
Kepala Tara mendongak untuk melihat siapa yang datang kepadanya.
Seorang manusia yang ditutupi oleh jubah hitam, tanpa terlihat sedikit pun wajahnya, hanya ada sepasang mata yang menyala sinar oranye samar-samar.
Mata ini membuat Tara yang melihatnya bergidik ngeri, perasaan kecewa dan kesal sedikit terpendam oleh perasaan takut.
Entah kenapa, mata yang melotot ini mengingatkannya dengan pria kuat itu.
"Apakah kamu ingin bergabung denganku?"
Suara dingin kembali terdengar, berasal dari mulut orang yang ada di depannya.
Mendengar suara ini, Tara menduga bahwa orang yang ada di depannya adalah seorang wanita. Suara wanita dan pria bisa dibedakan dengan jelas.
Tara bingung dengan orang yang datang ini. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba memintanya untuk bergabung.
Melihat ekspresi Tara yang bingung, sosok misterius itu kembali berkata, "Kamu ingin membalas dendam dengan semua rasa sakit yang telah kamu rasakan?"
Begitu mendengar ucapan orang yang misterius ini, Tara mengingat kembali istri Redrin yang baru saja mengkhianati dirinya.
Dia tak bisa melawan barusan karena terlalu sakit, kekuatan Agtanya pun tidak bisa digunakan di saat kondisi dirinya seperti itu.
Hanya ada perasaan pasrah dan lemah, Tara benar-benar tak berdaya barusan.
Sekarang dia butuh orang yang bisa menyulutkan emosinya, membantunya membalaskan dendam.
Ekspresi Tara telah menjelaskan semuanya tanpa harus mengeluarkan suaranya.
Sebelum Tara bisa bereaksi, tangan sosok itu menyambar lehernya, kemudian menarik paksa Tara yang kelelahan, tangan kirinya mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, memasukkan sesuatu tersebut dalam mulut Tara.
"Ka–kamu?"
Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh Tara itu mulai mengendalikan seluruh tubuh Tara.
Kesadarannya menghilang, digantikan oleh sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya.
Dari tampilan luar, Tara ini langsung berdiri tegak dengan pandangan mata yang kosong tanpa ada sedikit pun ada perasaan emosi.
Sosok misterius yang melihat ini mengangguk, seolah puas dengan respons Tara yang sekarang.
"Bunuh mereka, dan ambil janin yang ada di dalam tubuh wanita itu. Ya, itu janin yang kamu isi. Segera pergi!"
Sebuah perintah keluar dari mulut sosok misterius tersebut.
Hal yang tak terduga terjadi, tubuh Tara menuruti permintaan sosok misterius tersebut dan masuk ke dalam kamar usai memberikan hormat ke sosok misterius.
"Tara, apakah kamu ingin bermain dengan kita lagi," Istri Redrin bertanya dengan wajah yang penuh kenikmatan.
Kapan lagi dia bisa merasakan 4 senjata sekaligus yang masuk ke dalam tubuhnya.
Alih-alih menjawab, celurit angin muncul di tangan kanannya, dipenuhi oleh angin yang berhembus cepat.
Dalam sekejap ruang kamar ini berubah suhunya menjadi dingin.
Semua pria Agter yang melihat ini merasakan sesuatu yang salah.
Mereka tahu Tara, pria yang kuat. Namun, mereka tidak ada yang mau menghormati Tara karena tingkahnya yang sok jagoan dan tak bisa menghormati orang lain.
Manik mata istri Redrin merefleksikan pemandangan sadis yang terjadi.
Tara dengan wajah tanpa ekspresi membunuh semua pria yang ada di ruangan ini menggunakan celurit anginnya.
Pria-pria yang ada di dalam kamar ini adalah seorang Agter, tetapi jauh lebih rendah kekuatannya dibandingkan dengan Tara.
Mereka sama sekali tidak bisa melawan Tara yang telah diisi amukan mendalam di hatinya.
"Jangan! Jangan bunuh aku, Tara!"
Cratt!
Wajah pria yang memohon itu terpotong menjadi 8 bagian, darah dan daging menyembur keluar, membasahi ruangan dan menyebarkan aroma darah yang menyengat.
Empat pria yang sedang memompa istri Redrin sudah tidak ada, kepala mereka telah terpisah dari badannya.
