
Tubuh Isander menjadi kaku saat Aqila memeluknya begitu tiba-tiba. Ini pertama kalinya Isander dipeluk oleh wanita setelah sekian lamanya.
Rasanya aneh dan asing, tetapi Isander merasa hangat sekaligus nyaman. Meskipun terasa risih, Isander ingin menahan pelukan ini lebih lama lagi.
"Meisya ingin peluk juga!" Meisya yang berdiri bersama Helen dan Reren berlari, kemudian memeluk kaki Isander dengan kuat.
Seruan Meisya membuat keduanya yang asyik dengan perasaan hati satu sama lain menjadi terganggu.
Dengan wajah yang memerah Aqila melepaskan pelukannya dan berdiri di depan Isander dengan kepala yang tertunduk.
Ketika menundukkan pandangannya, dia melihat Meisya dan segera mengangkat tubuhnya untuk dipeluk.
Pipi Isander yang memerah langsung menghilang, dia menatap keduanya dengan hati yang senang dan lega.
Helen dan Reren pun ikut bahagia melihat Aqila dan Meisya berpelukan. Tidak tahu mengapa mereka berdua melihat Aqila dan Meisya seperti melihat ibu dan anak. Keduanya sangat cocok.
Ditambah dengan Isander berdiri di dekat keduanya, Helen dan Reren merasa mereka bertiga pantas disebut sebagai keluarga kecil yang harmonis.
Ayah tampan dan ibu cantik, memiliki anak yang lucu dan menggemaskan.
Setelah itu, Isander meminta mereka semua untuk pergi mengikutinya menuju ke tempat di mana Candi Borobudur berada.
Hari ini, mereka akan memeriksa kembali Candi Borobudur lagi.
Apakah itu masih sama penampilannya seperti kemarin sebelum mereka pergi, atau sudah berbeda lagi?
Maka dari itu, mereka memutuskan untuk melihat ke sana secara langsung.
Di perjalanan yang cukup jauh dan agak melelahkan, Isander meminta untuk Aqila yang melawan monster yang datang dan menghampiri mereka semua.
Dengan permintaan Isander, Aqila tentu saja mengikuti keinginannya dan menyerang monster yang sempat ingin membunuh mereka semua.
Sayang sekali, Aqila yang sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Monster level A saja Aqila lawan dengan cukup mudah meski ada perlawanan dari monster tersebut.
Secara keseluruhan pertarungan, penyerangan kebanyakan muncul dari pihak Aqila yang membombardir tubuh monster.
Jalur yang mereka lalui ini berbeda dengan yang biasanya mereka pakai.
Dari rumah, mereka langsung pergi ke arah Utara sedikit ke arah timur laut. Jadi, mereka tidak ke barat dahulu, kemudian pergi ke timur laut.
Alasannya adalah karena dia tidak berangkat bersama dengan Reza dan yang lain. Jadi, tidak perlu untuk ke Kota Komodo lagi.
Memang memangkas waktu, tetapi monster yang mereka temui pun berbeda dengan biasanya.
Monster yang mereka temui cukup bervariasi, mulai dari Spidgarets, Wolfgarets, hingga ke Liongarets, itu semua monster level A.
Ada juga monster tingkat B yang ikut menyerang mereka semua, totalnya ratusan.
Untuk monster tingkat A hanya sebanyak belasan saja. Namun, jumlah sebanyak itu cukup merepotkan.
Aqila bisa membunuh mereka dengan mudah, tetapi satu per satu dan tidak banyak sekaligus.
Untungnya, ada Helen dan Reren yang membantunya sehingga tidak begitu berat.
Jelas, Isander tidak ikut menyerang karena kalau dia ikut, Aqila dan yang lain tidak kebagian membunuh monster.
Lagi pula, Isander malas membunuh monster level A yang baginya sudah tidak sulit lagi.
Kekuatan Aqila yang naik menjadi Agter King Two Star saja bisa membunuh monster level A dengan mudah.
Dibandingkan Isander yang tingkatannya sudah mencapai Agter Emperor Two Star, sudah jelas bisa melibas belasan monster level A itu dengan satu kali serangannya.
Tepat ketika mereka ingin sampai di lokasi Candi Borobudur, satu monster tingkat A datang menghalangi mereka semua.
