SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 79: Memburu Monster Kota Garuda


__ADS_3

"Di mana?" tanya Giya menatap Reza dan Kila dengan semangat.


"Nanti aku akan beri tahu, sulit untuk ditunjukkan, aku sudah menandakan tempat itu. Kita semua akan ke sana besok," jawab Reza dengan senyum di wajahnya. Dia senang bisa menemukan sarang monster.


Kila mengangguk dan menambahkan sambil duduk di kursi yang terbuat dari potongan batang pohon yang besar, "Benar, besok kita akan beri tahu dan sekaligus ke sana secara langsung. Sekarang sudah sore, tidak lama lagi akan malam."


Meletakkan kayu di atas rangka bangunan rumah, Isander menoleh ke tempat mereka duduk dan berkata, "Oke, besok kita akan ke sana untuk memeriksa dan memburu. Lebih baik beberapa di antara kalian bantu aku memasang kayu-kayu ini."


Mendengar ucapan Isander, Reza dan Nina berdiri berniat membantu Isander membuat rumah.


Penyelesaian membuat rumah sudah lebih deri 70% yang di mana tidak akan lama lagi selesai.


Hanya tinggal memasang kayu untuk atap, dinding dan alas sudah terpasang dengan rapih, Isander pastikan rumah ini tahan panas dan hujan.


Untuk atapnya, Isander memasang dedaunan besar agar air hujan tidak bocor dan masuk ke dalam rumah.


Dengan bantuan keduanya, penyelesaian rumah lebih cepat selesai dari perkiraan Isander.


Pukul jam setengah 6 sore ketika langit sudah sangat redup, mereka berhasil menyelesaikan pembuatan rumah ini.


Mereka bergegas ke dalam untuk memeriksa isi rumah yang dibuat Isander.


Besar ukuran rumah kayu ini cukup ditempati untuk 7 sampai 8 orang karena terdapat banyak ruangan yang bisa dijadikan sebagai kamar.


Ada 4 ruangan kamar yang Isander buat bersama dengan ranjang yang sederhana yang terbuat dari kasur, 1 ruang makan dengan bangku dan meja, serta 1 ruangan untuk duduk bersama dan berkumpul.


Total ruangan yang ada di dalam rumah ini ada 6 ruang dengan fungsi dan kegunaan masing-masing.


Mereka semua langsung pergi untuk memilih ruang kamar yang sesuai dengan keinginannya.


Selama mereka mengatur tempat tidur, matahari yang ada di luar menghilang dan telah digantikan oleh bulan yang memantulkan cahaya matahari.


Setelah memilih kamar dengan formasi 2 orang untuk setiap kamar, mereka pergi ke ruang makan untuk makan malam


Masih ada 1 ruang kamar yang sengaja dikosongkan untuk sesuatu yang darurat.


Seperti biasanya, Isander mengeluarkan banyak makanan untuk mereka makan dari tasnya, menu makan malam ini berganti tema, yaitu tema makanan luar negeri, tepatnya makanan dari negeri tirai bambu.


Melihat makanan yang disajikan oleh Isander, mata mereka semua menyala dengan tatapan yang tak sabar.


Tidak ada orang yang tahan dengan makanan lezat, mereka pasti ingin segera menyantap apabila ada sebuah makanan enak di depannya.


Makanan khas negeri tirai bambu, seperti Wonton, lamian, bakpao, mapo daofu, hot pot, dan hainan jifan.


Semua makanan ini mempunyai rasa yang lezat dengan ciri khas yang kental, berbeda dengan makanan Indonesia yang punya ciri khas tersendiri.


Isander dan anggota kelompoknya memakan makanan yang ada di atas meja dengan lahap, termasuk Meisya yang makan makanan yang berbeda.


Kebanyakan makanan yang Isander berikan adalah makanan yang lebih dominan pedas. Maka dari itu, Isander memberikan makanan lain yang memiliki rasa yang lezat tanpa ada rasa pedas yang menyakitkan.


Meisya tidak akan kuat makan makanan yang pedas, apalagi di umurnya yang masih sangat muda, organ pencernaannya tidak kuat menahan rasa pedas. Kemungkinan besar akan menimbulkan sesuatu penyakit yang berbahaya bagi Meisya.

__ADS_1


Pada kesempatan makan malam ini, mereka semua terlihat sangat bahagia dengan tawa yang mereka keluarkan di setiap obrolan.


Meskipun tidak mengerti apa yang dikatakan oleh orang-orang dewasa ini, Meisya ikut tertawa bersama.


Gadis kecil ini membuat suasana menjadi lebih gembira dengan tawanya yang menggemaskan.


Para wanita tidak tahan dengan Meisya, bahkan Kila berbicara kepada Reza untuk segera membuat bayi perempuan yang sama lucunya dengan Meisya.


Ketika mendengar ucapan Kila, mereka semua tertegun sejenak dan tertawa setelahnya.


Reza menjadi stagnan tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, dia dan Kila belum menikah, dan itu tidak boleh seenaknya membuat anak.


Mereka belum resmi menjadi pasangan hidup dan mati.


Akan tetapi, usai mengobrol dan berbincang ini, Reza dan Kila melakukan hal tersebut demi mendapatkan anak di saat oran lain pergi tidur.


