
Suara susu yang menggemaskan membuat Nina dan Giya melemparkan senyuman lembut kepada Meisya yang ada di pelukan Giya.
Giya menggunakan tangannya, mengelus tangan kecil Meisya untuk menenangkan hatinya. “Ayah Meisya akan menang melawan monster itu, aku percaya dia bisa.“
“Benar, Ayahmu kuat, Meisya, dia selalu penuh kejutan.“ Nina mengangguk dan menatap Meisya penuh percaya diri.
Melihat kedua wanita ini yang percaya kepada ayahnya, rasa gelisah dan khawatir pada Meisya lambat-laun menghilang, tetapi tidaka seluruhnya.
Perasaan cemas menurun, bukan berarti Meisya tidak memikirkan ayahnya.
Dengan hati yang sedikit tenang, Meisya memejamkan matanya, menangkupkan tangannya, dan berharap di dalam hati, “Semoga ayah benar-benar bisa kembali dengan selamat, aku tidak mau ayah terluka. Meisya ingin ayah kembali dan bertemu denganku lagi.“
Pada saat yang bersamaan, Isander yang tertusuk oleh cakar monster itu tersenyum.
Ujung mulutnya yang mengalir darah merah terangkat ke atas membentuk senyuman, dia menatap sepasang mata merah di depannya dengan mata yang meremehkan.
“Maaf sekali, kamu tidak bisa membunuhku kali ini.“
Tangan Isander yang menggenggam dua pergelangan tangan monster yang ada di depannya tiba-tiba memiliki kekuatan yang besar, dia mencengkeram kuat pergelangan tangan monster di depannya, kemudian mencabut cakar dari kedua tangan tersebut dari perutnya.
Srott!
Cakar tajam dan panjang dari kedua tangan tersebut terlepas dari tubuh Isander.
Tidak sampai di situ, keempat tangan yang tersisa pun dilepaskan secara paksa oleh tangan Isander.
Entah dari mana kekuatan Isander ini, dia tiba-tiba memiliki tenaga lebih untuk mengeluarkan cakar dari enam tangan monster tersebut.
Pada saat proses tersebut berlangsung, monster ini sama sekali tidak bergerak, dia hanya melototi wajah Isander tanpa menghalangi dan melawan Isander yang tengah melepaskan semua tangannya dari dalam perut Isander.
Ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada monster laba-laba raksasa ini.
Setelah mengeluarkan semua cakar, Isander menggunakan tangan kirinya untuk menyembuhkan enam lubang di tubuh bagian atasnya. Cahaya hijau membungkus seluruh luka besar dan mulai memulihkannya.
Meskipun demikian, luka Isander tidak langsung sembuh, butuh waktu yang lama untuk dirinya sembuh total dari luka yang didapatkan oleh monster humanoid yang aneh dan kuat.
Berdiri di depan monster sambil meletakkan tangan kirinya di atas luka, Isander menatap monster ini dengan senyum yang aneh.
“Ti … dak, bi–bisa, bergerak ….“
Monster ini berdiri tanpa sedikit pun bergerak, hanya mulut dan matanya yang bisa bergerak, itu pun sulit dilakukan. Berbicara juga makin terbata-bata serta tak begitu jelas.
Senyum di wajah Isander makin lebar, dia memegang Dark Spear lagi setelah menghilang akibat terkena tusukan cakar monster ini.
Tombak hitam ini menyala dengan asap hitam yang makin gelap dan listrik ungu gelap yang makin banyak, itu tidak berhenti, setiap detiknya asap hitam tersebut terus bertambah kental dan makin terang benang listrik di sekujur tubuh tombak.
“Aku mengagumimu, Monster yang aneh. Namun, aku tidak bisa kalah sekarang. Aku memiliki janji dengan anakku, dan aku harus memenuhi janji itu,” ucap Isander sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian perut dan dadanya. Senyuman masih ditampilkan oleh Isander.
Baju Isander sudah robek karena cakar monster ini. Tubuh bagian atas sudah menjadi baju compang-camping.
__ADS_1
Luka yang besar dan mengucurkan darah sudah pulih, lubang pada tubuhnya sedikit mengecil dan darah berhenti mengalir keluar. Akan tetapi, jeroan Isander terlihat, anehnya dia tidak mati meski telah terluka sangat parah.
