
Aqila dan lainnya mengalihkan pandangannya ke samping sembari menstabilkan tubuhnya dari terpaan gelombang udara kencang yang tercipta dari serangan Isander.
Di dalam hati mereka masing-masing, mereka mengalami perasaan terkejut dan takut dalam waktu yang bersamaan.
Mereka semua tidak menyangka satu serangan Isander menghasilkan dampak yang lebih kuat jika dibandingkan dengan serangan gabungan mereka.
Dari jarak mereka yang terhitung jauh dari tempat monster Deegiant itu terbaring di tanah, mereka masih bisa merasakan banyak bongkahan tanah kecil dan serpihan kayu yang terbang menabrak tubuhnya.
Bisa dibayangkan bagaimana besarnya kekuatan Isander itu.
Saat cahaya ungu menghilang, mereka bisa kembali melihat dengan aman, kemudian mereka mengalihkan penglihatannya ke arah depan.
Pada saat ini, monster Deegiant yang terkena serangan Isander telah terbelah manjadi dua bagian secara vertikal, tubuh bagian bawah dan atasnya terpisah, dan pada potongan tubuhnya terdapat kerusakan yang hebat.
Tubuh monster tidak terpotong secara halus, busur listrik masih dapat terlihat di sekitar potongan tubuh monster jika dilihat lebih jelas.
Anehnya, monster ini tak mengeluarkan apa-apa dari dalam tubuhnya usai terbelah menjadi dua.
Monster ini tidak mengeluarkan darah ataupun lainnya, bagian dalam tubuhnya cuma ada tanaman merambat yang menggumpal dan terikat satu sama lain menjadi satu kesatuan yang kokoh.
Melihat ini, Aqila, Kei, dan anggota tim lainnya terperanjat kaget dan menatap monster ini dengan raut wajah yang tak percaya sedikit pun.
Glup!
Kei yang melihat ini segera menelan ludahnya, dan mengamati tubuh monster dengan tatapan yang ngeri.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia berhasil menyerang Isander tadi, mungkin saja itu akan membuatnya hancur berkeping-keping karena terkena gelombang hitam aneh dari tombak yang dipegang oleh Isander.
Tak ada kemampuan yang dia miliki untuk menahan serangan ini. Dengan begitu, Kei hanya bisa pasrah dan menerima kematian apabila serangan Isander terbang ke arahnya.
Untungnya, Isander tidak termasuk terprovokasi oleh ucapannya tadi, jika dia merasa kesal, dia tidak akan berada di sini.
Dia berada di alam baka.
Setelah mereka semua perhatikan, monster Deegiant yang sudah terpotong menjadi dua bagian ini mulai bergerak.
Pada sisi tubuhnya yang terpotong, beberapa tanaman merambat yang hancur terkena energi hitam Isander mulai merayap ke satu sama lain. Tampak ingin menyatu kembali, menyambungkan bagian tubuh yang sudah terpotong.
Meski monster ini tak bergerak dan kehilangan kesadarannya, tubuhnya yang terbuat dari tanaman sepenuhnya mulai beregenerasi dan memulihkan kondisi tubuhnya seperti semula.
Kei dan Aqila melihat ini, mereka ingin menghentikan monster untuk melakukan pemulihan, tetapi mereka menunggu Isander bergerak.
Isander sudah bilang bahwa dirinya yang akan melawan monster, dan mereka tak boleh bergerak.
Ketika melihat pemandangan ini, mereka tak bisa menunggu Isander lama untuk beraksi karena monster ini terus-menerus mendekati dua bagian tubuh yang terputus agar kembali menjadi satu.
Jika tak segera dihentikan, monster ini akan bangun dan menghancurkan semuanya.
"Ke mana dia?!" Kei yang panik segera bertanya kepada anggota timnya. Sejauh mata memandang, dia tidak menemukan di mana keberadaan Isander usai serangan hebat barusan.
Aqila, Sadam, dan Hendra mengangkat bahunya dengan wajah yang bingung. Mereka bertiga juga tak melihat sosok Isander.
"Entah, aku tidak tahu!" jawab Sadam yang cemas.
