
Sekejap Isander terdiam dan mengubah topik pembicaraan mereka bertiga. Isander tidak mau membuat kedua gadis remaja ini sedih.
Peristiwa yang dialami oleh kedua gadis remaja bisa dibilang hal yang biasa terjadi di dunia ini, bahkan banyak sekali orang yang telah kehilangan seluruh keluarganya, saudaranya, kelompoknya, bahkan teman-temannya karena monster.
Di dunia yang kejam ini, para manusia di sini hanya bisa memendamkan kesakitan dan rasa sesak di dada. Terus melangkah di tengah medan yang penuh dengan darah merah. Tak peduli seberapa sakitnya itu, hidup adalah sesuatu yang ingin dia jaga.
"Jadi, kalian berdua sudah berada di sini sejak lama?" tanya Isander dengan suara yang lembut dan hati-hati.
Keduanya serentak menganggukkan kepalanya untuk merespons pertanyaan Isander. Reren melirik wajah Isander dengan ekspresi wajah yang sedih dan menjawab, "Beberapa waktu sejak keluarga kami tiada, kami pergi ke sini setelah melewati banyak monster."
Sesuai yang telah mereka cerita tentang kronologi mereka tentang mengapa tidak bersama keluarganya, mereka sempat menyebutkan waktu di mana mereka benar-benar hidup berdua, tidak ada orang lain yang hidup bersamanya.
Terbilang sedih dan suram, tetapi Isander kagum pada mereka bisa bertahan hidup di dunia yang berbahaya.
"Apa kalian ada niatan untuk pergi? Atau tujuan lainnya?" Isander menatap keduanya sembari memiringkan kepalanya.
Reren dan Helen menatap satu sama lain seolah sedang berdiskusi. Setelah keduanya saling berbisik, Reren yang selalu menjawab pertanyaan Isander mulai berkata lagi, "Niatan untuk pergi sudah ada. Namun, ke mana kita bisa pergi? Kami tidak seperti kamu yang mempunyai kekuatan, kalau kami pergi dari sini, kami belum pasti bisa selamat dari banyak monster yang berkeliaran di sekitar sini."
"Um, jadinya kalian memutuskan untuk menetap di sini untuk sementara waktu?"
"Benar, seperti itu." Reren mengangguk membenarkan ucapan Isander.
Di dunia luar sangat keras, sangat sulit mencari tempat aman di dunia ini, jika dia telah aman di suatu tempat, bukankah itu suatu hal yang beruntung? Lebih baik menetap dan terus berlindung.
Bagi seorang anak kecil seperti mereka berdua, tidak ada cara lain untuk bisa hidup selain menghindari banyak tempat berbahaya. Mereka tidak bisa melawan satu monster pun, sangat berbahaya untuk mereka pergi ke mana-mana karena tak punya senjata untuk melindungi mereka berdua dari segala ancaman monster yang ada.
Entah mengapa, sehabis Reren mengangguk, Isander terdiam sembari memandang Meisya yang duduk di atas pangkuannya tengah memakan vitamin kunyah.
Tampak mereka sedang bermusyawarah sebelum melakukan keputusan yang bijaksana dan tepat. Ada sesuatu yang sedang mereka berdua rencanakan.
Tiba-tiba Isander mengalihkan wajahnya ke arah keduanya dan berkata, "Lebih baik kalian makan yang aku berikan itu, kebetulan hari sudah lewat siang hari, sudah waktunya makan siang."
"Baik, kami berdua akan makan siang sekarang."
Sekarang ucapan yang dilontarkan Isander adalah perintah bagi mereka. Anak kecil umumnya mengikuti ucapan orang yang lebih besar karena mereka masih belum bisa bergantung pada diri sendiri dan sangat membutuh sesosok yang melindungi mereka.
Membuka bungkusan plastik yang dibawa Reren, mereka berdua dengan sedikit tergesa-gesa mengeluarkan isi bungkusan plastik.
Tanpa banyak bicara, mereka pun memakan beberapa makanan yang ada di dalam kantung plastik yang Reren bawa.
Setelah itu, mereka berdua bersama Isander dan Meisya makan siang bersama untuk memenuhi perut mereka agar tidak kelaparan.
