SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 66: Pembersihan


__ADS_3

"Tentu saja, kami semua mengetahui ledakan itu, anginnya pun sampai di tempat kita berada tadi," kata Kila sembari menganggukkan kepalanya.


Efek dari ledakan dapat dirasakan di ratusan meter meski tidak begitu kuat, tidak sama seperti efek yang dirasakan di jarak lebih dekat dari tempat titik ledakan.


Giya dan Nina mengangguk membenarkan pernyataan Kila.


"Apakah ledakannya sehebat itu?" tanya Giya yang penasaran.


Menatap Giya, Reza mengangguk dan membalas pertanyaannya, "Sangat kuat, bisa kalian lihat pohon-pohon di sana."


Tangan Reza terulur ke arah timur alias depan mereka semua.


Giya dan lainnya menoleh ke arah yang ditunjuk, dan mereka secara bersamaan melihat pepohonan yang berdiri miring ke belakang.


"Itu dampak dari ledakannya. Orang sebesar aku pun ikut terbang beberapa meter," tambah Reza menatap wajah mereka semua dengan ekspresi yang heboh.


Reza sendiri tidak percaya bahwa efek dari pertempuran Isander sangat dahsyat.


Mendengar ini, Giya dan Nina menjadi lebih khawatir dengan Isander. Kemungkinan besar Isander yang menjadi penyebab ledakan ini terjadi terkena efek dari gelombang ledakan yang besar.


Melirik Nina, Giya berkata cemas, "Nina, kita harus memeriksa kondisi Isander. Aku khawatir dia terluka, dampak dari pertarungan dia dengan monster-monster."


"Aku juga, ayo kita pergi!" Nina mengangguk setuju dengan ajakan Giya.


"Meisya takut ayah terluka ...."


Memeluk hangat Meisya, Giya tersenyum dan menenangkan Meisya yang ingin menangis. "Jangan khawatir, ayah khawatir."


Setelah mengatakan itu, Giya dan Nina saling memandang dan kemudian berlari ke depan menuju tempat pertempuran Isander berada.


Sepanjang mereka berlari, pemandangan di sekitar terlihat berantakan sekali, dedaunan yang ada di pohon terlihat miring atau berat sebelah karena angin yang kencang. Selain itu juga, bongkahan tanah yang tidak rata dengan permukaan lainnya berserakan di mana-mana.


Keduanya benar-benar tak bisa berkata-kata, mereka menjadi lebih khawatir dengan Isander.


Makin dekat posisi mereka dari tempat pertempuran makin rusak juga area sekitar.


Tidak lama berselang, mereka melihat sebuah lubang besar dengan ukuran yang berdiameter lebih dari 20 meter terbentuk di kejauhan.


Di sekeliling lubang terdapat noda merah kehitam-hitaman disertai dengan bau yang sangat menyengat. Hidung mereka bisa mencium aroma tak sedap tersebut.


Meisya yang ada di pelukan Giya langsung menutup hidungnya untuk mencegah bau ini tercium.


Giya dan Nina melakukan hal yang sama sambil menurunkan kecepatan mereka berlari.


Berdiri di beberapa meter dari lubang, mereka menatap lubang tersebut dari jauh.


Wajah mereka terlihat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihat, lubang yang besar ini diisi oleh bongkahan daging dan tulang yang tidak berbentuk lagi, yang disiram dengan cairan merah yang harusnya adalah darah.


Daging yang terpotong secara brutal ini tak boleh dilihat oleh Meisya. Giya sudah meminta Meisya untuk menutup matanya sejenak. Anak kecil tak dibolehkan melihat sesuatu yang terlalu berdarah.

__ADS_1


"Ini potongan daging dari banyak monster. Baunya sangat busuk dan mirip dengan Salmagtress," ujar Nina yang mengenal dengan daging-daging yang berceceran ini.


Setelah melihat ini, Giya pun setuju dengan Nina, daging yang mereka lihat adalah daging yang berasal dari monster.


Jelas, ini bukan milik manusia.


"Lantas, fi mana Isander?" Giya menatap Nina dengan bingung yang saat bersamaan juga terlihat cemas.


Melirik Giya, Nina mengangkat bahunya dan berkata, "Aku juga tidak tahu, tetapi aku akan mencarinya sege—"


"Aku di sini."


Sebuah suara yang sangat familier di telinga mereka bertiga secara tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka berdiri.


Wajah Giya dan Nina berubah, ekspresi cemas dan panik menghilang, sebuah senyuman secara bertahap terbentuk dan mereka membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Ayah!"


Meisya memanggil Isander yang muncul begitu saja di antara mereka bagai hantu. Kekhawatiran Meisya menghilang dan dia menjadi ceria dan bahagia.


Pada saat ini, Isander berdiri di belakang mereka dengan kondisi tubuh yang sehat dan tidak terluka. Hanya ada debu dan noda tanah di wajahnya yang sedikit menutupi wajahnya yang tampan.


