SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 56: Kebenaran Pak Tole


__ADS_3

“Apa kalian tidak apa-apa?“ Isander yang telah sembuh dari lukanya menghampiri mereka bertiga yang bersembunyi di balik pohon.


Sebelum ke sini, Isander berdiri di gerbang pemukiman untuk memantau keadaan di sekitar sembari memulihkan lukanya secara total.


Butuh waktu lebih dari 10 menit lamanya untuk menyembuhkan luka yang ada pada tubuhnya. Total waktu yang diperlukan untuk menyembuhkan secara penuh luka di tubuhnya adalah 1 jam lebih.


Sembuh pun karena dibantu regenerasi tingkat rendah pada tubuhnya sehingga itu tidak terlalu memakan waktu yang lebih lama.


Natural Healing Isander tidak begitu kuat pada awal penyembuhan luka karena itu luka yang didapatkan di awal termasuk luka yang berat dan fatal.


Tak heran apabila di awal proses penyembuhannya berjalan lama dan dampak pada lukanya sedikit, tetapi ketika sudah di tahap luka yang didapatkan sudah kecil, penyembuhannya menjadi efektif dan cepat disembuhkan secara bertahap.


“Isander!“


“Ayah!“


Begitu melihat orang yang berbicara, Giya, Nina, dan Meisya menyebut nama Isander dan memeluknya satu per satu.


Giya dan Nina tak sadar bahwa Isander tidak memakai baju atas, mereka berdua memeluk Isander dengan erat, Meisya digendong oleh Isander dan membiarkan mereka semua memeluknya.


Setelah melepaskan pelukan pada Isander, Giya dan Nina baru sadar Isander tak mengenakan pakaian apa pun di tubuh bagian atasnya.


Dia hanya memakai celana dan menggendong tas di punggungnya. Tubuh atas yang penuh otot indah terlihat oleh keduanya, rasa malu muncul di hati keduanya dan mereka memalingkan pandangannya ke bawah.


Melihat reaksi mereka yang aneh, Isander tersenyum dan membiarkan mereka. Matanya beralih ke Meisya yang memiliki mata yang sembab dan rasa kekhawatiran di wajahnya.


Ketika memeluk Isander, Meisya sempat menangis sesaat dan air mata keluar dari matanya membasahi sedikit tubuh Isander.


“Kalian baik-baik saja, kan? Tak ada monster yang keluar dari pemukiman, bukan?“ tanya Isander kepada kedua wanita yang tersipu.


Mendengar pertanyaan Isander, Giya mengangkat kepalanya dan mengangguk, rona merah di pipinya mulai pudar, “Tidak ada, kami aman di sini.“


“Aku tidak melihat ada monster yang muncul dari pemukiman. Kami di sini tidak diserang oleh monster,” tambah Nina sambil menatap wajah Isander. Dia tidak berani menatap tubuh Isander.


Isander merasa lega, menghembuskan napas, dan mengangguk. “Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini!“

__ADS_1


Setelah Isander mengajak mereka semua pergi dari area pemukiman, mereka berjalan ke arah timur tidak tahu ke mana mereka sebenarnya pergi.


Di perjalanan, Isander memakai baju yang ada di tas yang satunya lagi, tas ini sempat Isander titipkan sebelum bertarung dengan Spidgarets. Terdapat beberapa potong baju Meisya dan satu potong baju Isander.


Barang bawaan mereka banyak, bahkan Giya dan Nina membawa dua tas masing-masing dari mereka, tas tersebut kebanyakan berisi bukti dirinya pernah membunuh monster. Selain itu, ada beberapa barang penting, tetapi tidak begitu banyak, barang yang tak penting ditinggalkan di rumah oleh mereka.


“Spidgarets monster tingkat A? Apakah ada monster yang lebih tinggi lagi tingkatannya?“ tanya Isander setelah mendengar ucapan Giya yang memberi tahu musuh yang melawannya barusan.


Perihal luka, Isander tidak memberi tahu mereka soal itu. Dia sudah berjanji tidak terluka ketika kembali.


Giya menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, menatap mata Isander dengan pandangan yang serius dan menjawab, “Benar. Di atas tingkat atau level A ada level S dan Level SS yang di mana mereka merupakan monster paling kuat. Aku tak bisa menerangkan dengan detail bagaimana kekuatan dari monster tersebut, yang pasti mereka dengan mudah menghancurkan sebuah kota dan bahkan negara sekalipun, dengan syarat apabila tidak ada Agter yang kuat.“


“Meskipun sangat kuat, monster yang seperti itu jarang sekali berurusan dengan manusia seolah mereka memiliki pikiran dan akal. Jumlahnya juga sedikit, hanya ada beberapa makhluk saja, jumlahnya tidak sampai puluhan,” lanjut Nina yang memiliki informasi tentang hal tersebut juga.


Informasi ini membuat Isander merenung, dia menyimpan informasi ini di kepalanya dan akan dia ingat baik-baik. Tidak dia duga bahwa monster tadi masih belum terlalu kuat jika dibandingkan oleh monster tingkat atas.


Namun, Isander menjadi skeptis dengan para umat manusia, monster tingkat A saja sudah sekuat itu, bagaimana dengan tingkat S dan SS, manusia benar-benar akan kewalahan.