Isander yang bermeditasi tentunya tahu tentang kegiatan mereka. Setiap suara yang mereka keluarkan ketika melakukan itu terdengar jelas oleh telinga Isander.


Sikap Isander mengetahui hal ini adalah biasa saja, dia tidak ingin ikut campur dengan hubungan mereka dan membebaskan mereka untuk berbuat hal itu. Paling penting tidak ada pemaksaan dan kekerasan di antara keduanya.


Walaupun agak terganggu konsentrasinya di malam hari ini, Isander tetap bisa berlatih seperti biasanya.


Kontrolnya atas semua kemampuan yang dia miliki telah meningkat walau tidak naik secara signifikan.


Setidaknya, itu lebih baik ketimbang sebelumnya.


Ketika Isander bermeditasi dan melatih kemampuannya, Meisya tidur dengan memeluk bonekanya begitu erat.


Semua orang tidur pada akhirnya, bahkan Reza dan Kila pun tidur setelah melakukan kegiatan tersebut yang terjadi begitu intens.


Hari selanjutnya, mereka terbangun dari tidur, tetapi tidak ada yang lebih cepat terbangun dari Isander.


Isander sudah duduk di kursi meja makan dan juga menyiapkan makanan untuk sarapan pagi.


Reza, Giya, dan lainnya merasa senang bergabung dengan Isander.


Menjadi anggota kelompok Isander tidak seperti sedang diperlakukan sebagai babu atau budak, melainkan benar-benar layaknya seorang teman, bahkan lebih dari itu.


Makanan selalu ada, kekuatan mereka pun dibantu untuk menjadi kuat. Keputusan mereka untuk menjadi seorang anggota kelompok Isander merupakan keputusan paling bijak yang dibuat oleh mereka semua.


"Sekarang kita akan berburu, kalian semua siap?" Isander berdiri di depan mereka berempat dengan raut muka yang serius.


"Aku siap, Ayah! Hihi."


Sebelum mereka berempat menjawab, Meisya lebih dahulu menjawab dengan tawanya yang membuat hati mereka lembut.


Wanita-wanita di sini menatap Meisya dengan wajah yang gemas ingin mengelus pipi Meisya yang halus.


"Aku siap!"


"Aku selalu siap untuk membunuh monster!"

__ADS_1


"Tak ada yang aku takuti, terlebih monster."


"Aku sangat siap?"


"..."


Mendengar seruan mereka semua, Isander mengarahkan Reza dan Kila untuk memimpin perjalanan karena hanya mereka berdua yang tahu di mana ketak sarang monster berada.


Di perjalanan, Isander membuat tanda dengan cara yang sama yang digunakan oleh penduduk Rain Settlement.


Cara tersebut adalah cara penanda yang cukup bagus baginya. Jadi, untuk sementara waktu, tidak masalah untuk memakai metode tanda tersebut.


Lamanya perjalanan menuju tempat hidupnya banyak monster di sekitar daerah Kota Garuda memakan waktu 1 jam lebih.


Letaknya memang jauh menyebabkan mereka harus menempuh perjalanan dengan durasi yang lama.


Setelah sampai, mereka semua diperlihatkan banyak sosok Goatager yang sedang berkelompok di dalam hutan yang penuh dengan rerumputan.


Monster Goatager memang unik, mereka bisa makan rerumputan jika tidak ada daging manusia atau hewan lain.


Mereka semua tidak langsung menyerang, melainkan bersembunyi untuk melihat kondisi di sekitar.


Ditakutkan ada monster tambahan yang tak mereka duga yang dapat mengakibatkan kecelakaan yang fatal.


Setelah diperiksa tidak ada koloni lain selain para Goatager, mereka berempat tanpa Isander mulai pergerakan membantai mereka semua.


Dengan cambuk yang keras seperti batu menabrak ke tengah kumpulan para monster, pertarungan resmi dimulai.


Duar!


Cambuk dengan sifat batu menghancurkan formasi para monster hingga ada 5 atau lebih monster yang mati oleh serangan mendadak dari Kila.


Berikutnya, Nina dan Reza beraksi dengan membunuh monster yang berpisah karena menghindar, dan Giya menghabisi banyak monster yang ada di kejauhan.


Mereka semua melakukan kerja sama yang baik dalam membasmi banyak monster.


Tidak memerlukan waktu yang banyak, cukup 20 menit mereka berempat membasmi 70 sekian ekor monster banyaknya.


Sesudahnya, mereka langsung memisahkan ujung tanduk Goatager untuk bukti mereka telah banyak menghabiskan monster level B.


Sayang sekali, ini belum cukup bagi mereka berempat, mereka butuh hasil yang banyak lagi.


Oleh karena itu, mereka bergerak kembali mencari tempat berkumpulnya monster-monster.


Sayangnya, mencari monster tidak semudah itu. Mengingat tempat mereka mencari masih dekat dengan keberadaan Garuda City.


Sebagian besar monster telah dibantai dan dihapuskan oleh para penduduk kota. Mereka pastinya kuat, tetapi kebanyakan dari mereka itu lemah, fisiknya dikuatkan beberapa kali saja dengan kebangkitan kekuatan Agta yang sampah.


"Satu monster."


"Dua monster."

__ADS_1


__ADS_2