SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 174: Giya Pengintip


__ADS_3

Sehabis Aqila mengatakan itu, Isander membawa Aqila keluar dari rumah kayu dan pergi ke bangunan hancur tak jauh dari rumah kayu tempat semua timnya istirahat.


Rumah kayu yang dibuat Isander tidak sepenuhnya terbuat dari kayu, tetapi ada logam yang menjadi topangan lebih kuat daripada kayu.


Seperti tiang-tiang untuk menjadi penyangga tembok atau dinding rumah, ada besi atau logam yang digunakan di sana supaya lebih kokoh dan tahan lama.


Dengan satu injakan kaki, pohon besar tumbuh di tempat di mana reruntuhan rumah kayu berada.


Tombak Pegasus muncul di tangan kiri Isander, kemudian dia memotong kayu untuk mempermudah dirinya membuat gubuk kecil yang kokoh dan tahan rusak.


Butuh waktu sekitar setengah jam untuk membuat gubuk tersembunyi. Isander membuatnya di dalam bukit, dengan kemampuan Hand of Earth dan Foot of Earth mudah untuk membuat lubang di sana.


Tinggal diberi tiang untuk menopang langit-langit ruangan agar tanah tidak jatuh. Beberapa kemampuan dikerahkan untuk membuat gubuk tersembunyi ini.


Dengan begitu, mereka berdua langsung pergi untuk membuat bayi lucu dan imut, bayi kembar tepatnya.


Di dalam bangunan tersembunyi tersebut, keduanya melakukan kegiatan yang sangat instensif, fokus satu sama lain.


Wanita pendiam memang benar-benar mengejutkan. Nafsu Aqila sangat besar meski sudah dikalahkan beberapa kali oleh Isander.


Diam-diam bisa menghanyutkan orang.


Aqila yang dingin dan selalu diam sebelumnya, ternyata memiliki nafsu besar di dalam tubuhnya.


Selain itu, buah melonnya juga besar. Secara kasar dan melalui penglihatan samar-samar, buah melon milik Aqila lebih besar dari milik Giya dan wanita yang lainnya.


Hanya berdasarkan penglihatan saja.


Meskipun di luar terlihat kecil, mungkin milik wanita lain itu besar ketika dibuka baju yang membungkus buah melonnya.


Memang sesuatu itu tidak bisa dinilai dari bungkusnya. Harus melihat dari dalam juga.


Lebih dari 4 jam mereka bertempur, nafsu Aqila akhirnya dikalahkan oleh Isander dengan tusukan mautnya.


Tubuh Aqila penuh oleh benih milik Isander.


Aqila terbaring di tempat tidur sembari memegang bawah perutnya, tersenyum pada Isander menunjukkan bahwa dirinya sangat bahagia.


Setiap tusukan Isander di dalam tubuhnya, itu menyentuh titik terdalam, bahkan sampai dasar dari dalam kue apemnya.


Kemungkinan besar tak ada yang bisa mencapai kedalaman ini selain Isander.


Ukuran 39 cm memang sangat panjang. Dengan matanya sendiri bisa melihat seluruh senjata Isander tidak masuk sepenuhnya, ada bagian yang belum masuk.


Isander membelai pipi mulus Aqila yang terdapat lekukan manis, kemudian mencium bibir merah muda Aqila yang manis.


Tubuh wanita memang sangat indah, membuat Isander tidak tahan untuk tidak menyentuh dua buah melon yang besar.


Dalam sekejap, Isander menjadi bayi besar untuk 10 menit ke depan.


Melihat tindakan Isander yang menggemaskan, hati Aqila menjadi manis dan berbunga-bunga.


Memiringkan tubuhnya, Aqila bertingkah seperti seorang ibu yang menyusui anaknya.


Namun, mereka berdua menghentikan kegiatannya, Isander dan Aqila menghadap sedikit ke atas untuk melihat pintu masuk bangunan ini.


Isander menyipitkan mata untuk melihat ke arah pintu yang tertutup dengan hati-hati.