Kekuatan penyembuhan terus membuat tubuhnya kembali sehat dan menghapus luka secara bertahap.
Mendengar kata-kata Isander, monster ini ingin menjawab, otak dan sesuatu yang aneh pada tubuhnya tidak mengizinkan dia untuk mengucapkan sebuah kalimat. Sangat sulit.
Mengangkat tombak di tangannya, Isander menatap monster ini yang masih berdiri dengan tatapan yang agak ragu, perasaan ragu tersebut menghilang beberapa detik selanjutnya, diganti oleh tatapan penuh tekad yang bulat.
“Slash Flame Darkness!“
Tombak hitam Isander diayunkan ke depan dan gelombang energi gelap yang dilapisi api merah dan listrik ungu berbentuk bilah melengkung meluncur sangat cepat menuju monster humanoid yang memiliki ukuran sedikit lebih tinggi dan besar dari Isander.
Cahaya ungu gelap, hitam, dan merah menghantam keras tubuh monster yang kaku tersebut bagai patung batu.
Duar! Zzztt!
Bola ledakan yang lumayan besar tercipta menimbulkan angin yang berhembus kuat dan bongkahan tanah yang beterbangan.
Dalam beberapa saat, pemukiman diterangi oleh cahaya ungu dan merah yang disertai suara yang keras.
Ledakan ini mampu didengar oleh Giya, Nina, dan Meisya di tempat persembunyiannya yang jauh.
“Apa itu?“ Giya menatap Nina dengan wajah yang terkejut.
Nina memiliki ekspresi yang sama dengan Giya, dia pun tidak tahu suara apa itu. “Sebentar, aku intip dahulu.“
Mengintip dari belakang pohon, Nina melihat ke arah pemukiman berada.
Jauh di depannya terdapat cahaya ungu yang bersinar selama beberapa detik. Selain itu juga, dentuman pada tanah terasa, bahkan tanah yang ditapaki oleh Nina sedikit bergetar.
Cahaya yang menyala menghilang tidak lama Nina melihatnya, dan pemandangan tersebut menghilang ditelan oleh kegelapan malam.
“Cahaya apa tadi itu, Nina?“ Giya yang sangat penasaran ikut mengintip sambil menggendong Meisya. Dia tidak bisa menahan rasa keingintahuannya.
Giya dan Meisya sempat melihat pemandangan tersebut dalam waktu yang lebih singkat dari Nina.
Menoleh ke belakang untuk melihat Giya, Nina berkata sesuai dengan pendapatnya, “Aku rasa itu Isander. Cahaya yang muncul barusan mirip sekali dengan cahaya yang beberapa terlihat ketika kumpulan monster Salmagtress dilawan oleh Isander.“
“Apakah itu dari senjatanya? Aku melihat senjata milik Isander memiliki sesuatu cahaya berwarna ungu. Mungkinkah cahaya tersebut tercipta dari serangan senjata Isander? Jadi, dia berhasil mengalahkan monster Spidgarets?“ Giya menebak-nebak dengan apa yang telah terjadi.
“Entah, kita tunggu saja di sini.“ Nina pun tak tahu.
“Baik.“
Meisya hanya diam tidak mengucapkan satu pun kata, matanya masih terfokus ke arah gerbang pemukiman yang tertutup.
Melihat cahaya ungu tadi, entah mengapa Meisya merasa lega dan sedikit lebih baik.
Pada akhirnya, kedua wanita dan gadis kecil menunggu Isander sampai pulang kepada mereka.
__ADS_1
“Ternyata aku masih kurang berpengalaman ...."
"Aku tidak menyangka Pak Tole memiliki perasaan seperti itu kepada temannya sendiri."
Isander duduk bersandar di tembok depan rumah kayu Giya yang nyaris roboh. Dia sedang memulihkan tubuhnya, diperutnya masih diselimuti oleh lampu hijau yang menyala.
Mata Isander menatap sesuatu yang ada di depannya, sebuah lubang besar berdiameter lebih dari 5 meter yang muncul setelah ledakan besar terjadi karena tombak hitamnya.
