
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Karin teman kerja ku dulu.
"Zara boleh sharing ga? "
"boleh kenapa?"
"Dulu pas kamu udah selesai sama Ditto gimana caranya buat cerita ke orang tua. "
"Ke ayah mertua apa ke ibu aku? "
"Ke orang tua kamu Zara?"
"Soalnya aku udah dikasih talak 1 sama suami ku sekarang. Dia udah bilang pengen cerai sama aku, berarti udah jatuh talak kan kalo gitu?"
"Ya Allah, kamu pisah juga Karin?"
"Iya. "
Aku juga bingung bagaimana untuk memberikan solusi ke Karin karena aku juga bukan siapa-siapa, aku juga kurang begitu paham hanya pernah mengalami posisi seperti itu.
"Karin, kalo menurut aku sih mending obrolin ke orang tua aja dulu. Di musyawarahin baik nya gimana. Kalo dulu Ditto yang bilang ke ibu aku, aku yang bilang ke ayah mertua. Kalo aku sih gitu. "
"Langsung ketemu atau telpon?"
"Baiknya langsung ketemu biar ngobrolnya enak."
"Kemarin malem udah cerita sih sama mertua. masalah nya memang udah lama, yang waktu kamu Cerai aku curhat itu. Cuman masalahnya orangtua aku yang belum tau. Aku bingung harus mulai cerita nya dari mana. "
__ADS_1
"Ceritain aja baik-baik sama orang tua kita, memang berat sih. Perlu sekuat tenaga untuk menjelaskan semuanya. Tapi kita juga ga bisa lari dari masalah, masalah datang untuk kita hadapi. Biar semuanya selesai dengan baik, apapun hasil akhirnya, setidaknya kita sudah menjelaskan kebenarannya."
"Kayanya kasus suami aku sama deh sama Ditto, malah Karin sendiri pernah mergokin suami lagi telponan sambil ngumpet-ngumpet gitu. Bahkan mamah mertua juga pernah mergokin dia."
"Wah.. kurang pinter berarti. Aku kan ga pernah mergokin Ditto selingkuh. Malah aku ga tau Ditto selingkuh." Aku ketawa.
"Ya ampun kok gini amat ya nasib kita Zara."
"Kamu juga kenapa harus ikut-ikutan sih Karin. Berat tau jadi single parent tuh. " Aku ketawa membalas pesan Karin.
"Entahlah. Ayah dan ibu mertua ku sih nyuruh aku untuk tetap tinggal di rumah ini. Sekolahin anak-anak disini. terus mamahnya juga bilang jangan bawa barang-barang dulu, semoga aja bisa balikan lagi. Secara tidak langsung mungkin ga mau kehilangan cucunya juga. Tapi ya gimana orang anaknya sendiri yang mau pisah."
"Sampe masalahnya selesai, kita sebagai istri jangan dulu keluar dari rumah yang kita tempati apalagi kalo kita ga salah terus ada anak-anak juga. Kalo pun kita mau pulang ke rumah orang tua kita ya kita harus ijin dulu ke mantan suami. Mending selesai kan dulu masalahnya, terus kalo baru talak 1,seiring berjalannya waktu selama masa iddah belum selesai, apabila ingin kembali rujuk kan masih bisa. Asal saling memperbaiki diri masing-masing dan saling memaafkan kesalahan satu sama lain. Selama masih bisa dipertahankan bisa aja rujuk kembali demi masa depan anak-anak juga. Lain hal nya dengan kasus aku dan Ditto dulu. Ditto kan langsung memberikan talak 3, jadi sampai kapan pun gak ada harapan untuk Zara dan Ditto kembali bersama, bahkan secara agama bertemu pun tidak boleh haram hukumnya. Maaf ya Karin kalo penjelasan ku salah dan kurang tepat karena aku bukan ahli nya. Hanya belajar dari pengalaman aja."