Wajah keduanya tampak sangat berwaspada dan juga curiga.

__ADS_1


Setelah melihat dengan cermat, kejutan muncul di wajah Isander.


Berikutnya, Isander berdiri dan membuka pintu tersebut untuk mengungkapkan sesuatu yang yang mencurigakan di luar.


Di dalam pandangan Aqila dia melihat sosok Giya yang sedang mengusap kue apemnya yang basah menghadap ke pintu tempat persembunyian Isander dan Aqila.


Keduanya terkejut dengan wajah yang tak percaya.


"Giya?" Isander memanggil nama Giya menatap wanita yang berjongkok di depannya.


Ternyata benar apa yang mereka berdua lihat. Wanita yang mengintip mereka ketika melakukan itu setiap malam adalah Giya.


Sebelumnya, Isander dan Aqila sudah menyadari tentang ada seseorang yang mengintip mereka melakukan kegiatan tersebut di malam hari.


Awalnya mereka membiarkan orang tersebut karena berpikir hanya ingin melihat saja, tetapi beberapa hari berikutnya orang itu selalu melihat mereka berdua diam-diam sambil melakukan itu.


Mereka berdua sudah tahu siapa orangnya, tidak langsung bertanya kepada orang yang mengintip karena akan membuatnya malu.


Orang itu adalah Giya.


Barusan Isander dan Aqila sengaja diam untuk mendengar suara di sekitar. Keduanya menemukan suara aneh dari luar dan itu terdengar familier.


Tebakan mereka benar, Giya sedang mengintip mereka berdua sekarang.


Saat ini, Giya yang sudah tertangkap basah langsung tertegun kaku dalam posisi sedang berjongkok sambil mengusap kue apemnya yang sudah basah dma banjir.


Wajahnya memerah dengan asap samar-samar mengepul dari pipinya.


Pemandangan ini membuat Isander yang tak mengenakan pakaian apa pun kembali tegang.


Proses di mana senjata Isander kembali keras dan tegang dilihat langsung oleh Giya, itu terjadi tepat di depan wajah Giya.


Ekspresi Giya menjadi aneh, seperti orang yang sedang haus dan kelaparan, diikuti oleh mulut yang perlahan terbuka.


Dengan gerakan yang tiba-tiba, Giya memeluk tubuh Isander dan memasukkan senjata Isander ke dalam mulutnya.


Dari gerakan awal Giya, terjadi sebuah pertempuran 2 vs 1 di dalam ruangan yang terbatas.


Di malam hari ini sesuatu yang pecah dan berdarah terjadi. Isander berhasil menuai empat buah besar yang sudah matang.


Tak disangka olehnya, buah melon Giya tidak kalah besar dari milik Aqila, bahkan milik Giya ini lebih kencang dibandingkan Aqila.


Ini wajar, buah Aqila sudah Isander petik berkali-kali, dalam aspek kekencangan kulit menjadi berkurang.


Tetap saja, punya Aqila tetap luar biasa. Tidak, Isander lebih suka milik istrinya yang jauh lebih besar dibandingkan keduanya.


Buah melon cinta pertamanya adalah milik istrinya.


Kejadian ini benar-benar tidak terduga bagi Isander, Giya, dan Aqila, mereka bertiga benar-benar melakukan pertempuran bersama.


Kedua wanita itu sama-sama kalah, tembakan cairan putih masuk ke dalam tubuh mereka berdua dan sukses membuat mereka menjadi lemah tak berdaya.


Isander berbaring bersama kedua wanita ini, menjaga mereka dalam tidur lelapnya.


Sementara itu, kesadaran Isander berpindah ke ruang Cenagon berniat melatih kekuatannya.


"Akhirnya, kamu kembali di malam ini. Apakah kamu puas dengan kedua wanita itu?"


Suara Cenagon terdengar di telinga Isander.

__ADS_1


Berjalan santai menuju singgasana, Isander menunjukkan senyum senang. "Tentu saja. Siapa sangka ada satu wanita tambahan yang mendambakan senjataku. Bagaimana denganmu, Cenagon?"