Monster tingkat A yang melakukannya adalah Spidgarets.
Meisya yang tidur nyenyak menjadi terbangun karena kedatangan monster itu yang disertai suara jeritan keras dan tidak enak didengar.
Jelas saja Meisya masih kecil ketakutan melihat monster jelek itu datang.
Kebetulan sekali kalau Spidgarets yang datang ini memiliki ukuran yang lebih besar dari Spidgarets yang lain sehingga terlihat lebih menakutkan.
Walaupun terbangun secara mendadak, Meisya tidak menangis sama sekali dan dia hanya tampak ketakutan.
Dengan begini, Isander memutuskan untuk melawan Spidgarets sendirian dan tak perlu Aqila yang mengurusnya.
"Biar aku saja. Kamu jaga Meisya," ucap Isander kepada Aqila di depannya sambil menyerahkan Meisya dari gendongannya.
Meisya tidak ingat dengan monster ini dan menganggapnya sebagai monster kuat.
Dengan perasaan yang mengancam, Meisya memejamkan matanya dan mulai membuat keinginan.
__ADS_1
[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Memberikan Anda Kemampuan Metal Control!]
Kurva terbentuk di ujung mulut Isander begitu pengingat ini muncul di benaknya.
Sebuah layar tipis melayang di depan Isander beberapa saat, kemudian ia tutup dan hilangkan.
[Metal Control (A): Kemampuan dalam mengendalikan, membuat, dan memanipulasi logam dengan pikiran.]
Melihat Meisya, Isander mengelus pipi Meisya dengan penuh kelembutan, melirik Aqila sejenak, dan berbalik menghadap Monster berbentuk laba-laba besar.
Chuakks!
Raungan laba-laba besar ini terdengar begitu keras dengan cairan hijau terciprat keluar.
Tangan Aqila dengan cepat menutup telinga Meisya, dan dia mengajak Helen serta Reren menjauh dari tempat ini.
Begitu Aqila menjauh dan berdiri di beberapa puluh meter dari Isander dan Spidgarets.
Tiba-tiba dia melihat Isander yang mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, dan segera ratusan tombak panjang dengan bilah runcing yang terbuat dari logam berwarna perak terbentuk di udara.
Senyum miring muncul di wajah Isander lalu dia menurunkan tangannya ke depan tepat ke arah Spidgarets di kejauhan seraya berkata, "Kamu mati."
Di saat berikutnya, ratusan tombak tersebut melesat dengan cepat, menghujam keras tubuh monster sebagai targetnya.
Suara gemuruh terdengar beberapa detik dengan kabut debu yang membumbung akibat tusukan tombak yang juga menggempur tanah.
Melihat penampilan Isander saat ini, mulut Aqila terbuka lebar dengan tatapan matanya yang dipenuhi rasa ketidakpercayaan.
Pemandangan tadi sangat-sangat luar biasa, itu seperti seorang panglima perang yang hanya menunjuk ke depan, semua pasukan bergerak ke arah yang ditunjuknya.
Bukan hanya Aqila saja yang terkejut, Helen dan Reren merasakan perasaan yang sama.
Baru pertama kali mereka melihat Isander menggunakan kemampuan yang dapat menciptakan tombak panjang di udara yang kosong, dan itu melayang serta dapat digerakkan tanpa harus disentuh.
Mirip dengan kekuatan Giya yang menggerakkan pisau apinya dari jarak jauh.
Setelah asap debu menghilang, mereka semua bisa melihat Spidgarets yang sudah mati akibat ditusuk oleh ratusan tombak panjang dan tajam.
Seluruh tubuhnya tidak lagi berbentuk seperti Spidgarets, sudah sangat terdistorsi tanpa bisa dikenali lagi.
Tampilan monster ini sangat mengerikan sekaligus sadis sehingga Aqila harus menutup mata Meisya agar tidak melihat sesuatu yang tak pantas dia lihat.
Tubuh Isander bergerak lagi, tangannya yang terulur ke depan dan terbuka mendadak menutup.
Setelah itu, Isander menarik kembali bola logam besar hasil dari kompresi ratusan tombak ke dirinya.
Bola logam besar tersebut makin lama makin mengecil seiring berkurangnya jarak dengan Isander.
