
Dengan kemampuan kontrol kayu, pemandangan di dalam ruangan Nina bisa Isander ketahui dengan jelas.
Di dalam ruang itu terdapat Nina yang duduk bersandar sembari memainkan kue apem miliknya sendiri.
Benar, dia tidur malam ini, kemungkinan lain dia terbangun dan langsung melakukan itu.
Sebenarnya, tidak ada yang mengherankan ketika seorang wanita bermain sendiri, mereka juga manusia, memiliki sifat yang sama dengan pria.
Ada kalanya kondisi tubuh mereka memang diharuskan berkembang biak. Setidaknya, mereka harus menahan perasaan alaminya itu sampai pasangannya sudah ada di depan mata.
Salah satu cara untuk menahan adalah bermain sendiri.
Namun, tidak sedikit wanita yang menahannya seolah itu tidak ada dengan cara sibuk kegiatan sehingga untuk memikirkan tentang hal itu juga tidak ada saking sibuknya.
Wanita-wanita di dunia ini pasti kesepian, terlebih yang memang tidak memiliki pasangan sejak hari kehancuran tiba.
Tidak ada pria yang benar di dunia ini. Andaipun ada, mereka juga tidak mau melakukan itu dengan wanita karena belum tentu wanita di sini juga bersih.
Bagaimana mau bersih, mandi saja mereka jarang karena keterbatasan akses air. Mereka harus pergi ke sungai kalau ingin mandi.
Di kota harusnya sudah ada toilet, tetapi di luar kota sulit untuk menemukan toilet umum.
Nina dan Giya, kedua wanita ini belum pernah melakukan itu asumsi Isander.
Selama bersamanya, kedua wanita ini benar-benar tidak berbuat aneh, baik padanya dan selalu membantu Isander untuk merawat Meisya.
Isander merasa kasihan kepada Nina, wanita ini sangat kesepian sehingga dia tidak memiliki pasangan karena selalu bersamanya.
Memikirkan tentang Nina dan anggota timnya, pikiran Isander menjadi bimbang.
Apakah dia harus melakukan hal itu dengan Nina atau tidak sebagai rasa tanggung jawabnya sebagai ketua. Kebahagiaan juga harus ditanggung oleh ketua tim karena kehidupan mereka sebagian besar dihabiskan untuk timnya.
Isander ragu ingin kembali ke rumah atau tidak, tetapi kesempatan ini tidak datang dua kali.
Sekarang Isander merasakan dilema dan bimbang. Antara etika dan tanggung jawabnya harus dipilih.
"Ya, aku memutuskan untuk membantu Nina."
Entah kenapa, ucapan Cenagon tiba-tiba muncul di kepala Isander, seolah dia diberikan petunjuk atas keputusannya yang tepat.
Dengan pilihan keputusannya membantu Nina, sosok Isander keluar dari ruang bawah tanah yang cukup tersembunyi.
Tentunya Isander sudah memastikan kedua wanita yang ada di dalam baik-baik saja dan aman untuk ditinggalkan sejenak.
Tidak sampai 1 menit berlalu, sosok Isander sudah membawa Nina di pelukannya.
Hal yang mengejutkan adalah tubuh bagian bawah Nina tidak mengenakan apa pun. Dengan jelas pinggul Nina yang menempel di tubuh Isander itu bergerak ke atas dan ke bawah.
Jika dilihat dari jarak yang dekat, kue apem Nia sudah ada senjata Isander yang besar dan panjang.
Terlihat ada sedikit darah yang keluar di antara kue apem Nina. Meskipun wajahnya terlihat kesakitan, Nina terus bergerak cepat untuk membuat dirinya sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Ketika Isander masuk ke kamar Nina, dia langsung memeluk Nina dengan erat, kemudian membuka sebagian kecil celananya dan langsung menusuk Nina dengan senjatanya.
Beruntung, Isander memiliki reaksi cepat untuk menahan mulut Nina dengan bibirnya agar tidak berteriak keras dan membangunkan tim yang lain.
Di perjalanan ke tempat persembunyian, Isander dan Nina melakukan itu sambil berjalan.
Sekarang keduanya sangat menikmati perasaan yang nikmat ini.
Kurang dari 5 menit mereka melakukan itu, tubuh Nina sudah berkali-kali bergetar, mengeluarkan cairan kepuasannya.