Semua pemandangan yang brutal dan sangat berdarah ini ditangkap jelas oleh mata istri Redrin.
Pancaran mata wanita tua itu terasa sedang ketakutan. Kulitnya yang merah langsung menjadi pucat pasti. Tubuhnya tak bergerak dan menjadi kaku saking takutnya dia melihat Tara.
Swoosh!
Pria terakhir yang masih hidup itu terpotong menjadi 3 bagian tubuh, dada, perut, dan kaki terpisah.
Dalam waktu yang singkat, ruang kamar yang rapi telah berubah menjadi tempat pembantaian berdarah yang brutal dan tak manusiawi.
Tara yang terlihat abnormal berjalan mendekati istri Redrin yang masih mempertahankan posisinya yang menungging.
Sebelum istri Redrin bisa mengucapkan sepatah kata, cahaya dingin melintas di lehernya secepat kilat.
Berikutnya, istri Redrin yang telah beberapa hari bermain dengan Tara sekejap meninggal di tangan Tara sendiri.
Kepala istri Redrin menggelinding dari atas kasur, kemudian berhenti menabrak kaki Tara.
__ADS_1
Melihat ini, kaki Tara menendang kepala istri Redrin tanpa ada sedikit pun emosi di wajahnya.
Tubuh tanpa kepala tersebut tersungkur di atas tempat tidur, Tara menghampiri tubuh wanita itu dan mulai membedahnya.
Di sisi lain, sosok misterius itu sedang menuliskan sesuatu pesan di secarik kertas. Pesan misterius itu ditujukan untuk siapa pun yang menemukan kamar ini.
Kertas tersebut dipaku di tembok dekat pintu oleh sesuatu duri keras yang diambil dari balik juban sangat tertutup.
"Sebentar lagi waktunya akan datang. Aku masih membutuhkan orang-orang kuat untuk rencana ini."
Sosok misterius itu mengeluarkan sebuah ucapan sambil melirik kertas berisi pesan yang ia pesan.
Tidak lama kemudian, sosok Tara keluar dari kamar tanpa menggunakan busana satu benang pun.
Sekujur tubuhnya ditutupi oleh darah merah yang kental. Tangan kanannya memegang sebuah janin kecil yang dipenuhi oleh darah segar milik istri Redrin.
Menghadap Tara, sosok itu mengambil janin dari tangan Tara dan menaruhnya di dalam jubah tubuhnya.
"Kerja bagus." Sosok misterius itu mengangguk puas dengan hasil kerja Tara.
Matanya bergerak mengarah ke senjata Tara yang menjuntai ke bawah tampak lemas.
Sebuah senyuman datang di balik topengnya, kemudian sosok misterius itu mengambil senjata Tara dan menarik paksa Tara ke dalam kamar tempat pembunuhan massal.
Di dalam sana, sosok misterius itu membuka seluruh jubahnya, menampilkan sosok wanita cantik yan tak kalah cantik dari Aqila.
Jika Isander melihatnya, pasti dia mengetahuinya.
Meletakkan semua alat yang mengikat tubuhnya, wanita itu naik ke atas ranjang penuh darah, kemudian melakukan itu dengan Tara yang aneh.
Pada saat yang sama, Kei baru terbangun dari mabuknya kemarin, dia menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan rasa pusing yang melanda tubuhnya.
"Kei, bagaimana kondisimu?"
Sadam datang ke dalam kamar di markas mereka untuk melihat Kei. Kebetulan Kei sudah sadar.
Di balik tubuh Sadam yang besar, ada Hendra membawakan segelas air hangat kepada Kei.
Kei yang melihat ini segera mengambil gelas berisi air hangat dari tangan Hendra, meminumnya sedikit demi sedikit.
Rasa pusing di kepalanya berangsur memudar, tubuhnya sedikit lebih baik dari sebelumnya.
"Masih terasa sedikit pusing," jawab Kei yang memegang kepalanya.
Sadam dan Hendra tersenyum melihat Kei yang seperti ini.
Duduk di kursi dekat tempat tidur, Hendra berkata, "Wajar, kamu terlalu banyak minum kemarin. Kamu dari sore hari sampai bertemu sore hari ini sepenuhnya tidur."
"Benar, kamu sudah berlebihan minumnya. Beruntung, kamu memiliki sikap mabuk yang tidak rusuh. Kami mudah untuk mengurusimu saat mabuk," tambah Sadam yang berdiri melirik tubuh Kei.
