SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 41: Pemusnahan yang Malas


__ADS_3

Pada saat ini, Isander menatap monster Salmagtress yang ada di sekelilingnya dengan tatapan yang malas.


Meisya sudah menutup matanya dan memeluk tubuh Isander dengan erat, dia sekarang sangat terhadap kehadiran para monster.


Sementara itu, Giya dan Nina memasang postur tubuh yang siap bertarung sambil mengaktifkan kekuatan Agta mereka yang berjenis Weapon Badge.


Di masing-masing tangan kedua wanita ini sudah ada pisau yang siap digunakan untuk melukai, bahkan membunuh monster bau dan jelek di sekitar mereka ini.


“Biarkan aku yang membunuh mereka, kamu diam di sini dan tetap di sampingku,” ujar Isander kepada keduanya dengan suara yang santai, tetapi terdengar begitu penting dan serius.


Keduanya langsung merespons dengan anggukan, dan mereka berdiri di sebelah Isander dengan postur yang masih mempertahankan sikap hendak bertarung.


Melihat keduanya menuruti perintahnya, Isander menjadi tenang dan bebas untuk bergerak.


Di detik berikutnya, tangan kanan Isander yang tidak dipakai apa-apa terulur ke depan.


Sebuah asap hitam keluar dari logo yang ada di punggung tangan Isander, sebuah pemandangan keluarnya senjata Isander ditampilkan saat ini.


Giya dan Nina terpana melihat proses bagaimana senjata Isander keluar, ini sangat berbeda dengan mereka berdua. Mereka berdua hanya muncul sekilas dengan disertai cahaya putih.


Sama sekali tidak ada asap atau pun yang lainnya.


Pemanggilan senjata Isander sangat spesial dan terlihat keren, mereka juga ingin seperti Isander. Sayangnya, itu tidak bisa diatur.


Sekarang mereka berdua makin yakin dengan Isander yang adalah pria yang sangat spesial.


Banyak sekali keanehan pada pria yang memiliki seorang anak kecil perempuan ini. Mulai dari banyaknya kemampuan yang dibangkitkan, jenis kemampuan kebangkitan, dan satu ini, senjata yang dibangkitkan.


Semua kemampuan yang dimiliki pria ini semuanya spesial dan langka. Mereka iri sekaligus kagum dengan Isander.


Sebuah senjata tombak yang memiliki bilah yang keren dan aneh ini muncul di telapak tangan kanan Isander.


Kehadiran senjata tombak ini membuat para Salmagtress bereaksi aneh.


Mereka semua merangkak mundur, seolah hendak menjauh dari Isander dan lainnya.

__ADS_1


Setelah mereka perhatikan lebih lanjut, para monster ini sungguhan menjauh dari mereka semua selepas Isander mengeluarkan senjatanya.


Giya dan Nina bingung dengan pemandangan ini. Akan tetapi, mereka berdua baru sadar, dia merasakan sebuah energi kuat yang mencekam berada di dekatnya.


Energi ini terasa berasal dari sesuatu di dekatnya, dan begitu mereka melirik ke arah tombak yang Isander pegang, mereka berdua menjadi tahu dengan alasan mengapa para monster Salmagtress mundur dan menjauh.


Itu karena tombak Isander sedang mengumpulkan sejumlah energi pada bilahnya sehingga itu memberikan efek cahaya hitam yang dikelilingi oleh benang listrik ungu. Tanpa sengaja memancarkan sebuah perasaan yang kuat dan membuat kulit kepala orang yang melihatnya kesemutan.


Swooshh!


Di detik berikutnya, gelombang energi hitam dengan seutas benang cahaya ungu gelap meletus keluar dari bilah tombak, membentuk sebuah gelombang sinar laser yang menjurus ke arah depan.


Energi ini melesat sangat cepat, kedua mata wanita yang ada di sebelah Isander tidak bisa mengikuti kecepatan energi tersebut terbang.


Tak memberikan para monster menghindar, gelombang energi yang kuat itu langsung menabrak 3 ekor monster Salmagtress yang berdiri berdekatan.


Boom!


Ledakan hebat tercipta di jarak puluhan meter di depan mereka semua. Dalam sekejap tanah menjadi hancur berantakan diiringi dengan listrik kecil yang menimbulkan kerusakan berupa retakan dan efek bakar yang besar.