"Sial!" Kei memanggil siwar apinya dan berkata, "Kita harus segera menghabisi monster ini selagi ada kesempatan!"
"Apa itu dibolehkan?"
Hendra yang masih ingat jelas ucapan Isander sebelumnya, orang itu melarang mereka untuk bergerak melawan monster ini.
Kei menatap Hendra dengan ekspresi yang rumit, sendirinya pun tak tahu.
Hati dan pikirannya sedang berdebat, apa yang ingin dia pilih untuk saat ini, menghentikan monster ini terus beregenerasi atau menunggu Isander muncul.
Tepat ketika dia termenung sembari melihat anggota timnya, sekelebat bayangan hitam muncul di depan mereka.
"Kalian pikir aku akan membiarkan dia tetap hidup?"
Sosok Isander melayang di langit dengan Cenagon Armor yang memiliki dua pasang sayap lebar yang mirip dengan sayap kelelawar berwarna hitam dan lilac. Satu pasang sayap berwarna hitam dan satu pasang yang lain bernama lilac.
Dengan lebar sayap mencapai 4 meter, Isander dapat terbang di atas mereka dengan penampilan yang luar biasa.
__ADS_1
Meisya telah membuat keinginan dan sistem memberikannya sebuah hadiah berupa 1 kartu peningkatan kemampuan satu level sehingga dia telah punya 2 kartu peningkatan yang cukup meningkatkan kemampuan Baryon Cenagon miliknya ke tingkat B.
Baryon Cenagon level B membuatnya mendapatkan kemampuan untuk terbang karena dua pasang sayap dari Cenagon tumbuh di punggungnya. Untungnya, sayap ini bisa ditumbuhkan dan juga dihilangkan.
Aqila, Kei, dan anggota lainnya terperangah karena kaget dengan apa yang mereka lihat sekarang, bahkan Kei yang tenang dan santai telah berubah menjadi seseorang yang mudah terkejut.
Mulut mereka terbuka lebar yang cukup untuk meletakkan satu butir telu di dalamnya, mata mereka tersirat perasaan tidak percaya.
Tanpa berbicara lagi, Isander mengepakkan sayapnya yang ada di punggung armor, mengeluarkan beberapa gelombang energi berwarna lilac membidik kedua potongan tubuh yang saling mendekati.
Bam! Bang! Bum!
Semua lengkungan gelombang energi lilac membombardir kedua potongan tubuh monster hingga hancur berkeping-keping.
Potongan tersebut melahirkan potongan tubuh lainnya, kedua potongan tubuh tersebut berubah menjadi 8 potongan tubuh dengan ukuran lebih kecil dari sebelumnya.
Akan tetapi, kepala monster yang kembali utuh usai ditancapkan oleh Dark Spear milik Isander itu bergerak dan mengangkat kepalanya untuk melihat Isander yang ada di atas.
Dengan teriakannya yang nyari, monster ini mempercepat gerakan tanaman yang menciptakan tubuhnya untuk menyatu satu sama lain.
Proses pemulihan monster ini makin cepat dengan tanaman-tanaman merambat paling luar begitu aktif untuk meraih potongan-potongan tubuh yang lain.
Isander dengan Dark Spear dan Havoc Zweihander di kedua tangannya menghujani potongan tubuh monster menggunakan gelombang energi yang dihasilkan dari bilah kedua senjatanya.
Dua gelombang energi yang berwarna lilac dan ungu tersebut memotong dan menghancurkan kedelapan potongan tubuh monster Deegiant menjadi beberapa bagian lebih kecil.
Tangan Isander tak mengehentikan gerakannya yang mengeluarkan serangan bertubi-tubi ke tubuh monster sehingga kedelapan potongan tersebut telah tersebar dan menjadi sekumpulan tanaman merambat yang padat.
Beberapa tanaman merambat yang berkumpul ini terpecah-belah dan berceceran di mana-mana, bahkan kepala monster yang sempat mengaum pada Isander telah menjadi potongan-potongan kecil tanaman merambat yang hidup.
Gerakan Isander tidak berhenti sampai di situ, dia masih melancarkan serbuan energi berwarna hitam keunguan dan lilac secara intens dan juga agresif.
