh listrik ungu terbang dari atas membidik beberapa monster yang tersisa di tanah.


Kecepatan energi hitam ini sangat cepat sehingga monster-monster tidak diberi waktu untuk menghindar.


Boom!


Di detik berikutnya, ledakan keras tercipta disertai dengan hembusan angin yang cukup kuat. Pohon-pohon di sekitanya bergoyang-goyang diterpa oleh angin ini.


Bongkahan tanah berbagai ukuran beterbangan ke segala arah dan menabrak pohon dan sesuatu di sekelilingnya.


Wanita yang sedang bersembunyi pun langsung melindungi dirinya dengan bersembunyi di balik pohon tanpa mengintip lagi.


Dedaunan kering dan layu bisa dilihat olehnya terhempas dan beterbangan ke mana-mana, rambutnya pun ikut terbang ke arah depan hingga menutupi wajahnya.


Efek ledakan ini sangat luar biasa.


"Sial! Aku terlalu dekat mengawasinya! Puh!"


Serpihan tanah banyak menabrak tubuhnya tidak terkecuali mulut dan wajahnya.


Terlihat wajah Reza yang di penuhi oleh noda tanah, mulutnya bahkan kemasukan tanah.


Untungnya, dia tidak terluka. Seharusnya, ledakan tadi tidak berdampak besar kepada seorang Agter. Seperti yang kita tahu, Agter memiliki kualitas fisik yang jauh lebih baik dari manusia biasa.


Usai ledakan dan asap menghilang, sebuah lubang besar muncul di tempat di mana Isander dan Beavger bertarung.


Lubang ini sedikit lebih besar dari lubang yang Isander buat beberapa waktu sebelumnya.


Tidak ada siapa-siapa di lubang, hanya ada daging serta darah yang berserakan di dalam lubang dan area sekitar lubang. Sosok Isander menghilang bersamaan dengan kumpulan monster ini.


"Ke mana dia?"


Wanita yang diselamatkan Isander mencoba untuk memeriksa keadaan di medan pertempuran, tetapi dia tak menemukan sosok Isander.


Mengetahui ini, sebuah spekulasi yang buruk datang, jantung wanita tersebut berdetak cepat, dia menjadi sangat panik.


"Jangan bilang dia mengorbankan diri untuk mengalahkan semua monster demi aku?!" Wanita ini bergumam sembari menatap ke bawah, memandangi permukaan tanah yang dia injak.

__ADS_1


Matanya terlihat jelas menandakan dirinya sangat cemas dan panik. "Tidak, tidak, tidak, dia tidak mungkin melakukan itu demi aku. Aku harus mencarinya."


Pikiran wanita ini berusaha berjalan ke arah yang positif dan optimis, alias berprasangka baik. Dia berpikir Isander tidak akan mati dan dia masih hidup sekarang, mungkin sedang terluka dan membutuhkan bantuannya.


Pada saat dia melangkahkan kaki kanannya ke depan, tubuhnya yang ingin bergerak ke depan tiba-tiba berhenti dan tertahan lantaran ada tangan yang menahan pundaknya.


"Mau ke mana?"


Suara Isander terdengar di telinga wanita ini, membuat wanita tersebut tidak bereaksi dan membeku diam tak bergerak.


Melihat wanita ini yang diam, seperti patung di museum, Isander yang berdiri di belakang wanita ini hanya bisa tertawa kecil.


"Kamu tak perlu mencari, aku ada di sini, di belakang kamu."


Setelah suara Isander terdengar untuk kedua kalinya, wanita ini langsung tersadar dan dengan sigap membalikkan badan ke belakang.


"Ka–kamu?!" Mata wanita ini membesar, dia menatap Isander dengan perasaan terkejut yang tak terbayangkan.


Isander menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Kamu mencariku, kan?"


Wanita ini tidak bisa berkata dan hanya menatap Isander dengan ekspresi yang bingung sekaligus tercengang.


Di saat yang sama, Giya, Nina, dan lainnya berjalan menuju ke arah Isander dan Reza pergi.


Barusan mereka mendengar suara ledakan yang keras, angin yang bertiup kencang pun sampai terasa meski tidak terlalu parah.


Giya sampai harus memeluk Meisya di pelukannya agar dentuman yang menggelegar tidak menyakiti gendang telinga Meisya.


Walaupun bukan anak dia, Meisya sudah dianggap oleh Nina dan Giya sebagai keponakan, dan mereka berdua menganggap dirinya sendiri seorang Tante atau Bibi.


"Reza!"


Ketika Kila melihat seseorang duduk di atas tanah, dia langsung mengenali siapa orang tersebut, kemudian berlari cepat ke orang itu.


"Kila?!" Mendengar suara Kila dari belakang, Reza seketika menoleh untuk melihat orang yang memanggilnya.


Benar saja, itu adalah Kila, pasangannya.


Kila segera membantu Reza berdiri dan membersihkan noda tanah dan debu yang menempel di baju serta tubuhnya.


"Mengapa kamu bisa begini?" Kila bertanya dengan cemas.


Reza menampilkan senyum masam, dan menjawab, "Aku terkena gelombang angin dari ledakan. Kamu juga mendengar suara ledakan itu, bukan?"

__ADS_1


__ADS_2