Di dalam lubang, ada sebuah bangkai yang hangus penuh oleh abu hitam. Bangkai tersebut memiliki bentuk yang tidak jelas, sulit untuk diidentifikasikan.
Sebenarnya, bangkai hangus tersebut adalah Spidgarets mode manusia yang mati setelah dihantam oleh gelombang energi kegelapan Dark Spear.
Gelombang energi yang keluar itu berbeda dengan sebelumnya, ini telah ditingkatkan karena Isander menahan gelombang energi kegelapan di bilah tombak dan terkonsentrasi dengan kuat.
Sebuah panel sistem yang melayang muncul di depannya, memberi sebuah keterangan tentang kemampuannya yang terbaru.
[Myokinesis (C) : Kemampuan mengendalikan otot lawan menggunakan kekuatan pikiran. Kekuatan tergantung dengan pikiran dan fisik pengguna.]
“Untungnya, kemampuan baru ini muncul di waktu yang tepat. Kalau saja tidak ada kemampuan ini, aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku,” kata Isander dengan suara yang pelan, seperti sedang berbisik kepada orang lain.
Kemampuan Myokinesis yang adalah penyebab mengapa monster humanoid tersebut tak bisa bergerak sama sekali. Ototnya terkunci oleh Isander sehingga monster tersebut sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, tampak sangat kaku.
Selain itu, kemampuan Myokinesis tidak bisa digunakan begitu saja dan bebas, ada syarat yang harus dipenuhi. Fisik Isander harus lebih kuat dari musuh jika ingin mengontrol sepenuhnya tubuh musuh dalam waktu yang lama. Meskipun fisiknya berada di bawah fisik musuh, Isander masih bisa mengendalikan otot musuh juga, tetapi tidak lama dan hanya sesaat.
[Magnetar Body (C) : Tubuh kuat yang mengandung energi yang sangat besar, tubuh yang membuat pemiliknya memiliki kekuatan fisik 150 kali lipat dari tubuh orang dewasa, regenerasi rendah. Tubuh terus menguat seiring berjalannya waktu.]
Sudah jelas, mengapa Isander masih bisa mengaktifkan kemampuan Myokinesis dalam keadaan terluka, alasannya adalah tubuh Isander jauh lebih kuat dari monster tersebut. Kemampuan Magnetar Body Isander naik tingkat setelah sekian lama bertarung melawan banyak monster.
“Pantas saja, luka ini cepat pulih, Magnetar Body menambahkan kemampuan baru, yaitu regenerasi tingkat rendah.“
Isander menatap ke arah lukanya yang berbentuk beberapa lubang yang kini sudah makin kecil. Organ dalam tubuh Isander yang terluka sudah tidak terlihat lagi.
Kemampuan satu ini sangat luar biasa, dia tidak mati walaupun organ-organ di tubuhnya rusak.
Bukan hanya itu saja, kemampuan Magnetar Body ini memengaruhi kemampuan lainnya, seperti Myokinesis dan juga senjatanya Dark Spear.
Serangan destruktif dari Dark Spear menjadi lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.
Maka dari itu, dia bisa menciptakan ledakan dahsyat dengan gelombang energi gelapnya dari Dark Spear, ditambah juga dengan kemampuan Flame of Finger.
“Ball of Storm tidak bisa menghancurkan monster tersebut karena kelincahan dan ketahanan tubuhnya yang memiliki resistansi terhadap angin. Kelemahan monster laba-laba adalah api dan petir bersuhu tinggi.“
Setelah melihat hasil serangannya, Isander mengetahui tentang kelemahan dari monster satu ini.
Beristirahat beberapa menit sambil memulihkan luka tubuhnya, Isander bangkit dan berjalan menuju ke arah timur pemukiman.
Dia meninggalkan lubang yang hangus berwarna hitam tanpa melihat bangkai monster di dalamnya.
Begitu sosoknya agak jauh dari lubang, tanah di sekitar tebing lubang runtuh dan mengisi lubang tersebut sampai penuh dan bangkai monster yang terbakar dan hangus itu tertimbun oleh tanah.
__ADS_1
Di rumah Pak Ghandi, Pak Ghandi yang sedang terbaring lemah tiba-tiba membuka matanya yang sebuah cahaya merah yang menyala terang.
“Agter! Aku akan membunuhmu!"