Dan di saat sampai di tangan Isander, bola logam itu hanya sebesar bola basket, kemudian menghilang di telapak tangannya seolah terserap ke dalam tubuhnya.
Bangkai Spidgarets yang sudah terbentuk tidak jelas langsung Isander tutup dengan tanah.
Melihat jejak pertarungan sudah menghilang hampir seluruhnya, Isander membalikkan tubuh ke belakang untuk melihat Aqila dan yang lainnya bersembunyi.
Aqila menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba untuk menyingkirkan rasa terkejutnya dengan apa yang sudah ia lihat barusan.
Berdiri di depan Isander, Aqila memandang pria di hadapannya dengan kekaguman yang tinggi.
Meisya diserahkan kembali kepada Isander karena ingin melanjutkan tidurnya lagi.
Tanpa berbicara apa pun, mereka semua melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai di Candi Borobudur.
Kurang dari setengah jam berselang, mereka semua tiba di tempat Candi Borobudur berada.
Namun, begitu sampai di sana, mereka dikejutkan lagi dengan kondisi candi yang acak-acakan.
Bongkahan bangunan yang terbuat dari batu andesit dan telah mereka kumpulkan di empat titik yang berbeda, kini berantakan lagi dengan lokasi tiap batu yang sangat acak, tidak lagi berada di empat titik yang sudah ditentukan.
Amarah melonjak di dalam hati Isander dan yang lainnya, kecuali Aqila yang tidak tahu rasanya telah lelah memindahkan dan mengumpulkan banyak sekali batu, tetapi usaha mereka menjadi sia-sia karena ulah suatu makhluk.
"Ayah, mengapa batu-batunya pergi lagi?" tanya Meisya yang belum sempat tidur dan sekarang tengah melihat pemandangan candi.
Menahan suasana hati yang dongkol, Isander tersenyum ke arah Meisya, dan dia menjawab, "Ada seseorang yang jahil. Kita tampaknya harus merapikan lagi."
"Hum! Orang yang mengacak tempat ini sangat jahat! Meisya tidak suka!" Meisya ikut merasa kesal dengan mulutnya yang mengerut.
Melihat Meisya yang kesal, membuat Aqila tidak tahan untuk tidak mencium pipinya, sangat menggemaskan dan membuat hati lembutnya gatal.
Dengan keputusan yang Isander buat, mereka kembali bekerja sama untuk melakukan hal yang sama di hari kemarin, yaitu membenahi dan mengumpulkan batuan-batuan yang tersebar secara acak ke beberapa titik yang sama seperti kemarin.
Di hari ini, semuanya bekerja dan bergerak, bahkan Meisya pun ikut membantu walau hanya membawa batu kecil sebesar telapak tangannya yang ternyata bukan termasuk batuan candi.
Tiga pet Isander, yaitu Glatash, Magtash, dan Kimaya ikut membantu mengumpulkan serta memindahkan batu-batu. Kemarin juga mereka ikut membantu, dengan adanya mereka juga pekerjaan ini hampir bisa diselesaikan.
__ADS_1
Di siang hari, mereka beristirahat sejenak untuk makan siang bersama.
Kemajuan proses mereka hampir mendekati setengah jalan, sebagian batu sudah dipisahkan dan dipindahkan di empat titik.
Masih ada banyak batuan lagi yang harus mereka pindahkan.
Baru saja mereka ingin makan siang, Reza dan yang lainnya sudah sampai di tempat Isander.
Mereka segera makan siang bersama dengan tim yang hampir lengkap, kurang Goron saja.
"Sungguh? Kamu punya kemampuan baru lagi?" Reza bertanya dengan wajah yang terpana.
Isander menanggapi dengan anggukan kecil, dan membuat pedang pendek yang terbuat dari logam.
Semua yang melihat ini langsung terkejut dengan apa yang ditampilkan oleh Isander di depan mata mereka.
Cara pedang logam itu muncul terlihat sangat ajaib karena muncul dan terbentuk di udara yang tampak sangat memukau.
Tidak hanya membuat, Isander juga bisa menghilangkan logam yang dia ciptakan. Jadi, tidak meninggalkan sampah di dunia ini.
