
Kei menggaruk-garuk kepalanya dan merasa ucapan Sadam itu benar.
Tidak bisa menyebutkan sesuatu paling terbaik jika belum ada fakta dan datanya, paling tidak ada pengalaman yang pernah dirasakan.
Sementara dirinya sendiri baru merasakan satu goyangan wanita dan sudah menyebutkan bahwa wanita yang baru saja dicoba adalah terbaik goyangannya.
Meskipun otak Kei sedang direndam oleh mabuk akibat bir yang diminum, tetapi otaknya masih bisa berpikir dengan normal dan baik.
Logika pemikirannya berjalan dengan baik tanpa ada kecacatan.
Berbeda dengan orang-orang yang ada di dunia, mereka tidak mabuk, tetapi pola logika dan pemikirannya sangat cacat.
Wanita yang melakukan itu dengan Kei pun sama, otaknya sudah mengalami korsleting hebat hingga tidak mengapa melakukan kegiatan itu bersama banyak pria sekaligus.
Dia benar-benar lacur super sekaligus paling rendahan.
"Kamu benar, Hendra, Sadam, aku akan berusaha melupakan dia." Mata Kei penuh ras tegas yang kuat. Dia sudah menemukan rasa semangatnya lagi.
Bangun dari kursi kayu, berdiri di antara Hendra dan Sadam, membenturkan minuman ke atas meja kayu.
Bam!
"Aku akan menemukan wanita yang mencintaiku apa adanya! Aku pasti bisa mendapatkannya!"
Semua orang terkejut mendengar raungan Kei yang tiba-tiba muncul di antara keramaian yang ada di dalam bar.
Melihat pria yang berkata dengan keras itu adalah Kei yang cukup terkenal, semua orang yang ada di dalam bar langsung bertepuk tangan tanpa mengetahui isi ucapan Kei.
Prok! Prok! Prok!
Senyuman muncul di ujung bibir Kei, dan dia mengangguk puas melihat semua orang di dalam bar bertepuk tangan untuknya.
Usai tepuk tangan itu berhenti, Kei membungkukkan tubuhnya yang sedikit tidak seimbang dan berterima kasih.
Berikutnya, Sadam dan Hendra membawa Kei ke markas besar timnya supaya berhenti meminum minuman keras, seperti bir lagi.
__ADS_1
"Apakah aku salah?" tanya Kei dengan wajah yang sudah tampak sangat aneh akibat mabuk.
Rasa mual dan pusing sudah mulai melanda tubuhnya.
Sadam menggelengkan kepalanya, terus menggotong tubuh Kei di belakang punggungnya, kemudian menjawab, "Tidak, kamu tidak salah, itu alami, semua orang juga akan seperti itu saat pertama kali melakukan hal itu dengan wanita."
"Benar, kamu tidak salah, Kei. Memang sudah sepatutnya seperti ini. Memang wanita yang kamu rasakan goyangannya bukan orang yang tepat. Kamu harus menghindari wanita itu, ditakutkan penyakit dia ikut masuk ke dalam tubuhmu," tambah Hendra dengan kalimat yang membuat Kei makin tersadar.
"Terima kasih, kawan. Aku sangat-sangat berterima kasih kepada kalian berdua."
Kei terlihat sangat senang mendapatkan teman seperti Hendra dan Sadam yang bisa menyemangatinya di kala susah dan sedih.
Berbeda dengan Tara, pria itu entah ke mana sekarang.
Mereka bertiga terus berjalan di antara banyak sekali orang di jalan kota dengan punggung yang terlihat banyak beban.
Kota Garuda dan kota yang lainnya adalah tempat di mana menampung para Agter atau manusia berkekuatan Agta, tetapi mereka semua makin lama makin gila.
Sebuah pemahaman yang sangat di luar otak telah memasuki akal sehat kebanyakan Agter di Kota Garuda.
Anak-anak kecil yang ada di dalam kota adalah anak kecil yang diambil dari luar kota.
Lebih tepatnya, mereka menculik anak kecil dan dipaksa untuk memuaskan nafsu mereka semua, perilaku mereka sangat-sangat bejat.