"Kita satu kelompok, harus saling merangkul dan membantu. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong sesama anggota kelompok." Hendra tersenyum dan duduk dengan santai.
Kepala Sadam mengangguk beberapa kali, membenarkan ucapan Hendra. Sebagai teman yang baik, mereka harus saling membantu dan jangan hanya ingin dibantu saja, sedangkan membantu teman malah tidak mau.
Tidak tahu mengapa, sosok Tara terbayang di dalam kepala Kei sekarang, membuat Kei ingin tahu keberadaan Tara sekarang.
"Di mana Tara?"
"Tara masih ada di rumah pemimpin. Dia sudah tidak kembali lebih dari lima hari."
Hendra masih ingat ke mana arah Tara pergi, yaitu rumah besar yang ada di tengah kota, itu rumah pemimpin Kota Garuda.
Pria narsistik itu belum kembali sejak pergi ke sana sampai hari ini.
Hati Kei merasa tidak nyaman, kemudian dia bertanya kembali, "Apakah kalian tahu kabarnya? Ini sudah terlalu lama. Dia tidak selama ini jika pergi."
Kedua teman Kei menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan dari pertanyaan Kei.
"Apa kita ingin memeriksanya ke sana nanti?" Hendra melirik Kei dengan wajah yang meminta pendapat.
Merasakan kepalanya yang sudah jauh lebih baik, sedikit sekali rasa pusing, Kei mengangguk. "Oke, kita akan ke sana sehabis makan siang."
"Baik!"
Hendra dan Sadam mengangguk setuju, tersenyum senang melihat kondisi Kei yang terlihat lebih baik dari sebelum mabuk.
Mereka bertiga berjalan keluar dari markas, beberapa anggota Garuda Comity yang bukan inti tim memberi hormat kepada Kei dan yang lainnya.
Melihat mereka yang baik-baik saja, Kei merasa lega dan memberikan senyuman kepada mereka semua.
Ketiganya ini memang terpandang dan dihormati oleh anggota Garuda Comity yang lain. Memang ketiganya yang paling normal dibandingkan orang-orang di Kota Garuda.
Kaki mereka melangkah menuju sebuah bangunan yang ramai dikunjungi oleh orang-orang kota. Bangunan itu adalah bangunan yang menjual makanan siap saji.
Ketiganya masuk ke dalam bangunan kayu yang tampak cukup rapi. Kei membayar dengan Koin Agta yang dimilikinya.
Koin Agta memiliki warna silver yang terang ketika terkena cahaya. Kei keluarkan dari kantung koin tergantung di sabuk celananya.
Pelayan mengambil koin tersebut dan tak lama kemudian mengambil beberapa makanan untuk ketiganya yang duduk bersama mengelilingi meja bundar yang lebar.
Tanpa banyak berbicara lagi, mereka bertiga mengambil makanan dan melahap makanan yang ada di bangunan rumah makan.
__ADS_1
Pemilik rumah makan ini adalah seorang wanita yang cukup tua, tetapi memiliki kemampuan masak yang baik. Wanita tua itu bisa memasak makanan yang mirip dengan makanan sebelum hari kehancuran datang dengan bahan makanan seadanya.
Tepatnya, sedikit mirip dengan makanan di mana dunia masih normal dan damai.
Hampir 1 jam mereka memakan makanan yang dihidangkan di atas meja, semua makanan telah mereka habiskan dengan bersih.
Setengah makanan yang ada di meja dihabiskan oleh Sadam, setengahnya lagi dilahap Hendra dan Kei.
Sadam, pria ini memiliki tubuh yang besar dan tinggi. Tidak aneh jika porsi makannya begitu besar.
Setelah makan dan perut kenyang, mereka bertiga berniat untuk pergi ke tempat kediaman pemimpin kota, tetapi baru saja mereka keluar dari bangunan rumah makan, seorang wanita berpapasan dengan mereka bertiga.
Sadam memiliki refleks yang cukup cepat, tangannya yang besar menutup pandangan mata Kei agar tidak melihat wanita tersebut.
"Apa yang kamu lakukan, Sadam?" Kei masih dalam kondisi yang belum fit. Tidak melihat wanita yang berpapasan dengan mereka bertiga.
Hendra sudah berkeringat ketika melihat wanita tersebut melewati mereka dan masuk ke dalam rumah makan.