Tak peduli monster ini telah menjadi serpihan tanaman paling kecil, Isander tidak mau monster bersatu-padu membentuk kesatuan monster yang besar dan berbahaya.
Setelah lebih dari satu menit gempuran serangan Isander dilancarkan, akhirnya Isander berhenti menyerang dan melihat kondisi monster sekarang.
Asap debu dan tanah menutupi permukaan tanah tempat monster tersebut tergeletak dan terpotong menjadi beberapa bagian.
Tak ada lagi potongan besar dari tubuh monster, kini hanya ada tanaman merambat yang mati dengan situasi yang telah terpotong-potong menjadi gundukan tanaman kering.
Aqila dan temannya terkejut melihat ini, monster yang sulit mereka kalahkan telah menjadi kepingan tanaman kecil yang terbelah dan berceceran menutupi Medan pertempuran.
Radius 100 meter yang kosong oleh pepohonan, sekarang hanya ada tanah kering dengan banyak lubang tidak merata dan ditaburi oleh bagian kecil tanaman merambat milik monster Deegiant.
Tidak ada sedikit pun yang bergerak pada bagian tubuh monster ini, semuanya benar-benar menjadi sampah yang berserakan menutupi tanah. Monster ini telah kehilangan kemampuan beregenerasi dari tanaman di sekitar.
"Apakah ini akhirnya?" tanya Kei pada Aqila dan temannya. Wajahnya melebar dengan ekspresi yang terkejut tak terlukiskan.
Aqila dan lainnya tidak merespons, mereka juga tidak tahu apakah ini akhir monster atau bukan.
Di detik berikutnya, hembusan angin menerjang tubuh mereka, menerbangkan rambut dan pakaian mereka ke belakang.
Mereka melihat Isander terbang di atas mereka berempat menghadap tempat di mana kumpulan tanaman merambat ini tersebar.
"Ini belum selesai. Monster ini tak mudah untuk dibinasakan."
Suara Isander yang dalam membuat keempatnya tertegun dan menatap Isander dengan wajah yang tidak percaya.
Kei dan yang lain menelan ludahnya. Dengan kekuatan Isander yang luar biasa kuat masih belum cukup untuk mengalahkan monster ini sampai mati.
Tidak heran apabila mereka kewalahan melawan monster besar ini di awal. Kekuatan mereka semua tidak setara dan bisa dibilang masih lemah tak cukup untuk berdiri di depan monster.
Mereka menjadi sadar dengan kekuatan mereka yang sesungguhnya tidak sekuat yang dikatakan orang-orang. Kei dan Aqila terdiam untuk menyadari dirinya yang lemah.
Kekuatan es dan api mereka bahkan tak bisa menumbangkan satu monster dalam serangan yang dilancarkan secara bersamaan.
Sebenarnya, kekuatan es Aqila mampu membekukan monster level A, seperti Beargarets. Isander pernah melawan monster tersebut juga. Es yang dihasilkan oleh kedua pedang panjangnya tak sulit membunuh monster level A itu.
Dia berpikir dirinya sudah mencapai puncak kekuatan manusia. Faktanya, kekuatan yang dia miliki masih lemah, jika disandingkan dengan kemampuan dan kekuatan Isander, itu terlalu jauh.
Kei pun merasakan hal yang sama, dari peristiwa yang dia saksikan secara langsung tanpa ada yang mengganggu dan menghalangi terdapat sesuatu yang membuatnya sadar akan kelemahannya.
__ADS_1
Apinya tidak lebih dari kekuatan kecil bagi Isander. Apinya yang sempat membakar monster tersebut bukan apa-apa di hadapan kekuatan Isander.
Dia bahkan tidak yakin bisa hidup dari hujan gelombang energi yang dilakukan Isander. Meskipun dia hidup, mungkin dia akan menjadi cacat permanen.
Di depan mereka semua, kumpulan tanaman merambat yang tak bergerak ini tiba-tiba menampilkan gerakan yang aneh. Resonan yang terjadi secara hampir berbarengan ini menciptakan suara gemerisik lembut yang bisa didengar oleh telinga Isander dan yang lain.
Potongan kecil tanaman merambat ini dalam sekejap beterbangan ke satu titik di langit, mereka berkumpul begitu cepat.
