SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 167: Kabar Gembira Reza


__ADS_3

Pertanyaan dilontarkan oleh Isander dengan wajah yang heran. Pasalnya, masalah yang dibicarakan oleh Aqila seakan diberikan atau ditendang kepada Garuda Comity seolah itu telah menjadi tanggung jawab mereka.


Sementara petinggi kota atau pemerintah kota tidak mau ambil pusing dalam mengurusi permasalahan ini.


Jadi, apa gunanya mereka di dalam struktur organisasi kota? Apakah itu hanya bertugas bersenang-senang dan menikmati hasil kerja keras para Agter di Kota Garuda?


Hal ini yang menjadi sebuah pertanyaan bagi Isander.


Merasa kesal sebenarnya, tetapi Isander mencoba untuk tidak menunjukkannya di depan anggota-anggota timnya.


Respons Aqila mengangguk mendengar pertanyaan Isander, menampilkan senyum di mulutnya, mulut Aqila bergerak dan menjawab, "Mereka juga membantu melalui internal atau bagian dalam. Sejujurnya, mereka juga kesulitan dalam memecahkan masalah ini. Pasalnya, masalah-masalah ini sudah melewati kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah. Tak heran jika mereka lebih mengandalkan Garuda Comity."


Semua anggota diam mendengarkan perkataan Aqila.


Reza dan Kila juga ikut diam karena mereka berdua meragukan ucapan Aqila.


Apa yang dibicarakan oleh Aqila tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka tahu dan pikirkan.


"Apa memang para petinggi itu ikut menyelesaikan masalah? Bukannya dari dahulu mereka hanya diam dan melihat saja. Kebanyakan masalah diurus oleh Garuda Comity," kata Reza dengan ekspresi tidak yakin.


Kila melirik Reza dan mengangguk, dia memiliki pendapat yang sama.


Giya dan Nina pun menatap wajah Aqila menunggu tanggapan Aqila terhadap ucapan Reza.


Melihat ada sedikit perbedaan sudut pandang, alis Isander terangkat, dia makin tertarik dengan obrolan ini.


Namun, mereka melihat Aqila merilekskan otot-otot tubuhnya, membuang napas panjang, kemudian menatap seluruh anggota timnya sendiri.


Aqila menenangkan dirinya dan menstabilkan tarikan napas yang sedikit tak stabil.


"Kalian benar," ucap Aqila sembari mengangguk, "mereka memang punya sedikit kontribusi, mereka hanya banyak berbicara dan berencana, tetapi untuk menggerakkan dan merealisasikan rencana tersebut sangat-sangat malas, malah meminta Garuda Comity yang punya tugasnya masing-masing untuk mengurusi semua masalah kota."


Seluruh anggota tim Isander yang mendengar ini secara serempak mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Aqila sesuai dengan apa yang mereka tahu.


Memang para petinggi Kota Garuda sangat aneh dan kurang berguna. Kalau ada masalah yang timbul di Kota Garuda, Garuda Comity yang diminta untuk menghilangkan masalah tersebut.


"Nah, itu yang aku rasakan, mereka tidak secara langsung menghadapi masalah. Mereka terlihat seolah tak peduli dengan masalah yang ada. Kebanyakan Garuda Comity yang menyelesaikannya sehingga banyak sekali berita-berita dan kabar mengenai Garuda Comity." Reza mengangguk kejam.


Kila juga ikut membenarkan ucapan Reza.


Pernyataan yang keluar dari mulut Aqila yang kali ini sesuai dengan sudut pandang atau perspektif mereka terhadap para petinggi Kota Garuda.


Dikit sekali gerak dan lebih sering memerintah Garuda Comity seakan melemparkan tanggung jawabnya sebagai petinggi kota.


Jika dibandingkan dengan Isander, mereka sangat jauh tidak berguna.


Isander bagi mereka merupakan sosok pemimpin yang tepat dan bertanggung jawab. Mereka bahkan berpikir bahwa Isander lebih cocok untuk menjadi para petinggi atau pemimpin kota dibandingkan mereka-mereka yang malas bergerak dan makan gaji buta.


Gaji buta, dapat pendapatan atau imbalan dengan pekerjaan yang tidak dijalan baik-baik, bahkan cenderung menelantarkan tugas yang mereka pegang.