__ADS_1
Nina, wanita ini terlihat sedikit diam, tetapi ketika bertarung dan membicarakan tentang monster, dia akan banyak bicara.
Sosoknya cantik, memiliki mata yang kelihatan sedikit malas, wajahnya juga akan datar kalau dirinya sedang tidak berbicara.
Lagi-lagi, wanita ini memiliki ukuran buah melon yang besar, sedikit lebih kecil dari ukuran Giya dan Aqila. Perbedaannya yang lain adalah milik Nina ini punya pucuk yang mancung ke depan, tidak terlalu bulat.
Bagi Isander, buah melon milik Nina sangat menggoda, seakan-akan pucuknya yang condong ke depan itu meminta untuk dimakan.
Tidak jarang Isander memainkan buah melon Nina ketika sedang bertempur hebat, bahkan kedua melon itu Isander tarik perlahan sambil meremasnya kuat.
Dalam satu jam mereka berdua bertempur dengan gaya berdiri, tubuh Nina sudah kehabisan tenaga karena dia sudah keluar lebih dari 20 kali banyaknya.
Bisa dilihat pada bagian kue apem Nina, itu sangat becek dan basah, susu kental manis keluar dari lubang kue Nina, jumlahnya sangat banyak, dan kue apem Nina tampak kelelahan parah.
Warnanya sudah memerah.
"Sayang, aku ingin dipeluk sebelum bangun untuk pergi sarapan pagi," pinta Nina dengan manja di tempat tidur.
Posisi Nina ada di tengah-tengah tempat tidur, di antara Aqila dan Giya yang tertidur, tempatnya Isander tidur sebelumnya.
Kedua tangan Nina terentang lebar ke depan, tersenyum manis sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.
Walaupun sedang lelah, Nina masih ingin Isander di tubuhnya, tepatnya senjata Isander di dalam tubuhnya.
Dengan begitu, Isander memeluk Nina dengan menancapkan senjatanya di dalam tubuh Nina.
Mengubah posisi keduanya di mana Nina ada di atas tubuh Isander dan terbaring untuk istirahat sejenak.
Kue Nina dimasukkan senjata besar Isander karena Nina tidak mau benih cinta yang telah diberikan keluar semuanya.
Sedikit aneh, tetapi Isander tidak keberatan dengan ini.
Mereka juga harus menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya agar tidak hambar saat bertempur ganas.
Selama waktu berjalan itu, keduanya saling menyentuh wajah satu sama lain dan mencium sekilas bibir mereka.
Pipi Nina sangat merah, dia belum pernah memeluk seorang pria, apalagi memeluk pria setampan Isander.
"Apakah aku, Giya, dan Aqila akan menjadi ibu tiri Meisya?" tanya Nina dengan suara yang lembut.
Pertanyaan Nina adalah pertanyaan yang sudah dipikirkan oleh Isander.
Jawabannya sudah ada di kepalanya.
Isander mengangguk kecil menatap kedua mata Nina yang sedikit menyipit, kemudian dia menjawab, "Benar, kalian bertiga adalah istriku, hanya aku yang boleh memiliki kalian bertiga. Secara otomatis kamu juga menjadi ibu Meisya. Mungkin agak sedikit membingungkan untuk Meisya, kuharap kalian bisa membujuk Meisya secara perlahan untuk menerima kalian sebagai ibunya."
"Aku mengerti. Aku dan Meisya cukup dekat meski aku tidak sering menggendongnya. Mungkin aku akan lebih dekat lagi dengan Meisya. Jujur, aku menyukaimu dari awal bertemu, tetapi mengetahui Meisya anak kamu, rasanya tidak pantas mencintai seorang pria yang sudah memiliki pasangan dan anak. Aku tak menyangka mimpiku bisa terwujud sekarang. Aku sayang Meisya dan juga ayahnya, yaitu kamu, Sayang."
Setelah mengatakan itu, Nina sedikit menggerakkan tubuh bagian bawahnya, dia menjadi gatal lagi.
Namun, Isander langsung memeluk Nina dengan erat dan menciumi bahunya sampai membekas berwarna merah, kemudian senjata besarnya melakukan 3 gerakan serangan dorong terkuat, nyaris menerobos dinding ruang paling dalam Nina.
