SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 142: Obrolan Santai Cenagon


__ADS_3

Isander bangkit daei singgasana dengan wajah kecut yang sangat tidak enak dilihat.


Melihat Isander yang seperti ini, tentu saja membuat Cenagon heran dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Isander.


Pertanyaan Cenagon dijawab dengan malas oleh Isander. "Ada sesuatu yang membuatku kesal."


"Sesuatu? Benda atau manusia?"


"Entah, aku juga tidak tahu." Isander berhenti berjalan dan berdiri di tengah-tengah ruangan.


Tanda tanya muncul di atas kepala Cenagon, dia sama sekali tidak mengerti mengapa kesal seperti itu.


Whoosh!


Sosok Isander melesat cepat ke benda hitam yang membentuk dinding besar. Kepalan tangan Isander membentur dinding hitam dan menghancurkannya berkeping-keping menjadi balok kecil.


Cenagon terkejut dengan kekuatan murni dari fisik Isander, dia merasakan fisik Isander menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


Juga ... Cenagon merasakan ada sejumlah energi asing dan misterius yang terkandung pada tubuh Isander, dan itu sedikit kuat untuk menandingi bagian kecil dari kekuatannya.


Tentunya, itu baik bagi Isander karena kekuatan misterius tersebut tidak merugikan tubuh Isander sama sekali. Sebaliknya, sebuah kekuatan asing tersebut menjaga dan memperkuat tubuh Isander.


Hal ini membuat Cenagon makin ingin tahu tentang apa yang terjadi pada Isander sehingga membuatnya kesal dan apa sebenarnya energi yang menyelimuti seluruh tubuh Isander. Semuanya tampak menarik.


Pada saat ini, Isander melampiaskan kekesalannya terhadap Sistem kepada benda-benda yang dapat diciptakan oleh energi berwarna hitam di ruangan ini.


Semua benda hitam tersebut diciptakan sesuai keinginan Isander, kemudian dia hancurkan dengan menggunakan kekuatan fisiknya yang besar.


Merasa bosan dengan tinju yang dilemparkan, dengan cepat mengubah metode penghancurnya menjadi menggunakan Dark Spear.


Swoosh!


Ayunan bilah Dark Spear terdengar membelah udara yang ada di ruangan ini. Tidak tahu pasti itu udara atau bukan, yang jelas terdengar ada suara ayunan yang cukup terdengar oleh telinga.


Berikutnya, bilah Dark Spear yang diselimuti busur listrik ungu gelap memotong dinding hitam besar yang tebal menjadi dua bagian, kemudian ayunan kedua dilakukan lagi dengan kecepatan yang makin cepat, membelah dinding menjadi empat bagian.


Gerakan itu Isander lakukan lebih cepat dari sebelumnya dan terus makin cepat di setiap ayunan yang berhasil dilakukan.


Pada akhirnya, dinding hitam tersebut berubah menjadi balok kecil seukuran rubik 3x3 yang berceceran di mana-mana.


Setelah hancur lebur, Isander mengisi energi ungu gelap di bilah Dark Spear dan melepaskannya membidik kumpulan balok-balok kecil tersebut.


Duar!


Ledakan terjadi, membuat ruangan sedikit berguncang dan cahaya yang muncul dari ledakan masih belum bisa menerangi seluruh ruangan.


Masih belum puas ia rasakan, Isander memunculkan Havoc Zweihander dan segera membuat dinding hitam untuk dijadikan target pelampiasan kekesalan.


Cenagon yang melihat penampilan Isander hanya bisa diam dan menikmati penampilan hebat Isander yang dikuasai kekesalan.


Sebenarnya, rasa kesal Isander sudah menghilang dari lama. Alasan dia masih melanjutkan menghancurkan benda-benda yang terbuat dari energi berwarna hitam ini karena dia memang sedang berlatih harian malam.


Memang sudah menjadi rutinitas malam Isander yang tak bisa dilewatkan.


Isander teringat dengan peta kertas yang diberikan Goron bahwa masih banyak sekali monster S yang eksis di Pulau Jawa, dan Isander merasa harus menjadi lebih kuat untuk bisa mengalahkan mereka semua.


Paling tidak, dia sulit untuk dikalahkan oleh monster-monster itu.

__ADS_1


Walaupun ada kemampuan S yang dimiliki, Isander tidak mau mengandalkan itu, terlebih mempercayakan nyawanya ke kemampuan S tersebut yang belum pasti bisa menyelamatkannya lagi.