Contohnya seperti para petinggi kota tersebut, mereka tidak ingin bergerak banyak, dan lebih menyuruh Garuda Comity yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah kota.


Sangat tidak patut dicontoh, tetapi banyak orang yang ingin seperti mereka.


Banyak orang bilang bahwa mereka punya pekerjaan yang mudah, tetapi gaji mereka besar.


Sementara para penduduknya punya pekerjaan yang serius bahkan bertaruh nyawa, sayangnya bergaji rendah.


Sangat tidak adil bagi para warga yang rendah pekerjaannya.


"Apa karena alasan itu yang membuat kamu malas kembali?" tanya Isander usai berpikir sekilas.


"Benar," jawab Aqila dengan anggukan yang tegas. "Melelahkan untuk berada di kota. Di sisi lain, aku juga masih punya tanggung jawab untuk membantu mereka dalam menyelesaikan problematika yang ada di kota. Aku bimbang sekarang."


Aqila masih mengingat dengan tugasnya yang belum selesai, sekarang dia juga berpikir dirinya tidak bertanggung jawab karena meninggalkan tugas begitu saja.


Reza dan anggota tim isander yang lain menggelengkan kepalanya hampir bersamaan.


Berikutnya, mereka mengucapkan pendapatnya masing-masing atas fenomena Aqila yang lebih memilih untuk bersama mereka.


"Kupikir kamu tidak perlu ke sana lagi, biarkan mereka bergerak dan menyelesaikan masalah kota yang mereka pimpin. Jangan mau enaknya saja, tetapi tidak mau mengurus penduduk yang ada di sana. Ada-ada saja." Reza menggelengkan kepalanya tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh para petinggi kota.

__ADS_1


Kila mengangguk. "Benar, biarkan mereka merasakan apa yang kamu rasakan selama ini. Kamu sudah lama mengabdikan diri kepada Kota Garuda, sedangkan mereka enak duduk di gedung pusat kota."


"Aku setuju, tidak perlu ke sana, mereka memang pantas untuk ditinggal. Jangan membebani kamu sendiri dengan bukan urusan kamu." Nina mengangguk dengan raut muka yang kesal.


Giya, Helen, dan Reren pun satu pendapat dengan mereka bertiga.


Sementara Goron dan Isander hanya diam tak berkomentar. Dari sorot mata mereka bisa memberikan suatu makna bahwa mereka juga setuju dengan anggota Isander yang lain.


Melihat reaksi semua anggota tim, Aqila menjadi yakin dengan keputusannya untuk tetao bersama mereka dan takkan pernah kembali ke Kota Garuda.


Kurva terbentuk di ujung bibir Aqila, kepalanya mengangguk lembut dengan kesetujuan di dalam hatinya. "Aku mengerti. Aku akan tetap di sini bersama kalian."


Begitu mendengar keputusan Aqila, mereka semua tersenyum bersama dan saling memandang satu dengan yang lain.


Tak lama kemudian, mereka semua berpisah dengan senyuman di wajah masing-masing dari mereka.


Satu per satu mereka pergi ke kamar sendiri-sendiri dengan pola yang seperti biasa, membiarkan Isander dan Aqila berdua di ruangan tempat mereka berkumpul.


Keduanya saling memandang satu sama lain, kemudian Aqila naik ke atas pangkuan kaki Isander dengan tatapan yang seduktif.


"Apa pendapatmu tentang masalahku barusan? Lebih baik aku pergi dengan mereka atau bersama denganmu selamanya?" Aqila bertanya kepada Isander sambil menatap kedua matanya yang menawan.


Isander tersenyum penuh makna, mengangkat tangannya, kemudian menyibakkan rambut Aqila ke sela daun telinganya, mencium dagu kecil Aqila dan dia menjawab, "Aku memilih untuk kamu bersamaku. Masalah mereka kita akan hadapi bersama. Mungkin kita akan terbang ke sana berdua untuk melihat kondisi secara langsung Kota Garuda."


"Kamu ingin membantu mereka?" Aqila terkejut mendengar jawaban Isander.


