
Sebuah bola yang sempat semua anggota timnya lihat kini telah bersatu dengan tubuh Isander.
Reza penasaran dengan bola tersebut dan melontarkan pertanyaan lain, "Apakah tidak ada efek lain selain meningkatkan kekuatan tubuh?"
"Tidak ada. Ini murni memperkuat tubuh saja," jawab Isander dengan jujur.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Isander. Orb of Unknown yang membuat fisiknya bertambah kuat karena dia memperkuat kemampuan Magnetar Body.
Mendengar jawaban Isander, Reza kelihatan kecewa dengan berjalan dengan sedikit lesu. "Semoga saja aku juga mendapatkan Orb of Unknown."
"Semoga saja."
Setelah percakapan tersebut, mereka terus berjalan menuju ke arah rumah dengan kecepatan yang hampir konstan.
Perbincangan terus berlanjut dengan tema yang berganti-ganti.
Apabila mereka diam, perjalanan ini terasa sangat membosankan karena tidak ada apa-apa, bahkan monster saja jarang muncul.
Sekalinya muncul, mereka semua tidak bergerak lantaran Magtash dan Glatash akan mengurusnya jika ada belasan monster yang menyerang kelompok mereka.
Monster yang jumlahnya lebih dari belasan akan dibantu oleh Helen dan Reren, juga oleh Reza dan yang lainnya jika level monster lebih tinggi.
Sementara itu, Isander hanya diam dan fokus menggendong Meisya yang sedikit mengantuk.
Kyakk!
Glatash yang terbang di atas mereka semua tiba-tiba mengeluarkan suara yang nyaring, membuat semua orang menjadi siaga dan melirik ke sekitar.
"Ada apa? Mengapa Glatash berbunyi?" tanya Giya yang berwaspada sambil menatap Isander yang tetap berjalan dengan tenang.
"Dia menemukan sesuatu yang menarik, tenang saja," Isander tersenyum dan menjawab dengan sikap yang tenang.
"Menarik?"
Semua anggota kelompoknya bingung dengan apa yang dikatakan oleh Isander dan mereka saling memandang satu sama lain.
Brak!
Sebuah suara yang keras berbunyi di belakang mereka.
Reza dan yang lainnya dengan lekas membalikkan tubuhnya untuk melihat ke belakang.
Di dalam bidang penglihatan mereka, pepohonan yang ada di belakang mereka menjadi hancur karena ditabrak oleh 3 ekor Rhigarets besar.
Mengetahui monster besar ini terus berlari lurus ke arah mereka, segera semuanya berpencar menghindari cula mereka yang besar dan tajam.
Namun, begitu mereka menghindar, cula itu tidak berhenti dan terus berlari maju tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.
Sementara itu, di depan mereka terlihat sosok Isander yang berjalan tanpa melihat ke belakang.
Sontak mereka menjadi sangat panik dan langsung meneriaki Isander untuk menghindar.
"Isander, minggir!!"
"Lihat ke belakangmu, Isander!!"
"Isander, melompat ke samping sekarang!"
"..."
Semua pengingat yang mereka teriaki sampai di telinga Isander.
Akan tetapi, Isander masih tidak mengubah jalannya dan terus berjalan lurus.
Melihat ini, semua orang menjadi panik dan ingin menghentikan monster-monster level A ini.
Sayangnya, itu sudah terlambat dan posisi ketiga monster Rhigarets sudah sangat dekat.
Dengan perasaan yang pasrah, mereka semua hanya bisa memejamkan matanya dan tidak sanggup melihat Isander ditabrak oleh ketiga Rhigarets yang besar.
Ujung cula yang tajam itu dengan tegas diarahkan ke punggung belakang Isander tanpa ada sedikit pun keraguan.
Begitu ujung cula tersebut ingin menyentuh tubuh Isander, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Bang!
Ketiga Rhigarets tersebut terpental sebelum serangannya mengenai tubuh Isander.
Sosok ketiganya terhempas jauh ke langit dengan darah yang berhamburan di lintasan terbang mereka.
Suara yang berbunyi nyaring tersebut membuat semua anggota Isander terkejut dan bergegas untuk membuka matanya.
"Ini ...."