Melihat kondisi tubuh mereka sekarang, memang jelas terlihat kurus dan kotor, seperti orang yang diet menurunkan berat badan puluhan kilogram, beberapa bagian tubuh terdapat tulang yang menonjol saking kurusnya tubuh mereka.
Akan tetapi, dari pernyataan keduanya, kondisi mereka cukup baik, dibandingkan sebelumnya yang benar-benar sulit untuk makan setiap hari.
Memang benar, beberapa bagian tubuh mereka terlihat normal dan tak begitu kurus kering.
Tetap saja jika dibandingkan Isander sendiri dan anggota kelompoknya, tubuh dua gadis remaja ini kurus dari mereka semua.
"Makan yang banyak, sehabis ini tolong ajak aku mengelilingi pemukiman ini. Apabila kalian tahu ada tempat yang menarik yang ada di sini, tolong bawa aku ke sana," kata Isander melirik mereka berdua yang sedang melahap makanannya.
Reren memberhentikan tangannya mengambil makanan, dan mengangguk. "Kami akan mengajak kalian berkeliling tempat ini."
"Benar, aku tahu satu tempat yang cukup menarik," tambah Helen sambil memegang sendok di tangannya yang penuh oleh makanan.
Mereka tidak banyak menghabiskan banyak waktu untuk makan siang. Berikutnya, mereka keluar dari gubuk kecil yang reyot dan mudah roboh.
Di bawah tatapan banyak orang yang ada di daerah pemukiman, mereka semua berjalan meninggalkan kawasan tempat tinggal orang-orang dan pergi menuju ke jalan utama pemukiman luar kota.
Banyak sekali orang yang memfokuskan pandangannya ke sosok Isander yang berjalan bersama kedua gadis remaja. Penampilan Isander memang sangat berbeda dengan yang lain, mereka tampak lusuh dengan kulit yang banyak sekali noda kotoran, berbeda dengan Isander yang bersih dengan kulit yang putih dan mengkilap.
Hal ini membuat asumsi mereka terhadap Isander bahwa Isander termasuk orang yang memiliki sesuatu yang berharga.
__ADS_1
Sebetulnya, ada beberapa orang yang tampak berbeda seperti orang yang mempunyai kekuatan Agter yang berjalan di sini tengah mencari sesuatu. Mungkin Agter-Agter ini mencari barang yang sedang dia butuhkan dengan harga yang murah.
Benar, barang di sini diobral sangat murah. Jika beruntung, bisa saja mendapatkan barang bagus dengan uang yang dikeluarkan tidak banyak.
Tak sedikit orang yang sudah membuat rencana terhadap Isander, target penjualan barang bekas mereka sudah ditemukan.
Baru saja berjalan selama 5 menit di jalan utama besar di pemukiman luar kota, banyak sekali orang-orang menyodorkan banyak barang ke Isander dengan tawaran harga yang sangat murah.
"Pak, saya menjual gelas pecah, masih bisa dipakai untuk minum, tetapi harus hati-hati, bisa saja melukai bibir Anda. Saya menjualnya satu Koin Agta."
"Jual baju dua pasang tiga Koin Agta, bagus-bagus, Pak. Apakah Anda mau?"
"Termos rusak, barang ini sulit ditemukan, cocok untuk dijadikan barang koleksi. Saya menjualnya lima koin Agta."
"Anu, ini saya punya karpet tebal dan bagus, saya menjual dengan harga tiga koin Agta saja."
"..."
Sebagian besar dari barang yang orang-orang di sini tawarkan tidak menarik perhatian Isander, tetapi ada satu atau dua barang yang berguna dan Isander cukup tertarik.
Karpet dan dia pasang baju yang bagus Isander ambil dengan bayaran buan dengan Koin Agta, melainkan makanan.
Isander sengaja memberikan banyak makanan kepada mereka yang berhasil membuat transaksi dengannya.
Hitung-hitung membantu mereka semua dalam menghadapi kesulitan di dunia ini.
Kedua barang ini sulit dibawa, gadis remaja ini mau membantu Isander dengan membawa barang kecil, seperti sepasang baju yang dia beli, jumlahnya terus bertambah karena baju yang ditawarkan lumayan bagus.
Untuk karpet tebal, Isander yang bawa karena ini memiliki berat yang sulit untuk dibawa oleh seorang gadis apalagi masih kecil.