"Bagaimana pun ... mereka juga masih satu ras dengan kita. Namun, masalah penyimpangan itu aku takkan membantu. Aku hanya bisa membantu mencari pelaku yang membuat para Agter menjadi monster."


Tak ada niat sedikit pun di dalam hati Isander untuk membantu membereskan masalah penyimpangan.


Bukan karena apa-apa, masalah sosial adalah masalah yang rumit. Jika disuruh memilih antara membenarkan perilaku pembelokan sosial dan membunuh seratus monster S di dunia, Isander akan memilih membunuh seratus monster S ketimbang mengurus persoalan sosial manusia.


Sama sekali membuat Isander bingung. Bagaimana langkah pertama untuk membenahi mereka, apa yang pertama dilakukan untuk menjalankan rencananya, dan masih banyak yang lain.


Terlalu rumit untuk dibenahi dan dibenarkan. Lebih mudah untuk membunuh daripada menghidupkan kembali akal sehat mereka yang sudah mati.


Aqila paham dari ucapan Isander, mengapa dia keberatan dalam membantunya memperbaiki penyimpanan sosial yang ada di kota. Memang terdengar mudah untuk mengatur orang menjadi apa yang diinginkan oleh kita sendiri.


Hati manusia tidak bisa diketahui isinya. Sebagai manusia juga kita ga bisa mengarahkan manusia lain sesuai dengan keinginan kita sendiri. Pada dasarnya, mereka memiliki kesadaran yang mungkin bertentangan dengan pola pikir kita sendiri.


Mengubah hati dan pikiran orang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Sangat sulit..


Mencium kening Isander, membenamkan wajah Isander ke kedua buah melonnya, Aqila tersenyum bahagia. "Aku mengerti. Aku juga tidak akan ikut campur masalah sosial para Agter di Kota Garuda. Itu sudah menjadi masalah semuanya, tetapi aku takkan memperjuangkan masalah menjijikkan seperti itu. Aku ingin kamu tetap berada di sisiku, aku ingin beristirahat di pelukanmu, Isander."


"Aku juga."


Suara Isander teredam oleh dua buah melon besar. Ini membuat dia buah melon Aqila sedikit bergetar dan merasa geli.


Dengan pipi yang merona, Aqila memeluk kepala Isander dengan erat. "Aku menyayangimu, Isander. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji ...."


Setelah mengatakan itu, Aqila dan Isander pergi ke luar rumah pohon, memisahkan diri untuk sesaat karena sebuah urusan yang ingin mereka selesai.


Urusan hati dan kebutuhan tubuh, mereka berdua melakukan kegiatan tersebut di luar ruangan, tetapi tidak murahan.


Isander membuat alas untuk mereka duduk di atas dahan pohon, kemudian meja dan bangku, beberapa alat untuk memudahkan mereka melakukan beberapa posisi panas.


Malam hari ini, keduanya menjadi sangat-sangat dekat dan melekat. Cinta dan kasih sayang keduanya saling dalam.


Sebelum pagi datang, mereka berdua memberhentikan kegiatannya dalam membuat keturunan.


Mereka sudah tiba di rumah dalam kondisi yang bahagia penuh cinta. Tubuh Aqila digendong oleh Isander dan duduk sambil memandang wajah satu sama lain.


Isander dan Aqila saling mencintai satu sama lain, tak ingin berpisah lagi seperti dahulu.


Di dalam hati keduanya, mereka meminta maaf kepada istri Isander, mereka tidak bisa menahan rasa cinta mereka masing-masing.


Mereka berharap Kayshila menerima dan merestui hubungan ini.


Semoga saja hubungan ini tidak dilarang oleh Kayshila di alam sana.


"Kalau aku hamil, apakah kamu senang?" Aqila menatap Isander dengan wajah yang menantikan jawabannya.

__ADS_1


Manik mata Isander membulat sesaat, kemudian tersenyum. "Tentu saja aku senang. Kamu hamil?"


"Belum, aku belum hamil. Namun, aku merasa itu akan lama lagi."


"Sungguh?"


"Iya, Sayang." Aqila mengangguk beberapa kali menekankan ucapannya.


Setelah mengatakan itu, Isander mencium bibir Aqila dengan cinta tak terkatakan.


Dia benar-benar jatuh cinta dengan Aqila. Meskipun di pagi hari seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi di malam hari mereka berdua seperti pasangan suami-istri.