Duduk di atas singgasana, tilikan mata Isander mengarah ke sosok besar Cenagon di depannya.


Cenagon menggelengkan kepalanya tanpa daya.


"Bukankah aku pernah membahas tentang hal ini? Baru saja kemarin aku memberi tahu kamu."


"Hehe, aku lupa."


Isander menggaruk-garuk kepalanya tampak canggung. Murni dirinya lupa tentang itu.


Pasalnya, di dalam kepalanya sekarang hanya ada kue apem milik Giya dan Aqila, juga buah melon besar milik mereka berdua.


Melirik Cenagon lagi, ekspresi Isander menjadi serius lalu bertanya, "Bagaimana menurut kamu, Cenagon? Apakah aku harus membuat mereka berdua menjadi istriku kedua dan ketiga?"


Pertanyaan Isander tidak langsung dijawab, Cenagon butuh waktu untuk memikirkan tentang duniawi ini. Memang sulit, dan inilah alasannya dia tak mau pergi ke dunia manusia yang penuh oleh konflik.


Setelah berpikir selama beberapa menit, Isander pun sampai berdiri di tengah ruangan dan melakukan latihan ringan, makhluk besar ini akhirnya menjawab pertanyaan Isander yang rumit, "Menurutku, lebih baik menjadikan mereka berdua pasangan kamu. Aku melihat keduanya setia padamu."


"Masalah setia, aku percaya kepada mereka tentang kesetiaan. Aku mendengarkan pendapatmu. Jujur, aku juga ingin menjadikan kedua wanita itu istriku, tetapi di daerah ini masih tabu persoalan memiliki istri lebih dari satu," kata Isander sambil mengayunkan Dark Spear.


"???"


Cenagon menjadi heran dengan ucapan Isander. Tampaknya, Isander tidak sadar akan sesuatu.


"Bukannya di dunia ini sudah hancur tatanan sosialnya? Kamu tahu sendiri dari Aqila bahwa ada peristiwa di mana seorang wanita melawan banyak pria sekaligus di tempat tidur. Mengapa kamu mengatakan poligami itu masih hal tabu?" tanya Cenagon dengan wajah yang aneh kepada Isander.


Perkataan Cenagon baru Isander sadari, apa yang ia katakan ada benarnya juga.


Untuk apa dia merasa tidak enak dengan persoalan poligami di dunia yang hancur ini?


Memperistri 100 juta wanita pun tak masalah di dunia ini kalau memang bisa adil dan kuat.


Dengan begitu, Isander sudah menentukan keputusannya tentang asmaranya dengan dua wanita.


Entah kenapa, hati Isander tiba-tiba menjadi gembira memikirkan tentang hubungan cintanya ini.


Proses latihan menjadi lebih bersemangat dan antusias.


Isander meningkatkan kekuatan dan kemampuannya dengan api semangat yang terbakar.


Setelah berlatih selama beberapa jam, Isander bangun dari tidurnya, melihat kedua wanita masih tertidur sambil memeluk tubuhnya.


Sebuah ciuman mendarat di pipi keduanya, segera ujung mulut mereka berdua terangkat naik.


Mata Isander selalu tertarik dengan dua buah melon yang mereka berdua miliki.


Paling susah jika sudah membahas buah melon, Isander pasti akan memakannya dan memainkannya.


Setelah puas bermain beberapa menit dengan empat buah melon besar, Isander bangun dari tempat tidur dan mengenakan kembali pakaiannya sampai rapi.


Berdiri diam di tengah ruang persembunyian, kesadaran Isander menyebar, perasaan mengendalikan tanah dan tanaman sekitar bisa Isander rasakan secara langsung.


Dengan demikian, Isander bisa mengetahui kondisi di luar. Di tempat timnya sedang beristirahat tidak ada yang aneh, mereka semua masih tertidur pulas.


Dahi Isander mengernyit keheranan ketika merasakan kayu yang ada di ruangan Nina.


"Ada lagi seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2