SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 89: Monster Kelabang Kuat


__ADS_3

Tubuh Isander membentur pohon di kejauhan, membuat batang pohon yang menahan tubuhnya menjadi rusak dan terbelah.


Dampak dari tabrakan yang dilakukan monster ini sangat kuat, Isander bahkan terlempar hingga 20 meter jauhnya dari tempat dirinya berdiri.


Bisa dibayangkan bagaimana orang lain yang terkena serangan ini, kemungkinan besar Agter yang lebih lemah darinya patah tulang, atau lebih parahnya tewas seketika.


Isander bangkit dari batang pohon yang patah dan hancur dengan kondisi tubuh tidak terluka, tetapi bajunya mengalami kerusakan, beberapa daerah dari tubuhnya terekspos karena lubang yang ada pada pakaiannya.


"Menarik," gumam Isander sambil tersenyum di sudut mulutnya.


Tak pernah dia sangka monster ini memiliki tenaga yang besar, dan tabrakan dari tubuhnya cukup memberikan kerusakan pada tubuhnya.


Jika dilihat dengan jelas, beberapa goresan tercipta di beberapa bagian di tubuh Isander, luka goresan yang memanjang tersebut menjadi bukti betapa kuatnya monster ini.


Sebelumnya, Isander tak pernah mendapatkan luka dari monster-monster, kecuali ketika dirinya melawan monster Pak Tole.


Pada kesempatan kali ini, Pak Ghandi yang menjadi monster juga dapat melukainya.


Sudah jelas sekali bagaimana kekuatan yang dimiliki monster kelabang yang menjijikkan ini, dia tak boleh lebih lemah dari Pak Tole.


Dengan senyuman yang makin lebar, Isander memiliki rencana untuk melawan monster ini dengan serius tanpa ada rasa meremehkan.


Matanya menatap sosok kelabang besar di kejauhan dengan perasaan yang sangat bersemangat. Saking antusiasnya, Isander tidak sadar bahwa luka yang didapatkan telah menghilang hanya dalam beberapa detik.


Regenerasi tubuh Isander aktif seketika saat mendapatkan luka.


"Sudah saatnya aku melihat kemampuan Mode Beast lebih lanjut."


Setelah mengatakan itu, keseluruhan tubuh Isander terbungkus oleh armor ungu Lilac yang keren. Tak ada sedikit pun bagian yang tidak ditutupi oleh armor aneh dan kuat ini.


Dark Spear muncul tepat di genggaman tangan kanannya dengan cara perlahan, dimulai dari batang tombak dan terus menjalar hingga muncul ke bagian bilah dan ujung bawah tombak.


Tidak sampai di situ, senjata yang lain muncul dengan cara yang indah, tangan kiri Isander seakan mengambil sesuatu di udara yang kosong dan sebuah pedang panjang dan besar ditarik keluar dari udara.


Sebenarnya, pedang tersebut terbentuk secara bertahap dari energi misterius berwarna lilac, tidak semata-mata muncul dari udara tipis.


Swoosh!


Kedua senjata ini diayunkan ke samping dan suara udara terbelah terdengar.


Bisa dilihat bahwa kedua senjata ini bukanlah sesuatu yang lemah dan bisa diremehkan.


Ketika monster kelabang ini melihat transformasi Isander, dia lebih fokus memandang ke arah kedua senjata yang dipegang oleh Isander. Dia bisa merasakan ada sesuatu energi asing yang kuat yang terkandung di dalam kedua senjata itu.


Namun, baju Isander yang menyelimuti tubuhnya memberikan rasa krisis juga kepadanya.


Perasaan yang tak enak bereaksi di tubuh panjang monster tersebut, rasa cemas dan tidak nyaman membuat monster bertingkah aneh seolah-olah ada suatu keengganan yang muncul pada tubuhnya.


Krieett!


Monster ini tiba-tiba melancarkan serangannya lagi kepada Isander dengan cara yang sama, merayap dengan cepat dan menusuk-nusuk Isander memakai ratusan kakinya yang tajam.


Sayangnya, serangan itu tidak dapat melukai Isander sama sekali, armor hitamnya yang diberkahi energi lilac menahan semua ujung tajam dari kaki monster yang membombardir tubuh Isander. Tidak ada satu pun yang berhasil menembus tangguhnya armor yang dikenakan Isander.


