SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 98: Kebangkitan Dua Gadis


__ADS_3

"Sungguhan? Apakah itu benar-benar dapat membangkitkan kekuatan Agta?" tanya Reza dengan wajah yang terkejut. Dia bahkan berdiri sambil melotot ke arah dua kartu yang dipegang oleh Reren dan Helen.


Isander mengangguk dan dia meminta Reza untuk kembali, dia menatap ke semua anggota kelompoknya dan menjawab, "Kartu ini hampir sama dengan kartu yang kalian pakai untuk membangkitkan elemen pada kekuatan Agta kalian semua. Jadi, kartu ini punya kemampuan untuk membangkitkan kekuatan Agta dari seseorang dan itu bersifat random dan tak bisa dipilih. Lagi-lagi sama dengan kasus saat kalian menggunakan kartu untuk mendapatkan elemen alam."


Mereka semua terdiam, mata mereka terfokus ke kartu yang diberikan oleh Isander dan digenggam oleh kedua gadis remaja.


Pemimpin mereka ini sangat luar biasa ajaib, bahkan dapat memiliki benda yang sangat kuat, mampu membangunkan potensi kekuatan Agta dari orang normal yang belum membangkitkan kekuatan Agta.


Jelas sekali, mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa mengetahui asal-usul kekuatan Isander dan segala benda luar biasa yang dia punya. Mereka tidak punya kuas ataupun kemampuan untuk mengetahui hal itu semua.


Helen dan Reren yang mengerti dengan seberapa hebatnya kartu yang mereka pegang, mereka makin mengagumi Isander di dalam hati masing-masing.


Setelah mendengarkan penjelasan Isander dan suruhan Isander untuk menempelkan kartu di bagian pada tubuhnya, mereka mulai melakukan apa yang dikatakan oleh Isander dan berharap apa yang Isander bilang adalah sebuah kebenaran.


Begitu kedua kartu itu ditempelkan di bagian tubuh dua gadis remaja ini. Reren menempelkan sebuah kartu sebesar telapak tangannya ke pergelangan tangan kirinya dan Helen di pergelangan tangan kanannya layaknya sebuah jam.


"Woahh!"


"Wow! Terang sekali!"


"Mataku sakit!"


"..."


Semburan sinar lampu berwarna putih menerangi seluruh ruangan, bahkan sampai ke luar rumah.


Cahaya yang terang ini bertahan selama beberapa hitungan detik dan menghilang setelahnya.


Mereka semua yang menutup mata mulai membuka matanya dan melihat sosok kedua gadis remaja yang melakukan ritual kebangkitan instan.


"Kalian berhasil!" teriak Giya dengan kaget.


Pada saat ini, Reren dan Helen berdiri di antara mereka dengan penampilan yang berbeda.


Reren berdiri dengan memegang sebuah senjata perisai bulat yang besar di kedua tangannya. Perisai atau tameng ini terlihat keren dan kokoh, mengkilap saat terkena cahaya.


Sementara itu, Helen mencengkeram sebuah senjata berupa busur berwarna hitam yang terbuat dari bahan besi yang mengkilap berwarna silver atau perak.


Mereka berdua berhasil membangunkan kekuatan Agta tanpa sedikit pun kendala.


Isander puas dengan keberhasilan mereka dan dia menghela napas. Kartu yang diberikan sistem bukanlah barang palsu yang menipu.


"Tameng yang indah dan kuat!"


"Busur? Aku jarang melihat ada Agter yang memiliki kemampuan yang sama."


"Reren, dua perisai ini terlihat tangguh, apakah aku boleh mengetuknya?"


"..."


Melihat mereka berdua sukses membangkitkan kekuatan Agta, Giya dan lainnya segera menyerbu keduanya dan melihat kebangkitan Agta mereka berdua yang berupa Weapon Badge.


Tidak mengapa mereka membangkitkan kemampuan Weapon Badge, terpenting itu berguna bagi mereka dalam membunuh monster yang ada di dunia ini.


Isander memindai dan memeriksa kekuatan yang mereka bangunkan. Bisa dikatakan, kebangkitan mereka berdua ini tidak sepenuhnya kekuatan yang biasa, kekuatan Agta keduanya unik.


Dua perisai yang dipegang oleh Reren adalah bentuk atau manifestasi dari kekuatan Agta miliknya, dan Giya mengonfirmasikan bahwa jarang sekali ada Agter yang punya kekuatan Agta perisai yang berjumlah dua.


