
"Assalamu'alaikum," ucap kami berbarengan.
Andrea keluar dari dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam, tante Ineee..
Miiii... om Yopi dan tante Ineke" teriaknya.
"Bawa masuk ya sayang, opa mana?" tanyaku
"Ada di dalam kamar, opa lagi kurang sehat"jelas Andrea
Aku dan Aa saling pandang, dan segera menuju kamar papi.
"Pi... " kepalaku nongol ke dalam kamar papi.
Ku cium punggung tangan papi. Badannya dingin.
"Sayang, tolong ambilkan tas Aa ya" perintahnya, aku segera mengambil tas kerja Aa.
"Papi kenapa?" tanya Aa.
"Papi cuma lelah, aja" jawabnya.
"Ini sayang" kuberikan tas kerjanya.
Kupegang tangan papi.
"Papi kenapa?" tanyaku
__ADS_1
"Gapapa nak.. Papi cuma rindu mami" ada butir air diujung mata papi yang sudah mulai keriput.
Mami...
seandainya mami masih ada, mami pasti bahagia, Ine mengandung cucu mami.
"Tensi papi rendah. Papi jangan banyak pikiran ya, Mami sudah tenang, mami gak merasakan sakitnya lagi" ucap Aa menenangkan.
"Pi.. pengganti mami ada di dalam sini" aku menunjuk perutku yang makin terlihat.
"Ine sayang papi. Papi harus sehat, papi mau lihat cucu papi gede kan?"
papi melihatku
"Tidak salah, mami suka membanggakan Ine, ternyata Ine begini."
Aa tersenyum melihat obrolan papi denganku.
belum lagi papi menjawab, aku keluar mengambil mie goreng buat papi dan segelas air hangat.
"Istri kamu, nak.. Semoga kalian selalu hidup bahagia, doa papi kalian selalu seiring sejalan" ucapnya kepada Aa saat itu.
Aku meletakkan air minum di meja yang ada di kamar papi. Dan aku menyuapi papi.
"Gimana rencana 4 bulanan kehamilan Ineke? Di sini aja ya nak. Kalian tidur di sini saja, bawa Alka." ucap papi.
"Ya, pi. Kami masih mencari tanggal yang pas, Yopi masih sibuk sama kerjaan."
"Kalau sibuk gak akan habis, nak. Luangkan waktu. Oke"
__ADS_1
"Habiskan dulu, pi. Nanti kita bicarakan" ucapku.
"Ine.. galak amat sama papi. Gitu pi, Ine mah galak kalau jadi perawat" Aa mengadu ke papi.
"Galak kok cinta" ucap papi sambil tertawa melihat ulah kami.
Aku bahagia melihat papi tertawa. Mendengar kami tertawa, mbak Linda dan mas Koko masuk ke kamar papi.
"Hm.. obat papi bener kalian ini ya. Dari pagi, papi cuma makan roti doang. Gak mau yang lain. Itu mie, abis sama papi kan.." ucap mbak Linda sambil tertawa.
"Kalo papi mulai kumat gak mau makan, Mbak telepon kalian aja deh" guyonnya.
"Jangan.. mereka ini orang sibuk. Kasian kalau bolak balik ke sini" ucap papi.
"Jadi gimana kalau minggu depan acaranya?" tanya mbak Linda lagi.
"Jangan buru-buru dooongg... Gue kan mau siap dana dulu" ucap Aa.
"Ampun deeeek... duit lu itu ambil dulu di tabungan"
"Gak usah, uang papi masih ada kok kalau acara begitu. Kalian gak usah mikirin dana, yang penting kalian luangkan waktu. Itu urusan papi" ucap papi.
Aku melihat papi. Sebenarnya kami memang punya tabungan, tapi untuk si jabang bayi. Kami sebenarnya tidak berniat untuk mengadakan acara, tapi, kalau ini kemauan papi, kami mau apa lagi.
Hari semakin malam, dan kami pun berpamitan pulang.
Rasa lelahku mengalahkan segalanya.
"Sayang, Ine ngantuk" ucapku
__ADS_1
"Tidurlah, nanti Aa gendong ke kamar kalau sudah sampai"
Dan aku pun tertidur dengan alunan musik di mobil Aa.