"Kaya nya suami ku beneran selingkuh. Cuman dia selalu nyari-nyari kesalahan aku. Jadi masalahnya seakan-akan kesalahan ada di Karin semua. Terus pas ditanya sama mamah mertua suami ku telponan sama siapa, bilangnya cuma temen. Masa telponan sama temen aja harus ngumpet sih. Bener ga? "
"Nah itu dia. Buat apa kita cape-cape hidup bersama orang yang ga mau berjuang bareng kita. "
"Komunikasi kan dulu, sebelum semuanya selesai. Sebisa mungkin kalo masih bisa diperbaiki dan dipertahankan. Usaha kan dulu pertahankan, jangan buru-buru ambil keputusan untuk pisah ya. Pikirkan matang-matang supaya tidak ada penyesalan di akhir. Inget loh, cerai itu proses nya ga mudah."
"Iya. Ada kita nemuin mertua yang baik eh anaknya kurang ngajar. "
"Iya begitulah. Kita hidup sama siapa? mertua atau anaknya? "
"Anaknya. "
"Iya itu, meskipun mertua kita mengharuskan kita hidup bersama anaknya, tapi balik lagi kedalam diri kita sendiri. Kita sendiri yang merasakan, apakah kita bahagia? apakah kita sanggup? Jawaban nya ada pada diri kita sendiri. Sekarang sebelum Karin memutuskan coba tanya dulu ke dalam diri sendiri dan shalat istikharah. Insya Allah pasti menemukan jawaban yang tepat."
__ADS_1
"Kaya nya aku bakal suruh suami bawa ke pengadilan deh, biar dia sendiri yang gugat cerai Karin. Toh emang dia yang minta pisah. Nikah aja resmi cerai juga harus resmi. "
"Iya harus, ada hak-hak kita juga yang harus kita dapatkan apabila di gugat secara sepihak, bahkan hak asuh anak juga perlu kesepakatan."
"Ribet ya. "
"Iya, makanya kalo bisa jangan sampe cerai deh. Panjang urusannya." Seperti yang telah Zara alami.
"Ya Allah, ternyata gini ya rasanya dikasih ujian seperti ini. Tapi dibalik ini semua Allah sayang ke kita ya Zara. Makanya nunjukin kalo suami kita tuh belum bisa jadi yang terbaik buat kita meski dulu kita mikirnya dia yang terbaik."
"Dibilang berat, iya. Dibilang sulit iya. Karena kita juga hanya manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan kekurangan. Tapi percayalah kita juga punya kekuatan untuk mengahadapi ujian ini. Karena setelah dilalui Zara juga sekarang alhamdulilah masih baik-baik aja. Mungkin juga ketika kita dipisahkan dengan mantan suami tidak sepenuhnya kesalahan dia, pasti ada masa dimana kita juga melakukan kesalahan kepada suami tanpa kita sadari. Karena apapun pasti ada sebab akibat kan. Hanya saja kurang nya komunikasi sehingga kita tidak bisa memertahankan dan memperbaiki hubungan ini. Kembali ke takdir tuhan jika harus berpisah mungkin memang yang selama ini kita anggap baik belum tentu baik di mata tuhan. Ambil hikmahnya dan jadikan pelajaran berharga dari setiap peristiwa yang ada.
"Aku rasa semua angan-angan ku hancur, bagaimana masa depan anak-anak ku nanti, mana cewek dua-duanya. " Karin pasti merasa hancur seperti apa yang pernah aku rasakan dulu.
"Insya Allah kuat, serahkan semua nya kepada Allah. Kembalilah kepada Allah, jangan sampai salah mengambil jalan. Rezeki anak Allah yang ngatur. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita seperti mahluk nya. Percaya dan yakin Allah pasti akan menujukan jalan yang terbaik untuk kita mengambil suatu keputusan. " Aku berusaha menguatkan karin.
"Iya Zara amin. Harus kuat dan tetap waras ya demi anak."
"Iya, insya Allah pasti bisa. Semangat terus berdo'a dan berusaha. "
"Terimakasih Zara udah mau mendengarkan aku. Aku do'akan kamu mendapatkan kebahagiaan kamu. Kamu pantas bahagia Zara."
"Amin Terimakasih ya Karin semoga Allah mengabulkan do'a-do'a kita, kalo ada apa-apa kabarin aja. Kalo mau cerita-cerita boleh."
"Iya. "
Aku senang bisa berbagi cerita dengan teman ku Karin. Semoga perasaannya bisa sedikit lega karena telah berbagi cerita nya dengan ku.
__ADS_1