Weapon Badge yang memiliki jumlah senjata lebih dari satu umumnya berjenis belati atau pedang kecil. Keduanya pun tidak banyak ditemukan pada Agter. Termasuk langka.


Kekuatan Agta Reren dikatakan unik dan langka dibandingkan dari Agter yang lain.


Sementara Helen, sebuah busur yang menjadi perwujudan dari kekuatan Agta miliknya termasuk Weapon Badge langka. Tak banyak Agter yang punya Weapon Badge berupa panah. Biasanya, Agter membangkitkan Weapon Badge berupa senjata tajam jarak dekat atau Melee.


Setelah mereka berdua melihat-lihat bentuk kekuatan Agtanya, senjata mereka dikembalikan ke dalam lencana yang menempel di pergelangan tangan mereka masing-masing.


"Reren, Helen, ambil kartu ini dan tempelkan ke lencana kalian." Isander mengeluarkan kartu yang berbeda pada Reren dan Helen.


Mengambil kartu di tangan Isander, Reren dan Helen melihat sejenak kartu yang diberikan Isander.


Giya dan anggota kelompok lainnya langsung mengenal kartu yang dipegang mereka berdua, itu adalah kartu pembangkit elemen pada kekuatan Agta.


Mereka semua tersenyum gembira ketika Isander memberikan kartu tersebut, keduanya memiliki kekuatan yang sudah bisa mereka bawa ke luar tanpa khawatir. Kedua gadis remaja ini harusnya sudah bisa melindungi dan menjaga dirinya sendiri.


Meskipun sedikit merasa iri kepada mereka berdua, sebagai anggota kelompok mereka turut senang.


Mengikuti ucapan Isander, keduanya dengan lekas menempelkan kartu di tangannya ke atas lencana di tubuh mereka berdua dan semburan cahaya terang berwarna-warni memenuhi ruangan sampai ke luar rumah.

__ADS_1


Jika dilihat dari luar, rumah ini memancarkan cahaya warna-warni bagai lampu diskotik yang meriah.


Lampu yang bersinar menyilaukan ini pun tak bertahan lama selama hitungan detik, mirip dengan lampu putih yang sebelumnya bersinar sangat terang.


Usai sinar warna-warni itu menghilang, kedua gadis ini entah mengapa tiba-tiba berdiri sembari menunjukkan senjata Agta milik mereka berdua.


Pada sekarang ini, dua perisai yang digenggam di kedua tangan Reren memiliki duri hijau yang menempel di sekujur perisai dan itu terlihat begitu tajam.


Busur milik Helen pun berubah warna menjadi biru es, dan anehnya di tangan kiri Helen terdapat panah es yang mengeluarkan asap dingin.


Menyaksikan penampilan mereka berdua, Isander tersenyum begitu lebar karena hatinya merasa senang sekaligus lega. Kebangkitan mereka berdua sangat-sangat berhasil.


"Reren, jelaskan kemampuan kamu," perintah Isander dengan suara yang serius. Dia berkata sebelum Giya dan lainnya bereaksi, mereka semua masih terpana.


Dengan senyum kebahagiaan yang Reren tunjukkan, dia menerangkan kemampuan kedua perisainya.


Reren menjelaskan bahwa kedua perisainya dapat mengeluarkan duri tajam yang memiliki fitur memanjang dan memendek, bisa diatur sesuai dengan keinginan Reren.


Apabila duri berwarna hijau rumput itu rusak, dia bisa memulihkannya dengan cepat.


Perisai bulat dengan diameter kurang lebih 100 sentimeter ini terbilang sangat kuat, lebih lagi memiliki unsur elemen tanaman karena durinya berasal dari tanaman.


Dengan jumlah perisai yang dipegang Reren, itu bisa digunakan untuk defensif dan ofensif. Beruntung sekali Reren mendapatkan kemampuan yang begitu fleksibel di dalam pertempuran.


"Helen, giliranmu."


Dilanjutkan dengan Helen yang membeberkan mengenai kemampuan senjata Agta yang telah dibangkitkan olehnya.


Busur miliknya diberkahi dengan elemen es yang di mana anak panahnya bisa diciptakan dari es, selama Helen tidak kelelahan karena kekurangan energi Agtanya, dia bisa memproduksi es panah ekslusif untuk dirinya sendiri.