Mereka melihat di langit yang tinggi, Glatash dan Magtash menangkap seekor monster Rhigarets yang kepalanya hancur oleh sesuatu.
Kedua Rhigarets melayang di udara dan terlihat akan jatuh di kejauhan.
Begitu mereka memindahkan pandangannya ke arah Isander.
Sosok Isander masih berjalan dan meninggalkan mereka tanpa melihat ke belakang, seolah tiga ekor Rhigarets tidak pernah menyerangnya sama sekali.
__ADS_1
Mata mereka semua berkedip hampir bersamaan. Reza menggosok matanya dan kembali melirik Isander dengan sorot mata yang tidak percaya.
Selain Reza, Giya dan yang lainnya pun melakukan hal yang sama, melirik Isander dengan keterkejutan yang luar biasa.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan ketiga monster itu?" Giya menoleh melihat Kila dan bertanya penuh penasaran.
Kila menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Tidak tahu, aku tak melihat apa yang terjadi barusan."
"Sesuatu ada yang melindungi Isander," celetuk Nina dengan wajah yang serius.
"Hah?"
Semua orang seketika melihat Nina dengan wajah yang kaget dan tak mengerti.
Nina mengeluarkan napas panjang, dan dia melanjutkan, "Mirip dengan pelindung angin yang pernah Isander gunakan pada kita. Namun, pelindung ini tak kasat mata dan punya kekuatan yang lebih besar dalam menahan serangan."
Kalimat Nina membuat semua terheran-heran dan menatap Isander makin jauh dengan ekspresi yang dalam.
"Dia benar-benar misterius," gumam Giya sambil melirik punggung Isander yang makin menjauh.
"Jangan bilang itu kemampuan yang diberikan oleh Orb of Unknown?"
"Mungkin, aku juga tidak tahu." Nina menaikkan kedua bahunya memandang Reza.
Kila tiba-tiba menepuk bahu Reza dan berkata, "Jangan memikirkan tentang bola aneh itu. Isander sudah mengatakan pernyataan yang sesungguhnya. Lebih baik kita pergi sekarang."
"Um, oke!"
Dengan ajakan Kila, semuanya kembali berjalan menyusul Isander tanpa peduli bangkai monster yang mendarat entah di mana.
Sementara Glatash dan Magtash membawa salah satu bangkai Rhigarets ke beberapa ratus meter di depan Isander untuk menyantap daging monsternya.
Kedua anak Burung Suphaast punya nafsu makan yang banyak dan perutnya sangat-sangat besar.
Tidak tahu apakah itu perutnya punya ukuran besar atau sistem pencernaannya yang cepat dalam menyerap sesuatu yang penting di daging monster.
Tim Isander kembali berkumpul dan berjalan beriringan.
Reza dan anggota kelompok yang lain bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada monster dan Isander sendiri.
Isander menjawab bahwa itu karena dia punya banyak sekali kemampuan yang belum terbuka.
"Benar, aku punya kemampuan yang sangat berbeda dengan Agter lain. Kemampuanku bukan hanya satu dan dia, melainkan banyak dan itu belum sepenuhnya terbuka. Alasan mengapa aku bisa membangkitkan kalian sebuah kekuatan unsur itu juga karena kemampuan yang aku miliki," beber Isander yang berpikir untuk tidak perlu menyembunyikan lagi tentang kemampuannya.
Jelas, Isander yang mengungkapkan ini menciptakan perasaan terkejut yang tak terkatakan bagi anggota kelompoknya.
Orang yang selalu penasaran, yaitu Reza, dia bertanya dengan mata yang membulat, "Jadi, kamu adalah Agter terkuat?!"
"Mungkin. Namun, aku belum mencapai titik puncak terkuat dari kemampuanku," jawab Isander dengan tersenyum mendamaikan. "Maka dari itu, kalian tidak perlu terkejut lagi, fokus kepada kemampuan kalian. Aku yakin kalian bisa membawa umat manusia menjadi berada di puncak rantai makanan."
Semua anggota kelompok Isander mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Isander.
Pikiran mereka menjadi berubah dan sudut pandang mereka terhadap Isander berubah menjadi sosok yang tak bisa dilampaui.
Banyak sekali kemampuan yang sudah Isander tampilkan di depan wajah mereka semua.