Sepanjang jalan yang cukup lebar dan dipenuhi banyak orang yang berjualan, mereka bertiga menghadapi ribuan tawaran barang dari banyak orang.
Jujur saja, Isander pusing mendengar ucapan mereka yang terkadang hampir sama bagai kalimat promosinya disalin dengan kalimat yang hampir sama.
Setelah melewati berbagai orang-orang yang berjualan menawarkan barang yang dijual, Isander berhasil mencapai tempat yang disebutkan Helen merupakan tempat yang menarik.
Tempat tersebut adalah tempat di mana jejak kaki besar aneh yang tercetak di permukaan tanah dengan kedalaman jejak kaki beberapa sentimeter.
Tidak banyak orang di sekitar sini karena letak tempat menarik ada di pinggiran dalam pemukiman, tidak begitu dekat dengan jalan utama yang banyak orang lewati.
Berjongkok di sekitar jejak kaki sembari memegang tangan Meisya yang sedang berdiri di sebelahnya yang juga penasaran dengan jejak kaki yang besar ini.
"Apakah ada cerita di balik jejak kaki ini?" Mata Isander melirik kedua gadis remaja yang ikut berdiri di sekitar jejak kaki raksasa.
Reren yang lebih tua dari Helen memberi tahu kepada Isander sesuai dengan apa yang pernah ia dengar desas-desus tentang jejak kaki di depannya ini yang membuat banyak orang-orang di luar pemukiman terheran-heran. "Jejak kaki dari monster yang pernah menyerang ke kota ini. Banyak orang yang bilang bahwa monster ini sangat kuat dan hampir menghancurkan kota ini. Namun, itu tidak berhasil karena banyak Agter yang mampu melumpuhkan monster ini. Tentu saja, ukurannya sangat besar bisa dilihat dari jejak salah satu kakinya."
Penjelasan Reren membuat Isander tertarik dengan cerita tentang monster raksasa yang nyari menghancurkan kota.
Isander sudah terbiasa melawan monster yang besar yang ukuran belasan meter, dan semuanya bisa ia kalahkan dengan usaha yang tidak terlalu banyak.
Maka dari itu, dia sangat ingin mengetahui monster yang kuat hingga tidak mustahil menghancurkan Kota Garuda yang besar dan luas ini.
"Apa nama monster itu dan bagaimana bentuknya?" tanya Isander dengan wajah yang menunjukkan rasa penasaran yang lebih.
Memegang dagunya, Reren mencoba mengingat kembali ucapan banyak orang yang pernah membahas monster yang menjadi legenda dan perbincangan orang-orang.
Tiba-tiba Reren melepas tangannya dari dagunya dan berkata, "Kalau tidak salah ingat, monster ini memiliki ukuran besar puluhan meter dan penuh bulu, banyak yang bilang bentuknya mirip primata, entah monyet atau gorila."
Mendengar informasi dari Reren, Isander mengangguk diam-diam dan merenung sembari melihat ke jejak kaki besar di depannya yang memang mirip dengan jejak kaki primata, jelas berbeda dengan jejak kaki manusia dan hewan lain.
Bisa dibilang informasi dari Reren cukup sesuai dan akurat dengan kenyataannya.
Untuk sementara ini anggap saja benar. Kalau memang ada, Isander berharap dia bisa bertemu dengan monster itu. Dia ingin sekali menghancurkan monster yang mengancam keberlangsungan keberadaan manusia di muka Bumi ini.
__ADS_1
"Para Agter membunuh mereka. Kata orang-orang yang tinggal di dalam kota dan pernah ke sini, tengkorak monster itu dijadikan pajangan di dalam kota sebagai tanda pencapaian mereka semua," Reren menambahkan lagi ucapan yang sebelumnya.
"Menarik." Isander sedikit tersenyum dengan tilikan mata terkunci pada jejak kaki.
Setelah melihat tempat yang menarik satu ini, Isander dan lainnya pergi untuk mengelilingi area pemukiman luar kota atau luar tembok kota.
Banyak sekali tempat yang aneh, seperti pohon tinggi yang berbeda jenis dengan pohon di sekitarnya, gubuk tua kosong yang rusak dan tak berpenghuni, dan beberapa tempat lainnya yang malah terdengar mengerikan.