Isander tersenyum mengetahui armornya dapat menahan semua serangan kuat monster ini, senang dengan senjatanya yang mampu mengatasi banyak serangan kuat. Dengan begini, dia tidak perlu khawatir dengan keamanan dirinya sendiri ketika bertarung melawan monster.


Hanya perlu menggunakan Cenagon Armor dan dia mampu menahan banyak serangan yang mengenai tubuhnya.


Tanpa banyak berpikir lagi, Isander mundur dari serangan tusukan kaki monster yang menghujaninya. Dia tidak mau armor yang dikenakannya ternyata rusak, dan dia tidak mau mengambil risiko tersebut.


Sangat konyol jika armor yang awalnya kuat menahan banyak serangan tiba-tiba hancur karena terlalu banyak menerima kerusakan.


Mundur ke belakang dengan cepat, monster ini langsung sadar akan sosok Isander yang menghilang di depannya, kemudian bergerak mengikuti ke arah di mana Isander menghindar.


Menatap monster yang bergerak cepat untuk mengikutinya, Isander tertegun melihat ini, dia tidak menyangka gerakan makhluk besar bisa gesit dan lincah seperti ini.


Baru saja dia menapakkan kakinya di tanah, monster kelabang sudah ada di depannya tengah mengarahkan tubuh belakangnya ke Isander, berniat untuk menghancurkan Isander dengan tubuh belakangnya layaknya ekor.


Bam!


Kecepatan monster ini sangat cepat, Isander yang cepat saja tidak bisa mengelak dan tubuhnya dihantam oleh bagian belakang tubuh monster ke belakang dengan dahsyat.


Tubuh Isander terpelanting jauh dan menabrak batang pohon sampai rusak tak beraturan.

__ADS_1


Asap debu membubung tinggi mengikuti jalur Isander terbang dan menghancurkan belasan pohon yang berdiri.


Krieett!


Monster ini berteriak, percikan cairan hijau yang tampak jijik keluar dari mulutnya membasahi sebagai permukaan tanah di depannya dan membuat banyak lubang kecil di tanah.


"Sialan, ternyata kekuatannya benar-benar besar. Cukup sampai di sini, aku tak boleh lama-lama melawan monster keparat ini!"


Suara Isander yang kesal terdengar dari tumpukan batang pohon.


Duar!


Serpihan kayu dan potongan batang pohon terlempar ke atas, memperlihatkan sosok Isander yang berbaring di atas banyak potongan batang pohon, dia terlihat menyedihkan.


Tangan Isander menjangkau batang kayu yang lebih tinggi dari tubuhnya, dan terlihat ingin berdiri dari reruntuhan pepohonan.


Tepat ketika dirinya ingin bangun dari kumpulan batang pohon yang rusak, keberadaan monster kelabang sudah ada di depannya, berdiri dan siap untuk menyerangnya.


Di detik berikutnya, monster ini menjulurkan kepalanya ke arah Isander yang masih terbaring di banyak potongan batang pohon.


Mulutnya yang memiliki capit terbuka lebar, dan tubuh bagian atas monster ini dengan kecepatan tinggi menyentuh tubuh Isander yang ada di bawah.


Bang!


Sebuah ledakan terjadi disertai suara benturan keras yang menciptakan gelombang kejut kecil, dan menggetarkan banyak dedaunan yang ada di sekitar.


Sekali lagi asap mengepul menutupi sosok keduanya sehingga tidak ada yang bisa dilihat.


Tanah tempat mereka bertarung memiliki butiran pasir dan serpihan tanah kering yang dapat menimbulkan asap, ditambah serpihan kayu yang sangat kecil membentuk asap akibat angin yang berasal dari benturan kencang.


"Aku tidak selemah itu, Jingan!"


Suara Isander yang marah muncul, dan disusul oleh tubuh monster yang terhempas beberapa meter, asap yang mengepul langsung menghilang oleh kibasan angin dari terlemparnya tubuh monster.


Begitu asap menipis, terlihat sosok Isander yang mengenakan Cenagon Armor berdiri di atas tumpukan puing batang pohon.