Bukan hanya ada 2 seperti mereka, melainkan ada lebih dari 5 kemampuan. Tidak tahu tepatnya berapa. Paling pasti dan fakta, seluruh kemampuan Isander sangatlah kuat.
Bukan hanya sekadar kemampuannya, monster kecil yang dibawa oleh Isander pun terbilang kuat.
Maka dari itu, mereka semua berpikir untuk lebih mementingkan tentang kekuatan mereka agar bisa layak bersanding dan berdiri di samping Isander.
Sudah cukup untuk mengagumi Isander, mereka akan terus berjuang hingga Isander mengagumi diri mereka sendiri.
Dengan satu kalimat ucapan Isander.
Sifat mereka berubah, mereka benar-benar kompetitif dalam membunuh monster dan tidak ingin terlihat lemah.
Sekali lagi Isander memberi nasihat untuk selalu menjaga diri sendiri dan anggota lain. Mementingkan keselamatan diri dan sesama anggota. Kedua hal itu diutamakan dan jangan terlalu terfokus dengan kekuatan saja.
Beruntungnya, dengan Sistem, nasihat Isander didengar oleh mereka semua.
Kesetiaan mereka terjamin dan Isander tidak perlu memikirkan bagaimana mereka menjadi penurut.
Omong-omong, anggota grup memiliki batas orang yang bisa direkrut.
Total hanya bisa menampung 10 orang dan masih ada 3 orang lagi yang dapat direkrut oleh Isander.
Untuk kuota tiga orang ini, Isander akan benar-benar memilih yang cocok dan layak.
Meskipun dia tahu kesetiaan itu akan menjadi mutlak, tetapi Isander akan tetap melihat kinerja mereka sebelum dia masukkan ke dalam tim.
Bukan apa-apa, Isander punya rencana yang lebih jauh dari yang dipikirkan orang di dunia ini.
Ada salah satu orang yang menjadi pertimbangan Isander untuk direkrut, yakni Goron dari Kota Komodo.
Akan tetapi, orang seperti Goron sangat dibutuhkan oleh petinggi Kota Komodo.
Ini menjadi bahan pertimbangan Isander dari beberapa hari yang lalu.
Namun, di malam hari ini, Isander akan memutuskan pertimbangannya.
__ADS_1
Setidaknya, sebelum Goron dan yang lainnya berhasil bertemu dengannya di malam hari nanti.
Benar, malam hari ini Goron dan timnya ingin memberi sesuatu informasi yang diduga penting oleh Reza dan lainnya.
Berhasil kembali ke rumah, mereka semua langsung melaksanakan makan malam bersama sebab mereka sampai di waktu yang cukup lambat.
Targetnya mereka tiba di hari sebelum malam, tetapi mereka tiba di rumah setelah langit menjadi gelap.
Maka dari itu, mereka cepat memulai kegiatan makan malam bersama sebelum pertemuan datang.
Isander setelah ini akan pergi dari rumah untuk menemui Goron dan beberapa Agter Kota Komodo.
"Kalian tunggu di rumah ini. Magtash dan Glatash akan menjaga kalian dari luar rumah."
Sebuah pesan dilontarkan oleh Isander sebelum pergi ke tempat di mana Goron dan yang lainnya mencarinya.
"Hati-hati di sana, Isander. Kami menunggumu di sini," ujar Giya dengan tatapan yang khawatir.
Isander melemparkan senyumannya, kemudian dia keluar dari rumah bersama Magtash dan Glatash.
"Kalian berdua berjaga-jaga di sini. Aku akan memberi tahu kalian berdua jika ada sesuatu padaku sendiri. Apabila ada monster yang melintas, kalian habisi saja dan buang mayatnya jauh dari sini. Apa kalian mengerti?"
Tanggapan kedua anak Burung Suphaast adalah anggukan, menandakan mereka berdua paham dengan apa yang dibicarakan oleh Isander.
Setelah melihat respons dari Magtash dan Glatash, tanpa berdiam diri lebih lama lagi, Isander melebarkan kedua pasang sayapnya dengan bangga.
Penampilan Isander ini membuat kedua anak Suphaast kegirangan. Mereka berdua tidak tahu Isander memiliki dua pasang saya lantaran Isander sendiri tidak pernah menampilkan sosoknya dalam mode Baryon Cenagon.
