
"Pak, apa lihat istri saya, kecil, putih, rambutmya sepundak, memakai dres biru dongker selutut." tanyanya sambil menjelaskan tentangku dengan pak satpam yang ada di pintu masuk.
"Maaf dok, saya baru ganti shift." ucap satpam tersebut.
Muka Aa langsung berubah.
"Kemana kamu, sayang.."
"Tapi, dok, tadi ada pasien dibawa ke ruang IGD"
Mendengar itu, Aa langsung masuk ke ruang IGD yang tidak jauh dari tempat satpam itu berada.
"Dokter Yopi" tegur seorang dokter IGD itu.
"Saya mencari istri saya, tadi dia ada di kantin, bilangnya mau ke kamar mandi, tapi tidak ada kabar, dan menurut satpam depan, ada seorang pasien dibawa kemari. Boleh saya lihat pasien itu?" jelasnya
"Silahkan, dok. Lewat sini" ucap dokter muda itu.
Dan benar saja, pasien itu adalah istri dokter Yopi. Aku masih belum sadar.
"Mama" teriak Alka.
"Maaf dok, kami tidak tahu, identitasnya tidak ada." ucap dokter muda itu lagi.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menemukan istri saya."
"Ya Allah, terima kasih, hamba masih dipertemukan dengan dia" ucapnya yang menggenggam tanganku.
Alka membelai pipiku, dari sisi berbeda dengan Aa.
__ADS_1
"Mama," ucapnya ketika aku membuka mata.
Aa yang tertunduk, langsung melihatku.
"Sayang.. gimana? Udah baikan?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Ine kenapa di sini, A?" tanyaku lemah.
Sudah nanti saja ngobrolnya.
"Perawat yang ketakutan melihat Aa, memanggil dokter jaga"
"Ibu butuh istirahat, dok." ucap dokter muda itu.
"Sus, tolong ambilkan hasil medical check up atas nama Ineke Aryanti." perintahnya kepada perawat yang bertugas.
"Kondisi ibu sangat lemah, maaf bu, kami melakukan tindakan ini" ucap dokter muda itu.
"Terima kasih, dok" ucapa terima kasih itu, jarang terdengar di telinga dokter-dokter di ruang IGD itu.
Dokter Yopi, terkenal dingin dan tidak suka berbicara, akhirnya mengucapkan kalimat terima kasih.
Perawat yang membawa hasil dari ruang lab, menyerahkan hasilnya ke dokter jaga.
"ini dok" ucapnya menyerahkan amplop coklat berisi hasil pemeriksaan.
Saya tunggu dokter Ikhsan dulu saja. Saya akan menghubungi dokter Ikhsan nanti.
__ADS_1
Etika dalam kedokteran, walau seorang dokter, Aa tidak mau melangkahi dokter yang memeriksaku.
Ayah dan ibu datang ke ruang IGD.
"Kenapa nak?" tanya ayah
"Gapapa, yah. Ine abis muntah dan pingsan saja."
"Setiap mendapat kabar dari Ine, ayah kamu langsung panik" ucap ibu.
Dokter Ikhsan menuju ruang IGD setelah Aa memberi kabar, kalau kami di ruangan ini.
"Selamat siang, dok. Maaf saya terlambat," ucap dokter Ikhsan. Aa menyerahkan amplop coklat itu ke dokter Ikhsan.
"Saya buka ya dok. Hm.. Leukosit ibu agak tinggi, tensinya rendah nih dok, 80/70. Pantas ibu mual dan muntah.. rendah sekali.
Sebentar saya lihat hasil cek urine.
Bu Ine terakhir dapat haid kapan?" tanyanya.
"Biasanya di pertengahan gitu dok, antara tanggal 14, tapi memang ini belum dapet juga, saya pikir biasa, dok."
Aa mulai tegang.
"Indikasinya apa dok? Saya boleh lihat, dok?"
tanyanya.
"Boleh sekali, sebenarnya seperti saya sudah bilang, dokter Yopi tidak harus bawa bu Ineke ke saya" kemudian dokter Ikhsan tersenyum, dan memberikan hasil medical check up itu ke Aa.
__ADS_1
Aa membaca hasil itu, dan mukanya memerah.
"Silahkan dibacakan ya dok, saya tinggal dulu." dokter Ikhsan menjabat tangan Aa dan memeluknya.