Setiap monster di tingkatan yang sama tidak semuanya sama, ada yang lebih kuat atau lemah. Jadi, Supreme Elgoter tidak bisa dijadikan sebuah tolok ukur atau patokan bahwa monster S kekuatannya sama seperti Supreme Elgoter.


Bukan mustahil kalau saja monster S yang lain jauh lebih kuat dari Supreme Elgoter. Mungkin bisa dua kali lebih kuat dari kekuatan yang Supreme Elgoter punya.


Dunia ini bukan dunia yang normal. Ketidakpastian terjadi di dunia ini. Dengan begitu, Isander harus berhati-hati lagi.


Mengingat dirinya sudah cukup dikenal, pasti banyak musuh yang menargetkan dirinya.


Setelah latihan selesai, Isander dan Cenagon kembali mengobrol untuk membahas sesuatu yang menarik.


"Apakah ada jenis wanita di ras kamu Cenagon?" Isander menoleh ke Cenagon dengan penasaran.


Cenagon melirik Isander dan menatapnya dengan heran. "Mengapa kamu bertanya tentang itu?"


"Aku hanya ingin tahu saja." Isander tersenyum sembari bersandar santai di singgasananya. "Aku tebak tidak ada, apakah benar?"


"Ya, itu benar." Kepala Cenagon mengangguk beberapa kali membenarkan tebakan Isander.


Wajah Isander menjadi stagnan dan dia melirik Cenagon dengan wajah yang tidak percaya.


Melihat Isander yang terkejut bagai menerima uang kaget, Cenagon tersenyum dan menjelaskan, "Aku adalah Cenagon, satu-satunya makhluk fana yang diberikan kekuatan oleh dia."


"Jadi, hanya kamu satu-satunya yang mendapatkan kekuatan darinya?"


"Tidak, tetapi di rasku, hanya aku yang mendapatkannya. Ras lain ada beberapa yang dapat kekuatannya juga," kata Cenagon dengan suara yang dalam.


Nada suaranya terdengar sedang nostalgia dan teringat masa lalunya yang sudah terlewati.


Pada saat ini, Cenagon memang sedang mengingat kembali ke masa-masa dirinya yang masih ada di dunianya, bertempur dengan beberapa makhluk yang kuat.


Apa yang diungkapkan oleh Cenagon membuat Isander salut dan hormat dengan sosok yang memberikan Cenagon kekuatan yang kuat.


Tidak bisa Isander bayangkan betapa kuatnya orang yang memberikan Cenagon kekuatan.


Baginya, kekuatan Cenagon saja sudah sangat kuat, tetapi orang itu memberikan kekuatan tersebut dengan mudahnya kepada Cenagon.


"Apakah mereka sudah tiada?"


Mata Cenagon yang menyala berwarna lilac bergerak menatap Isander, kemudian dia berkata, "Tidak tahu. Aku dan mereka sudah lama berpisah karena jalan hidup kita berbeda."


"Um, begitu."


Selanjutnya, Isander bertanya-tanya tentang hal lain untuk tidak menghindari Cenagon bersedih.


Isander tidak mau Cenagon merasa kesepian karena dia sendiri sudah tahu betapa mengerikannya sendiri di dalam kesepian yang mendalam.


"Kuharap kamu bisa bertemu dengan jodohmu suatu saat nanti," Isander berkata dengan senyuman sambil melambaikan tangannya.


"Hahaha, aku juga berharap sama."


Mendengar ucapan Isander, Cenagon tertawa dan mengangguk tegas.


Di detik berikutnya, sosok Isander menghilang dari ruangan khusus Cenagon dan Cenagon kembali sendirian lagi.


"Pria yang lucu. Dia masih berpikir tentang berkembang biak di saat sudah memiliki kekuatan yang luar biasa. Di masa depan dia akan mengerti bahwa berkembang biak sudah tidak diperlukan lagi jika tujuannya hanya untuk memenuhi nafsu," gumam Cenagon dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Aku berharap dia bisa memenangkan dunia ini dengan akhir yang baik."


Pada saat yang sama, Isander membuka matanya dan melihat ruangan yang kosong telah menjadi terang.


Setelah itu, Isander berdiri dari duduknya dan pergi untuk membuka pintu agar cahaya matahari masuk ke dalam rumah.