Whoosh!
Dengan kepakan sayapnya, sosok Isander meluncur cepat ke atas dan tenggelam di gelapnya malam.
Kyakk!
Glatash dan Magtash menciak dengan suara yang terdengar sangat gembira.
Pada saat yang sama, beberapa sosok manusia berdiri di sekitar sebuah rumah kayu yang dibangun di tengah-tengah hutan.
Mereka adalah Goron dan anggota timnya.
"Kurasa mereka sudah pergi dari tempat ini," Goron bergumam sambil melihat dalam rumah yang gelap dan kosong seperti rumah hantu.
Beberapa timnya ikut melirik ke dalam, mereka tidak melihat ada satu pun orang di dalam sana.
"Bagaimana sekarang?" tanya salah satu teman Gorong yang berambut gondrong. "Akankah kita kembali ke kota dan memberi tahu mereka sudah pergi dari daerah hutan di kota ini?"
Mendengar perkataan temannya, Goron termenung sejenak untuk berpikir, kemudian dia menjawab, "Tidak perlu. Aku punya firasat dia akan kembali ke sini. Bisa saja dia belum pulang dari suatu tempat."
"Lantas, kita akan menunggu dia di sini?"
"Benar."
Kaki Goron mengambil beberapa langkah ke dalam rumah dan menyalakan sebuah korek api kayu di tangannya..
Dengan perintah dan keputusan Goron, mereka semua akhirnya menunggu Isander di dalam rumah ini dan mencoba menyalakan lampu untuk melihat interior apa saja yang ada di dalam sini.
"Dia kelihatannya pintar dalam membuat rumah. Ini mengingatkan aku dengan rumah desa sebelum ada kejadian invasi monster," kata Goron setelah melihat ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah.
Teman Goron berambut gondrong itu bersandar di tembok rumah yang terbuat dari kayu dan mengangguk. "Kualitas kayu di rumah ini sangat bagus. Lihat aku, tembok ini kokoh dan sanggup menopang tubuhku."
"Mereka memang bukan sembarang tim Agter. Kalian tahu sendiri bahwa kelompok itu tidak terdaftar di Kota Komodo. Namun, kelima Agter yang kuat itu aku memiliki data mereka. Memang benar, mereka berlima menghilang. Kemungkinan besar mengikuti sosok hitam bersayap itu untuk melakukan sesuatu," terang Goron yang sudah menganalisis tentang tim Isander.
"Apa kesimpulannya?" Salah satu teman Goron yang lain melemparkan pertanyaan. "Apakah mereka kelompok jahat atau baik? Apa informasi itu layak diberikan kepadanya?"
Tanpa berpikir lagi, Goron mengangguk dan menjawab, "Tentu saja. Dia sosok hitam misterius memiliki kekuatan yang jauh dari kita semua dan satu-satunya Agter yang kekuatannya ada di atas Agter Grand Master yang pihak Kota Komodo ketahui. Kita semua butuh dia."
"Oke, aku setuju dengan pilihanmu," celetuk Gondrong sambil mengangguk.
"Bisa dikatakan, dia adalah andalan kita semua untuk memenangkan pertarungan melawan monster di Indonesia."
Goron menatap tiga temannya dengan sorot mata yang serius tanpa adanya rasa bercanda.
Bam!
Sesuatu benda berat yang terjatuh terdengar di antara mereka semua.
Sontak mereka semua bergerak setelah mendengar suara yang datang tiba-tiba ini.
"Apa itu?!" Gondrong menjadi panik dan dia bertanya kepada Goron.
"Ayo kita keluar untuk memeriksa!"
Goron dengan cepat menentukan keputusan dan berlari ke arah pintu rumah.
Brak!
Begitu pintu itu dibuka, sesosok manusia yang memiliki zirah berwarna hitam berdiri di depan pintu dengan mendominasi.
Melihat ini, mereka semua tersentak dan hampir terjatuh ke belakang saking kagetnya.
Orang yang mereka bicarakan sebelumnya ternyata sudah datang di sini.
__ADS_1
Berdiri dengan gagahnya dan memandang mereka begitu tajam.
"Selamat malam."