Dari semua itu, Isander tetap tertarik dengan jejak kaki primata yang besar di awal. Tempat lainnya tidak membuat Isander lebih tertarik lagi.
Bukan karena Isander memiliki selera seksual yang aneh, dia tidak punya selera jejak kaki. Alasan dia lebih tertarik jejak kaki monster karena itu berasal dari monster.
Dia memang punya ambisi menghabisi banyak monster di dunia ini dan menciptakan dunia yang bebas dari monster dan manusia bisa kembali ke puncak rantai makanan.
"Kamu bukan dari Kota Garuda? Belum pernah ke dalam sana? Mengapa tidak ke dalam?" Kaki ini Reren dan Helen yang bertanya tentang identitas Isander.
Mereka berdua terkejut saat tahu Isander belum pernah ke dalam kotak. Awalnya mereka kira Isander berasal dari dalam kota karena penampilannya yang bersih dan ... tampan, juga seorang Agter.
Sayangnya, dugaan mereka salah, Isander bahkan tidak pernah sekali pun ke dalam kota. Oleh sebabnya, Isander tidak tahu perihal monster yang hampir meratakan kota.
Isander tersenyum sebelum menjawab pertanyaan mereka, "Ya, aku dan anakku bukan berasal dari Kota Garuda, kami dari luar kota."
Meisya mengangguk dengan kepalanya yang kecil dan ekspresi yang sangat lucu.
"Oh, kalian berdua dari luar kota juga seperti kami. Bukannya kamu punya kekuatan Agta, mengapa tidak ke dalam kota dan tinggal di dalam sana," ucap Reren dengan heran dan penasaran.
Dengan cepat Isander menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tertarik. Ada alasan khusus mengapa aku tidak mau tinggal di dalam kota. Aku tidak bisa menjelaskannya di sini."
Mereka ada di depan pemukiman luar tembok kota, beberapa orang memandang mereka terlihat ingin tahu dengan apa yang mereka bicarakan.
"Sekarang aku ingin tanya pada kalian, apa kalian mau ikut aku atau tidak?" Isander menawarkan mereka untuk ikut bersamanya.
Reren dan Helen menatap Isander dengan wajah yang terkejut, tak pernah mereka berpikir Isander akan mengajaknya pergi dari pemukiman yang kotor ini.
Namun, di beberapa detik berikutnya mereka berdua terlihat ragu.
"Mengapa kalian menundukkan kepala seperti itu?"
"Anu, kami berdua tidak punya kemampuan, kami takut itu akan merepotkan kamu jika kamu berdua ikut, kamu takut menjadi beban bagimu," ucap Reren dengan wajah yang rumit.
Mendengar ini, Isander tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tepat ketika dia hendak mengeluarkan kata-katanya, Meisya yang ada di pelukannya mendahuluinya dan berkata, "Ayah sangat kuat, pasti ayah bisa menjaga kalian berdua. Jangan khawatirkan ayah, dia hebat, bisa mengalahkan banyak monster!"
Suara susu Meisya dengan nada yang cukup keras membuat banyak orang yang ada di sekitar memindahkan perhatiannya ke Isander dan dua gadis remaja.
Mengabaikan tatapan banyak orang, Isander fokus pada kedua gadis remaja. "Jangan khawatirkan itu. Sekarang aku tanya lagi, apakah kalian mau ikut aku atau tidak?"
"Itu ...." Reren bingung harus memilih apa.
"Dari lubuk hati kalian yang paling dalam, apakah kalian ingin pergi dari pemukiman ini dan hidup lebih baik atau tidak?"
"Aku—" ucapan Reren terputus.
"Mau ikut aku atau tidak? Jawab dengan jujur." Isander tidak ingin mengulang pertanyaannya lagi.
Kali ini, Reren tidak langsung menjawab, melainkan saling berbisik dengan Helen konsultasi akan keputusan mereka.
Setelah Isander menunggu lebih dari 1 menit, Reren menatap Isander dan menjawab, "Kami berdua mau ikut."
"Baik. Kalau begitu, kalian bergegas untuk mengemas barang-barang kalian di rumah."
"Kami mengerti."
__ADS_1
Setelah itu, mereka semua kembali ke gubuk kecil tempat Reren dan Helen tinggal untuk membawa beberapa barang penting dan berharga bersama mereka.