Setelah mereka berdua bermesraan selama 2 jam, anggota tim yang lain terbangun dan pergi untuk sarapan pagi bersama.


Isander menggendong Meisya dari kamar membawanya berkumpul dengan anggota yang lain.


Magtash, Kimaya, dan Glatash juga ikut makan bersama. Makanan mereka berbeda dengan Agter.


Mereka sebagai keturunan monster makan daging monster yang lain, favoritnya adalah monster yang lebih kuat darinya, seperti monster S atau monster A.


Daging-daging monster tersebut mengandung banyak energi untuk membuat kekuatannya meningkat.


Sarapan pagi berlangsung sangat hangat, mereka saling mengobrol dan menceritakan mimpi satu sama lain.


Namun, sebuah kabar gembira datang dari pasangan Kila dan Reza.


Reza dengan senyum lebarnya mengungkapkan berita yang menggembirakan.


"Kila hamil, aku akan menjadi seorang ayah," ujar Reza dengan hati yang berbunga-bunga.


Semua anggota tim Isander terpana mendengar ucapan Reza, kemudian mereka menampilkan senyum bahagia.


Mereka semua melirik Kila yang mengelus perutnya dengan pipi yang memerah. "Aku hamil, ada beberapa tanda yang berbeda pada darah menstruasi, dan beberapa bukti bahwa aku hamil. Reza bisa mendengar ada denyut nadi di perutku. Bisa dipastikan aku hamil. Um, ya ... aku akan menjadi ibu."


"Selamat untuk kalian berdua! Aku berharap bayi kalian sehat selalu!" Nina sangat senang dan mengucapkan selamat kepada Kila dan Reza.


Anggota yang lain pun ikut mengucapkan kata selamat, termasuk Isander dan Aqila, bahkan Meisya juga senang mendengar Kak Kila ingin punya bayi kecil.


Anak kecil tentunya antusias mengenai hal ini.


Pantas saja, mereka semua bisa bahwa Kila makan sedikit dan berkata bahwa dirinya selalu merasa kenyang atau kembung.


Hal itu ternyata masuk ke dalam tanda-tanda kehamilan meski belum bisa dipastikan.


Mendengar bahwa Reza bisa mendengar suara denyut nadi janin di perut Kila, itu bisa dipastikan bahwa Kila memang hamil.


Ketahuan hamil baru sekarang, diperkirakan sudah 2 Minggu yang lalu jadinya.


Namun, mereka berdua tetap berusaha di setiap malamnya, Isander bisa mendengar mereka melakukan itu meski samar-samar.


Mereka tidak lama melakukan kegiatan itu, hanya 1 sampai 2 jam saja.


Sementara Isander dan Aqila bisa bertahan selama 3 sampai 5 jam. Itu pun karena terbatas oleh waktu, dan bukan karena kemampuan atau stamina mereka berdua.


Setelah makan pagi bersama, mereka bergerak untuk melanjutkan perjalanan lagi menuju tanda S di peta, yaitu ke wilayah Brebes yang hampir sampai mereka datang.


Seharusnya, itu tidak jauh dari tempat di mana mereka berada sekarang, kemungkinan hanya butuh waktu 1 sampai 2 jam saja.


Kresek!


Di sebuah hutan yang rindang dan dipenuhi pepohonan besar, mereka mendengar sebuah suara mencurigakan dari semak belukar yang besar di sekitar mereka.


Awalnya, suara semak yang bergerak dan bergesekan tersebut diperkirakan disebabkan oleh angin yang berhembus.


Namun, lama kelamaan suara ini terdengar sedang mengikuti mereka semua.


Hal itu membuat Isander dan yang lain menjadi waspada dan berhenti di tengah-tengah hutan sembari melirik ke segala arah.


Mata Isander memicing ke segala arah, matanya yang tajam itu mencari sosok atau pelaku yang menyebabkan suara daun bersentuhan itu bisa berbunyi.


Di detik berikutnya, mata Isander terpaku ke batang pohon jati yang besar, mulutnya membentuk lengkungan dan tersenyum tipis. "Apakah kamu ingin bermain petak umpet bersama kami?"

__ADS_1


__ADS_2