Sampah makanan pun dihilangkan dengan cara memasukan kembali ke dalam tas Isander setelah makan, atau memasukkan kembali ke tas penyimpanan masing-masing orang. Itu akan dilenyapkan oleh Sistem tanpa diketahui caranya.
Sangat ajaib dan hebat. Tentu, semua anggota timnya tidak tahu dengan perihal ini.
Sehabis makan siang pun, Isander mengeksplor tentang kemampuan barunya ini. Dia mencoba membentuk sebuah gerobak pengangkut pasir dan batu, itu berhasil dengan roda yang tetap terbuat dari logam sehingga kurang nyaman dipakai.
Oleh sebabnya, Isander hanya membuat sebuah kotak besar yang mampu menampung banyak batu dalam sekali angkut.
Dengan demikian, mereka bisa menyelesaikan tugas mereka sebelum malam tiba.
Semua batu yang berhamburan ke segala arah sudah dirapikan. Ada empat titik gundukan batu yang sengaja mereka buat untuk terlihat rapi.
Pada kesempatan ini, Isander mencoba untuk melindungi batuan yang telah mereka kumpulkan selama berjam-jam.
Caranya adalah dengan membuat pelindung yang menutupi seluruh gundukan yang terbuat dari logam, kemudian diselimuti oleh tanah sehingga terlihat dari jauh hanya seperti gundukan tanah.
Sebelum pulang, mereka semua melihat kondisi Candi Borobudur ini terdiri dari bukit besar di tengah dan di bagian selatan bukit terdapat empat gundukan tanah yang menjulang.
Seharusnya, ini sudah sulit untuk diacak-acak lagi oleh pelaku misterius itu.
Merasa sudah selesai, mereka bergegas pulang kembali ke rumah sebelum langit menjadi gelap.
Dalam perjalanan pulang masih ada banyak monster level B dan level A yang hendak menyerang mereka semua.
Semua ancaman itu berhasil Isander singkirkan dengan cepat menggunakan kemampuan barunya.
Isander tidak hanya mendapatkan Metal Control, ada 1 kemampuan lagi yang dikasih oleh Sistem, yaitu Ball of Light.
Kemampuan yang bisa menciptakan bola cahaya yang terang.
Kegunaan bola cahaya ini cukup bagus karena bisa menyinari ruangan seperti lampu LED.
Selain itu juga, bola cahaya ini bisa digunakan untuk menyerang meski tidak sepanas Finger of Flame suhunya.
Bola cahaya ini cocok digunakan sebagai penerangan, kurang bagus digunakan sebagai penyerangan karena kerusakannya sangat kecil.
Kemampuan yang ia dapatkan ini level B dan bukan level A. Mungkin karena levelnya yang masih rendah dan itu membuat kerusakannya yang ditimbulkan begitu kecil.
Setibanya di rumah, Isander membuat sebuah lentera yang terbuat dari logam, kemudian diletakkan bola cahaya di dalamnya.
Cahaya yang ada di dalam rumah sangat berbeda dengan cahaya sebelumnya, sekarang jauh lebih terang dibandingkan dengan sebelumnya.
Semua timnya senang dengan penerangan yang baru ini.
Berikutnya, Isander pergi ke luar rumah berniat untuk memperkuat pondasi rumah kayu ini.
Tiang-tiang di rumah kayu langsung Isander perkuat dengan tiang yang terbuat dari logam.
Beberapa lubang kecil yang membuat cahaya bisa keluar juga ditutup oleh logam.
Banyak sekali bagian rumah yang diperkuat oleh Isander dengan kemampuannya.
Atap juga Isander perkuat, tetapi masih dengan dilapisi kayu agar tidak panas di siang hari, logam yang dilapisi kayu.
Nanti akan Isander ubah lagi dengan bahan yang tepat.
Sementara waktu menggunakan bahan dari kedua material tersebut.
Setelah memperbagus rumah di malam hari, Isander mengajak Aqila untuk memeriksa secara langsung Candi Borobudur sesuai dengan rencananya tadi pagi.
Jelas, Aqila ikut dengan pipi yang tersipu di sepanjang perjalanan menuju ke sana.
Aqila dipeluk oleh Isander karena dibawa dengan cara terbang di langit.
__ADS_1