Udara segar dapat dirasakan oleh hidung Isander. Oksigen murni yang belum terkontaminasi oleh polusi udara.


Setelah membuka pintu, Isander pergi ke kamar Meisya untuk membangunkan Meisya dari tidurnya yang nyenyak.


Dilanjutkan dengan membangunkan Helen dan Reren, kemudian meminta Helen membangunkan Giya dan Nina hingga semua anggota tim Isander bangun untuk sarapan pagi.


Sarapan pagi tidak perlu Isander yang keluarkan karena mereka sudah mendapatkan jatah makanan setiap Minggu. Jadi, tidak perlu Isander yang memberikan mereka makanan setiap hari.


Makan pagi atau sarapan pagi mereka lakukan lebih dari 1 jam.


Setelahnya, mereka semua melakukan kegiatan yang sudah direncanakan setiap harinya, yaitu pergi ke Kota Komodo sejenak dan memperbaiki Candi Borobudur untuk menjadikannya sebagai penanda kekuasaan Agter.


Rencananya, Isander ingin membuat tanda atau markas kecil untuk Agter gunakan dengan tujuan menjaga Candi Borobudur.


Jangan sampai peninggalan zaman dahulu ini punah dan digusur oleh monster-monster yang tidak punya etika.


Di perjalanan menuju ke Kota Komodo, mereka bertemu beberapa monster level B yang tidak begitu kuat bagi tim Isander sekarang karena kekuatan mereka sedang ditingkatkan secara drastis.


Monster level B bukan lagi lawan mereka, melainkan monster A yang pantas untuk mereka lawan dengan seimbang.


Helen dengan satu anak panah esnya bisa membunuh monster level B tanpa harus mengeluarkan gerakan lain.


Es yang meledak dari anak panah sekejap mengirimkan monster ke alam baka.


Tali cambuk Kila bahkan bisa menghancurkan monster level A yang tidak terlalu besar ukurannya. Dengan material batu, tali keras menimbulkan kerusakan yang sangat besar.


Pertahanan Reren juga makin kuat serangan level B dengan mudah dia tahan dan durinya bisa mematikan monster B. Namun, Reren belum percaya diri untuk menahan monster level A dan durinya bisa membunuh monster tersebut.


Monster B dan Monster A berada di tingkatan yang berbeda. Perbedaan kekuatan di antara keduanya jelas jauh.


Sementara itu, Nina dan Reza sama-sama memiliki peningkatan kecepatan tubuh mereka. Meski sama-sama meningkat, kecepatan gerak lari Reza melampaui Nina, tetapi untuk kecepatan serangan Nina melampaui Reza.


Walaupun sama-sama memegang dua senjata kecil dan mengandalkan kecepatan, mereka berdua punya keunggulan dan kekurangan masing-masing.


Giya punya kemampuan baru, dia tidak hanya bisa menggerakkan pisau apinya, tetapi dia bisa mengendalikan senjata orang lain dari jarak jauh, terutama senjata kecil yang dimiliki Nina dan Reza dan menjadikan senjata kecil mereka pisau terbang.


Cukup kuat, Giya punya potensi yang lebih tinggi lagi dari ini. Isander punya kecurigaan bahwa kekuatan Giya tidak sampai di sini saja.


Omong-omong, Glatash dan Helen memang punya kemampuan yang mirip. Namun sayangnya, mereka berdua jelas punya kemampuan berbeda di mana Glatash lebih kuat karena bentuk serangannya tidak hanya 1 jenis saja, melainkan banyak.


Sementara Helen itu terbatas dengan anak panahnya saja, terkesan monoton dan tidak ada variasi yang menyegarkan mata.


Tetap saja keduanya sama-sama kuat.


Setelah sampai di Kota Komodo, Isander berbelok ke arah yang sudah biasa dia lalui dengan tujuan serupa dengan perjalanan kemarin-kemarin.


Reza dan ketiga wanita dewasa itu pergi ke Kota Komodo untuk sekadar membantu dan memantau. Mereka juga punya niat untuk bertemu Goron.


Perjalanan ditempuh oleh Isander, Helen, Reren, dan Meisya dalam durasi yang tidak jauh berbeda.


Akan tetapi, begitu mereka tiba di Candi Borobudur, pemandangan yang tak terduga membuat mereka menjadi waspada.

__ADS_1


"Ada apa dengan candi ini?!"


__ADS_2