Isander yang memiliki refleks cepat langsung mengirimkan serangannya, tetapi itu tidak menghalangi tanaman merambat ini untuk berkumpul di langit.
Tak sampai 30 detik kemudian, monster Deegiant kembali menjadi sesosok monster besar dengan ukuran lebih dari 50 meter dan dalam bentuk yang berbeda dari yang sebelumnya.
Deegiant berubah menjadi sosok berbentuk manusia besar yang memiliki tanduk lebar rusa, di belakang tubuhnya terdapat ekor yang panjang. Tubuhnya masih terbuat dari tanaman merambat, tetapi ini menjadi lebih padat.
Pada saat ini, Isander dan Deegiant saling berhadap-hadapan secara terang-terangan.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Sepasang mata merah menyala Deegiant menatap Isander dengan tajam, sedangkan Isander menatap monster besar dengan sorot mata yang tenang dan santai.
Pemandangan yang disuguhkan oleh Aqila dan teman-temannya ini langsung membuat kulit kepala mereka kesemutan.
Mereka yakin, sesuatu yang luar biasa akan terjadi sebentar lagi.
Groaahhh!
Masih dengan suara yang sama, monster ini mengaum keras ke arah Isander dengan telak.
Gelombang suara yang menciptakan angin besar itu menodong tubuh Isander dan membuat Isander sedikit terdorong ke belakang.
"Aku tidak suka diteriaki seperti itu, terlebih olehmu." Isander mempertajam matanya melihat monster di depannya. "Kamu memang harus diberi tahu bagaimana caranya menghormati lawanmu terlebih dahulu. Kamu siap?"
Suara Isander yang tenang ini memiliki kesan yang menakutkan. Aqila dan yang lainnya langsung bergidik ngeri mendengar suara Isander.
Begitu suara itu jatuh, Isander dan Deegiant mode humanoid meluncur cepat mendekati satu sama lain.
Sebuah tinju besar dari Deegiant menunjuk ke tubuh Isander yang terbang di udara. Jika dilihat dari jauh, pukulan ini terlihat lambat, tetapi aslinya tidak lambat, mungkin Aqila akan sulit untuk menghindari serangan ini.
Whoosh!
Pukulan ini berhasil Isander elak, dengan kedua pedangnya yang sudah bersinar dalam warna masing-masing, gelombang energi berbentuk bulan sabit ditembakkan oleh Isander menuju dada dan leher monster ini.
Bam! Bam!
Walaupun monster ini sukses untuk bangkit, kekuatan dan kelincahan tubuhnya tidak berubah dan masih sama dengan sebelumnya.
Kedua serangan pedang Isander membuat luka yang dalam di dada Deegiant, menghancurkan tanaman merambat yang sakit terikat dan bersatu.
Lagi-lagi monster ini beregenerasi, memulihkan kerusakan pada tanaman merambat yang ada di tubuhnya dengan kecepatan yang lebih cepat.
Sebuah tinju kembali terbang ke arah Isander, dan kali ini Isander tak bisa menghindar lagi, dia mengaktifkan Wind Barrier berniat untuk memblokir.
Akan tetapi, kekuatan fisik dari monster ini sangat kuat mampu melemparkan tubuh Isander yang dalam mode Baryon Cenagon ke tanah.
Bang!
Tubuh Isander menabrak tanah dengan keras, menghancurkan tanah di bawahnya hingga menimbulkan retakan yang luas.
Seakan belum puas dengan itu, monster ini mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menurunkannya tepat di atas Isander yang masih terbaring di tanah.
Whoosh!
Melihat ini, Isander langsung mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya dan melompat sambil terbang menghindari serangan susulan dari monster.
Dengan suara dentuman dan getaran tanah, kaki besar itu menggempur tanah tempat Isander berbaring sebelumnya.
Groaahhh!
Monster meraung kesal karena tidak berhasil menginjak Isander sampai mati.
Dia melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Isander yang menghilang.
"Hei! Kamu mencariku?"
__ADS_1
Isander muncul di belakang tubuh monster, terbang menggunakan sayapnya dengan tangan yang bersinar hijau.