Tangannya yang terkepal dan terulur ke depan ditarik kembali, dia berhasil meninju monster ini dengan murni kekuatan fisiknya.


Amarah Isander memuncak, dia benar-benar merasa diremehkan oleh monster satu ini


Kecepatan monster ini memang sangat cepat, hampir menyamainya.


Benar hampir menyamainya, Isander belum menggunakan kecepatan tubuhnya secara penuh, bahkan untuk meninju monster tadi sampai terbang terbalik tidak mengerahkan seluruh kekuatannya.


Whoosh!


Sosok Isander yang telah kembali tenang mulai bergerak kembali, dua senjata dicengkeram erat di kedua tangannya, siap untuk mulai menyerang sungguh-sungguh.


Siluet garis berwarna lilac meluncur begitu cepat ke arah monster kelabang yang tergelatak di tanah berusaha untuk membalikkan tubuhnya yang terbalik.


Namun sayang, Isander telah berada di depan monster ini dan mengayunkan Dark Spear serta Havoc Zweihander secara brutal.


Slash! Slash!


Cahaya dingin berwarna lilac dan ungu gelap tercipta di sekitar tubuh monster kelabang, seolah lampu yang berkelap-kelip itu sedang menghiasi tubuh monster yang jelek.


Lampu ini terus bermunculan dari dua senjata yang diayunkan Isander, dan dalam 1 menit berselang, Isander menghentikan aksinya.


Dalam sekejap, suasana menjadi sunyi, monster kelabang yang bergerak-gerak tiba-tiba diam bagai patung.


Isander yang mundur beberapa meter dari monster kelabang ini melepaskan form, Cenagon Armor yang dipakai menghilang bersamaan dengan kedua senjata yang dipegang.


Booom!


Tubuh monster kelabang yang diam tak bergerak sedikit pun meledak, menyemburkan cairan hijau yang busuk ke segala arah.


Semua serangan Isander yang menggunakan kedua senjatanya dengan telak mengenai tubuh monster, dan setiap tebasan yang ada berhasil merusak cangkang kelabang yang dapat dengan cepat tumbuh kembali.


Sayang sekali, cangkang monster belum mampu untuk menerima kerusakan kedua senjatanya, Dark Spear dan Havoc Zweihander.


Serangan yang dilakukannya tadi menghabiskan setengah tenaganya, sekarang Isander merasa begitu lemah dan butuh istirahat.


Akan tetapi, Isander tidak bisa istirahat sekarang, dia harus mengurus kekacauan yang telah dibuat.

__ADS_1


Bongkahan daging dan darah merah monster telah menguap oleh cairan asam. Jadi, Isander hanya perlu menghilangkan cairan monster ini dari permukaan tanah.


Jika tidak, itu akan berbahaya bagi orang lain dan pepohonan di sini.


Dengan tubuh yang terasa lelah, Isander mulai membersihkan cairan asam berwarna hijau ini.


Permukaan tanah di sekitar Isander bergetar, dan getaran makin lama menjadi lebih besar.


Berikutnya, tanah yang ada di dekat Isander mengikuti gerakan arahannya dan mulai merembet untuk menutupi cairan asam yang sangat korosif.


Tanah berangsur-angsur membungkus genangan air asam.


Tidak butuh waktu yang lama, cairan asam terpendam di dalam tanah.


Selanjutnya, Isander memunculkan banyak bola api dari sepuluh jari tangannya, menembakkan puluhan bola api berukuran bola kasti ke tanah yang menimbun seluruh genangan cairan asam.


Bertujuan untuk menetralisir dan menguapkan cairan asam yang ada di dalam tanah.


Jika dia memiliki kemampuan lava dan kendali panas, akan lebih mudah membersihkan kekacauan ini.


Setelah semuanya selesai, tak ada cairan asam yang membahayakan di sekitar bekas medan pertempuran, Isander pergi ke rumah kayu dengan mengikuti lubang yang dibuat oleh monster kelabang.


Sambil berjalan di atas lubang, Isander menutup lubang yang ada di dalam tanah dengan kemampuannya.


Isander takut apabila lubang ini dijadikan suatu hal yang buruk oleh makhluk lain, entah itu monster atau manusia.