Jeritan hampir keluar dari mulut Nina, Isander langsung menyumpal dengan mulutnya.
Untuk puluhan kalinya, kue apem Nina mengeluarkan mata air yang banyak, padahal senjata Isander cuma bergerak 3 kali dengan dorongan yang sangat kuat.
Tubuh Nina bergetar hebat seperti orang yang sedang kerasukan.
Sehabis itu, Nina terbaring lemah di atas tubuh Isander, menatap Isander dengan puas.
Dengan wajah yang merah karena malu, Nina menekan hidung mancung Isander dan berkata, "Jangan bergerak mendadak seperti itu, sangat mengejutkan. Um, aku juga tidak masalah dengan itu."
__ADS_1
"Kamu menyukainya, Bukan?"
"Aku menyukai kamu, Ketua Tim, hihi."
Pemandangan Nina yang tertawa tampak sangat menggemaskan, seperti anak kecil yang gembira dan senang.
Isander mengecup bibir Nina dan dia memeluk pinggang Nina dengan erat.
Dalam satu malam, Isander mengalahkan tiga wanita sekaligus, pencapaian yang tidak pernah terpikirkan oleh Isander.
Setelah bertahun-tahun lamanya, pertempuran seperti ini bisa Isander rasakan kembali setelah mendiang istrinya tidak ada.
Kalau istrinya masih ada, kemungkinan besar dia sudah dimarahi habis-habisan dan dihukum dengan cara bertempur di atas ranjang sampai 300 ronde.
Mendiang istrinya bisa disebut Hyper. Namun, melakukan pertempuran hanya dengannya, tidak dengan orang lain.
Istrinya tidak bisa selingkuh, tulang rusuk Isander ada pada Kayshila, takkan pernah tergantikan.
Sekarang bertambah tiga, mungkin tulang rusuknya yang hilang ada 4 potong.
Lebih dari setengah jam berlalu, ketiga wanita ini berdiri di dekat Isander dengan sikap yang manja.
Mereka sudah bersiap dan mengenakan pakaian sebelum kembali ke rumah.
Memang sikap ketiganya langsung berbeda setelah pertempuran menakjubkan terjadi di antara mereka.
Terasa lebih lengket dan dekat dari sebelumnya.
Secara bergantian mereka bertiga mencium pipi Isander sebagai tanda cinta dan sayang mereka.
Selepas bermesraan sesaat, mereka berempat keluar dari tempat persembunyiannya ini dan Isander menutup pintu yang ada di permukaan tanah dengan tanah dan semak-semak agar tidak ketahuan ada ruangan di dalam.
Tidak berbeda dengan rutinitas mereka sehari-hari, sarapan pagi mereka lakukan bersama-sama.
Ada sedikit perbedaan, ketiga wanita menjadi lebih perhatian ke Meisya dan juga Isander.
Membuat semua tim yang lain menaruh kecurigaan pada mereka berempat.
Sayangnya, mereka tidak berani bertanya hal itu karena terlalu pribadi.
Di sisi lain, mereka juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berempat.
Perjalanan dilakukan oleh mereka semua seperti hari-hari sebelumnya.
Tujuan mereka masih sama dengan kemarin, yaitu pergi ke tempat Purbalingga bagian utara.
Ada setengah perjalanan lagi untuk bisa sampai ke sana, itu memakan waktu seharian atau kurang.
Tergantung cepatnya mereka berjalan. Kalau ada monster, kemungkinan mereka akan terhambat dan di malam hari belum sampai di tempat sana.
Sangat disayangkan, monster-monster di jalur menuju Purbalingga bagian utara sangat banyak. Monster A dan B begitu menumpuk hingga mereka harus mengeluarkan banyak tenaga mengurusi mereka semua.
Hal ini menyebabkan mereka belum sampai di tanda S, tetapi sudah sangat dekat.
"Apakah kita akan bertempur lagi?"
Di malam hari, Isander didatangi diam-diam oleh tiga wanita cantik ini ketika dirinya ingin bermeditasi untuk berlatih di ruangan milik Cenagon.
Melihat ketua wajah wanita ini yang terlihat ingin sekali, mau tidak mau Isander harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai calon suami.
"Baiklah, kita akan bertempur di malam ini."
__ADS_1