Angin kencang serta bebatuan yang beterbangan hendak menerpa dan menabrak mereka semua, tetapi hal ini telah diantisipasi oleh Isander.


Sebuah bongkahan tanah keluar dari permukaan tanah tepat di depan mereka semua menghalau semua benda dan dampak ledakan yang bisa mengancam mereka.


Tembok yang terbuat dari tanah ini memiliki tinggi sekitar 4 meter dengan lebar ke samping 6 meter dan memiliki ketebalan 3 meter. Tembok yang terbuat dari tanah ini sudah cukup untuk menangkis segala benda yang terhempas dari ledakan.


Tak lama kemudian, dinding tanah runtuh dan menjadi rata dengan permukaan tanah lainnya.


Begitu dinding tanah menghilang, mereka semua bisa melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan dan mencengangkan, terlebih bagi Giya dan Nina yang melihatnya.


Sebuah lubang besar dengan diameter lebih dari 7 meter terbentuk di kejauhan, menghancurkan beberapa pohon redwood, membuat retakan panjang dan lebar, dan juga menewaskan total 5 monster Salmagtress.


Keempat monster yang tersisa masih ada di area di mana tempat mayat teman-temannya tewas mengenaskan. Mereka tak bisa bergerak karena lumpuh oleh pita listrik yang menjalar di antara tanah.


Pada sekarang ini, para monster ini tak bisa melakukan apa-apa, hanya berbaring dengan empat kaki yang tak bida digunakan lagi. Mereka sudah kehilangan kemampuannya untuk bertarung dan memangsa manusia.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Begitu Isander sendirian datang kepada mereka berempat, monster-monster ini hanya dia sambil melirik Isander yang datang dengan pupil mata merahnya.


Dengan ayunan tombak hitam di tangannya, semua monster tersebut mati karena terpotong oleh cahaya hitam yang gelap.


Tubuh mereka mirip dengan tahu jika dihadapkan dengan gelombang energi hitam dari tombak ini. Sama sekali tidak ada perlawanan, itu terpotong sangat mudah dan mulus.


Tebasan bilah tombak itu itu memotong tanah hingga kedalaman 1 meter. Sangat kuat kekuatan tombak hitam satu ini.


Usai menyelesaikan masalah ini, Isander berjalan kembali kepada mereka bertiga, Giya, Nina, dan Meisya.


Ketika Isander berjalan, tombak hitam atau Dark Spear yang ia cengkeram perlahan menyusut dan berubah bentuk menjadi asap hitam yang mengepul, kemudian terbang sampai masuk ke punggung tangan kanannya.


Visual yang baru saja terjadi terlihat sangat keren dan mengagumkan. Kedua wanita ini sampai memandangnya dengan sorot mata yang penuh kekaguman dan pemujaan.


Apalagi, Meisya yang merupakan anak kandungnya. Gadis kecil ini sangat mengidolakan Isander sejak ayahnya mengalahkan monster.


Ayahnya sangat keren dan Meisya sangat menyayanginya.


Begitu sampai di depan mereka bertiga, Isander mengucapkan beberapa patah kata kepada mereka. Setelahnya, Meisya diambil alih kembali pada Isander.


Sementara keduanya berjalan menuju jasad monster yang sudah tidak berbentuk normal lagi, sangat sulit dilihat sebagai monster Salmagtress karena bentuk jasad mereka yang terkoyak sangat parah.


Mereka berdua mengambil beberapa sirip punggung monster ini yang masih utuh. Total ada sekitar 5 sirip yang bisa diambil oleh mereka berdua.


Tas Giya masih muat untuk memasukkan beberapa bukti pembunuhan monster Salmagtress lagi. Jadi, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi menuju kedalaman hutan yang paling dalam.


Setelah sekian lamanya mereka berjalan, kurang lebih 3 jam keempatnya berjalan santai ke arah selatan, mereka langsung menemukan 3 monster Salmagtress yang datang menghalangi jalan mereka semua.


Pada kesempatan kali ini, Isander tidak akan bergerak, melainkan kedua wanita ini yang akan mengurusi monster-monster tersebut. Hal ini atas permintaan mereka berdua.


“Kamu siap, Giya?“


“Tentu saja, aku siap!“


“Ayo kita mulai!“

__ADS_1


__ADS_2