Begitu sampai di rumah kayu, Kila dan Reza diberitahukan perihal peristiwa yang baru saja dia alami, dan tak disangka mereka berdua tahu tentang bentrokan yang dilakukan Isander dengan monster yang bernama Cantgarets, monster yang punya bentuk tubuh menyerupai seekor kelabang.


Mereka berdua sempat melihat peristiwa tersebut dan buru-buru menjauh dan melihat dari jauh.


Namun, mereka tidak melihat sampai habis, ketika Isander terlempar dan menabrak banyak pohon, mereka langsung pulang karena terlalu takut.


Keduanya tidak berani melihat lagi karena takut monster kelabang tersebut mengetahui keberadaannya.


Bukan karena apa-apa, Cantgarets merupakan monster level A yang sangat kuat, mereka tidak bisa melawan monster ini lantaran ada alasan tertentu.


Cairan asam dan kecepatan monster yang membuat keduanya pesimis mampu mengalahkan Cantgarets.


Bayangkan saja, Agter yang kuat seperti Isander dapat dilempar hingga menimbulkan banyak kerusakan.


Mereka tidak bisa membayangkan jika mereka yang terkena serangan tersebut, tak perlu ditanyakan lagi, mereka akan terluka parah atau mungkin mati.


Maka dari itu, Kila dan Reza menjauh dari area tempat Isander dan Cantgarets bertarung, lebih baik pulang dan pergi ke tempat yang aman daripada terus mengawasi Isander.


Keputusan mereka sangat bagus. Jujur saja, Isander tahu ada dua sosok yang mengawasinya di awal pertarungan, dan karena itulah alasan Isander tidak langsung menjadi ofensif dan keseriusannya hanya setengah-setengah.


"Ayo pergi, kita harus memburu monster lagi."


Isander mengajak mereka berdua pergi, dia tidak lupa dengan tujuan utamanya keluar rumah, yaitu membantai kumpulan monster.


Menghadapi monster Cantgarets tadi telah memakan waktu banyak, Giya, Nina, dan Meisya pasti sudah menunggunya begitu lama.


Benar saja, ketika Isander, Kila, dan Reza datang ke tempat Giya dan lainnya berada, terlihat Giya, Meisya, dan Nina duduk di rumput dekat pohon besar tampak bosan menonton video yang ada di jam tangan Giya.


Kedatangan Isander membuat mereka bersemangat kembali dan senang.


Setelah itu, Isander menceritakan tentang kejadiannya bertarung melawan Cantgarets yang membuat Meisya khawatir dan cemas.


Anaknya yang masih kecil ini sangat perhatian dan sayang padanya. Di dalam lubuk hatinya, Isander merasa sangat bahagia dan bersyukur.


"Pak Ghandi nasibnya tidak berbeda dengan Pak Tole. Sayang sekali, aku tak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kalinya," Giya berkata dengan wajah yang menampilkan ekspresi suram dan sedih.


Sebagai orang yang dekat dengan pimpinan pemukiman, yakni Pak Ghandi, Giya ingin sekali bertemu dan melihat sosoknya sekarang.


Melirik ke arah Giya yang sedih, Isander ikut merasa sedih. Dia juga mengenal Pak Ghandi dan kesan pertamanya adalah orang yang baik.


Rela membuang waktunya hidup di dunia ini untuk membuat sebuah perkumpulan manusia dan menjaga banyak nyawa, itu sesuatu yang orang lain mungkin tak bisa melakukannya.


"Wajah Pak Ghandi sangat berbeda ketika berubah menjadi monster, itu bukan lagi wajah Pak Ghandi. Wajah Pak Ghandi yang terakhir aku lihat secara utuh, yaitu ketika dia sakit," balas Isander dengan perasaan yang kecewa, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan kesedihannya.


Mendengar pernyataan Isander, Giya dan Nina mengenang kembali peristiwa di mana mereka membesuk Pak Ghandi yang sakit, mereka melihat wajah Pak Ghandi dengan jelas.


Tak pernah sekali pun mereka berpikir bahwa itu akan menjadi pemandangan terakhir mereka melihat muka Pak Ghandi.

__ADS_1


__ADS_2