Menghembuskan napas panjang, Hendra berkata, "Ada pria yang tak memakai pakaian, memiliki belalai dua. Sangat mengerikan."
Tangan Sadam ditarik kembali, dan dia mengangguk membenarkan.
Merasa aneh dengan tingkah laku keduanya, Kei melirik ke sekitar untuk melihat sesuatu yang disebutkan oleh Hendra.
"Mana? Aku tidak melihat pria itu," ucap Kei dengan heran.
Hendra menggaruk kepalanya, tersenyum kikuk, dan membalas, "Baru saja dia pergi bersama pacar prianya."
"Oalaaa, oke-oke." Kei mengangguk mengerti.
Sadam dan Hendra saling memandang satu sama lain dan tersenyum, mereka berhasil membuat Kei tidak melihat wanita tadi.
Jikalau saja Kei melihat, kesedihannya akan datang kembali dan membuat temannya ini depresi karena cinta.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman pemimpin kota.
Namun, dari kejauhan rumah kediaman itu penuh oleh orang-orang.
Hal ini membuat ketiganya penasaran dan cepat-cepat sampai di rumah besar pemimpin kota.
"Ada apa ini?" Hendra bertanya ke seorang Agter yang sedang berdiskusi begitu serius dengan Agter yang lain.
Kedatangan mereka bertiga membuat Agter yang lain terkejut.
Agter itu menoleh melihat Hendra, kemudian dia menjawab, "Pembunuhan telah terjadi di rumah pemimpin kota."
"Pembunuhan? Siapa korbannya?" Kei yang mendengar ini langsung mengingat Tara yang datang ke tempat ini beberapa hari yang lalu.
"Benar, pembunuhan dilakukan kepada istri pemimpin dan belasan pria di dalam kamar."
Begitu orang itu menyebutkan korban pembunuhan, ketiganya terkejut dengan banyaknya korban dari pembunuhan ini.
"Bagaimana dengan pemimpin?" Sadam kali ini bertanya.
Agter yang lain datang dan membantu menjawab pertanyaan Sadam, "Pemimpin masih ada di gedung pertemuan, belum tahu tentang ini."
"Sial, mengapa kalian tidak ingin memberi tahunya?!"
"Kami tak punya wewenang untuk ke sana."
Kei yang mendengar ini menjadi marah, kemudian meminta untuk Sadam pergi ke gedung pertemuan yang tak jauh dari tempat tinggal pemimpin.
Sementara itu, Kei dan Hendra berlari masuk ke dalam rumah pemimpin yang sudah ada beberapa Agter pemberani yang memeriksa rumah.
Ada beberapa Agter yang khusus bertugas memantau keamanan kota, mereka harus memeriksa tentang pembunuhan ini.
Melihat kedatangan Kei dan Hendra, mereka semua merasa senang.
Dengan begitu mereka menjelajahi tempat kejadian perkara.
Kei dan Hendra terkejut ketika melihat banyak sekali daging manusia dan darah yang berserakan di salah satu kamar di rumah ini.
Mereka bisa tahu bahwa tubuh yang terbuka dan dibelah itu adalah seorang wanita yang diduga istri pemimpin. Bukti makin jelas setelah mereka menemukan banyak sekali kepala manusia yang terdapat di sudut ruangan.
Kepala seorang wanita yang jelas menunjukkan wajahnya ditemukan oleh para petugas keamanan, wajah tersebut mirip sekali dengan istri Redrin.
Hendra dan Kei yang mencari Tara di rumah ini berharap temannya ini ada di salah satu korban di dalam ruangan ini.
Pasalnya, di ruangan mana pun, Kei dan Hendra tak menemukan Tara.
Setelah diperiksa, ternyata tidak ada Tara di antara korban.
Namun, mereka berdua menemukan suatu petunjuk yang jelas.
Sebuah tanda goresan di tembok semen ini memberikan suatu petunjuk.
Kepala Kei teringat dengan potongan yang dihasilkan oleh Tara, mirip sekali dengan goresan yang ada di sini.
"Pak, sebuah kertas telah ditemukan."
Salah satu petugas keamanan itu menunjukkan sebuah kertas yang berisikan pesan.
__ADS_1
Ketika Kei dan Hendra membaca ini, mereka berdua mengecilkan pupil matanya.
"Tidak baik!"