Anak panahnya bisa meledak saat menancap pada tubuh monster, mencabik-cabik daging monster dari tancapan anak panah, misalnya anak panah itu masuk ke dalam perut monster, anak panah akan meledakkan bongkahan es sehingga monster tersebut hancur dari dalam.


Jika tidak masuk atau menembus ke dalam tubuh, anak panah ini bisa meledak dan membekukan bagian tubuh monster yang tertancap anak panahnya, berguna untuk melumpuhkan dalam waktu yang sebentar.


Secara keseluruhan, kekuatan Agta kedua gadis ini termasuk kemampuan yang kuat dan mematikan.


Giya, Reza, dan lainnya merasakan kekuatan mereka agak hambar, tetapi setelah dipikir-pikir lagi, kekuatan yang mereka punya tidaklah buruk.


Meskipun Helen dan Reren punya kemampuan yang terbilang kuat, tetapi sebenarnya belum sekuat itu lantaran tingkatannya masih berada di tingkat Agter Senior Bintang Tiga.


Mereka membutuhkan banyak pelatihan dan pengalaman dalam membunuh monster. Mental mereka bahkan belum terbiasa dalam membunuh monster.


Dengan demikian, keesokan harinya, mereka semua mengajak Reren dan Helen untuk pergi membantai banyak monster.


"Ambil ini," ucap Isander sembari menyerahkan sebuah jam tangan dan tas.


Benda tersebut adalah tas penyimpanan luar angkasa dan jam tangan anggota.


Helen dan Reren mendapatkan kedua barang itu karena sudah resmi menjadi anggota kelompok Isander. Sistem memberikan barang tersebut apabila ada anggota baru yang direkrut.


Kedua gadis remaja ini menangis setelah menerima semua hadiah yang diberikan oleh Isander.


Mereka sangat berterima kasih pada Isander karena telah mengubah hidup mereka dan memberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.


Dari dalam hatinya yang paling dalam, mereka berdua mengucapkan terima kasih yang ditujukan untuk Isander.


Isander dengan gegas menenangkan mereka berdua untuk tidak lagi menangis, dia menerima ucapan terima kasih keduanya.


Setelah hati mereka tenang, Isander mulai memberikan sebuah peraturan dasar tentang kelompoknya, yakni tak boleh berkhianat, ikuti arahannya, dan tidak boleh menyakiti anggota kelompok sendiri.


Tujuan kelompok tidak lupa dijelaskan oleh Isander kepada mereka berdua supaya jelas untuk apa kelompok mereka dibentuk.


"Kami berdua mengerti, Kak Isander."


Dalam sekali penjelasan, mereka mengerti ucapan Isander dan segala sesuatu apa yang dia katakan.


"Kalau kalian mengerti, lebih baik kalian masuk ke dalam dan tidur, besok kalian berdua akan berlatih menggunakan kemampuan Agta baru kalian," Isander berkata kepada kedua gadis sambil menunjuk ke arah kamar mereka berdua.


"Baik, terima kasih, Kak Isander."


"Selamat malam, Semuanya!"


Setelah mengatakan itu, keduanya pergi ke dalam kamar berniat untuk tidur dan beristirahat.


"Mimpi indah kalian berdua."


"Jangan gugup dan santai, kosongkan pikiran jika sulit tidur."

__ADS_1


Giya, Nina, dan Kila begitu perhatian kepada kedua gadis ini. Menjawab ucapan selama malam dari dua gadis disertai dengan kata-kata yang baik dan pengingat.


Sebagai wanita, mereka berdua memiliki rasa perhatian dan khawatir satu sama lain, wanita adalah makhluk yang lembut.


Wajar jika mereka berdua bersikap seperti itu ke Reren dan Helen.


Tak lama berselang usai mereka berdua masuk ke kamar, semua wanita yang duduk di ruang mereka berkumpul pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.


Tersisa Reza dan Isander, keduanya mengobrol sesaat dan Reza meninggalkan Isander karena Kila memanggilnya.


Isander tahu apa yang ingin mereka berdua lakukan.


Malam ini Isander tidak akan tidur melainkan pergi ke ruang Cenagon yang ada di dalam tubuhnya, entah di mana letak sebenarnya ruang gelap tersebut pada tubuhnya.


Ketika kesadaran Isander berada di ruang Cenagon berada, sosok makhluk dengan warna hitam sangat gelap menyambutnya begitu ramah, Cenagon makin lama makin ramah kepadanya.