Untungnya, monster-monster kuat tersebut tidak sering bergerak, dan kebanyakan dari mereka tidak aktif.


“Ada monster tingkat A yang jauh lebih kuat dari Spidgarets, dia lebih besar dan lebih banyak, yaitu Wolfgarets, monster tingkat A yang selalu berkelompok ketika menyerang manusia. Mereka memiliki kemampuan spesial, itu adalah racun hitam yang terkandung pada cakarnya yang dapat membuat manusia lumpuh seketika.


Wanita-wanita ini memang berasal dari Kota Garuda, Isander yakin sekali, informasi yang diberikan bukan informasi yang diketahui banyak orang luar yang tak tinggal di dalam kota.


Nina mengangguk membenarkan pernyataan yang diucapkan oleh Giya dan dia menambahkan, “Di daerah barat dari Pulau Jawa jarang ditemukan Wolfgarets, mungkin saja tidak ada. Di daerah ini kebanyakan ditinggali oleh banyak monster rendah. Namun, bukan berarti tidak ada monster yang kuat, contohnya Spidgarets muncul di sini.“


“Akan tetapi, aku tidak mengerti mengapa Pak Tole bisa berubah seperti itu. Aku sama sekali tidak tahu. Apakah ada yang berkhianat di dalam pemukiman?“ Giya mengalihkan kepalanya ke arah mereka berdua yang berjalan beriringan. Wajahnya sangat bingung.


“Monster itu, sebelum kematiannya sempat kembali ke kesadaran Pak Tole, dia memberiku informasi tentang dirinya sendiri,” ucap Isander yang memiliki ekspresi yang menyesal dan kesal secara bersamaan.


Sebelum monster itu mati sepenuhnya setelah terkena ledakan dahsyat, kepala dari monster ini masih bisa bergerak meski tidak bisa melihat, hanya mulut yang bisa berbicara.


Saat itu, Isander terkejut dan waspada, ingin menghancurkan kepala monster tersebut.


Namun, kepala monster ini mengeluarkan suara yang mirip sekali dengan Pak Tole sehingga membuatnya tidak jadi melancarkan niatnya.

__ADS_1


Berikutnya, suara Pak Tole tersebut memberikan informasi perihal kejadian sebelumnya dan mengapa semua ini terjadi.


Penyebabnya adalah karena keegoisan.


“Apa itu?!“


“Beri tahu aku, Isander.“


Keduanya terkejut, dan menjadi sangat penasaran. Mereka tidak menduga manusia yang telah menjadi monster bisa kembali sadar dari efek dominasi virus.


“Pak Tole meminta maaf kepadaku dan kepada kalian berdua sebagai orang yang dekat dengannya atas kesalahan yang telah dia perbuat. Semua kejadian ini disebabkan oleh keegoisan dan rasa iri Pak Tole terhadap Pak Ghandi. Pak Tole diam-diam bersekutu dengan seseorang yang memakai tudung hitam, dia diberikan sebuah virus yang dapat membuatnya menjadi kuat demi mendapatkan jabatan Ketua Pemukiman dengan cara membunuh Pak Ghandi.


“Namun, itu tidak sesuai dengan harapannya, virus yang katanya aman itu membuat tubuh dan perasaannya dikendalikan. Pada akhirnya, semua ini terjadi,” jelas Isander pada mereka berdua. Suara Isander terdengar kecewa. Dia menggelengkan kepalanya usai mengungkapkan semua itu.


Pak Tole egois karena ingin menjadi seorang yang dihormati dan disegani oleh para warga di pemukiman. Selama ini dia hanya menjadi seorang penjaga pemukiman yang kurang dihargai oleh orang-orang. Jauh berbeda dengan Pak Ghandi yang selalu dihormati oleh semua orang.


Selama bertahun-tahun dia hidup di Rain Settlement, rasa iri dan dengki terus menumpuk sampai akhirnya Pak Tole melakukan semua ini.


Dia ditipu oleh orang misterius yang memberinya virus dan hancur lantaran penyakit hati yang dia punya.


Selama 1 menit berbicara dan mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi, monster tersebut kehilangan kesadaran Pak Tole.


Pada saat itu, Isander membakar kepala monster tersebut hingga mati sepenuhnya.


Sebuah kebenaran yang sangat menyesakkan.


Mata kedua wanita ini langsung membesar, dia tidak pernah berpikir orang tua yang selalu menyapa mereka dengan baik memiliki rasa iri di hatinya dan dengan tega melakukan semua ini kepada orang-orang yang tidak bersalah.


Ketiganya hanya diam dan terus berjalan. Di kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan tentang Pak Tole yang menjadi jahat.


Giya dan Nina tidak tahu harus berbicara apa, mereka saat ini sangat kecewa.


Mereka kira peristiwa ini semua dikarenakan oleh monster yang menginfeksi para warga dan termasuk Pak Tole.


Fakta tidak menyebutkan hal itu.

__ADS_1


“Pak Tole, aku benar-benar membencimu.“ Mata Giya terpejam dan menghadap ke bawah, air mata menetes dari mata Giya dan jatuh ke atas rumput.


Pria tua yang sudah dianggap oleh Giya sebagai orang tua yang baik ternyata sebenarnya memiliki hati yang buruk. Menghancurkan pemukiman hanya demi keinginannya untuk dihormati oleh orang-orang.


__ADS_2