Hanya ada sedikit yang normal dan kebanyakan dari orang yang normal ini tidak bergabung lama-lama dengan orang yang tak normal alias abnormal. Keluar dan bergabung hanya demi kepentingan pribadi, seperti membeli makanan dan yang lainnya.
Hal ini juga yang membuat Aqila malas untuk ke kota dan memilih pergi ke tempat yang lain.
"Begitulah, mereka semua sudah tidak normal lagi hari demi hari. Mereka tidak merasa bersalah ketika melakukan itu di jalan, bahkan dengan sesama jenis. Wanita-wanita di sana sudah tidak memiliki rasa kehormatan sebagai wanita. Mereka semua tidak malu melakukan itu bersama lima orang sekaligus," terang Aqila di malam hari kepada Isander dan yang lainnya.
Di malam hari, mereka semua hampir sampai di wilayah Brebes, sekarang mereka ada di rumah pohon yang dibuat oleh Isander.
Masih seperti di malam yang lain, mereka akan berkumpul untuk berbincang sebelum tidur.
Kali ini Aqila menjelaskan kondisi terkini Kota Garuda yang makin mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Sungguh?" Reza menampilkan ekspresi terkejutnya setelah mendengar ucapan Aqila.
Tak hanya Reza saja, semua orang dewasa yang duduk berkumpul di ruang rumah pohon ini terperangah tak percaya.
Wajah semua wanita yang ada di sini benar-benar terdistorsi mendengar pernyataan Aqila.
Apakah emang begitu bobroknya dunia ini?
Dengan wajah yang tak percaya, Kila berkata sambil melihat ke lantai kayu, "Seingatku, beberapa Minggu yang lalu sebelum aku pergi bersama Isander, kondisi Kota Garuda tidak begitu buruk."
"Ya, itu benar! Aku juga melihat secara langsung dan itu tidak semua wanita yang seperti itu. Memang dahulu hanya segelintir wanita yang seperti itu, dan aku lihat mereka juga terpaksa karena ada kebutuhan untuk makan," sambil Reza dengan sesuai pengalamannya.
Sebelum pergi dan bertemu Isander, keduanya melihat Kota Garuda baik-baik saja, bahkan saat mengikuti Isander bertualang dan menukar Koin Agta, Kota Garuda tidak terlihat begitu buruk.
Setidaknya, sebelum mereka pergi ke Kota Komodo, Kota Garuda tidak begitu parah walau memang sosial buruk sudah makin menjamur layaknya virus.
Maka dari itu, mereka di sana juga tidak begitu lama, berjam-jam di sana sangat membuat otak dan hati menjadi tidak nyaman.
Fenomena yang tak mungkin terjadi saat sebelum dunia hancur, sekarang banyak terjadi.
Namun, mereka tidak memberi tahu hal tersebut kepada Isander karena takut Isander tidak ingin memperjuangkan umat manusia yang seperti itu.
Juga, takut informasi hal itu tidak berguna bagi Isander.
Aqila menggelengkan kepalanya, menghembuskan napas berat, menatap Isander dan yang lain, melanjutkan menjelaskan, "Sejak kejadian Pak Tole menjadi monster, beberapa Agter ikut-ikutan menjadi monster dan tidak sedikit dari mereka yang mati tanpa sebab. Kebetulan atau tidak, sifat semua Agter juga makin liar. Keburukan mereka semua terkuak.
"Hal ini menimbulkan banyak sekali masalah di dalam kota. Selain aku dan anggota Garuda Comity harus mencari pelaku atau sosok yang menyebarkan minuman pengubah manusia menjadi monster, kami juga dihadapkan oleh masalah sosial yang buruk tersebut. Pusing, sangat melelahkan."
Mendengar pernyataan Aqila, semua orang merasakan betapa lelahnya Aqila dan anggota timnya.
Harus mencari sosok misterius yang bahkan tidak tahu bagaimana sosoknya dan tak memiliki petunjuk yang dapat dipercaya.
Dilanjutkan lagi oleh tugas membenahi struktural sosial yang berantakan.
"Apa pemerintah tidak ikut membereskan dua masalah tersebut?"
__ADS_1