"Tampaknya kamu sedang senang hari ini," ucap Cenagon yang begitu tiba-tiba.


Berjalan perlahan ke arah singgasananya, Isander duduk di atas singgasana dan membalas, "Benar, aku mendapatkan dua anggota kelompok lagi yang kuat."


"Oh, aku tahu. Kelihatannya, kamu punya sesuatu yang spesial di dalam tubuhmu."


"Maksudnya?" Isander menoleh melihat mata Cenagon yang hanya terlihat warna lilac pada kepala berwarna hitam pekat.


Cenagon terdiam beberapa saat. "Kartu, dari mana kartu yang kamu berikan itu?"


"Eh?" Isander terkejut dan bingung dengan perkataan Cenagon. Ada suatu yang Isander tahu kali ini.


Benar, Cenagon tidak tahu tentang keberadaan sistem meski dia direkrut oleh sistem untuk menjadi Mode Beast miliknya.


Tidak tahu bagaimana caranya sistem ini memaksa Cenagon untuk menjadi bagian dari Isander tanpa mengenalkan nama dan siapa sistem sebenarnya.


Bisa saja sistem tidak pernah memberi tahu tentang dirinya sendiri, membawa Cenagon secara diam-diam, bahkan Cenagon sendiri tidak tahu mengapa dirinya ada di tubuh Isander.


"Mengapa kamu terkejut?" kata Cenagon yang heran dengan reaksi Isander begitu dia melontarkan pertanyaan tersebut.


"Tidak apa-apa." Isander melambaikan tangannya. "Kartu itu adalah kemampuan bawaanku, mampu membangkitkan kekuatan yang ada pada diri seorang manusia."


"Keren sekali!" Cenagon memuji Isander tanpa tahu kebenaran sebenarnya.


Cenagon bahkan merasa Isander makin hebat karena kekuatan yang dimiliki Isander sendiri.


Setelah beberapa saat mengobrol dengan Cenagon, Isander mulai melakukan tujuannya untuk ke sini, yakni menggunakan kartu yang meningkatkan level kemampuan 1 level.


Sekarang dia punya 2 kartu tersebut, dia berniat meningkat kemampuannya yang sudah diperoleh olehnya.


Dia langsung memindahkan kesadarannya ke ruang sistem, memilih kemampuan yang Isander miliki untuk ditingkatkan.


Akhirnya, Isander memilih untuk meningkatkan kemampuan Wind Barrier yang masih level D ke Level C, dan juga kemampuan Baryon Cenagon ke Level B.


Akan tetapai, usai kemampuan Wind Barrier berhasil ditingkatkan ke level C, kemampuan Baryon Barrier gagal dilakukan.


[Baryon Cenagon gagal ditingkatkan! Butuh 2 Kartu Peningkatan 1 Level untuk meningkatkan kemampuan!]


"Mengapa kamu tidak bilang, Sistem?!"


Tahu akan hal ini, Isander tidak akan menggunakan satu kartu lainnya untuk meningkatkan kemampuan Wind Barrier.


Kemampuan Baryon Cenagon miliknya ternyata lebih kuat dibandingkan dengan kemampuan lainnya yang rata-rata dapat ditingkatkan hanya dengan 1 kartu saja.


Sistem tidak muncul kembali setelah dimarahi oleh Isander, dia kabur dan diam.


Jujur saja, Isander sangat menyesal karena sudah menggunakan Kartu Peningkatan 1 Level ke Wind Barrier miliknya yang di mana dia jarang menggunakan kemampuan ini.


Maka dari itu, Wind Barrier berada di tingkat yang rendah dibandingkan kemampuan lainnya.


Jika saja Isander tahu hal ini lebih awal, dia tidak akan memakai kartu tersebut.


"Seharusnya, jika Baryon Cenagon punya persyaratan peningkatan yang lebih banyak, kemampuan setelah ditingkatkan akan jauh lebih kuat," gumam Isander di dalam hatinya.


Secara logika itu benar. Makin tinggi dan sulit dalam meningkatkan kemampuan, hasil kemampuan yang ditingkatkan tersebut makin kuat.


Setidaknya, sebanding dengan usaha untuk bisa membangkitkan kemampuan.


Isander kembali ke ruang yang di mana Cenagon tinggal.


"Mengapa wajahmu begitu gelap? Bahkan lebih gelap dari wajah hitamku."

__ADS_1


__ADS_2