Semuanya terlihat tidak ada yang salah dan tak ada luka di tubuh Isander.


Perasaan lega ditampilkan oleh Giya dan Nina, mereka menghela napas hampir bersamaan, senyuman di wajah kedua wanita ini pun muncul nyaris berbarengan.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Isander mengambil alih Meisya dan bertanya dengan lembut.


"Tidak, Sayang. Ayah sama sekali tidak dilukai, Ayah aman." Isander menyentuh pipi putrinya dengan rasa sayang.


Senyuman Meisya makin melebar. "Ayah memang hebat. Ayah selalu menjadi penyemat, Meisya!"


"Penyelamat, Sayang, bukan penyemat." Isander menggelengkan kepalanya, dan merasa terhibur oleh anaknya.


"Iya, penyelamat. Ayah adalah penyelamat Meisya, hehe."


Isander ikut tersenyum melihat anaknya yang selamat dan aman, kemudian dia mengalihkan pandanganya ke Giya dan Nina.


"Kita harus bergegas pergi dari sini, bau yang menyengat ini akan mengundang monster atau manusia datang," ucap Isander dengan serius. "Meisya, kamu bersama Kakak Giya lagi. Ayah harus membereskan kekacauan yang Ayah buat."


"Ya, Ayah. Meisya mengerti, tetapi Ayah jangan lama-lama," kata Meisya yang sedikit enggan.


"Iya, kali ini Ayah hanya sebentar saja." Isander mengangguk mengiyakan.


Setelah Meisya setuju, Giya tanpa berkomentar mengambil Meisya dan menggendongnya.


"Kalian berdua pergi dahulu, aku akan menyusul, atau tunggu aku di beberapa meter di sana."


"Baik, aku mengerti." Giya menganggukkan kepalanya. "Nina, beri tahu mereka berdua untuk melanjutkan perjalanan lagi."

__ADS_1


"Oke, aku aku pergi sekarang."


Berikutnya, Giya dan Nina pergi ke arah yang berbeda meninggalkan Isander di area dekat lubang.


Melihat keduanya mengikuti arahannya, Isander merasa tenang dan tak begitu khawatir.


Sekarang dia mengalihkan perhatiannya ke lubang besar yang dia ciptakan. "Kurasa aku terlalu lama mengisi energi di bilah tombak. Kerusakannya lebih besar dari sebelumnya. Aku harus cepat memperbaiki ini."


Isander menyiapkan dirinya sendiri untuk membenahi kerusakan di tempat ini.


Sebuah energi asing yang terkandung di dalam tubuh Isander bergerak. Setelah itu, tersalurkan ke daerah kaki dan tangan.


Bam!


Kedua tangan Isander dengan cepat ditamparkan ke permukaan tanah di tepi lubang secara bersamaan.


Sebuah reaksi terjadi, tanah di pinggir lubang bergetar hebat, bongkahan tanah secara bertahap mengisi lubang yang berisi banyak daging monster.


Proses ini berlangsung cukup lama, tidak bisa cepat karena Isander ingin hasil yang bagus.


Apabila dia menggunakan kemampuannya begitu saja, hasilnya tidak sempurna dan acak-acakan, seperti lubang yang ada di Rain Settlement.


Isander tahu bahwa Nina dan pasangan yang dia temui tadi sedang berjalan di belakangnya sambil menyaksikan apa yang dia lakukan.


Reza dan Kila menampilkan mimik wajah terkejut yang tak tertahankan.


Bukti apa yang diberitahukan Nina telah dihadirkan di depan mata mereka berdua. Ini sangat hebat.


Tanpa sadar sebuah rasa ketakutan dan kewaspadaan terhadap Isander muncul di hati mereka berdua. Keduanya akan mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak macam-macam dengan Isander jika tidak ingin dibantai dan nasibnya seperti monster-monster.


Mereka bertiga hanya lewat dan pergi ke arah timur tanpa mengganggu Isander yang fokus mengisi lubang dengan tanah.


"Oke, sudah selesai."


Isander berdiri melihat ke area sekitar, kini tempat ini telah bersih walau ada sedikit genangan darah dan beberapa daging cincang yang tergeletak di atas atas.


Mengangkat jari telunjuknya, sebuah bola api keluar dan terlempar ke sebagian tempat daging dan darah yang masih tersisa.


Blarr! Duar!


Untuk sementara waktu, tercium bau gosong dan terbakar di tempat dia berdiri.


Darah dan daging monster sudah hampir menghilang semuanya, bahkan bau busuk agak menghilang.


Sehabis itu, Isander mengendalikan kayu pohon untuk mengisi bekas lubang yang telah ditambal dan diisi oleh tanah.


"Ini sungguhan selesai."


Isander mengangguk puas melihat hasil pembersihannya. Ini lebih dari cukup.

__ADS_1


Segera, sosok Isander yang berdiri di tepi bekas lubang besar menghilang, dan bayangan hitam melompat ke atas dahan pohon.


__ADS_2